Korelasi Tingkat Pengetahuan Dan Dukungan Layanan Kesehatan Dengan Kepatuhan Skrining IMS Pada Kelompok Berisiko
Keywords:
Pengetahuan, Dukungan Layanan Kesehatan, Kepatuhan, Skrining IMS, Kelompok BerisikoAbstract
ABSTRACT
Sexually Transmitted Infections (STIs) remain a major public health concern, particularly among high-risk groups. Limited knowledge about STIs and inadequate support from healthcare services may reduce the utilization of STI screening programs. Early screening is essential for detecting infections, preventing transmission, and reducing complications. This study aimed to determine the correlation between the level of knowledge and healthcare service support with compliance with STI screening among high-risk groups. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study involved 100 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires measuring STI knowledge, healthcare service support, and STI screening compliance. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that 62% of respondents had good knowledge about STIs, 58% received good healthcare service support, and 65% complied with STI screening. Statistical analysis showed a significant correlation between knowledge level and STI screening compliance (p=0.001). A significant correlation was also found between healthcare service support and STI screening compliance (p=0.003). Higher STI knowledge levels and better healthcare service support are associated with increased compliance with STI screening among high-risk groups. Strengthening sexual health education, improving accessibility, and providing stigma-free healthcare services are important strategies to increase STI screening participation.
Keywords: Knowledge, Healthcare Service Support, Compliance, STI Screening, High-Risk Groups
ABSTRAK
Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan pada kelompok berisiko. Rendahnya pengetahuan mengenai IMS serta keterbatasan dukungan layanan kesehatan dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan skrining secara rutin. Skrining IMS berperan penting dalam deteksi dini, pencegahan penularan, dan pengendalian komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang IMS dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan melakukan skrining IMS pada kelompok berisiko. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 responden dari kelompok berisiko yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner mengenai tingkat pengetahuan IMS, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan IMS kategori baik (62%), mendapatkan dukungan layanan kesehatan yang baik (58%), dan patuh melakukan skrining IMS (65%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,003). Tingkat pengetahuan yang baik dan dukungan layanan kesehatan yang memadai berhubungan dengan meningkatnya kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan seksual dan penguatan layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS.
Kata Kunci: Pengetahuan, Dukungan Layanan Kesehatan, Kepatuhan, Skrining IMS, Kelompok Berisiko
References
Achmad Hilal., Puspitarini, N. A., Djunaedi, D., & Rahmat, R. A. (2026). Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Label Gizi Pada Kemasan Makanan. Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 588–596. https://doi.org/10.59585/sosisabdimas.v4i2.1029
Achmad Hilal., & Pannyiwi, R. (2026). Analisis Interaksi Sosial Antara Tenaga Kesehatan Dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(3), 1182–1191. Retrieved from https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1256
Amah N. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wanita penjaja seks melakukan skrining Infeksi Menular Seksual (IMS). Prosiding Seminar Nasional & Internasional. 2010.
Aryanti L, Trismiyana E. Pengetahuan penderita Infeksi Menular Seksual tentang penyakit IMS dan pemanfaatan klinik VCT. Holistik Jurnal Kesehatan. 2016;10(2):85-92.
Centers for Disease Control and Prevention. Sexually transmitted infections treatment guidelines. Atlanta: CDC; 2021.
Cunningham SD, Lewis JB, Thomas JL, Grilo SA, Page KR, et al. Perceived social norms and STI screening among young adults. Journal of Adolescent Health. 2020;67(4):456-463.
Ervan, E., Musaidah, M., Mainassy, M. C., & Pannyiwi, R. (2024). Analysis of Health Problem Factors with the Presence of Aedes Albopictus Mosquito Larvae in Water Reservoirs. International Journal of Health Sciences, 2(3), 1224–1233. https://doi.org/10.59585/ijhs.v2i3.499
Fortenberry JD. The effects of stigma on STI prevention and screening behaviors. Sexual Health. 2019;16(5):417-423.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan perkembangan HIV AIDS dan penyakit infeksi menular seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
Newman L, Rowley J, Vander Hoorn S, Wijesooriya NS, Unemo M, Low N, et al. Global estimates of the prevalence and incidence of four curable sexually transmitted infections in 2016. WHO Bulletin. 2019;97(8):548-562.
Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2018.
Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang pelayanan kesehatan reproduksi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.
Pannyiwi, R., Ali, A., & Yulis, D. M. (2025). Strategi Pencegahan Dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Melalui Pendekatan Komunitas Di Kabupaten Sidenreng Rappang. JIMAD : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(3), 191–200. https://doi.org/10.59585/jimad.v2i3.856
Pannyiwi, R., Azis, M. N. S. A., & Rahmat, R. A. (2025). Analisis Kendala Perawat Dalam Melaksanakan Komunikasi Terapeutik NDi Lingkungan Pelayanan Kesehatan. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), 231–243. https://doi.org/10.59585/bajik.v4i1.921
Simbolon WM, Budiarti W. Kejadian infeksi menular seksual pada wanita kawin di Indonesia dan variabel yang memengaruhinya. Jurnal Kesehatan Reproduksi. 2020;11(2):123-134.
UNAIDS. Global AIDS Update: Communities at the centre. Geneva: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS; 2023.
World Health Organization. Consolidated guidelines on HIV, viral hepatitis and STI prevention, diagnosis, treatment and care for key populations. Geneva: WHO; 2022.
World Health Organization. Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2021.
World Health Organization. Laboratory and point-of-care diagnostic testing for sexually transmitted infections, including HIV. Geneva: WHO; 2023.
World Health Organization. Sexually transmitted infections: global health sector strategy on sexually transmitted infections 2016–2021. Geneva: WHO; 2016.
World Health Organization. WHO releases new guidance to improve testing and diagnosis of sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2023.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Achmad Hilal, Rezqiqah Aulia Rahmat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



