Hubungan Konsumsi Makanan Tinggi Purin Dengan Kadar Asam Urat Pada Penderita Hiperurisemia

The Relationship Between High-Purine Food Consumption and Uric Acid Levels in Patients with Hyperuricemia

Authors

  • Safridha Kemala Putri Poltekkes Kemenkes Aceh
  • Rahmat Pannyiwi Universitas Pertahanan RI

DOI:

https://doi.org/10.59585/bajik.v5i1.1793

Keywords:

Makanan Tinggi Purin, Asam Urat, Hiperurisemia, Pola Makan, Gout

Abstract

Hiperurisemia merupakan kondisi ketika kadar asam urat dalam darah berada di atas batas normal dan dapat meningkatkan risiko terjadinya gout serta komplikasi terkait. Salah satu faktor yang berhubungan dengan kadar asam urat adalah pola konsumsi makanan, khususnya makanan dengan kandungan purin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan tinggi purin dengan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pada Mei–Juli 2026. Sampel penelitian berjumlah 101 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data konsumsi makanan tinggi purin diperoleh melalui kuesioner food frequency questionnaire, sedangkan kadar asam urat diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Analisis hubungan menggunakan uji Spearman dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki konsumsi makanan tinggi purin dalam kategori sering, yaitu 57 responden (56,4%). Kadar asam urat responden sebagian besar berada pada kategori tinggi, yaitu 63 responden (62,4%). Responden dengan konsumsi makanan tinggi purin sering memiliki kadar asam urat tinggi sebanyak 44 responden (77,2%), sedangkan pada kelompok konsumsi jarang sebanyak 19 responden (43,2%). Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan tinggi purin dengan kadar asam urat (p<0,001; r=0,382). Konsumsi makanan tinggi purin berhubungan dengan kadar asam urat pada penderita hiperurisemia. Pengendalian konsumsi makanan tinggi purin perlu menjadi salah satu bagian dari edukasi pengelolaan hiperurisemia.

References

Dalbeth N, Gosling AL, Gaffo A, Abhishek A. Gout. Lancet. 2021;397(10287):1843-1855.

Edwards NL. The role of hyperuricemia and gout in kidney and cardiovascular disease. Cleve Clin J Med. 2008;75 Suppl 5:S13-S16.

FitzGerald JD, Dalbeth N, Mikuls T, Brignardello-Petersen R, Guyatt G, Abhishek A, et al. 2020 American College of Rheumatology guideline for the management of gout. Arthritis Care Res. 2020;72(6):744-760.

Johnson RJ, Bakris GL, Borghi C, Chonchol MB, Feldman D, Lanaspa MA, et al. Hyperuricemia, acute and chronic kidney disease, hypertension, and cardiovascular disease. Hypertension. 2018;71(3):435-442.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman gizi seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman manajemen penyakit tidak menular. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.

Maiuolo J, Oppedisano F, Gratteri S, Muscoli C, Mollace V. Regulation of uric acid metabolism and excretion. Int J Cardiol. 2016;213:8-14.

Muhtadin , A., Pannyiwi, R., & Rahmat, R. A. (2026). Adolescents ’ Level of Knowledge Regarding the Impact of Drug Abuse on Physical and Psychosocial Health . International Journal of Health Sciences, 4(3), 973–981. https://doi.org/10.59585/ijhs.v4i3.1692

Neogi T. Gout. N Engl J Med. 2011;364(5):443-452.

Pannyiwi, R., Rahmat, R. A., Cakrawati R, C. R., Dasaryandi , K. R., & Nasution, N. (2026). Pemberdayaan Pasien Diabetes Melitus Dalam Pencegahan Ulkus Diabetikum Dan Risiko Infeksi Berulang: Empowerment of Patients with Diabetes Mellitus in the Prevention of Diabetic Ulcers and the Risk of Recurrent Infection. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(1), 985–991. https://doi.org/10.59585/bajik.v5i1.1586

Pannyiwi, R., Rahmat, R. A., & Mainassy, M. C. (2026). Kampung Sadar Obat: Pemberdayaan Masyarakat Dalam Mewujudkan Pengelolaan Obat Rumah Tangga Yang Aman: Drug-Aware Village: Community Empowerment to Ensure Safe Household Medication Management. Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(4), 1846–1852. https://doi.org/10.59585/sosisabdimas.v4i4.1652

Richette P, Doherty M, Pascual E, Barskova V, Becce F, Castañeda-Sanabria J, et al. 2016 updated EULAR evidence-based recommendations for the management of gout. Ann Rheum Dis. 2017;76(1):29-42.

Roddy E, Mallen CD, Doherty M. Gout. BMJ. 2007;335(7627):760-763.

Safridha Kemala Putri & Nurhaedah, N. (2026). The Potential of Fermented Local Food Consumption on the Gut Microbiota Status of Adolescents . International Journal of Health Sciences, 4(2), 360–367. https://doi.org/10.59585/ijhs.v4i2.1205

Safridha Kemala Putri, & Rezqiqah Aulia Rahmat. (2026). Analisis Cemaran Logam Berat pada Produk Herbal Tradisional. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(3), 982–990. https://doi.org/10.59585/bajik.v4i3.1187

Schlesinger N. Dietary factors and hyperuricaemia. Curr Pharm Des. 2005;11(32):4133-4138.

Sivera F, Andrés M, Carmona L, Kydd ASR, Moi J, Seth R, et al. Multinational evidence-based recommendations for the diagnosis and management of gout. Ann Rheum Dis. 2014;73(2):328-335.

Stamp LK, Dalbeth N. Diet and gout: putting the myths to rest. Clin Rheumatol. 2017;36(9):2249-2252.

Towiwat P, Li ZG. The association of vitamin C, alcohol, coffee, and tea with gout and hyperuricemia. J Clin Rheumatol. 2015;21(4):214-219.

Vargas-Santos AB, Neogi T. Management of gout and hyperuricemia in CKD. Am J Kidney Dis. 2017;70(3):422-439.

World Health Organization. Healthy diet. Geneva: World Health Organization; 2020.

Yermi, Y., Safridha Kemala Putri & Prihatini, S. (2026). Edukasi Pencegahan Hipertensi Melalui Pendekatan “Self-Monitoring Health Card” pada Kelompok Lansia Aktif. Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(3), 924–932. https://doi.org/10.59585/sosisabdimas.v4i3.1166

Zhang Y, Chen S, Yuan M, Wang X, Liao Z. Gout and diet: a comprehensive review of mechanisms and management. Nutrients. 2022;14(17):3528.

Downloads

Published

2026-10-06

How to Cite

Putri, S. K., & Pannyiwi, R. (2026). Hubungan Konsumsi Makanan Tinggi Purin Dengan Kadar Asam Urat Pada Penderita Hiperurisemia: The Relationship Between High-Purine Food Consumption and Uric Acid Levels in Patients with Hyperuricemia. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(1), 1766–1772. https://doi.org/10.59585/bajik.v5i1.1793

Most read articles by the same author(s)

<< < 1 2 3 4 5 6 > >>