Korelasi Tingkat Pengetahuan dan Dukungan Pelayanan Kesehatan dengan Kepatuhan Skrining IMS pada Kelompok Berisiko
DOI:
https://doi.org/10.59585/bajik.v5i1.1410Keywords:
Infeksi Menular Seksual, Pengetahuan, Dukungan Layanan Kesehatan, Skrining IMS, Kelompok Berisiko.Abstract
Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di dunia maupun Indonesia. Kelompok berisiko seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), transgender, pengguna narkoba suntik, dan individu dengan pasangan seksual berganti-ganti memiliki risiko tinggi mengalami IMS. Kepatuhan melakukan skrining IMS secara berkala merupakan strategi penting dalam mendeteksi infeksi secara dini sehingga dapat menurunkan angka penularan dan komplikasi. Namun, kepatuhan terhadap skrining masih rendah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik responden, tingkat pengetahuan, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (60,7%), memperoleh dukungan layanan kesehatan tinggi (65,3%), serta patuh melakukan skrining IMS (62,0%). Analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p<0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p<0,001). Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan dan penguatan akses layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS
References
Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1–187.
Centers for Disease Control and Prevention. STI Surveillance 2023. Atlanta: CDC; 2024.
DiClemente RJ, Salazar LF, Crosby RA. Health Behavior Theory for Public Health. 3rd ed. Burlington: Jones & Bartlett Learning; 2019.
Glanz K, Rimer BK, Viswanath K. Health Behavior: Theory, Research, and Practice. 5th ed. San Francisco: Jossey-Bass; 2015.
Green LW, Kreuter MW. Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2005.
Handayani L, Prasetyo B, Suryoputro A. Hubungan pengetahuan dengan kepatuhan pemeriksaan infeksi menular seksual pada kelompok berisiko. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2023;18(1):45–53.
Joint United Nations Programme on HIV/AIDS. Prevention Gap Report. Geneva: UNAIDS; 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2021.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024.
Mayer KH, Allan-Blitz LT. Importance of sexually transmitted infection screening. Clin Infect Dis. 2023;76(2):e450–e458.
Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta; 2018.
Nurlaeli, N., & Safitri, N. (2026). Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Keberhasilan ASI Eksklusif. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(2), 732–741. https://doi.org/10.59585/bajik.v4i2.1046
Pannyiwi, R., Ali, A., & Yulis, D. M. (2025). Strategi Pencegahan Dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Melalui Pendekatan Komunitas Di Kabupaten Sidenreng Rappang. JIMAD : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(3), 191–200. https://doi.org/10.59585/jimad.v2i3.856
Pannyiwi, R., Azis, M. N. S. A., & Rahmat, R. A. (2025). Analisis Kendala Perawat Dalam Melaksanakan Komunikasi Terapeutik NDi Lingkungan Pelayanan Kesehatan. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), 231–243. https://doi.org/10.59585/bajik.v4i1.921
Rosmiati, R., Rabuana, S., & Safitri, N. (2026). Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pentingnya Antenatal Care (ANC). Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 679–687. https://doi.org/10.59585/sosisabdimas.v4i2.1069
Sulistyo Andoromoyo ; Zuliana Amalia ; Darmi Arda ; Andi Nursiah ; Dr. Rahmat Pannyiwi ; Rezqiqah Aulia Rahmat. NUTRISI dan STATUS GIZI BALITA: Perspektif Kesehatan Masyarakat. No. ISBN: 978-634-96389-7-5. Penerbit AGDOSI Makassar. https://agdosi.com/2025/11/09/nutrisi-dan-status-gizi-balita-perspektif-kesehatan-masyarakat/
Puspitasari N, Widjanarko B, Kusumawati A. Faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan skrining infeksi menular seksual pada populasi berisiko. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. 2022;17(2):105–114.
UNAIDS. Global AIDS Update 2024. Geneva: UNAIDS; 2024.
Workowski KA, Bachmann LH, Chan PA, Johnston CM, Muzny CA, Park I, et al. Sexually transmitted infections treatment guidelines, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1–187.
World Health Organization. Global health sector strategies on HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections 2022–2030. Geneva: WHO; 2022.
World Health Organization. Sexually transmitted infections (STIs). Geneva: WHO; 2023.
World Health Organization. WHO guideline on the management of symptomatic sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2021.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Norma Safitri, Yanti Mustarin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



