Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas
<p><strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong>, merupakan jurnal untuk berfokus kepada hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen, praktisi, ataupun mahasiswa. Jurnal ini dikelola oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia (AGDOSI) Makassar, Sulawesi Selatan. Pengelola jurnal ini terdiri dari dosen dan praktisi dari berbagai latar belakang perguruan tinggi di Indonesia. <strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong> terbit 4 kali dalam 1 tahun yaitu pada bulan <strong>September, Desember,</strong> <strong>Maret </strong>dan<strong> Juni</strong>.</p>Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesiaen-USSahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat2964-9196Edukasi Kesehatan Kepada Masyarakat Tentang Risiko Penularan TBC Paru Di Gampong Ateuk Lueng Ie Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1581
<p>Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan umumnya menyerang paru-paru, Tuberkolosis juga dapat menyerang organ lainnya seperti ginjal, tulang belakang dan otak (1). Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian paling tinggi pada orang-orang dengan usia produktif, tingkat ekonomi lemah, serta pendidikan rendah. Sebagian negara masih belum dapat mengontrol TBC sepenuhnya, karena penyakit ini mudah menular melalui udara sehingga pencegahannya harus dilakukan secara teliti. Setidaknya diperlukan waktu minimal 6 bulan untuk dilakukan pengobatan secara rutin serta terus menerus (2). Penyakit TBC dapat dengan mudah menular melalui udara, sehingga diperlukan pencegahan dan penanganan yang cepat. Peningkatan kasus TBC dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kondisi kesehatan lingkungan permukiman.</p> <p>Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dengan menginformasikan dan mengedukasi masyarakat sebagai upaya pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis Paru. Kegiatan yang dilakukan pengabdian ini adalah penyuluhan kesehatan tentang pencegahan penyakit Tuberkulosis Paru.</p> <p>Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi yang dilakukan diberikan pretest sebelum dan post test sesudah. Program akan dilaksanakan di Manyarakat dan balai gampong dengan melibatkan kader posyandu, Mayarakat. Sebagai bentuk transfer teknologi dan keberlanjutan, akan dilatih dua remaja sebagai kader peer educator yang mampu mengedukasi dan mengelola pemantauan pencegahan penularan TBC secara mandiri di komunitasnyaLuaran yang ditargetkan dalam kegiatan ini meliputi: Produk edukasi: modul, leaflet, dan media visual tuberculosis, Sistem pemantauan: data skrining TBC awal dan akhir, Pembentukan: kader peer educator, Publikasi: artikel ilmiah (jurnal SINTA), Dokumen: laporan akhir program PKM.</p> <p>Berdasarkan hasil data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar Kasus TB Paru di Aceh Besar setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan yang signifikan dari tahun 2020 terdapat 206 kasus, terjadi peningkatan kasus ditahun 2021 sebanyak 235 kasus, terjadi lagi peningkatan yang signifikan ditahun 2022 sebanyak 326 kasus, dan di tahun 2023 (periode sampai oktober) yaitu sebanyak 339 kasus [12]. Gampong Ateuk Lueng Ie Kecamatan Ingin Jaya mempunya penduduk berjumlah 640 orang</p>FitrianaFahmi IchwansyahIrwana Wahab
Copyright (c) 2026 Fitriana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-242026-08-24441779178710.59585/sosisabdimas.v4i4.1581Penguatan Human Capital Dan Ketahanan Sosial Melalui Pendekatan Bela Negara: Program PKM Terintegrasi Di Kecamatan Slawi, Tegal
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1550
<p>Kecamatan Slawi, Tegal, sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Kabupaten Tegal, menghadapi tantangan krusial dalam pengembangan human capital dan ketahanan sosial di tengah gempuran disrupsi digital dan perubahan sosial. Rendahnya adopsi teknologi, keterbatasan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta melemahnya kohesi sosial menjadi isu strategis yang memerlukan intervensi holistik dan terintegrasi. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memperkuat human capital dan ketahanan sosial masyarakat melalui pendekatan Bela Negara, yang menekankan pada kesadaran berbangsa, kecintaan terhadap tanah air, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat daya saing. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatoris dan pemberdayaan masyarakat, yang diintegrasikan melalui tiga pilar utama: (1) pelatihan vokasi dan kewirausahaan berbasis digital bagi pelaku UMKM dan pemuda, (2) pendampingan penguatan tata kelola kelembagaan desa dan BUMDes, serta (3) internalisasi nilai-nilai Bela Negara melalui edukasi kebangsaan dan penguatan karakter bagi generasi muda. Seluruh kegiatan melibatkan sinergi kolaboratif antara dosen, mahasiswa, pemerintah daerah, dan komunitas lokal di Kecamatan Slawi. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi teknis peserta, penguatan kapasitas manajerial aparatur desa, serta tertanamnya nilai-nilai Bela Negara yang terintegrasi dalam aktivitas ekonomi dan sosial sehari-hari. Indikator ketahanan sosial meningkat, tercermin dari tingginya partisipasi kolektif, eratnya kohesi kelompok, dan stabilitas ekonomi masyarakat pasca-pendampingan. PKM terintegrasi ini membuktikan bahwa pendekatan Bela Negara bukanlah semata wawasan fisik-militeristik, melainkan fondasi strategis pembangunan human capital yang adaptif dan inklusif untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kokoh dari tingkat lokal hingga nasional</p>Gregorius Henu Basworo
Copyright (c) 2026 Gregorius Henu Basworo
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-202026-08-20441769177810.59585/sosisabdimas.v4i4.1550Pemberdayaan Ibu Tanggap Tentang Edukasi Deteksi Dini Dan Manajemen Awal Diare Serta ISPA Pada Balita Di TPMB Medhisa Tegalrandu Grabag
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1535
<p>Pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Pemberdayaan Ibu Tanggap tentang Edukasi Deteksi Dini dan Manajemen Awal Diare serta ISPA pada Balita di TPMB Medhisa Tegalrandu Grabag” bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengenali tanda bahaya serta melakukan penanganan awal diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita. Diare dan ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia, sedangkan keterlambatan deteksi dini masih sering terjadi akibat rendahnya pengetahuan ibu, adanya miskonsepsi budaya, dan keterbatasan dalam mengenali gejala objektif. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di TPMB Medhisa Tegalrandu Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan melibatkan ibu yang memiliki balita usia 1–4 tahun, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, demonstrasi dan simulasi kasus sederhana, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Materi edukasi mencakup deteksi dini tanda bahaya diare dan ISPA, cara menghitung frekuensi napas, penanganan awal di rumah, serta pentingnya segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan apabila ditemukan gejala berat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai tanda bahaya diare dan ISPA, berkurangnya kepercayaan terhadap mitos terkait penyakit pada anak, serta meningkatnya kemampuan ibu dalam melakukan penanganan awal sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan. Kegiatan ini diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif yang efektif dalam menurunkan risiko komplikasi serta mendukung peningkatan derajat kesehatan balita di masyarakat.</p>Siswanto PabidangChentia Misse Issabella Sri Daryati
Copyright (c) 2026 Siswanto Pabidang, Chentia Misse Issabella , Sri Daryati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-172026-08-17441759176810.59585/sosisabdimas.v4i4.1535Sekolah Peduli Sampah: Edukasi Dan Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Di Lingkungan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1527
<p>Pengelolaan sampah di sekolah merupakan bagian penting dalam pembentukan perilaku peduli lingkungan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan warga sekolah dalam pengelolaan sampah melalui edukasi dan aksi nyata berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 09 April 2026 di Sekolah Dasar Negeri 51 Maluku Tengah, Dusun Wainuru, Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Peserta terdiri atas 77 siswa dan 7 guru. Seluruh pelaksana terlibat aktif dengan dukungan 4 mahasiswa. Metode yang digunakan meliputi pendidikan masyarakat melalui penyuluhan interaktif, presentasi, tanya jawab, pengenalan jenis dan dampak sampah, pemilahan sampah, serta aksi nyata pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan terlaksana dengan baik tanpa kendala. Peserta berpartisipasi aktif dan memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pemilahan serta pengelolaan sampah. Berdasarkan indikator pelaksanaan, seluruh tujuan kegiatan tercapai dengan ketercapaian 100%. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang disertai praktik langsung dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di sekolah. Keberlanjutan program perlu didukung melalui pembiasaan, pemantauan, dan keterlibatan guru serta warga sekolah.</p>Hairudin RasakoRusdin WallyArfan Ohorella
Copyright (c) 2026 Hairudin Rasako, Rusdin Wally, Arfan Ohorella
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-162026-08-16441754175810.59585/sosisabdimas.v4i4.1527Pendampingan Perencanaan Pelayanan Farmasi Berbasis Kebutuhan Untuk Mendukung Mutu Pelayanan Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1518
<p>Latar Belakang: Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena berhubungan langsung dengan ketersediaan, keamanan, mutu, dan penggunaan obat yang rasional. Perencanaan pelayanan farmasi yang tidak didasarkan pada kebutuhan aktual dapat menyebabkan kekurangan maupun kelebihan persediaan obat, pemborosan anggaran, peningkatan risiko obat kedaluwarsa, serta terganggunya kesinambungan pelayanan. Tujuan: Meningkatkan kemampuan tenaga kefarmasian dalam menyusun perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan sehingga dapat mendukung ketersediaan obat, efisiensi pengelolaan sumber daya, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada 30 tenaga kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, pelatihan, diskusi, pendampingan identifikasi kebutuhan, analisis data pemakaian, penyusunan rencana kebutuhan obat dan bahan farmasi, serta evaluasi pretest dan posttest. Materi mencakup identifikasi kebutuhan pelayanan, analisis data penggunaan, perhitungan kebutuhan, pengelolaan stok, penentuan prioritas, penyusunan rencana pengadaan, pengendalian persediaan, dan monitoring evaluasi. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam melakukan perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 62,1 pada pretest menjadi 87,4 pada posttest. Kemampuan peserta dalam mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis data pemakaian, menghitung kebutuhan, menentukan prioritas, serta menyusun rencana pelayanan farmasi juga mengalami peningkatan. Peserta menjadi lebih memahami pentingnya penggunaan data aktual sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan pelayanan kefarmasian. Kesimpulan: Pendampingan perencanaan pelayanan farmasi berbasis kebutuhan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kefarmasian. Pendekatan ini dapat mendukung ketersediaan obat dan bahan farmasi, efisiensi penggunaan anggaran, pengendalian persediaan, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Pendampingan secara berkala diperlukan agar kemampuan perencanaan dapat diterapkan secara berkelanjutan</p>Rahmat PannyiwiAzmi WijayatiEnka Nur Ishmatika Afina Nurfauziah Najmah SalsabilaDwi Ardyna Octa Sari
Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Azmi Wijayati, Enka Nur Ishmatika , Afina Nurfauziah , Najmah Salsabila, Dwi Ardyna Octa Sari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-152026-08-15441747175310.59585/sosisabdimas.v4i4.1518Promosi Kesehatan Reproduksi Melalui Pendidikan Komunitas Untuk Meningkatkan Perilaku Seksual Yang Bertanggung Jawab
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1498
<p>Latar Belakang: Kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan individu yang perlu diperhatikan sejak masa remaja. Perkembangan teknologi informasi dan perubahan lingkungan sosial memberikan kemudahan bagi remaja dan pemuda dalam memperoleh informasi, tetapi tidak seluruh informasi yang diterima memiliki dasar yang benar. Keterbatasan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengambil keputusan dan meningkatkan kerentanan terhadap perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja serta pemuda mengenai kesehatan reproduksi dan mendorong terbentuknya perilaku seksual yang bertanggung jawab. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada komunitas remaja dan pemuda dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Metode kegiatan meliputi pendidikan kesehatan interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, studi kasus, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest. Hasil: Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan pendidikan kesehatan. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 61,2 sebelum kegiatan menjadi 86,7 setelah kegiatan. Peningkatan pemahaman terutama terlihat pada materi mengenai batasan diri, hubungan sehat, pengenalan risiko perilaku seksual, pencegahan infeksi menular seksual, dan kemampuan memilih sumber informasi kesehatan yang dapat dipercaya. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menganalisis permasalahan kesehatan reproduksi dan menentukan pilihan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Kesimpulan: Pendidikan komunitas mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja serta pemuda mengenai perilaku seksual yang bertanggung jawab. Kegiatan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, komunitas, institusi pendidikan, dan tenaga kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan reproduksi.</p>HartatiRahmat PannyiwiRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Hartati, Rahmat Pannyiwi, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-132026-08-13441740174610.59585/sosisabdimas.v4i4.1498Optimalisasi Peran Kadet Medis Sebagai Pengganda Kekuatan Dalam Penanganan Kegawatdaruratan Pada Situasi Bencana Di Sumatra
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1496
<p>Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko bencana cukup tinggi, termasuk di berbagai wilayah Pulau Sumatra. Situasi bencana dapat menyebabkan peningkatan jumlah korban, keterbatasan tenaga kesehatan, gangguan akses pelayanan, serta kebutuhan penanganan kegawatdaruratan yang harus dilakukan secara cepat dan terorganisasi. Namun, peran tersebut memerlukan pengetahuan, keterampilan, koordinasi, dan pemahaman batas kewenangan yang memadai. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kadet medis dalam memberikan respons awal kegawatdaruratan pada situasi bencana serta memperkuat kemampuan mereka dalam mendukung sistem penanganan korban secara aman dan terkoordinasi. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada kadet medis di lingkungan komunitas/pendidikan di wilayah Sumatra dengan melibatkan 30 peserta. Metode kegiatan meliputi edukasi interaktif, demonstrasi, simulasi kegawatdaruratan, latihan triase sederhana, latihan pertolongan pertama, simulasi evakuasi korban, komunikasi dan koordinasi bencana, serta evaluasi menggunakan pretest dan posttest. Materi diberikan dengan menekankan prinsip keselamatan penolong, pengenalan kondisi mengancam jiwa, pertolongan pertama sesuai kompetensi, triase awal, evakuasi, komunikasi, dan rujukan. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 61,4 sebelum pelatihan menjadi 87,1 setelah pelatihan. Evaluasi praktik menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam melakukan penilaian keselamatan lokasi, mengenali kondisi kegawatdaruratan, melakukan triase sederhana, memberikan pertolongan pertama sesuai kompetensi, serta melakukan komunikasi dan koordinasi dalam simulasi bencana. Kesimpulan: Pelatihan berbasis edukasi, demonstrasi, simulasi, dan latihan praktik dapat meningkatkan kesiapsiagaan kadet medis dalam mendukung penanganan kegawatdaruratan pada situasi bencana. Kadet medis dapat menjadi pengganda kekuatan dalam respons awal apabila memiliki kompetensi yang sesuai, memahami batas kewenangan, mengutamakan keselamatan, dan bekerja secara terkoordinasi dengan tenaga kesehatan serta unsur penanggulangan bencana.</p>AJ Didy SurachmanRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 AJ Didy Surachman, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-122026-08-12441733173910.59585/sosisabdimas.v4i4.1496Operasi Lancar, Hati Bugar: Rahasia Sukses Persiapan Operasi Melalui Edukasi Tepat Guna
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1432
<p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><em>Introduction: Pre-operative anxiety and patients' lack of knowledge regarding surgical preparation procedures often hinder the smoothness of anesthesia administration and post-operative recovery. Appropriate health education is necessary to improve patient compliance with pre-surgical protocols, such as fasting and personal hygiene, thereby minimizing the risk of intraoperative complications. Methods: This community service activity took the form of health counseling and the distribution of educational media in the form of a "Ready for Surgery" booklet to 50 patients scheduled for elective surgery at RSUD X. The methods used included interactive lectures, demonstrations of deep breathing relaxation techniques, and evaluation of understanding through pre-test and post-test questionnaires. Results: There was a significant increase in participants' knowledge scores regarding pre-operative preparation, from an average of 45% (pre-test) to 85% (post-test). As many as 90% of participants stated they felt calmer and more confident facing the surgical procedure after receiving the education. Compliance with fasting instructions and personal hygiene also increased drastically compared to historical data prior to the intervention. Discussion: Providing clear, simple, and visual information helps reduce anxiety and improves patients' understanding of the importance of physical preparation. Two-way interaction during the counseling allowed for the clarification of myths circulating in the community regarding surgical preparation. Conclusion: Precise education through a multimedia approach and therapeutic communication effectively increases patients' mental and physical readiness, thereby supporting the smoothness of the surgical process and accelerating the recovery period.. </em></p> <p> </p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><strong> :</strong> <em>Pre-operative Education, Surgical Preparation, Patient Anxiety, Compliance, Community Service</em></p> <p> </p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p>Pendahuluan: Kecemasan pra-operasi dan ketidaktahuan pasien mengenai prosedur persiapan bedah sering kali menghambat kelancaran tindakan anestesi dan pemulihan pasca-operasi. Edukasi kesehatan yang tepat guna diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap protokol pra-bedah, seperti puasa dan higiene diri, sehingga dapat meminimalkan risiko komplikasi intraoperatif. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berbentuk penyuluhan kesehatan dan distribusi media edukasi berupa booklet "Siap Operasi" kepada 50 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi elektif di RSUD X. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, dan evaluasi pemahaman melalui kuesioner pre-test dan post-test. Hasil: Terjadi peningkatan signifikan pada skor pengetahuan peserta mengenai persiapan pra-operasi dari rata-rata 45% (pre-test) menjadi 85% (post-test). Sebanyak 90% peserta menyatakan merasa lebih tenang dan percaya diri menghadapi tindakan bedah setelah menerima edukasi. Kepatuhan terhadap instruksi puasa dan kebersihan diri juga meningkat drastis dibandingkan data historis sebelum intervensi. Pembahasan: Pemberian informasi yang jelas, sederhana, dan visual membantu mengurangi kecemasan serta memperbaiki pemahaman pasien tentang pentingnya persiapan fisik. Interaksi dua arah selama penyuluhan memungkinkan klarifikasi mitos yang beredar di masyarakat mengenai persiapan operasi. Kesimpulan: Edukasi tepat guna melalui pendekatan multimedia dan komunikasi terapeutik efektif meningkatkan kesiapan mental dan fisik pasien, sehingga mendukung kelancaran proses pembedahan dan mempercepat masa pemulihan.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Edukasi Pra-Operasi, Persiapan Bedah, Kecemasan Pasien, Kepatuhan, Pengabdian Masyarakat</p> <p> </p> <p><em>*Penulis Korespondensi : Rahayu Setyaningsih</em></p> <p><em>*Email : rahayusetyaningsih@uhb.ac.id</em></p> <p> </p>Rahayu SetyaningsihAprilia Nuryanti
Copyright (c) 2026 Rahayu Setyaningsih, Aprilia Nuryanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-112026-08-11441726173210.59585/sosisabdimas.v4i4.1432Optimalisasi Peran Laboratorium Kesehatan Sebagai Upaya Preventif Dan Promotif Di Lingkungan Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1468
<p>Latar Belakang: Laboratorium kesehatan memiliki peran penting dalam mendukung upaya preventif dan promotif melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini faktor risiko penyakit, serta pemantauan kondisi kesehatan masyarakat. Rendahnya pengetahuan mengenai manfaat pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menyebabkan faktor risiko penyakit tidak terdeteksi sejak dini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan layanan laboratorium sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di lingkungan desa/komunitas dengan melibatkan 30 orang masyarakat umum. Metode kegiatan meliputi edukasi, penyuluhan interaktif, diskusi, demonstrasi, konsultasi sederhana mengenai pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Materi meliputi fungsi laboratorium kesehatan, manfaat pemeriksaan berkala, deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular, pemeriksaan gula darah, kolesterol, hemoglobin, serta pentingnya tindak lanjut hasil pemeriksaan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan layanan laboratorium. Rerata skor pengetahuan peserta meningkat dari 61,8 sebelum kegiatan menjadi 85,2 setelah kegiatan. Peserta juga menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai manfaat pemeriksaan laboratorium secara berkala, faktor risiko penyakit tidak menular, interpretasi sederhana hasil pemeriksaan, serta pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan. Kegiatan juga meningkatkan kesadaran peserta untuk memanfaatkan layanan laboratorium tidak hanya ketika sakit tetapi sebagai bagian dari deteksi dini dan pemantauan kesehatan. Kesimpulan: Edukasi dan pendampingan mengenai pemanfaatan laboratorium kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menggunakan layanan laboratorium sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif. Optimalisasi peran laboratorium di tingkat komunitas perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga laboratorium, tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan masyarakat.</p>Rita Rena PudyastutiRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Rita Rena Pudyastuti, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-102026-08-10441719172510.59585/sosisabdimas.v4i4.1468Peningkatan Pengetahuan, Kepatuhan dan Analisis Penggunaan Obat Antihipertensi pada Peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1459
<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang melalui penggunaan obat secara tepat, peningkatan pengetahuan, serta kepatuhan pasien terhadap terapi. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas pengelolaan hipertensi melalui pemantauan dan edukasi secara berkelanjutan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta Prolanis dalam menjalani terapi hipertensi serta menganalisis pola penggunaan obat antihipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi mengenai hipertensi, penggunaan obat antihipertensi yang tepat, pentingnya kepatuhan minum obat, serta pemantauan penggunaan obat. Analisis penggunaan obat dilakukan secara observasional retrospektif menggunakan data kartu pemantauan peserta Prolanis yang didiagnosis hipertensi pada Februari 2026. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dan diperoleh sebanyak 58 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta Prolanis dengan hipertensi berjenis kelamin perempuan (90%), dengan kelompok usia terbanyak 40–60 tahun (58%). Berdasarkan pola penggunaan obat, monoterapi merupakan terapi yang paling dominan, dengan amlodipine 10 mg sebagai obat antihipertensi yang paling banyak digunakan (76%). Edukasi yang diberikan diarahkan pada peningkatan pemahaman peserta mengenai hipertensi, penggunaan obat secara rasional, keteraturan minum obat, dan pentingnya pemantauan tekanan darah secara berkala. Evaluasi program juga menunjukkan adanya peningkatan partisipasi peserta hipertensi dalam kegiatan Prolanis sebesar 1% dibandingkan bulan sebelumnya. Kegiatan edukasi dan pemantauan penggunaan obat antihipertensi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta dalam menjalani terapi serta mendukung keberhasilan pengendalian tekanan darah pada peserta Prolanis di Puskesmas Ciluluk.</p>Sulaeman NurdinDewi Wulamtresna
Copyright (c) 2026 Sulaeman Nurdin, Dewi Wulamtresna
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-102026-08-10441711171810.59585/sosisabdimas.v4i4.1459Analisis Swamedikasi Tingkat Pengetahuan, Sikap, Dan Praktik Masyarakat Terhadap Obat Diare Di Klinik Mustopa Cilame
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1474
<p><em>Diarrhea is a health issue frequently managed through self-medication. The success of self-medication depends on the public's knowledge, attitudes, and practices regarding the rational use of antidiarrheal drugs. This study aimed to analyze the public's knowledge, attitudes, and practices concerning antidiarrheal self-medication, as well as the relationships and influences between these variables at the Mustopa Cilame Clinic. A quantitative method with a descriptive-analytic design was employed. Sixty respondents were selected using simple random sampling. Data were collected via a questionnaire that had passed validity and reliability testing (Cronbach's Alpha = 0.810). The results indicated that the majority of respondents fell into the "moderate" category for knowledge (45%), attitude (46.7%), and practice (41.7%). Correlation analysis revealed positive and significant relationships between knowledge and attitude (r = 0.588), knowledge and practice (r = 0.551), and attitude and practice (r = 0.510) (p < 0.05), all with moderate strength. Regression analysis showed that knowledge significantly influenced attitude (R² = 0.346; p < 0.001), while attitude significantly influenced practice (R² = 0.260; p < 0.001). It is concluded that better knowledge and more positive attitudes among patients encourage more rational self-medication practices with antidiarrheal drugs in the community.</em></p>Indi YutinaDewi Wulantresna
Copyright (c) 2026 Indi Yutina, Dewi Wulantresna
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-112026-08-11441726173510.59585/sosisabdimas.v4i4.1474Pelatihan Perencanaan Kebutuhan Obat, Alat Kesehatan, SDM, Dan Anggaran Untuk Mendukung Pelayanan Farmasi Yang Optimal
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1467
<p>Latar Belakang: Perencanaan kebutuhan merupakan salah satu komponen penting dalam pengelolaan pelayanan farmasi di klinik. Perencanaan yang kurang tepat dapat menyebabkan kekosongan atau kelebihan persediaan obat dan alat kesehatan, pemborosan anggaran, serta ketidaksesuaian antara kebutuhan pelayanan dengan ketersediaan sumber daya. Selain itu, keterbatasan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan secara sistematis dapat memengaruhi efisiensi dan mutu pelayanan farmasi. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan berdasarkan data pelayanan dan kebutuhan fasilitas. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan obat, alat kesehatan, sumber daya manusia (SDM), dan anggaran untuk mendukung pelayanan farmasi yang optimal di klinik. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan melalui pelatihan kepada 25 tenaga kefarmasian di klinik. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi, studi kasus, demonstrasi perhitungan kebutuhan, latihan penyusunan rencana kebutuhan, dan evaluasi menggunakan pretest dan posttest. Materi mencakup identifikasi kebutuhan, analisis data penggunaan obat, perencanaan alat kesehatan, estimasi kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja, serta penyusunan estimasi anggaran. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan skor pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Rerata skor pretest sebesar 62,4 meningkat menjadi 85,6 pada posttest. Peningkatan terutama terlihat pada kemampuan menghitung kebutuhan obat berdasarkan pola konsumsi, menentukan kebutuhan alat kesehatan, mengidentifikasi kebutuhan SDM, dan menyusun estimasi anggaran. Peserta juga mampu menyusun contoh rencana kebutuhan secara lebih sistematis berdasarkan data pelayanan klinik. Kesimpulan: Pelatihan perencanaan kebutuhan obat, alat kesehatan, SDM, dan anggaran dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kefarmasian dalam menyusun perencanaan sumber daya pelayanan farmasi. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkala dan diintegrasikan dengan evaluasi kebutuhan serta penggunaan sumber daya di klinik.</p>Rezqiqah Aulia RahmatAgung Nur Cahyanta
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Agung Nur Cahyanta
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-102026-08-10441703171010.59585/sosisabdimas.v4i4.1467Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi Melalui Intervensi Perawat Maternitas Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Maternal Dan Neonatal
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1446
<p>Latar Belakang: Kehamilan risiko tinggi merupakan salah satu kondisi yang berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal. Rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal, serta persiapan persalinan dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Perawat maternitas memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu wilayah pelayanan kesehatan masyarakat dengan melibatkan 20–30 ibu hamil risiko tinggi sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, edukasi mengenai kehamilan risiko tinggi, diskusi interaktif, konsultasi individual, serta pendampingan oleh perawat maternitas. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, disertai observasi terhadap partisipasi dan perubahan perilaku selama kegiatan berlangsung. Hasil: Kegiatan berlangsung dengan baik dan diikuti secara aktif oleh seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah mengikuti penyuluhan dan pendampingan, ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata pretest dari 63,4 menjadi 86,8 pada posttest. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko kehamilan, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal secara rutin, pemenuhan kebutuhan gizi, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah, serta kesiapan menghadapi persalinan. Peserta juga menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk menerapkan perilaku hidup sehat selama kehamilan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan secara optimal. Kesimpulan: Pendampingan ibu hamil risiko tinggi melalui intervensi perawat maternitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku kesehatan ibu hamil. Program ini berkontribusi terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan maternal dan neonatal melalui deteksi dini faktor risiko, peningkatan kepatuhan terhadap pelayanan antenatal, serta penguatan kesiapan menghadapi persalinan. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.</p>Lumastari Ajeng WijayantiRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07441695170210.59585/sosisabdimas.v4i4.1446Membangun Desa Sadar Sehat Melalui Program Edukasi Promosi Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1450
<p>Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan kejadian PTM erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres yang tidak terkelola dengan baik. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko PTM menyebabkan upaya pencegahan dan deteksi dini belum dilakukan secara optimal. Pendekatan promosi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali faktor risiko PTM serta menerapkan perilaku hidup sehat melalui program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu desa binaan dengan melibatkan 50 peserta berusia 18–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, skrining sederhana faktor risiko PTM, demonstrasi pengukuran tekanan darah dan antropometri, simulasi aktivitas fisik, konseling individu, pembagian booklet edukasi, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 93,8 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor risiko PTM, 94,0% memahami pola makan sehat, 92,0% memahami pentingnya aktivitas fisik, 90,0% berkomitmen melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, dan 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah penyakit tidak menular. Pendekatan pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat dan menurunkan faktor risiko PTM.</p>Rahmat PannyiwiRifqi Ferry Balfas
Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Rifqi Ferry Balfas
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07441686169410.59585/sosisabdimas.v4i4.1450Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Sakit Kepala Melalui Edukasi Manajemen Stres Dan Gaya Hidup Sehat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1449
<p>Latar Belakang: Sakit kepala merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat dan dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas kerja, serta aktivitas sehari-hari. Sebagian besar kasus sakit kepala primer, seperti <em>tension-type headache</em> dan migrain, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikasi, antara lain stres, kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, dehidrasi, kurang aktivitas fisik, serta postur tubuh yang buruk. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko dan strategi pencegahan menyebabkan kejadian sakit kepala berulang masih cukup tinggi. Edukasi kesehatan yang dikombinasikan dengan pelatihan manajemen stres dan penerapan gaya hidup sehat merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mencegah kekambuhan sakit kepala. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor pencetus sakit kepala, manajemen stres, pola hidup sehat, teknik relaksasi, serta kemampuan menerapkan upaya pencegahan secara mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–60 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, latihan peregangan leher dan bahu, simulasi penyusunan gaya hidup sehat, pembagian booklet, post-test, serta evaluasi kepuasan peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum edukasi menjadi 92,5 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor pencetus sakit kepala, 94,0% memahami teknik manajemen stres, 92,0% mampu mempraktikkan teknik relaksasi, 90,0% berkomitmen menerapkan gaya hidup sehat, dan 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi mengenai manajemen stres dan gaya hidup sehat efektif meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mencegah sakit kepala. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mendukung peningkatan kualitas hidup dan produktivitas.</p>Warda M Warda MAndi Agustang
Copyright (c) 2026 Warda M Warda M, Andi Agustang
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07441677168510.59585/sosisabdimas.v4i4.1449Self Care Empowerment: Pendampingan Keperawatan Bagi Pasien Penyakit Kronis Dalam Meningkatkan Kemandirian Perawatan Di Rumah
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1448
<p>Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi penyebab utama berbagai komplikasi, seperti penyakit kardiovaskular, nefropati, retinopati, dan neuropati. Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada terapi medis, tetapi juga pada kemampuan pasien dalam melakukan <em>self care</em> secara mandiri di rumah. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan pasien dalam mengelola penyakit sering kali menyebabkan pengendalian kadar glukosa darah yang kurang optimal serta meningkatkan risiko komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi keperawatan berbasis pemberdayaan (<em>self care empowerment</em>) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada komunitas masyarakat dengan sasaran pasien diabetes melitus. Intervensi dilakukan melalui pelatihan <em>self care</em>, penyuluhan kesehatan, demonstrasi praktik perawatan mandiri, diskusi interaktif, serta pendampingan keperawatan. Evaluasi dilakukan menggunakan metode <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta serta observasi terhadap kemampuan peserta dalam menerapkan perilaku <em>self care</em>. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan baik dan diikuti secara aktif oleh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pengelolaan diabetes melitus, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, perawatan kaki diabetik, pemantauan kadar glukosa darah, serta pencegahan komplikasi. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan motivasi dan kepercayaan diri dalam melakukan perawatan mandiri di rumah serta lebih memahami pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendukung pengelolaan penyakit. Kesimpulan: Program <em>Self Care Empowerment</em> melalui pendampingan keperawatan efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian pasien diabetes melitus dalam melakukan perawatan di rumah. Kegiatan ini berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien serta menurunkan risiko komplikasi melalui penerapan perilaku <em>self care</em> yang berkelanjutan.</p>Tri WahyuniRosida Rosida
Copyright (c) 2026 Tri Wahyuni, Rosida Rosida
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07441668167610.59585/sosisabdimas.v4i4.1448Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan Pencernaan Untuk Mencegah Konstipasi Dan Gangguan Gastrointestinal
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1445
<p>Latar Belakang: Gangguan kesehatan pencernaan, khususnya konstipasi, masih menjadi masalah kesehatan yang sering dialami masyarakat di berbagai kelompok usia. Konstipasi tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, serta meningkatkan risiko terjadinya komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Faktor penyebab konstipasi sebagian besar berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti rendahnya konsumsi serat, kurang minum air putih, aktivitas fisik yang rendah, kebiasaan menahan buang air besar, serta penggunaan obat pencahar yang tidak rasional. Rendahnya literasi masyarakat mengenai kesehatan pencernaan menyebabkan upaya pencegahan belum dilakukan secara optimal. Edukasi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pencernaan, mengenali faktor risiko konstipasi, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan gangguan gastrointestinal. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi penyusunan menu tinggi serat, simulasi aktivitas fisik ringan, edukasi hidrasi, pembagian booklet, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,5 sebelum intervensi menjadi 93,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami penyebab konstipasi, 94,0% memahami pentingnya konsumsi serat dan cairan, 92,0% mampu menyusun pola makan sehat untuk menjaga kesehatan pencernaan, 90,0% berkomitmen meningkatkan aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat, serta 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi kesehatan mengenai kesehatan pencernaan efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah konstipasi dan gangguan gastrointestinal melalui penerapan gaya hidup sehat. Program edukasi berkelanjutan perlu dikembangkan sebagai bagian dari promosi kesehatan di tingkat masyarakat.</p>Rezqiqah Aulia RahmatFarida Fakhrunnisa
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Farida Fakhrunnisa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07441659166710.59585/sosisabdimas.v4i4.1445Sahabat Menopause: Pemberdayaan Perempuan Dalam Menghadapi Perubahan Fisiologis Dengan Bijak Dan Sehat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1342
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong>Background:</strong> Menopause is a natural physiological process experienced by women, marking the end of the reproductive period. Hormonal changes during menopause often lead to physical, psychological, and social symptoms that may reduce women's quality of life. Limited knowledge and persistent misconceptions regarding menopause frequently result in anxiety and inadequate preparation among women. Therefore, community-based health education is essential to empower women in understanding menopausal changes and adopting healthy lifestyles.</p> <p><strong>Objective:</strong> To improve women's knowledge, attitudes, and preparedness in facing menopause through health education, mentoring, and healthy lifestyle promotion.</p> <p><strong>Methods:</strong> This community service program was conducted at Posyandu Mawar, Antang Village, Manggala District, Makassar City, in September 2026 involving 35 women aged 40–60 years. Activities included health education sessions, interactive discussions, healthy diet counseling, relaxation exercises, physical activity demonstrations, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively.</p> <p><strong>Results:</strong> Participants' average knowledge score increased from 61.8 before the intervention to 89.4 after the program. Approximately 91.4% of participants were able to identify physiological changes during menopause, 88.6% understood non-pharmacological approaches to managing menopausal symptoms, and 94.3% reported feeling more prepared to face menopause. Participants showed high enthusiasm and active involvement throughout the activities.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> The Menopause Companion Program effectively improved women's knowledge, preparedness, and awareness regarding healthy menopause management. Community-based educational interventions can serve as an effective health promotion strategy to improve the quality of life among middle-aged and older women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Menopause, Women Empowerment, Health Education, Health Promotion, Community Service</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Menopause merupakan proses fisiologis alami yang dialami setiap perempuan sebagai tanda berakhirnya masa reproduksi. Perubahan hormonal yang terjadi selama masa menopause sering menimbulkan berbagai keluhan fisik, psikologis, maupun sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan. Kurangnya pengetahuan serta masih adanya berbagai mitos mengenai menopause menyebabkan banyak perempuan mengalami kecemasan dan kurang siap menghadapi perubahan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pemberdayaan melalui edukasi kesehatan agar perempuan mampu memahami perubahan fisiologis yang terjadi dan menerapkan gaya hidup sehat dalam menghadapi masa menopause.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan perempuan dalam menghadapi menopause melalui program edukasi kesehatan, pendampingan, dan praktik hidup sehat.</p> <p><strong>Metode:</strong> Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Posyandu Mawar, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar pada bulan September 2026. Sasaran kegiatan adalah 35 perempuan usia 40–60 tahun. Program dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi aktivitas fisik sederhana, edukasi gizi, latihan relaksasi, konsultasi kesehatan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 61,8 sebelum edukasi menjadi 89,4 setelah edukasi. Sebanyak 91,4% peserta mampu menjelaskan perubahan fisiologis selama menopause, 88,6% memahami cara mengatasi keluhan menopause secara nonfarmakologis, dan 94,3% menyatakan lebih siap menghadapi masa menopause. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan berpartisipasi aktif selama diskusi maupun praktik.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Program Sahabat Menopause efektif meningkatkan pengetahuan, kesiapan, dan kesadaran perempuan dalam menghadapi menopause secara sehat. Edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan usia premenopause dan menopause.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Menopause, Pemberdayaan Perempuan, Edukasi Kesehatan, Promosi Kesehatan, Pengabdian Kepada Masyarakat</p>Lumastari Ajeng WijayantiCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-042026-07-044414861500Penguatan Peran Tenaga Kesehatan Sebagai Care Provider Pada Masa Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Dan Neonatus
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1348
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>Maternal and neonatal health services remain a national priority in reducing maternal and neonatal mortality. High-quality healthcare requires competent healthcare providers who are able to deliver comprehensive and continuous care from the preconception period through pregnancy, childbirth, postpartum, and neonatal care. Strengthening healthcare workers' competencies is essential to improve the quality of maternal and neonatal healthcare services. To improve healthcare providers' knowledge, skills, and competencies regarding their role as care providers in delivering comprehensive maternal and neonatal healthcare based on the continuum of care approach. This community service program was conducted at a primary healthcare center in Indonesia in September 2026 involving 35 healthcare workers, including midwives, nurses, nutritionists, health promotion officers, and other healthcare professionals. Activities included health education, interactive discussions, case studies, simulation-based learning, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively. The participants' average knowledge score increased from 68.4 before the intervention to 91.8 after the program. Approximately 94.3% of participants understood the continuum of care concept, 91.4% identified maternal risk factors appropriately, 94.3% understood safe childbirth services, 97.1% mastered essential postpartum and neonatal care, and 94.3% reported greater confidence in providing comprehensive maternal healthcare.Strengthening the role of healthcare workers as care providers effectively improved participants' competencies in delivering integrated maternal and neonatal healthcare services. Continuous professional education is recommended to enhance the quality of maternal and child healthcare services.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Care Provider, Healthcare Workers, Preconception, Pregnancy, Childbirth, Postpartum, Neonate</em>.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pelayanan kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Pelayanan yang berkualitas memerlukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai <em>care provider</em> dalam memberikan pelayanan secara komprehensif dan berkesinambungan sejak masa pra-konsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan neonatus. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui edukasi dan peningkatan kompetensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman tenaga kesehatan mengenai peran <em>care provider</em> dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal berbasis <em>continuum of care</em>. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu puskesmas di wilayah Indonesia pada bulan September 2026 dengan melibatkan 35 tenaga kesehatan yang terdiri atas bidan, perawat, tenaga gizi, promotor kesehatan, dan tenaga kesehatan lainnya. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, studi kasus, simulasi pelayanan maternal-neonatal, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan distribusi frekuensi, persentase, dan perubahan skor pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 68,4 sebelum kegiatan menjadi 91,8 setelah kegiatan. Sebanyak 94,3% peserta memahami konsep <em>continuum of care</em>, 91,4% mampu mengidentifikasi faktor risiko pada masa pra-konsepsi dan kehamilan, 94,3% memahami pelayanan persalinan aman, 97,1% memahami pelayanan nifas dan neonatus esensial, serta 94,3% menyatakan lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai <em>care provider</em> terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan peserta dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara berkesinambungan. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal di fasilitas pelayanan kesehatan primer.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Care Provider, Tenaga Kesehatan, Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus</p>Cakrawati R Cakrawati RMaria Septiana
Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Maria Septiana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-082026-07-084415011513Edukasi Senam Hamil Dalam Meningkatkan Kesiapan Fisik Dan Mental Menghadapi Persalinan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1349
<p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Pregnancy is a physiological process accompanied by various physical and psychological changes that may affect maternal well-being and readiness for childbirth. Many pregnant women experience anxiety, lower back pain, fatigue, and lack of confidence before delivery. Pregnancy exercise is a safe, non-pharmacological intervention that can improve physical fitness, reduce discomfort, and enhance psychological preparedness. Community-based health education is therefore essential to increase maternal awareness and encourage regular participation in pregnancy exercise. This community service program aimed to improve the physical and psychological readiness of pregnant women for childbirth through health education and practical pregnancy exercise sessions. The program was conducted at a primary healthcare facility in Indonesia in September 2026 involving 30 pregnant women in the second and third trimesters. Activities included health education, interactive discussions, demonstrations, guided pregnancy exercise practice, breathing and relaxation techniques, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Participants' practical skills and satisfaction were also assessed. Data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and mean score comparisons.<strong>:</strong> The program demonstrated positive outcomes in improving participants' knowledge and preparedness. The mean knowledge score increased from 66.8 before the intervention to 90.7 after the educational session. Participants also showed significant improvement in performing stretching exercises, pelvic floor exercises, breathing techniques, relaxation exercises, and appropriate labor positions. Psychological readiness improved as reflected by increased self-confidence, reduced anxiety, and greater motivation to perform pregnancy exercise regularly. Most participants expressed high satisfaction with the educational materials, practical sessions, and overall implementation of the program.<strong>:</strong> Health education combined with practical pregnancy exercise effectively improved the knowledge, physical preparedness, and psychological readiness of pregnant women for childbirth. Integrating pregnancy exercise education into routine antenatal care is recommended to promote maternal health, increase confidence during labor, and support safe and positive childbirth experiences.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Pregnancy Exercise; Health Education; Maternal Health; Physical Readiness; Psychological Readiness; Childbirth Preparation; Community Service.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang disertai berbagai perubahan fisik, psikologis, hormonal, dan sosial yang memerlukan adaptasi dari ibu hamil. Kurangnya aktivitas fisik yang sesuai selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan kebugaran, meningkatnya keluhan muskuloskeletal, serta kecemasan menjelang persalinan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang direkomendasikan untuk meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan adalah senam hamil. Senam hamil berperan dalam meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, teknik pernapasan, relaksasi, serta kesiapan mental sehingga ibu lebih percaya diri menghadapi proses persalinan.</p> <p>Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan fisik dan mental ibu hamil melalui edukasi dan praktik senam hamil. Kegiatan dilaksanakan pada salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 30 ibu hamil trimester II dan III. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik senam hamil, diskusi interaktif, pendampingan peserta, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.</p> <p>Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat senam hamil, perubahan fisiologis selama kehamilan, teknik pernapasan, posisi persalinan, dan latihan relaksasi. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 66,8 menjadi 90,7 setelah kegiatan. Selain itu, sebagian besar peserta menyatakan lebih percaya diri, lebih rileks, memahami teknik mengurangi nyeri selama persalinan, serta memiliki motivasi untuk melakukan senam hamil secara rutin. Antusiasme peserta selama kegiatan juga menunjukkan bahwa metode edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu hamil.</p> <p>Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi dan praktik senam hamil merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan yang efektif dalam meningkatkan kesiapan fisik dan mental ibu hamil menghadapi persalinan. Program serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan antenatal untuk mendukung persalinan yang aman, nyaman, dan berkualitas.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Edukasi Kesehatan, Ibu Hamil, Kesiapan Persalinan, Kesehatan Maternal, Senam Hamil.</p>Cakrawati R Cakrawati RNur FatimahRezqiqah Aulia RahmatWulan Citra Sari
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Wulan Citra Sari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-082026-07-084415141526Implementasi Pendidikan Kesehatan Maternal Tentang Faktor Risiko Dan Pencegahan Atonia Uteri Pada Ibu Hamil
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1350
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Uterine atony is the leading cause of postpartum hemorrhage and remains a major contributor to maternal mortality in developing countries, including Indonesia. Most cases can be prevented through early identification of risk factors, high-quality antenatal care, and maternal health education. However, many pregnant women still have limited knowledge regarding the risk factors, warning signs, and preventive measures for uterine atony. This community service program aimed to improve pregnant women's knowledge of the risk factors, warning signs, and prevention of uterine atony through maternal health education. The program was conducted in September 2026 at a primary healthcare facility in Indonesia and involved 35 pregnant women. Educational methods included health counseling, interactive discussions, educational video presentations, leaflet distribution, and question-and-answer sessions. Participants' knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires, and the data were analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, and mean scores. All participants completed the program with a high level of participation. The mean knowledge score increased from 64.9 before the intervention to 89.8 after the educational session. Most participants were able to explain the definition of uterine atony, identify major risk factors such as anemia, multiple pregnancy, prolonged labor, and fetal macrosomia, and recognize the importance of routine antenatal care, adequate nutrition, delivery at healthcare facilities, and prompt management of postpartum hemorrhage. Furthermore, 94.3% of participants reported greater confidence in preparing for pregnancy and childbirth after attending the program. Maternal health education effectively improved pregnant women's knowledge and awareness regarding the prevention of uterine atony. Continuous educational interventions should be integrated into routine antenatal care to support efforts to reduce maternal mortality associated with postpartum hemorrhage.</p> <p>.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Antenatal Care; Maternal Health Education; Postpartum Hemorrhage; Pregnant Women; Uterine Atony.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum dan masih menjadi kontributor terbesar kematian ibu di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini faktor risiko, pelayanan antenatal yang berkualitas, serta pendidikan kesehatan kepada ibu hamil. Namun, pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya, dan upaya pencegahan atonia uteri masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang faktor risiko, tanda bahaya, dan pencegahan atonia uteri melalui pendidikan kesehatan maternal. Kegiatan dilaksanakan pada September 2026 di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 35 ibu hamil. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, pemutaran media edukasi, pembagian leaflet, serta sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta, sedangkan data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 64,9 sebelum edukasi menjadi 89,8 setelah kegiatan. Sebagian besar peserta mampu menjelaskan pengertian atonia uteri, mengenali faktor risiko seperti anemia, kehamilan ganda, persalinan lama, dan bayi besar, serta memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, pemenuhan gizi, persalinan di fasilitas kesehatan, dan penanganan segera apabila terjadi perdarahan pascapersalinan. Sebanyak 94,3% peserta menyatakan lebih percaya diri dalam mempersiapkan kehamilan dan persalinan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan maternal efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai pencegahan atonia uteri serta perlu diintegrasikan secara berkelanjutan dalam pelayanan antenatal untuk mendukung penurunan angka kematian ibu akibat perdarahan postpartum.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Atonia Uteri; Ibu Hamil; Pendidikan Kesehatan; Kesehatan Maternal; Pencegahan Perdarahan Postpartum.</p>Cakrawati R Cakrawati RAna Sapitri
Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Ana Sapitri
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-082026-07-084415271538Puskesmas Ramah Anak: Edukasi Kesehatan Dan Pencegahan Masalah Tumbuh Kembang Melalui Pemberdayaan Keluarga
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1351
<p>Masa balita merupakan periode emas (<em>golden period</em>) yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa selanjutnya. Gangguan pertumbuhan maupun keterlambatan perkembangan yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas hidup anak. Keluarga memiliki peran utama dalam memberikan stimulasi, pemantauan tumbuh kembang, dan pemanfaatan layanan kesehatan. Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya deteksi dini, penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), maupun skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Buku KIA dan KPSP merupakan bagian penting dari pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di pelayanan primer. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dalam melakukan pemantauan pertumbuhan, stimulasi perkembangan, serta deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak melalui pemberdayaan keluarga di Puskesmas. Kegiatan dilaksanakan pada Oktober 2026 di salah satu Puskesmas dengan melibatkan 40 peserta yang terdiri atas orang tua balita, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan. Intervensi meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi stimulasi perkembangan sesuai usia, pelatihan penggunaan Buku KIA, skrining perkembangan menggunakan KPSP, pengukuran antropometri, konsultasi individual, serta diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi keterampilan peserta, serta penilaian kepuasan kegiatan. Data dianalisis secara deskriptif. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,9 menjadi 90,8 setelah edukasi. Sebanyak 95,0% peserta mampu menggunakan Buku KIA sebagai media pemantauan tumbuh kembang, 92,5% mampu melakukan stimulasi perkembangan sesuai usia anak, dan 90,0% memahami penggunaan KPSP sebagai skrining awal perkembangan. Tingkat kepuasan peserta terhadap kegiatan mencapai 97,5%.Program Puskesmas Ramah Anak efektif meningkatkan kapasitas keluarga dalam melakukan pemantauan pertumbuhan, stimulasi perkembangan, dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. Program ini berpotensi mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak berbasis keluarga di tingkat pelayanan primer.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Deteksi Dini; Keluarga; Kpsp; Puskesmas Ramah Anak; Tumbuh Kembang</p>Rezqiqah Aulia RahmatWarda M Warda M
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Warda M Warda M
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-082026-07-084415391552Kampung Peduli Mental: Pemberdayaan Masyarakat Dalam Deteksi Dini Masalah Kesehatan Jiwa Berbasis Keperawatan Komunitas
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1352
<p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat karena berdampak terhadap kualitas hidup, produktivitas, hubungan sosial, serta kesejahteraan individu dan keluarga. Gangguan mental emosional seperti stres, kecemasan, dan depresi sering kali tidak terdeteksi sejak dini akibat rendahnya literasi kesehatan jiwa, stigma negatif, dan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan mental. Pendekatan berbasis masyarakat melalui keperawatan komunitas menjadi strategi promotif dan preventif yang efektif untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda awal gangguan kesehatan jiwa serta memperkuat sistem rujukan di tingkat pelayanan kesehatan primer. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam melakukan deteksi dini masalah kesehatan jiwa melalui pendidikan kesehatan dan pemberdayaan kader berbasis keperawatan komunitas. Kegiatan dilaksanakan pada bulan September 2026 di salah satu wilayah binaan puskesmas di Indonesia dengan melibatkan 40 peserta yang terdiri atas kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat. Intervensi meliputi penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan deteksi dini menggunakan Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), simulasi komunikasi terapeutik sederhana, diskusi kelompok, dan konsultasi kesehatan jiwa. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, observasi keterampilan peserta, serta penilaian kepuasan terhadap kegiatan. Data dianalisis secara deskriptif. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai dengan tingkat partisipasi yang sangat baik. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 89,6 setelah kegiatan. Sebanyak 92,5% peserta mampu mengenali tanda awal gangguan mental emosional, 90,0% peserta mampu melakukan skrining sederhana menggunakan SRQ-20 sesuai prosedur, dan 95,0% peserta memahami mekanisme rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, 93,0% peserta menyatakan lebih percaya diri dalam memberikan dukungan awal kepada individu yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Program Kampung Peduli Mental efektif meningkatkan literasi kesehatan jiwa masyarakat, kemampuan deteksi dini, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan awal gangguan kesehatan jiwa berbasis komunitas. Program serupa perlu dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan primer.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Deteksi Dini; Keperawatan Komunitas; Kesehatan Jiwa; Pemberdayaan Masyarakat; SRQ-20.</p>Elvira SafidniWarda M Warda MAyu Sri WahyuniAndi Kamal M. Sallo
Copyright (c) 2026 Elvira Safidni, Warda M Warda M, Ayu Sri Wahyuni, Andi Kamal M. Sallo
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-092026-07-094415531565Pendampingan Keluarga Melalui Komunikasi Terapeutik Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1353
<p>Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan pelayanan kesehatan yang komprehensif, tidak hanya melalui terapi medis tetapi juga dukungan keluarga yang berkelanjutan. Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang berperan dalam proses perawatan, rehabilitasi, pencegahan kekambuhan, serta peningkatan kualitas hidup ODGJ. Namun demikian, masih banyak keluarga yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif dengan ODGJ akibat kurangnya pengetahuan mengenai komunikasi terapeutik, sehingga interaksi yang kurang tepat dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien dan menghambat proses pemulihan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan keluarga melalui edukasi dan pelatihan komunikasi terapeutik sebagai bagian dari pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam menerapkan komunikasi terapeutik sebagai bentuk pendampingan yang mendukung peningkatan kualitas hidup Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Kegiatan dilaksanakan pada Oktober 2026 di wilayah kerja salah satu puskesmas dengan melibatkan 35 keluarga yang memiliki anggota keluarga ODGJ. Kegiatan meliputi penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan komunikasi terapeutik, simulasi komunikasi, diskusi kelompok, konseling keluarga, serta evaluasi melalui pre-test, post-test, observasi keterampilan, dan kuesioner kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 62,4 sebelum intervensi menjadi 91,3 setelah kegiatan. Sebanyak 94,3% peserta mampu menerapkan prinsip komunikasi terapeutik, 91,4% memahami tanda-tanda kekambuhan, 88,6% mampu memberikan dukungan psikososial secara tepat, dan 97,1% peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan. Pendampingan keluarga melalui komunikasi terapeutik meningkatkan kepercayaan diri keluarga dalam mendampingi ODGJ selama proses pemulihan. Pendampingan keluarga melalui komunikasi terapeutik efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan keluarga dalam mendukung proses pemulihan ODGJ. Program ini berpotensi menjadi model intervensi promotif dan preventif berbasis keperawatan komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup ODGJ dan memperkuat peran keluarga dalam pelayanan kesehatan jiwa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Keluarga, Kesehatan Jiwa, ODGJ, Pemberdayaan Masyarakat.</p>Rahmat PannyiwiElvira SafidniAndi Ernawati Manuntungi
Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Elvira Safidni, Andi Ernawati Manuntungi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-092026-07-094415661578Pendampingan Kesehatan Anak Jalanan Melalui Pemeriksaan Dan Edukasi Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1354
<p>Anak jalanan merupakan kelompok rentan yang memiliki risiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan akibat keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan, lingkungan yang kurang sehat, serta rendahnya pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan status kesehatan dan pengetahuan anak jalanan melalui pemeriksaan kesehatan serta edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan dasar, pengukuran status gizi, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pemberian konseling kesehatan. Sasaran kegiatan adalah 35 anak jalanan yang berada di wilayah Kota Makassar. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 54,3 menjadi 85,6 setelah edukasi. Selain itu, ditemukan beberapa masalah kesehatan seperti kebersihan diri yang kurang, keluhan infeksi saluran pernapasan ringan, dan status gizi kurang pada sebagian peserta. Kegiatan pendampingan kesehatan terbukti mampu meningkatkan kesadaran anak jalanan terhadap pentingnya menjaga kesehatan diri. Program serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan derajat kesehatan anak jalanan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Anak Jalanan, Pemeriksaan Kesehatan, Edukasi Kesehatan, PHBS</p>Dia Rejeki UtamiRachmat Ramli
Copyright (c) 2026 Dia Rejeki Utami, Rachmat Ramli
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-092026-07-094415791585Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Sebagai Intervensi Pemerintah Dalam Meningkatkan Kesehatan Dan Prestasi Belajar Anak
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1361
<p>Status gizi yang baik merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, serta kemampuan belajar anak. Namun, masalah gizi seperti stunting, anemia, dan pola konsumsi pangan yang tidak seimbang masih menjadi tantangan di Indonesia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, prestasi akademik, dan produktivitas anak. Pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupaya meningkatkan status gizi peserta didik dengan menyediakan makanan bergizi seimbang di sekolah. Keberhasilan program ini memerlukan edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan makan sehat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang gizi seimbang serta mendukung implementasi Program MBG. Kegiatan dilaksanakan pada Agustus 2026 di salah satu sekolah dasar di Indonesia dengan melibatkan 50 siswa kelas IV–VI. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan gizi seimbang, edukasi Program MBG, demonstrasi penyusunan menu sehat, permainan edukatif, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan distribusi frekuensi, persentase, dan perubahan nilai rata-rata pengetahuan peserta. Hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 63,2 sebelum edukasi menjadi 90,1 setelah kegiatan. Sebanyak 92,0% peserta mampu menjelaskan konsep gizi seimbang, 90,0% memahami manfaat Program MBG, 88,0% mampu memilih makanan sehat, dan 94,0% termotivasi mengonsumsi makanan bergizi setiap hari. Guru dan orang tua juga memberikan respons positif terhadap kegiatan. Edukasi Program MBG terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesadaran siswa mengenai gizi seimbang sehingga dapat mendukung keberhasilan program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan dan prestasi belajar anak</p>Rahmat PannyiwiLidia Fitri
Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-172026-07-174415861599Penyuluhan Kesehatan Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu Dan Anak (KIA) Dalam Persiapan Persalinan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1367
<p>Persiapan persalinan yang optimal merupakan salah satu faktor penting dalam menurunkan risiko komplikasi pada ibu dan bayi. Salah satu media edukasi yang dapat dimanfaatkan oleh ibu hamil adalah Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), yang berisi informasi mengenai kehamilan, persalinan, masa nifas, serta kesehatan bayi. Namun, pemanfaatan Buku KIA masih belum optimal karena sebagian ibu hamil hanya menggunakannya sebagai media pencatatan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil mengenai pemanfaatan Buku KIA dalam persiapan persalinan melalui penyuluhan kesehatan. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi penggunaan Buku KIA. Sasaran kegiatan adalah ibu hamil yang mengikuti pelayanan antenatal di fasilitas kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti penyuluhan dengan antusias, aktif dalam sesi diskusi, serta mengalami peningkatan pemahaman mengenai fungsi, manfaat, dan cara memanfaatkan Buku KIA sebagai pedoman dalam mempersiapkan persalinan. Penyuluhan kesehatan terbukti menjadi media edukasi yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil sehingga diharapkan mampu mendorong kesiapan menghadapi persalinan secara aman serta meningkatkan peran keluarga dalam mendukung kesehatan ibu dan bayi</p>Turiyani Turiyani
Copyright (c) 2026 Turiyani Turiyani
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-232026-07-234416001607Basic Life Support (BLS) Training Using the 'SELAMAT' Method for Integrated Health Post (Posyandu) Cadres in Mendatte Village, Enrekang Regency
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1376
<p>Emergency situations can occur anytime and anywhere, and delays in providing initial assistance may increase the risk of complications, disability, and death. In the implementation of the <em>New Posyandu</em> based on the six Minimum Service Standards (MSS), Posyandu cadres are expected to possess the ability to provide first aid in emergency situations. A needs assessment conducted in Mendatte Village, Enrekang Regency, revealed that none of the Posyandu cadres had previously received Basic Life Support (BLS) training and that they had limited knowledge and practical skills in emergency response. To address this problem, the <strong>“SELAMAT” Model</strong> was developed as a mnemonic-based learning medium to help cadres remember the essential steps of first aid: <strong>S</strong>urvey the scene for safety, <strong>E</strong>valuate the victim’s responsiveness, <strong>L</strong>ook for and assess breathing, <strong>A</strong>ctivate emergency assistance, <strong>M</strong>anage Basic Life Support, <strong>A</strong>ddress special conditions, and <strong>T</strong>ransfer the patient and ensure appropriate referral. The community service program was conducted from July 4–6, 2026, through preparation, training, simulation, mentoring, and evaluation using interactive lectures, demonstrations, hands-on practice, pocketbooks, algorithm posters, and educational videos. Evaluation was performed using pre-tests, post-tests, and practical skill observations involving 10 Posyandu cadres. The results showed that the mean knowledge score increased from 58.50 to 88.70 (p = 0.005), while the mean practical skill score reached 91.20, indicating a competent level of performance. All participants also reported that the “SELAMAT” Model was easier to understand and remember than the conventional BLS algorithm. The SELAMAT Model–based BLS training effectively improved the emergency response capacity of Posyandu cadres and has the potential to be replicated in other Posyandu settings to support the implementation of the <em>New Posyandu</em> and the achievement of the Minimum Service Standards in the health sector.</p>Dominggus DominggusSudirman SanuddinAwaluddinUlul AzmySri Nuriana
Copyright (c) 2026 Dominggus Dominggus, Sudirman Sanuddin, Awaluddin, Ulul Azmy, Sri Nuriana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-07-282026-07-284416081618Pendekatan Preventif Melalui Edukasi Dan Skrining Infeksi Menular Seksual Pada Populasi Berisiko Tinggi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1416
<p>Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan reproduksi dan kualitas hidup. Penularan IMS dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perilaku seksual berisiko, kurangnya pengetahuan, rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, serta stigma terhadap pemeriksaan dan pengobatan. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi serius, meningkatkan risiko penularan kepada pasangan, serta memperbesar peluang terjadinya infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Edukasi kesehatan yang dipadukan dengan skrining dini merupakan strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku kesehatan, serta mempercepat deteksi kasus di masyarakat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Infeksi Menular Seksual, meningkatkan kesadaran melakukan skrining secara sukarela, mengenali faktor risiko dan gejala awal, serta mendorong perilaku pencegahan melalui pendekatan edukatif dan konseling. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta dari populasi berisiko tinggi yang mengikuti kegiatan secara sukarela. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, konseling individual, pembagian media edukasi, skrining IMS sesuai prosedur pelayanan kesehatan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 58,6 sebelum edukasi menjadi 91,4 setelah intervensi. Sebanyak 94,0% peserta mampu menjelaskan cara penularan IMS, 92,0% mengenali tanda dan gejala awal, 90,0% memahami pentingnya skrining berkala, 88,0% bersedia melakukan pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi kesehatan yang dipadukan dengan skrining IMS efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapan masyarakat dalam melakukan deteksi dini Infeksi Menular Seksual. Pendekatan preventif berbasis edukasi dan skrining perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, puskesmas, dan masyarakat untuk menurunkan angka penularan serta meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi.</p>Iin FadhilahRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Iin Fadhilah, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04441619162810.59585/sosisabdimas.v4i4.1416Edukasi Asuhan Keperawatan Pada Pasien Asma (Manajemen Serangan Akut Di Tingkat Rumah Tangga)
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1417
<p>Latar Belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperresponsivitas bronkus dan penyempitan jalan napas yang bersifat reversibel. Serangan asma akut dapat terjadi secara tiba-tiba akibat paparan alergen, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, perubahan cuaca, maupun faktor pencetus lainnya. Keterlambatan dalam penanganan awal sering menyebabkan perburukan kondisi pasien sehingga meningkatkan risiko kunjungan ke instalasi gawat darurat, rawat inap, bahkan komplikasi yang mengancam jiwa. Keluarga sebagai pemberi perawatan utama di rumah memiliki peran penting dalam mengenali tanda bahaya, melakukan tindakan pertolongan pertama, memberikan obat sesuai anjuran, serta menentukan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas pasien asma dan anggota keluarga sebagai <em>caregiver</em>. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi teknik penggunaan inhaler, simulasi penanganan serangan asma akut di rumah, diskusi kelompok, pembagian media edukasi, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum intervensi menjadi 92,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta mampu mengenali tanda awal serangan asma, 94,0% mampu mempraktikkan teknik penggunaan inhaler dengan benar, 92,0% memahami langkah-langkah penanganan awal serangan akut di rumah, 90,0% mampu mengidentifikasi faktor pencetus asma, dan 98,0% peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan. Kesimpulan: Edukasi asuhan keperawatan pada pasien asma efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan manajemen serangan akut di tingkat rumah tangga. Penguatan peran keluarga sebagai <em>caregiver</em> diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan pengendalian asma, mengurangi risiko kekambuhan, serta menurunkan angka kunjungan ke fasilitas kesehatan akibat serangan asma yang dapat dicegah.</p>Faharuddin FaharuddinRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Faharuddin Faharuddin, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04441629163810.59585/sosisabdimas.v4i4.1417Pemberdayaan Remaja Melalui Pendidikan Seksualitas Berbasis Nilai Moral Dan Kesehatan Reproduksi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1427
<p>Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional secara cepat sehingga memerlukan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kurangnya pengetahuan, pengaruh media digital, tekanan teman sebaya, serta rendahnya komunikasi dengan orang tua dan guru dapat meningkatkan risiko perilaku seksual yang tidak sehat, kehamilan pada usia remaja, Infeksi Menular Seksual (IMS), serta berbagai dampak psikososial. Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral dan etika merupakan salah satu pendekatan promotif dan preventif untuk membantu remaja mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, memperkuat pemahaman tentang nilai moral dalam pergaulan, meningkatkan kemampuan mengenali perilaku seksual berisiko, serta mendorong perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu sekolah menengah atas yang berada di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 remaja usia 15–19 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, simulasi (<em>role play</em>), tanya jawab, pembagian media edukasi, dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,2 sebelum edukasi menjadi 92,8 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, 94,0% memahami kesehatan reproduksi, 92,0% mampu mengidentifikasi perilaku seksual berisiko, 90,0% mengetahui langkah-langkah pencegahan IMS dan kehamilan remaja, serta 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.</p>Susi RabuanaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Susi Rabuana, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04441639164810.59585/sosisabdimas.v4i4.1427Membangun Sumber Daya Manusia Yang Sehat Dan Produktif Melalui Program Edukasi Kesehatan Di Universitas Pertahanan RI
https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1431
<p>Latar Belakang: Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan salah satu faktor utama dalam mendukung kemajuan bangsa dan ketahanan nasional. Namun, berbagai permasalahan kesehatan seperti pola makan yang kurang seimbang, aktivitas fisik yang rendah, gangguan tidur, stres akademik, serta rendahnya literasi kesehatan masih sering dijumpai pada mahasiswa. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap prestasi akademik, produktivitas, serta kualitas hidup. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai perilaku hidup sehat, gizi seimbang, aktivitas fisik, kesehatan mental, pencegahan penyakit, serta membangun komitmen dalam menerapkan gaya hidup sehat guna meningkatkan produktivitas di lingkungan Universitas Pertahanan RI. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di Universitas Pertahanan RI dengan melibatkan 50 peserta. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi praktik hidup sehat, tanya jawab, pembagian booklet edukasi, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil:. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 93,6 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami konsep SDM sehat dan produktif, 94,0% memahami pentingnya gizi seimbang, 92,0% memahami manfaat aktivitas fisik secara teratur, 90,0% memahami strategi manajemen stres, 94,0% berkomitmen menerapkan gaya hidup sehat, dan 98,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Program edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen peserta dalam menerapkan perilaku hidup sehat. Kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing di lingkungan perguruan tinggi.</p>Ferdic Sukma WahyudinRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Ferdic Sukma Wahyudin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05441649165810.59585/sosisabdimas.v4i4.1431