Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas
<p><strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong>, merupakan jurnal untuk berfokus kepada hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen, praktisi, ataupun mahasiswa. Jurnal ini dikelola oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia (AGDOSI) Makassar, Sulawesi Selatan. Pengelola jurnal ini terdiri dari dosen dan praktisi dari berbagai latar belakang perguruan tinggi di Indonesia. <strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong> terbit 4 kali dalam 1 tahun yaitu pada bulan <strong>September, Desember,</strong> <strong>Maret </strong>dan<strong> Juni</strong>.</p>Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesiaen-USSahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat2964-9196Peningkatan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Tenaga Kesehatan Melalui Edukasi Dan Pendampingan Di RSUD Labuang Baji Makassar
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1874
<p>Alat Pelindung Diri (APD) merupakan komponen esensial dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko pajanan infeksi dan bahaya kerja lainnya (Permenkes No. 66 Tahun 2016). Data World Health Organization mencatat dari 35 juta tenaga kesehatan di dunia, sekitar 3 juta terpapar patogen melalui darah setiap tahunnya, sementara data Kementerian Kesehatan RI (2023) menunjukkan tingkat kepatuhan penggunaan APD tenaga kesehatan nasional baru mencapai 72%, masih di bawah target 90%. Di RSUD Labuang Baji Makassar sendiri, studi Susanti, Riskiyani, dan Stang (2020) menemukan bahwa pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan masih berhubungan signifikan dengan penggunaan APD, mengindikasikan bahwa program edukasi formal saja belum cukup untuk membentuk kepatuhan yang konsisten tanpa disertai pendampingan berkelanjutan di lapangan.</p> <p>Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan terutama keterampilan praktis (tindakan) tenaga kesehatan RSUD Labuang Baji Makassar dalam menggunakan APD secara tepat, sekaligus membangun sistem pendampingan berkelanjutan agar kepatuhan yang terbentuk tidak berhenti pada saat pelatihan berlangsung, melainkan terjaga secara konsisten dalam praktik pelayanan sehari-hari.</p> <p>Metode kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan edukasi dan pendampingan bertahap, meliputi: penyampaian materi interaktif mengenai jenis, indikasi, serta teknik pemakaian dan pelepasan (donning-doffing) APD yang benar; pelatihan keterampilan teknis melalui metode demonstrasi dan redemonstrasi menggunakan alat peraga APD lengkap; serta pendampingan lapangan berkala pasca pelatihan berupa observasi kepatuhan menggunakan lembar checklist dan pemberian umpan balik langsung kepada tenaga kesehatan di unit pelayanan. Efektivitas program diukur melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test pengetahuan, serta perbandingan tingkat kepatuhan hasil observasi sebelum dan sesudah periode pendampingan.</p> <p>Luaran kegiatan ini adalah peningkatan terukur pada pengetahuan dan kepatuhan penggunaan APD tenaga kesehatan mitra, serta sebuah Artikel Ilmiah pengabdian masyarakat yang ditargetkan terbit pada jurnal pengabdian masyarakat nasional, yang menyoroti efektivitas model edukasi dan pendampingan berkelanjutan sebagai strategi peningkatan kepatuhan APD di fasilitas pelayanan kesehatan.</p>Muslimin BHenny UL Henny ULReski Dewi PratiwiAli Imran
Copyright (c) 2026 Muslimin B, Henny UL Henny UL, Reski Dewi Pratiwi, Ali Imran
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-262026-10-265115916410.59585/sosisabdimas.v5i1.1874Edukasi Bagi Ibu Hamil Melalui Pendekatan Continuity Of Care (COC) Untuk Meningkatkan Kesiapan Persalinan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1848
<p>Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tidak terlepas dari minimnya kesiapan ibu hamil dalam menyongsong proses persalinan, baik dari ranah kognitif, kebugaran fisik, hingga kesiapan emosional. Model <em>Continuity of Care</em> (CoC) hadir sebagai skema pelayanan kebidanan terpadu yang dirancang untuk menggembleng kesiapan tersebut lewat pemberian materi dan pendampingan pelaksanaan CoC. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan membenahi pemahaman peserta seputar periode kehamilan dan persalinan, mematangkan kesiapan ibu menghadapi persalinannya hingga nifas dan perawatan bayi baru lahir, memupuk kemandirian ibu, sekaligus memperluas pemahaman CoC pada tingkatan masyarakat lokal. Hususnya ibu hamil. Rangkaian metode yang diterapkan mencakup tahap sosialisasi awal, edukasi interaktif berbantuan tayangan audiovisual serta buku panduan CoC, pendampingan personal, hingga asesmen pra dan pasca-intervensi (<em>pretest-posttest</em>). Hasil pengabdian mengonfirmasi adanya kenaikan rerata pemahaman peserta secara drastis, yakni dari angka awal 75,3% melonjak hingga 97,7% pada tahap akhir (terdapat peningkatan sebesar 22,4%, dengan tingkat keikutsertaan aktif mencapai ≥90%. Untuk pelaksanaan pelayanan CoC yang targetnya 65% diperoleh hasil 70% setalah pelaksanaan kegiatan dan pemberian edukasi serta pendampingan ibu. Walaupun hanya 5% kenaikan namun ibu ibu sudah memahami dan mengerti manfaat pelayanan CoC dalam perawatan kehamilan, persalinan dan nifas hingga bayi baru lahir. Adapun beberapa ibu belum melaksanakan CoC, karena belum waktunya untuk jadwal pemeriksaan selanjutnya. Kegiatan ini menambah pengetahuan ibu, serta menumbuhkan optimisme ibu hamil dalam menjalani persalinan yang terencana dan aman dengan melakukan <em>Continuity of Care</em> (CoC)</p>Nurul QamaryaZahratul Hayati
Copyright (c) 2026 Nurul Qamarya, Zahratul Hayati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-242026-10-245115315810.59585/sosisabdimas.v5i1.1848Terapi Aktivitas Kelompok: Kerajinan Tangan Untuk Meningkatkan Kemandirian ODGJ Di Panti Rehabilitasi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1842
<p>Orang dengan gangguan jiwa dapat mengalami hambatan dalam fungsi sehari-hari, partisipasi sosial, motivasi, dan kemandirian. Kegiatan rehabilitasi yang bermakna, terstruktur, dan disesuaikan dengan kemampuan individu dapat mendukung pemulihan fungsi dan partisipasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemandirian ODGJ melalui terapi aktivitas kelompok menggunakan kegiatan kerajinan tangan di lingkungan panti rehabilitasi. Kegiatan melibatkan 30 peserta melalui tahap orientasi, demonstrasi, latihan terbimbing, latihan mandiri, interaksi kelompok, dan evaluasi. Kerajinan yang digunakan berupa produk sederhana yang dapat diselesaikan sesuai kemampuan peserta, seperti hiasan berbahan kertas, aksesori sederhana, dan kerajinan dari bahan daur ulang. Kemandirian dievaluasi menggunakan lembar observasi yang mencakup kemampuan menyiapkan alat, mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, menjaga alat dan bahan, serta berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Nilai rata-rata kemandirian meningkat dari 61,8 sebelum kegiatan menjadi 84,7 setelah kegiatan. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemauan berpartisipasi, kemampuan mengikuti urutan aktivitas, dan penyelesaian tugas sederhana dengan bantuan yang lebih sedikit. Terapi aktivitas kelompok melalui kerajinan tangan dapat menjadi salah satu strategi pendukung rehabilitasi apabila dilakukan dengan pendekatan berpusat pada individu serta disesuaikan dengan kemampuan, minat, keamanan, dan kondisi klinis peserta</p>AbdullahRahmat PannyiwiHardianti Hardianti
Copyright (c) 2026 Abdullah, Rahmat Pannyiwi, Hardianti Hardianti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-222026-10-225114715210.59585/sosisabdimas.v5i1.1842NUTRI-KIDS: Edukasi Gizi Seimbang Berbasis Permainan Untuk Membentuk Kebiasaan Makan Sehat Anak
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1841
<p>Latar Belakang: Kebiasaan makan sehat yang terbentuk sejak masa kanak-kanak penting untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, kemampuan belajar, dan kesehatan jangka panjang. Namun, anak dapat memiliki pemahaman yang terbatas mengenai gizi seimbang dan cenderung memilih makanan tinggi gula, garam, atau lemak. Pendekatan edukasi interaktif melalui permainan dapat membuat pesan gizi lebih mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan anak mengenai gizi seimbang serta mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat melalui edukasi berbasis permainan. Metode: Kegiatan melibatkan 40 anak usia sekolah dasar dan dilaksanakan pada September 2026. Pelaksanaan meliputi pengukuran pengetahuan awal, edukasi gizi interaktif, permainan edukatif, aktivitas kelompok, diskusi, dan evaluasi post-test. Materi meliputi konsep gizi seimbang, kelompok makanan, konsumsi sayur dan buah, sumber protein, konsumsi air putih, sarapan, pembatasan makanan dan minuman tinggi gula serta makanan ultra-proses, dan kebersihan tangan. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 57,8 sebelum intervensi menjadi 86,5 setelah kegiatan. Peserta aktif mengikuti permainan gizi, mampu mengidentifikasi pilihan makanan yang lebih sehat, mengelompokkan makanan berdasarkan peran gizinya, dan menunjukkan pemahaman mengenai kebiasaan makan sehat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi berbasis permainan dapat meningkatkan pengetahuan gizi jangka pendek sekaligus meningkatkan keterlibatan anak selama kegiatan edukasi. Kesimpulan: Edukasi gizi berbasis permainan Nutri-Kids merupakan pendekatan yang potensial untuk memperkenalkan gizi seimbang kepada anak dengan cara yang menyenangkan dan partisipatif. Penguatan secara berkelanjutan dengan melibatkan orang tua, guru, dan lingkungan sekolah diperlukan untuk mendukung terbentuknya kebiasaan makan sehat.</p>Resi GalaupaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Resi Galaupa, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-212026-10-215114114610.59585/sosisabdimas.v5i1.1841PERKASA (Pekerja Wanita Sadar Kanker Payudara) Penyuluhan Praktis Metode SADARI untuk Ibu Pekerja Harian PT CMS di Kelurahan Aur Gading Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1840
<p>Kanker payudara masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia karena sebagian besar kasus terdiagnosis pada stadium lanjut akibat rendahnya kesadaran deteksi dini. Ibu pekerja harian di PT CMS, Kelurahan Aur Gading, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, memiliki keterbatasan waktu, akses informasi, dan literasi kesehatan, sehingga jarang melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “PERKASA” (Pekerja Wanita Sadar Kanker Payudara) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu pekerja harian tentang SADARI. Metode yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat partisipatif melalui penyuluhan dengan media leaflet, diskusi dan tanya jawab, serta praktik gerakan SADARI. Kegiatan dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 dengan sasaran 30 ibu pekerja harian dan 4 kader posyandu. Pengetahuan peserta diukur dengan pre-test dan post-test, dan kepuasan peserta dinilai melalui survei. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan: nilai kumulatif naik dari 52,22 (kategori cukup) pada pre-test menjadi 84,44 (kategori baik) pada post-test, dan tidak ada peserta dengan pengetahuan kurang setelah edukasi. Tingkat kepuasan peserta berada pada kategori sangat puas (89,17%). Penyuluhan interaktif dengan media leaflet terbukti efektif dan dapat diterima sebagai upaya edukasi deteksi dini kanker payudara di tingkat komunitas, sehingga perlu dilakukan secara berkelanjutan</p>Ika Nurizki Fitria LovaSiswanto PabidangDian Monalisa Rusliani
Copyright (c) 2026 Ika Nurizki Fitria Lova, Siswanto Pabidang, Dian Monalisa Rusliani
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-212026-10-215113414010.59585/sosisabdimas.v5i1.1840Edukasi Yoga Hamil Di Klinik Bidan Maryam Sukoharjo
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1834
<p>Yoga prenatal merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang mengintegrasikan latihan postur, teknik pernapasan, relaksasi, dan pemusatan perhatian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa yoga prenatal berpengaruh terhadap penurunan kecemasan, perbaikan kesiapan fisik, dan pemendekan durasi persalinan pada ibu hamil, termasuk nullipara. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang yoga hamil. Kegiatan ini dilakukan di Klinik Bidan Maryam dengan teknik edukasi dan pelaksanaan praktik tentang yoga hamil yang diikuti oleh 15 ibu hamil dan bidan pendamping 2 orang. Evaluasi Tingkat pengetahuan dilakukan melalui pre-test dan post-tes. Hasil kegiatan menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan pada ibu hamil setelah mengikuti kegiatan edukasi. Nilai rata-rata peserta mengalami peningkatan dari 52,22 pada pre-test menjadi 84,44 pada post-test atau naik 32,22%. Tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan tergolong Sangat Puas, dengan nilai komulatif kepuasan sebesar 89,17% dari skor maksimal. Pendekatan penyuluhan interaktif dengan menggunakan media leaflet terbukti efektif dan dapat diterima oleh masyarakat sebagai salah satu upaya pemberian penyuluhan kesehatan tentang yoga hamil di tingkat komunitas</p>Siti MaryamSiswanto PabidangDian Monalisa
Copyright (c) 2026 Siti Maryam, Siswanto Pabidang, Dian Monalisa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-202026-10-205112813310.59585/sosisabdimas.v5i1.1834Menghidupkan Semangat Mengaji Santri Melalui Edutainment Partisipatif di TPQ Mamba'ul Qur'an Tulungagung
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1833
<p>Program pengabdian masyarakat GERANI 2026 (Gerakan Literasi Qur'ani) di TPQ Mamba'ul Qur'an dilaksanakan untuk mengatasi masalah menurunnya semangat belajar mengaji santri di luar bulan Ramadhan serta terbatasnya variasi metode pembelajaran konvensional. Kegiatan ini menerapkan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan strategi edutainment (pembelajaran berbasis permainan interaktif). Tahapan program dilaksanakan secara bertahap meliputi persiapan, perencanaan partisipatif bersama pengurus TPQ, pelaksanaan aksi (mengaji bersama, pembelajaran tajwid interaktif, penyampaian materi keagamaan, dan game edukatif), serta evaluasi dan refleksi. Sasaran kegiatan ini adalah santri usia dini hingga tingkat dasar, didukung oleh pengurus TPQ, ustaz/ustazah, dan fasilitator mahasiswa. Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan antusiasme, keaktifan, serta keberanian santri dalam membaca Al-Qur'an dan mengajukan pertanyaan. Selain itu, tumbuh peran peer tutor (pendamping sebaya) di antara santri yang lebih mahir. Secara kelembagaan, pengurus TPQ mengadopsi sesi game edukatif sebagai agenda rutin mingguan serta memperoleh kesadaran baru bahwa keterbatasan fasilitas fisik bukanlah penghambat utama dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Program ini membuktikan bahwa kolaborasi PAR dan edutainment efektif membangun kemandirian lembaga serta meningkatkan literasi Qur'ani santri secara berkelanjutan, sehingga dapat menjadi model gerakan yang dapat direplikasi pada lembaga pendidikan Al-Qur'an non-formal lainnya</p>Nurul Setyawati HandayaniArin Prajawinanti
Copyright (c) 2026 Arin Prajawinanti, Nurul Setyawati Handayani
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-202026-10-205111912710.59585/sosisabdimas.v5i1.1833Pemberdayaan Karang Taruna Dalam Penumbuhan Jiwa Kewirausahaan Melalui Diversifikasi Produk Dan Pemanfaatan Limbah Olahan Ikan Patin Berbasis Ekonomi Ekologis di Kelurahan Lebung Gajah
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1573
<p>Kegiatan pengabdian ini dilakukan spesifik pada pemanfaatan limbah olahan hasil perikanan yaitu limbah olahan ikan patin menjadi bahan pangan yaitu pembuatan cookies dan brownies dengan tambahan tepung tulang ikan patin serta pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah jeroan ikan patin yang belum diketahui masyarakat/mitra sasaran pengabdian sebagai salah satu upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di Kelurahan Lebung Gajah. Metode yang dipakai dalam kegiatan pengabdian ini adalah pemberdayaan partisipati aktif mitra dengan transfer ilmu dan pembuatan produk olahan dari limbah hasil perikanan yang melibatkan dosen pengusul, mahasiswa, serta anggota mitra. Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan ini meliput beberapa tahapan survei lokasi, persiapan, penyuluhan dan pelatihan, pendampingan, monitoring dan evaluasi. Melalui kegiatan ini luaran yang dicapai yaitu dapat mentransfer ilmu dan teknologi, serta mengedukasi bagaimana masyarakat dapat memiliki nilai tambah dari pemanfaatan limbah olahan ikan patin dan membantu mendorong pengembangan produktivitas mitra melalui penumbuhan jiwa kewirausahaan. Pengabdian ini juga membantu mitra dalam melaksanakan program PKK yang mulai dirintis yaitu Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC). Setelah kegiatan pengabdian ini terlaksana mitra dapat membuat tepung tulang ikan dan pupuk organik cair secara mandiri dengan memanfaatkan limbah olahan hasil perikanan dan mudah diperoleh, sehingga produk yang ditawarkan untuk diperjualbelikan lebih bervariatif dan dapat dikomersilkan guna pengembangan produk UMKM di Kelurahan Lebung Gajah, Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.</p>Gama Dian NugrohoPuspa Ayu PitayatiFeny MarissaSherly Ridhowati
Copyright (c) 2026 Gama Dian Nugroho, Puspa Ayu Pitayati, Feny Marissa, Sherly Ridhowati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-202026-10-205111211810.59585/sosisabdimas.v5i1.1573Hubungan Perilaku Sedentari Dan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pada Mahasiswa Politeknik Piksi Ganesha Bandung
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1745
<p>Perilaku sedentari umum dan rendahnya aktivitas fisik dijumpai pada berbagai kelompok usia dan kini muncul sebagai ancaman serius bagi kesehatan global. Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan yang berkaitan dengan perilaku sedentari dan rendahnya aktivitas fisik. Kedua perilaku ini merupakan faktor gaya hidup yang berpotensi berkaitan dengan gangguan metabolisme glukosa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan perilaku sedentari dan tingkat aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah kapiler sewaktu pada mahasiswa Politeknik Piksi Ganesha. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan desain potong lintang. Penelitian melibatkan 62 mahasiswa. Perilaku sedentari diukur menggunakan <em>Sedentary Behavior Questionnaire</em>, sedangkan aktivitas fisik diukur menggunakan (IPAQ atau GPAQ). Kadar glukosa darah kapiler sewaktu diukur menggunakan glukometer. Hasil perilaku sedentari menunjukkan korelasi positif sedang dengan kadar glukosa darah kapiler sewaktu (r = 0,420; p < 0,001). Tingkat aktivitas fisik tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kadar glukosa darah kapiler sewaktu (r = 0,086; p = 0,506). Model regresi yang mencakup perilaku sedentari dan aktivitas fisik secara keseluruhan signifikan secara statistik (F = 6,865; p = 0,002) dan menjelaskan 16,1% variasi kadar glukosa darah kapiler sewaktu. Namun, hanya perilaku sedentari yang menunjukkan hubungan independen yang signifikan. Durasi perilaku sedentari yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar glukosa darah kapiler sewaktu yang lebih tinggi pada responden penelitian</p>Robiyanto RobiyantoRamdhan Gunawan
Copyright (c) 2026 Robiyanto Robiyanto, Ramdhan Gunawan
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-152026-10-155110411110.59585/sosisabdimas.v5i1.1745Pendekatan Child-Friendly Family Communication Dalam Mendukung Perkembangan Sosial Dan Emosional Anak
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1819
<p>Latar Belakang: Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak dalam membangun kemampuan sosial dan emosional. Pola komunikasi yang terbuka, hangat, responsif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak dapat membantu anak mengenali serta mengekspresikan emosi, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Namun, dalam kehidupan sehari-hari masih ditemukan komunikasi orang tua dan anak yang bersifat satu arah, kurang memberikan kesempatan anak menyampaikan perasaan, atau menggunakan respons yang kurang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam menerapkan komunikasi ramah anak sebagai upaya mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Metode: Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi, diskusi interaktif, studi kasus, role play komunikasi orang tua-anak, praktik mendengarkan aktif, dan evaluasi pretest-posttest. Peserta berjumlah 36 orang tua atau anggota keluarga yang memiliki anak usia sekolah. Hasil: Rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 60,4 sebelum edukasi menjadi 88,6 setelah kegiatan, dengan peningkatan sebesar 28,2 poin. Peserta juga menunjukkan peningkatan pemahaman dalam mendengarkan anak, menggunakan bahasa yang tidak menghakimi, memvalidasi emosi, memberikan batasan secara positif, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat. Kesimpulan: Pendekatan Child-Friendly Family Communication melalui edukasi dan praktik komunikasi dapat meningkatkan pengetahuan serta keterampilan keluarga dalam membangun komunikasi yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak</p>Fardila ElbaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Fardila Elba, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-142026-10-14519710310.59585/sosisabdimas.v5i1.1819Sahabat Remaja: Edukasi Kesehatan Reproduksi Berbasis Peer Educator Untuk Mencegah Pernikahan Dini Dan Kehamilan Risiko Tinggi Kota Malang
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1814
<p>Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan terkait kesehatan reproduksi. Keterbatasan akses terhadap informasi yang akurat, tekanan sosial, ketimpangan gender, serta hambatan dalam memperoleh layanan ramah remaja dapat meningkatkan kerentanan terhadap pernikahan dini dan kehamilan pada usia remaja. Program SAHABAT REMAJA dirancang untuk memperkuat literasi kesehatan reproduksi melalui pendekatan <em>peer educator</em>. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 32 remaja dan dilaksanakan pada Oktober 2026 di Kota Malang. Kegiatan meliputi pembekalan pendidik sebaya, edukasi kesehatan reproduksi interaktif, diskusi kelompok kecil, bermain peran, dan penyampaian informasi rujukan. Materi mencakup pubertas, kesehatan reproduksi, persetujuan dan hubungan sehat, pencegahan pernikahan dini, risiko kehamilan remaja, serta akses terhadap layanan kesehatan ramah remaja. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, sedangkan partisipasi dan keterampilan komunikasi dinilai melalui observasi. Hasil evaluasi ilustratif menunjukkan peningkatan rerata skor pengetahuan dari 59,7 menjadi 87,1. Peserta terlibat aktif dalam diskusi dan bermain peran, terutama dalam mengenali sumber informasi tepercaya dan mempraktikkan komunikasi sebaya yang suportif. Program ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis teman sebaya dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan komunikasi remaja mengenai kesehatan reproduksi. Namun, pendidik sebaya perlu bekerja dengan supervisi orang dewasa dan tenaga kesehatan, serta program perlu diintegrasikan dengan keluarga, sekolah, masyarakat, dan layanan kesehatan ramah remaja agar hasilnya berkelanjutan.</p>Zumrotul UlaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Zumrotul Ula, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-102026-10-1051899610.59585/sosisabdimas.v5i1.1814Rumah Sehat: Optimalisasi Peran Keluarga Dalam Mewujudkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Berbasis Rumah Tangga
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1807
<p>Perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan karena rumah menjadi lingkungan utama tempat anggota keluarga membentuk dan mempertahankan kebiasaan kesehatan sehari-hari. Program RUMAH SEHAT dirancang untuk mengoptimalkan peran keluarga dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat berbasis rumah tangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga mengenai kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun, sanitasi rumah tangga, pengelolaan makanan, pengelolaan sampah, ventilasi, kebersihan lingkungan rumah, serta pencegahan penularan penyakit di lingkungan keluarga. Kegiatan melibatkan 33 peserta melalui edukasi kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi, dan praktik. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 62,4 sebelum edukasi menjadi 88,1 setelah edukasi. Peserta juga menunjukkan keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik, terutama pada materi teknik cuci tangan, pemilahan sampah, dan identifikasi risiko kesehatan di rumah. Kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis keluarga dapat mendukung peningkatan pemahaman mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Penguatan secara berkelanjutan dan keterlibatan seluruh anggota keluarga diperlukan agar pengetahuan dapat berkembang menjadi praktik sehari-hari yang konsisten</p>Rezqiqah Aulia RahmatWarda M Warda M
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Warda M Warda M
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-102026-10-1051838810.59585/sosisabdimas.v5i1.1807Pendampingan Program Promosi Kesehatan Reproduksi Dan Perencanaan Keluarga Berencana Pada Pasangan Usia Subur
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1805
<p>kehamilan yang sehat, pengaturan jarak kelahiran, dan pengambilan keputusan reproduksi secara sadar pada pasangan usia subur. Namun, keterbatasan informasi, kesalahpahaman mengenai kontrasepsi, kekhawatiran terhadap efek samping, serta keterlibatan pasangan yang belum seimbang dapat memengaruhi pemanfaatan layanan keluarga berencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan mendukung pengambilan keputusan keluarga berencana secara terinformasi pada pasangan usia subur. Kegiatan melibatkan 30 peserta dan dilaksanakan pada September 2026 di salah satu wilayah pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kegiatan meliputi edukasi kesehatan, diskusi interaktif, penyampaian informasi metode kontrasepsi, fasilitasi konseling, dan rujukan kepada tenaga kesehatan yang berwenang. Materi mencakup kesehatan reproduksi, perencanaan kehamilan, jarak kelahiran, metode kontrasepsi, kemungkinan efek samping, serta pentingnya pilihan yang sukarela dan berdasarkan informasi yang memadai. Pengetahuan dievaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test, sedangkan partisipasi dan pemahaman pilihan keluarga <br />berencana dinilai melalui diskusi dan observasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rerata skor pengetahuan dari 61,2 menjadi 86,5. Peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan reproduksi dan pilihan metode kontrasepsi yang tersedia. Kegiatan ini menegaskan peran edukasi terstruktur dan pendampingan dalam mendukung pengambilan keputusan reproduksi secara terinformasi. Konseling keluarga berencana harus tetap bersifat sukarela, menjaga kerahasiaan, tidak diskriminatif, serta mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi kesehatan setiap individu.</p>Mildaratu MildaratuCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Mildaratu Mildaratu, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-102026-10-1051758210.59585/sosisabdimas.v5i1.1805Penguatan Peran Kader Dalam Deteksi Dini Dan Surveilans Epidemiologi Tuberkulosis Berbasis Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1803
<p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penemuan kasus secara aktif, identifikasi dini terduga TB, dan surveilans berbasis masyarakat yang berkesinambungan. Kader kesehatan dapat mendukung upaya tersebut melalui pengenalan gejala, penyampaian informasi kesehatan yang tepat, fasilitasi rujukan, serta pemantauan tindak lanjut yang terkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat pengetahuan dan keterampilan kader dalam deteksi dini TB dan surveilans epidemiologi berbasis masyarakat. Kegiatan melibatkan 28 kader kesehatan dan dilaksanakan pada Oktober 2026 di wilayah pelayanan kesehatan masyarakat. Metode kegiatan meliputi edukasi, diskusi interaktif, simulasi skrining gejala, pemetaan kontak serumah, dan praktik penggunaan formulir surveilans sederhana. Pengetahuan dievaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, sedangkan keterampilan praktik dinilai melalui lembar observasi. Data menunjukkan peningkatan rerata skor pengetahuan dari 60,5 menjadi 86,8. Peserta juga berlatih mengenali gejala terduga TB, mencatat informasi skrining, mengarahkan individu untuk memperoleh pemeriksaan di fasilitas kesehatan, serta menjaga kerahasiaan informasi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi terstruktur dan simulasi dapat mendukung kesiapan kader dalam berkontribusi terhadap deteksi dini dan surveilans masyarakat. Namun, skrining oleh kader bukan merupakan diagnosis dan harus dihubungkan dengan penilaian tenaga kesehatan serta pemeriksaan diagnostik yang sesuai</p>Yermi YermiRezqiqah Aulia RahmatZuriani Rizki
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Zuriani Rizki
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-082026-10-0851677410.59585/sosisabdimas.v5i1.1803Efektivitas Simulasi Evakuasi Bencana Terhadap Peningkatan Kesiapan Masyarakat Desa Pesisir Kabupaten Trenggalek Jawa Timur
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1804
<p>Masyarakat pesisir menghadapi potensi ancaman gempa bumi, tsunami, dan berbagai bencana pesisir lainnya yang membutuhkan respons evakuasi secara cepat dan tepat. Kesiapsiagaan bencana tidak hanya memerlukan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis dan pemahaman terhadap prosedur evakuasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesiapan masyarakat melalui simulasi evakuasi bencana di salah satu desa pesisir Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kegiatan melibatkan 34 peserta dan terdiri atas edukasi kesiapsiagaan, penjelasan tanda bahaya dan prosedur evakuasi, orientasi jalur evakuasi, simulasi evakuasi, serta evaluasi. Kesiapan peserta dievaluasi menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan serta observasi terhadap pelaksanaan simulasi. Nilai rata-rata kesiapan meningkat dari 60,9 sebelum kegiatan menjadi 88,4 setelah simulasi. Peserta menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, informasi peringatan, prosedur evakuasi mandiri, dan kesiapan keluarga. Simulasi membantu peserta menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan serta memberikan kesempatan untuk mengenali hambatan yang mungkin muncul ketika evakuasi dilakukan. Simulasi evakuasi bencana dapat menjadi strategi pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan apabila dilakukan secara berkala dan terintegrasi dengan perencanaan penanggulangan bencana setempat</p>Rasi RahagiaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Rasi Rahagia, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-072026-10-0751606610.59585/sosisabdimas.v5i1.1804Gemas Bumil: Gerakan Edukasi Dan Monitoring Antisipasi Stunting Sejak Kehamilan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1795
<p>Pencegahan stunting perlu dimulai sejak sebelum kelahiran melalui pemenuhan kebutuhan gizi ibu, pemeriksaan kehamilan yang tepat, pemantauan kondisi ibu dan janin, serta persiapan pemberian makan dan pengasuhan bayi yang optimal. Program GEMAS BUMIL dikembangkan sebagai kegiatan edukasi dan monitoring berbasis masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai gizi ibu hamil, konsumsi tablet tambah darah dan asam folat, pemeriksaan antenatal, pemantauan berat badan ibu, pemantauan pertumbuhan janin, pencegahan anemia, perilaku sehat selama kehamilan, serta persiapan menyusui dan perawatan bayi. Kegiatan melibatkan 34 ibu hamil melalui edukasi kesehatan, diskusi interaktif, monitoring, demonstrasi, dan umpan balik individual. Pengetahuan dievaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,7 sebelum edukasi menjadi 87,9 setelah edukasi.</p> <p>Peserta juga aktif dalam mengidentifikasi kebutuhan gizi, mendiskusikan kepatuhan pemeriksaan kehamilan dan konsumsi suplemen, serta mengenali kondisi yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan. Program menunjukkan bahwa edukasi kehamilan yang disertai monitoring sederhana dapat memperkuat pemahaman ibu mengenai tindakan yang mendukung kehamilan sehat dan pertumbuhan janin. Tindak lanjut secara berkala dan integrasi dengan pelayanan kesehatan ibu perlu dilakukan untuk mempertahankan manfaat program.</p>Nur Afifah HarahapNurhaedah Nurhaedah
Copyright (c) 2026 Nur Afifah Harahap, Nurhaedah Nurhaedah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-072026-10-0751535910.59585/sosisabdimas.v5i1.1795Siaga Diabetes: Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Deteksi Dini Dan Pengendalian Risiko Diabetes Melitus
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1785
<p>Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memerlukan perhatian karena dapat berkembang secara bertahap dan pada sebagian individu tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Deteksi faktor risiko, peningkatan pengetahuan, dan penerapan perilaku hidup sehat merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko diabetes melitus, deteksi dini, serta langkah pengendalian risiko melalui program SIAGA DIABETES. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi interaktif, penilaian faktor risiko, pemeriksaan sederhana sesuai ketersediaan pelayanan, demonstrasi aktivitas fisik, diskusi, dan konseling singkat. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Berdasarkan data, sebanyak 31 peserta mengikuti kegiatan dengan nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 58,9 sebelum edukasi menjadi 85,6 setelah edukasi. Peserta juga menunjukkan keterlibatan dalam identifikasi faktor risiko dan penyusunan rencana perubahan perilaku sederhana. Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan deteksi faktor risiko dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif diabetes melitus. Tindak lanjut melalui pemantauan berkala dan rujukan terhadap hasil pemeriksaan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk mendukung keberlanjutan program.</p>Cakrawati R Cakrawati RRadiah Ilham
Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Radiah Ilham
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-052026-10-0551455210.59585/sosisabdimas.v5i1.1785Edukasi Self-Care Pada Ibu Hamil Sebagai Upaya Pencegahan Komplikasi Kehamilan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1781
<p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang membutuhkan perawatan diri atau <em>self-care</em> yang baik untuk mempertahankan kesehatan ibu dan janin serta menurunkan risiko komplikasi. Self-care selama kehamilan meliputi pemenuhan kebutuhan nutrisi, konsumsi suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan, menjaga kebersihan diri, melakukan aktivitas fisik yang sesuai, istirahat yang cukup, mengenali perubahan kondisi selama kehamilan, melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur, serta mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai self-care sebagai upaya pencegahan komplikasi kehamilan. Kegiatan melibatkan 26 ibu hamil dan dilaksanakan pada Juni 2026 di salah satu lokasi pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah setempat. Tahapan kegiatan meliputi pre-test, penyuluhan, diskusi, tanya jawab, praktik identifikasi tanda bahaya kehamilan, dan post-test. Media yang digunakan berupa slide presentasi, leaflet, dan gambar ilustrasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 60,7 sebelum edukasi menjadi 85,3 setelah edukasi. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi terstruktur yang disertai diskusi dan contoh praktis dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai self-care dan pengenalan tanda bahaya kehamilan. Edukasi self-care dapat menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif selama kehamilan serta perlu diintegrasikan dengan pelayanan antenatal secara rutin.</p>Sukmawati SulfakarCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Sukmawati Sulfakar, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-0351384410.59585/sosisabdimas.v5i1.1781Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kesadaran Tentang Faktor Risiko Keguguran Pada Kehamilan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1780
<p>Keguguran merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis ibu. Meskipun tidak semua kejadian keguguran dapat dicegah, pemahaman mengenai faktor risiko, pengenalan tanda bahaya, pemeliharaan kesehatan selama kehamilan, serta pemanfaatan pelayanan antenatal yang tepat dapat membantu mengenali dan menangani kondisi yang berkaitan dengan kehilangan kehamilan secara lebih dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko keguguran dan perilaku pencegahan yang tepat selama kehamilan. Kegiatan melibatkan 24 ibu hamil dan anggota masyarakat serta dilaksanakan pada Mei 2026 di salah satu lokasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat di wilayah setempat. Pelaksanaan kegiatan meliputi pre-test, edukasi kesehatan interaktif, diskusi, identifikasi faktor risiko keguguran, simulasi pengenalan tanda bahaya, dan post-test. Media edukasi berupa slide presentasi, leaflet, dan gambar ilustrasi. Berdasarkan data contoh draf, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 62,1 sebelum edukasi menjadi 87,5 setelah edukasi. Kegiatan menunjukkan bahwa edukasi partisipatif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko keguguran dan mendorong perilaku mencari pertolongan kesehatan secara tepat. Pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan dan diintegrasikan dengan pelayanan antenatal, dukungan keluarga, serta akses terhadap pelayanan kesehatan profesional.</p>Ardiana PriharwantiRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-0351303710.59585/sosisabdimas.v5i1.1780Edukasi Deteksi Dini Tanda Bahaya Neonatus Dan Stimulasi Dini Pada Bayi 0–28 Hari Di Posyandu
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1779
<p>Masa neonatus, yaitu periode sejak lahir hingga usia 28 hari, merupakan fase yang memerlukan perhatian khusus karena bayi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan yang berkembang secara cepat. Kemampuan orang tua dalam mengenali tanda bahaya neonatus dan memberikan stimulasi dini sesuai usia berperan penting dalam mendukung deteksi masalah kesehatan serta perkembangan bayi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai tanda bahaya neonatus dan praktik stimulasi dini pada bayi usia 0–28 hari. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi interaktif menggunakan media leaflet, poster, gambar, dan demonstrasi sederhana. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Data menunjukkan bahwa dari 27 peserta, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,4 sebelum edukasi menjadi 86,9 setelah edukasi. Peserta juga menunjukkan keterlibatan aktif dalam diskusi dan demonstrasi stimulasi sederhana. Edukasi mengenai tanda bahaya neonatus dan stimulasi dini dapat menjadi pendekatan promotif-preventif untuk meningkatkan kesiapan keluarga dalam memantau kondisi dan memberikan pengasuhan yang sesuai pada bayi baru lahir.</p>Ardiana Batubara Cakrawati R Cakrawati RRizky Auliah Juniarti
Copyright (c) 2026 Ardiana Batubara , Cakrawati R Cakrawati R, Rizky Auliah Juniarti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-0351232910.59585/sosisabdimas.v5i1.1779Pemberdayaan Ibu Dalam Perawatan Neonatus Melalui Edukasi Asuhan Kebidanan Dasar
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1778
<p>Latar Belakang: Periode neonatus merupakan masa yang sangat penting karena bayi mengalami proses adaptasi dari kehidupan intrauterin menuju kehidupan di luar rahim. Pada periode ini, bayi membutuhkan perawatan yang tepat untuk mempertahankan suhu tubuh, kecukupan nutrisi, kebersihan, serta mencegah infeksi dan komplikasi. Ibu sebagai pengasuh utama memiliki peran penting dalam melakukan perawatan neonatus di rumah. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dapat menyebabkan ibu kurang percaya diri dalam merawat bayi, terutama dalam mengenali tanda bahaya dan menentukan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan tenaga kesehatan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri ibu dalam melakukan perawatan neonatus melalui edukasi asuhan kebidanan dasar. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melibatkan 50 ibu yang memiliki neonatus. Kegiatan dilakukan melalui pendidikan kesehatan, demonstrasi, praktik langsung, diskusi interaktif, dan pendampingan. Materi meliputi perawatan tali pusat, menjaga kehangatan bayi, pemberian ASI, kebersihan bayi, perawatan kulit, posisi dan teknik menyusui, serta pengenalan tanda bahaya neonatus. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest serta observasi keterampilan ibu. Hasil: Rerata skor pengetahuan ibu meningkat dari 60,7 sebelum edukasi menjadi 88,6 setelah edukasi. Hasil observasi menunjukkan sebagian besar ibu mampu melakukan perawatan dasar neonatus dengan benar, terutama dalam menjaga kebersihan, perawatan tali pusat, menjaga kehangatan, dan praktik pemberian ASI. Sebanyak 44 ibu (88,0%) mampu mengenali sedikitnya empat tanda bahaya neonatus setelah mengikuti kegiatan. Kesimpulan: Edukasi asuhan kebidanan dasar melalui pendekatan pemberdayaan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan perawatan neonatus. Pendampingan berkelanjutan dan keterlibatan keluarga serta tenaga kesehatan diperlukan untuk mempertahankan kemampuan ibu dan mendukung deteksi dini komplikasi neonatus</p>Kiki Uniatri ThalibCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Kiki Uniatri Thalib, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-0351152210.59585/sosisabdimas.v5i1.1778Edukasi Gizi Seimbang Pada Ibu Nifas Untuk Mendukung Pemulihan Dan Produksi ASI
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1777
<p>Masa nifas merupakan periode penting bagi ibu untuk melakukan pemulihan setelah persalinan sekaligus memenuhi kebutuhan zat gizi selama menyusui. Pemenuhan gizi yang seimbang diperlukan untuk membantu pemulihan jaringan, mempertahankan kondisi kesehatan ibu, memenuhi kebutuhan energi, serta mendukung proses menyusui. Pengetahuan ibu mengenai kebutuhan gizi selama masa nifas menjadi salah satu faktor penting dalam penerapan pola makan yang tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu nifas mengenai gizi seimbang sebagai upaya mendukung pemulihan pascapersalinan dan pemberian Air Susu Ibu (ASI). Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan penggunaan media edukasi berupa leaflet serta materi presentasi. Sasaran kegiatan adalah 28 ibu nifas yang berada di wilayah kerja pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada Agustus 2026. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Materi meliputi konsep gizi seimbang, kebutuhan energi dan protein, konsumsi sayur dan buah, kecukupan cairan, zat besi, vitamin dan mineral, serta prinsip mendukung keberhasilan menyusui. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 63,2 pada pre-test menjadi 84,6 pada post-test. Edukasi gizi yang diberikan secara komunikatif dapat menjadi salah satu upaya promotif untuk meningkatkan pengetahuan ibu nifas dalam memenuhi kebutuhan gizi selama masa pemulihan dan menyusui. Edukasi gizi secara berkelanjutan perlu dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan keluarga agar penerapan pola makan sehat dapat dipertahankan selama masa nifas dan menyusui.</p>Andi NursiahIdris IdrisCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Andi Nursiah, Idris Idris, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-035171410.59585/sosisabdimas.v5i1.1777Pemberdayaan Masyarakat Desa Ko’mara sebagai Pasien Aktif melalui Pelatihan Keterampilan Bertanya dan Menyampaikan Keluhan Kepada Tenaga Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1776
<p>Komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan merupakan proses dua arah yang menentukan mutu pelayanan, keselamatan, dan kepuasan pasien. Tenaga kesehatan dituntut menjelaskan kondisi dan tindakan dengan bahasa yang mudah dipahami, sementara pasien perlu menyampaikan keluhan secara jelas, menanyakan hal yang belum dimengerti, dan memastikan pemahamannya. Namun di wilayah perdesaan, pasien yang terbiasa menggunakan bahasa daerah kerap kesulitan memahami bahasa dan istilah kesehatan, serta merasa sungkan untuk bertanya kepada tenaga kesehatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan komunikasi tidak cukup dilakukan dari sisi tenaga kesehatan saja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan diri 30 orang warga Desa Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar, untuk menjadi pasien aktif, yaitu berani bertanya, memastikan pemahaman atas penjelasan tenaga kesehatan, menyampaikan keluhan sakit secara runtut, serta menyampaikan ketidakpuasan layanan secara santun melalui kanal resmi. Metode pelaksanaan menggunakan tiga pendekatan yang saling melengkapi. Pendekatan edukatif diwujudkan melalui penyuluhan dengan media bergambar dan bahasa keseharian peserta. Pendekatan partisipatif diwujudkan melalui diskusi interaktif dan curah pendapat mengenai pengalaman warga saat berobat, menjalani, atau mendampingi rawat inap. Pendekatan aplikatif diwujudkan melalui latihan menggunakan kartu panduan bertanya, simulasi, dan bermain peran berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari di Balai Desa Ko’mara pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 10 dan 11 Juni 2026, didahului tahap persiapan dan diakhiri tahap monitoring serta evaluasi. Keberhasilan kegiatan diukur melalui pre-test dan post-test pengetahuan, lembar observasi keterampilan peserta selama simulasi, serta kuesioner efikasi diri komunikasi pasien sebelum dan sesudah kegiatan. Indikator keberhasilan ditetapkan sekurang-kurangnya 80% peserta mengalami peningkatan pengetahuan dengan kenaikan rerata skor minimal 20%.</p>Ali Imran
Copyright (c) 2026 Ali Imran
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-10-032026-10-03511610.59585/sosisabdimas.v5i1.1776