Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Masyarakat

Authors

  • Zuriani Rizki Poltekkes Kemenkes Aceh

Keywords:

Tuberkulosis, Lingkungan, Ventilasi, Kepadatan Hunian

Abstract

ABSTRACT

Tuberculosis (TB) remains a major public health problem worldwide, including in Indonesia. Environmental factors play a crucial role in the transmission of TB, particularly poor housing conditions that do not meet health standards. This study aimed to analyze the relationship between environmental factors and the incidence of tuberculosis in the community.

This study used an analytic design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling technique. Data were collected through environmental observation and structured questionnaires. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with chi-square test at a 95% confidence level.

The results showed that there were significant relationships between ventilation (p=0.001), occupancy density (p=0.002), lighting (p=0.003), and floor condition (p=0.005) with the incidence of tuberculosis. Respondents living in houses with poor ventilation and high occupancy density had a higher risk of developing TB compared to those living in healthier environments.

In conclusion, environmental factors are significantly associated with the incidence of tuberculosis. Environmental improvement and health education are strongly recommended to reduce TB cases in the community.

Keywords: Tuberculosis, Environment, Ventilation, Occupancy Density

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, termasuk di Indonesia. Faktor lingkungan berperan penting dalam proses penularan TB, terutama kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan kejadian tuberkulosis di masyarakat.

Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kondisi lingkungan rumah dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah (p=0,001), kepadatan hunian (p=0,002), pencahayaan (p=0,003), dan kondisi lantai rumah (p=0,005) dengan kejadian tuberkulosis. Responden yang tinggal di lingkungan dengan ventilasi buruk dan kepadatan tinggi memiliki risiko lebih besar terkena TB dibandingkan dengan yang tinggal di lingkungan sehat.

Kesimpulan penelitian ini adalah faktor lingkungan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian tuberkulosis. Upaya perbaikan lingkungan dan peningkatan edukasi kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian TB di masyarakat.

Kata Kunci: Tuberkulosis, Lingkungan, Ventilasi, Kepadatan Hunian

References

Achmadi, U.F. (2012). Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Pers.

Adnani, H. (2011). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta: Nuha Medika.

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Anurogo, D., Rahmat, R. A., & Pannyiwi, R. (2025). Identifikasi Jamur Endofit Pada Tanaman Obat Tradisional Di Sulawesi Selatan. JIMAD : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 3(2), 77–82. https://doi.org/10.59585/jimad.v3i1.862

Depkes RI. (2018). Pedoman Penanggulangan TB.

Dinkes RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia.

Hidayat, A.A. (2014). Metode Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Irianto, K. (2014). Epidemiologi Penyakit Menular. Bandung: Alfabeta.

Kemenkes RI. (2021). Pedoman TB Nasional.

Mubarak, W.I. (2012). Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Pannyiwi, R., Azis, M. N. S. A., & Rahmat, R. A. (2025). Analisis Kendala Perawat Dalam Melaksanakan Komunikasi Terapeutik Di Lingkungan Pelayanan Kesehatan. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), 231–243. https://doi.org/10.59585/bajik.v4i1.921

Soekidjo, N. (2010). Promosi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.

WHO. (2020). Global Tuberculosis Report.

WHO. (2021). Tuberculosis Fact Sheet.

Wijayanti, L. A., Lestaluhu, V., Saputra, M. K. F., Masithah, S., Pannyiwi, R., & Malaha, N. (2024). Readiness for Accreditation of the Administration and Management Working Group at the Basaan Community Health Center Southeast Minahasa Regency. International Journal of Health Sciences, 2(1), 48–64. https://doi.org/10.59585/ijhs.v2i1.239

Widoyono. (2011). Penyakit Tropis. Jakarta: Erlangga.

Yulianto, B. (2013). Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC.

Yermi, & Zuriani Rizki. (2026). Implementasi Participatory Epidemiology dalam Pemetaan Risiko Penyakit di Lingkungan Masyarakat. Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(3), 981–989. Retrieved from https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1172

Downloads

Published

2026-04-20

How to Cite

Zuriani Rizki. (2026). Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Masyarakat. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(3), 1113–1123. Retrieved from https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1233