https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/issue/feedSahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat2026-07-08T22:40:54+00:00Rahmat Pannyiwiagdosiagdosi@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong>, merupakan jurnal untuk berfokus kepada hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen, praktisi, ataupun mahasiswa. Jurnal ini dikelola oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia (AGDOSI) Makassar, Sulawesi Selatan. Pengelola jurnal ini terdiri dari dosen dan praktisi dari berbagai latar belakang perguruan tinggi di Indonesia. <strong>Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat</strong> terbit 4 kali dalam 1 tahun yaitu pada bulan <strong>September, Desember,</strong> <strong>Maret </strong>dan<strong> Juni</strong>.</p>https://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1342Sahabat Menopause: Pemberdayaan Perempuan Dalam Menghadapi Perubahan Fisiologis Dengan Bijak Dan Sehat2026-07-04T10:56:40+00:00Lumastari Ajeng Wijayantiajengg1612@gmail.comCakrawati R Cakrawati Rcakrawati.rhn@gmail.com<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong>Background:</strong> Menopause is a natural physiological process experienced by women, marking the end of the reproductive period. Hormonal changes during menopause often lead to physical, psychological, and social symptoms that may reduce women's quality of life. Limited knowledge and persistent misconceptions regarding menopause frequently result in anxiety and inadequate preparation among women. Therefore, community-based health education is essential to empower women in understanding menopausal changes and adopting healthy lifestyles.</p> <p><strong>Objective:</strong> To improve women's knowledge, attitudes, and preparedness in facing menopause through health education, mentoring, and healthy lifestyle promotion.</p> <p><strong>Methods:</strong> This community service program was conducted at Posyandu Mawar, Antang Village, Manggala District, Makassar City, in September 2026 involving 35 women aged 40–60 years. Activities included health education sessions, interactive discussions, healthy diet counseling, relaxation exercises, physical activity demonstrations, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively.</p> <p><strong>Results:</strong> Participants' average knowledge score increased from 61.8 before the intervention to 89.4 after the program. Approximately 91.4% of participants were able to identify physiological changes during menopause, 88.6% understood non-pharmacological approaches to managing menopausal symptoms, and 94.3% reported feeling more prepared to face menopause. Participants showed high enthusiasm and active involvement throughout the activities.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> The Menopause Companion Program effectively improved women's knowledge, preparedness, and awareness regarding healthy menopause management. Community-based educational interventions can serve as an effective health promotion strategy to improve the quality of life among middle-aged and older women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Menopause, Women Empowerment, Health Education, Health Promotion, Community Service</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Menopause merupakan proses fisiologis alami yang dialami setiap perempuan sebagai tanda berakhirnya masa reproduksi. Perubahan hormonal yang terjadi selama masa menopause sering menimbulkan berbagai keluhan fisik, psikologis, maupun sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan. Kurangnya pengetahuan serta masih adanya berbagai mitos mengenai menopause menyebabkan banyak perempuan mengalami kecemasan dan kurang siap menghadapi perubahan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pemberdayaan melalui edukasi kesehatan agar perempuan mampu memahami perubahan fisiologis yang terjadi dan menerapkan gaya hidup sehat dalam menghadapi masa menopause.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan perempuan dalam menghadapi menopause melalui program edukasi kesehatan, pendampingan, dan praktik hidup sehat.</p> <p><strong>Metode:</strong> Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Posyandu Mawar, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar pada bulan September 2026. Sasaran kegiatan adalah 35 perempuan usia 40–60 tahun. Program dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi aktivitas fisik sederhana, edukasi gizi, latihan relaksasi, konsultasi kesehatan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 61,8 sebelum edukasi menjadi 89,4 setelah edukasi. Sebanyak 91,4% peserta mampu menjelaskan perubahan fisiologis selama menopause, 88,6% memahami cara mengatasi keluhan menopause secara nonfarmakologis, dan 94,3% menyatakan lebih siap menghadapi masa menopause. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan berpartisipasi aktif selama diskusi maupun praktik.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Program Sahabat Menopause efektif meningkatkan pengetahuan, kesiapan, dan kesadaran perempuan dalam menghadapi menopause secara sehat. Edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan usia premenopause dan menopause.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Menopause, Pemberdayaan Perempuan, Edukasi Kesehatan, Promosi Kesehatan, Pengabdian Kepada Masyarakat</p>2026-07-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Cakrawati R Cakrawati Rhttps://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1348Penguatan Peran Tenaga Kesehatan Sebagai Care Provider Pada Masa Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Dan Neonatus2026-07-08T08:16:51+00:00Cakrawati R Cakrawati Rcakrawati.rhn@gmail.comMaria Septianacakrawati.rhn@gmail.com<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>Maternal and neonatal health services remain a national priority in reducing maternal and neonatal mortality. High-quality healthcare requires competent healthcare providers who are able to deliver comprehensive and continuous care from the preconception period through pregnancy, childbirth, postpartum, and neonatal care. Strengthening healthcare workers' competencies is essential to improve the quality of maternal and neonatal healthcare services. To improve healthcare providers' knowledge, skills, and competencies regarding their role as care providers in delivering comprehensive maternal and neonatal healthcare based on the continuum of care approach. This community service program was conducted at a primary healthcare center in Indonesia in September 2026 involving 35 healthcare workers, including midwives, nurses, nutritionists, health promotion officers, and other healthcare professionals. Activities included health education, interactive discussions, case studies, simulation-based learning, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively. The participants' average knowledge score increased from 68.4 before the intervention to 91.8 after the program. Approximately 94.3% of participants understood the continuum of care concept, 91.4% identified maternal risk factors appropriately, 94.3% understood safe childbirth services, 97.1% mastered essential postpartum and neonatal care, and 94.3% reported greater confidence in providing comprehensive maternal healthcare.Strengthening the role of healthcare workers as care providers effectively improved participants' competencies in delivering integrated maternal and neonatal healthcare services. Continuous professional education is recommended to enhance the quality of maternal and child healthcare services.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Care Provider, Healthcare Workers, Preconception, Pregnancy, Childbirth, Postpartum, Neonate</em>.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pelayanan kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Pelayanan yang berkualitas memerlukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai <em>care provider</em> dalam memberikan pelayanan secara komprehensif dan berkesinambungan sejak masa pra-konsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan neonatus. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui edukasi dan peningkatan kompetensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman tenaga kesehatan mengenai peran <em>care provider</em> dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal berbasis <em>continuum of care</em>. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu puskesmas di wilayah Indonesia pada bulan September 2026 dengan melibatkan 35 tenaga kesehatan yang terdiri atas bidan, perawat, tenaga gizi, promotor kesehatan, dan tenaga kesehatan lainnya. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, studi kasus, simulasi pelayanan maternal-neonatal, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan distribusi frekuensi, persentase, dan perubahan skor pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 68,4 sebelum kegiatan menjadi 91,8 setelah kegiatan. Sebanyak 94,3% peserta memahami konsep <em>continuum of care</em>, 91,4% mampu mengidentifikasi faktor risiko pada masa pra-konsepsi dan kehamilan, 94,3% memahami pelayanan persalinan aman, 97,1% memahami pelayanan nifas dan neonatus esensial, serta 94,3% menyatakan lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai <em>care provider</em> terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan peserta dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara berkesinambungan. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal di fasilitas pelayanan kesehatan primer.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Care Provider, Tenaga Kesehatan, Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Maria Septianahttps://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1349Edukasi Senam Hamil Dalam Meningkatkan Kesiapan Fisik Dan Mental Menghadapi Persalinan2026-07-08T09:09:55+00:00Rezqiqah Aulia Rahmatrezqiqahika@gmail.comWulan Citra Sarirezqiqahika@gmail.com<p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Pregnancy is a physiological process accompanied by various physical and psychological changes that may affect maternal well-being and readiness for childbirth. Many pregnant women experience anxiety, lower back pain, fatigue, and lack of confidence before delivery. Pregnancy exercise is a safe, non-pharmacological intervention that can improve physical fitness, reduce discomfort, and enhance psychological preparedness. Community-based health education is therefore essential to increase maternal awareness and encourage regular participation in pregnancy exercise. This community service program aimed to improve the physical and psychological readiness of pregnant women for childbirth through health education and practical pregnancy exercise sessions. The program was conducted at a primary healthcare facility in Indonesia in September 2026 involving 30 pregnant women in the second and third trimesters. Activities included health education, interactive discussions, demonstrations, guided pregnancy exercise practice, breathing and relaxation techniques, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Participants' practical skills and satisfaction were also assessed. Data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and mean score comparisons.<strong>:</strong> The program demonstrated positive outcomes in improving participants' knowledge and preparedness. The mean knowledge score increased from 66.8 before the intervention to 90.7 after the educational session. Participants also showed significant improvement in performing stretching exercises, pelvic floor exercises, breathing techniques, relaxation exercises, and appropriate labor positions. Psychological readiness improved as reflected by increased self-confidence, reduced anxiety, and greater motivation to perform pregnancy exercise regularly. Most participants expressed high satisfaction with the educational materials, practical sessions, and overall implementation of the program.<strong>:</strong> Health education combined with practical pregnancy exercise effectively improved the knowledge, physical preparedness, and psychological readiness of pregnant women for childbirth. Integrating pregnancy exercise education into routine antenatal care is recommended to promote maternal health, increase confidence during labor, and support safe and positive childbirth experiences.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Pregnancy Exercise; Health Education; Maternal Health; Physical Readiness; Psychological Readiness; Childbirth Preparation; Community Service.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang disertai berbagai perubahan fisik, psikologis, hormonal, dan sosial yang memerlukan adaptasi dari ibu hamil. Kurangnya aktivitas fisik yang sesuai selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan kebugaran, meningkatnya keluhan muskuloskeletal, serta kecemasan menjelang persalinan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang direkomendasikan untuk meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan adalah senam hamil. Senam hamil berperan dalam meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, teknik pernapasan, relaksasi, serta kesiapan mental sehingga ibu lebih percaya diri menghadapi proses persalinan.</p> <p>Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan fisik dan mental ibu hamil melalui edukasi dan praktik senam hamil. Kegiatan dilaksanakan pada salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 30 ibu hamil trimester II dan III. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik senam hamil, diskusi interaktif, pendampingan peserta, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.</p> <p>Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat senam hamil, perubahan fisiologis selama kehamilan, teknik pernapasan, posisi persalinan, dan latihan relaksasi. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 66,8 menjadi 90,7 setelah kegiatan. Selain itu, sebagian besar peserta menyatakan lebih percaya diri, lebih rileks, memahami teknik mengurangi nyeri selama persalinan, serta memiliki motivasi untuk melakukan senam hamil secara rutin. Antusiasme peserta selama kegiatan juga menunjukkan bahwa metode edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu hamil.</p> <p>Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi dan praktik senam hamil merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan yang efektif dalam meningkatkan kesiapan fisik dan mental ibu hamil menghadapi persalinan. Program serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan antenatal untuk mendukung persalinan yang aman, nyaman, dan berkualitas.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Edukasi Kesehatan, Ibu Hamil, Kesiapan Persalinan, Kesehatan Maternal, Senam Hamil.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Wulan Citra Sarihttps://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1350Implementasi Pendidikan Kesehatan Maternal Tentang Faktor Risiko Dan Pencegahan Atonia Uteri Pada Ibu Hamil2026-07-08T12:00:49+00:00Cakrawati R Cakrawati Rcakrawati.rhn@gmail.comAna Sapitricakrawati.rhn@gmail.com<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Uterine atony is the leading cause of postpartum hemorrhage and remains a major contributor to maternal mortality in developing countries, including Indonesia. Most cases can be prevented through early identification of risk factors, high-quality antenatal care, and maternal health education. However, many pregnant women still have limited knowledge regarding the risk factors, warning signs, and preventive measures for uterine atony. This community service program aimed to improve pregnant women's knowledge of the risk factors, warning signs, and prevention of uterine atony through maternal health education. The program was conducted in September 2026 at a primary healthcare facility in Indonesia and involved 35 pregnant women. Educational methods included health counseling, interactive discussions, educational video presentations, leaflet distribution, and question-and-answer sessions. Participants' knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires, and the data were analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, and mean scores. All participants completed the program with a high level of participation. The mean knowledge score increased from 64.9 before the intervention to 89.8 after the educational session. Most participants were able to explain the definition of uterine atony, identify major risk factors such as anemia, multiple pregnancy, prolonged labor, and fetal macrosomia, and recognize the importance of routine antenatal care, adequate nutrition, delivery at healthcare facilities, and prompt management of postpartum hemorrhage. Furthermore, 94.3% of participants reported greater confidence in preparing for pregnancy and childbirth after attending the program. Maternal health education effectively improved pregnant women's knowledge and awareness regarding the prevention of uterine atony. Continuous educational interventions should be integrated into routine antenatal care to support efforts to reduce maternal mortality associated with postpartum hemorrhage.</p> <p>.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Antenatal Care; Maternal Health Education; Postpartum Hemorrhage; Pregnant Women; Uterine Atony.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum dan masih menjadi kontributor terbesar kematian ibu di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini faktor risiko, pelayanan antenatal yang berkualitas, serta pendidikan kesehatan kepada ibu hamil. Namun, pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya, dan upaya pencegahan atonia uteri masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang faktor risiko, tanda bahaya, dan pencegahan atonia uteri melalui pendidikan kesehatan maternal. Kegiatan dilaksanakan pada September 2026 di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 35 ibu hamil. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, pemutaran media edukasi, pembagian leaflet, serta sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta, sedangkan data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 64,9 sebelum edukasi menjadi 89,8 setelah kegiatan. Sebagian besar peserta mampu menjelaskan pengertian atonia uteri, mengenali faktor risiko seperti anemia, kehamilan ganda, persalinan lama, dan bayi besar, serta memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, pemenuhan gizi, persalinan di fasilitas kesehatan, dan penanganan segera apabila terjadi perdarahan pascapersalinan. Sebanyak 94,3% peserta menyatakan lebih percaya diri dalam mempersiapkan kehamilan dan persalinan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan maternal efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai pencegahan atonia uteri serta perlu diintegrasikan secara berkelanjutan dalam pelayanan antenatal untuk mendukung penurunan angka kematian ibu akibat perdarahan postpartum.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Atonia Uteri; Ibu Hamil; Pendidikan Kesehatan; Kesehatan Maternal; Pencegahan Perdarahan Postpartum.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Ana Sapitrihttps://jurnal.agdosi.com/index.php/jpemas/article/view/1351Puskesmas Ramah Anak: Edukasi Kesehatan Dan Pencegahan Masalah Tumbuh Kembang Melalui Pemberdayaan Keluarga2026-07-08T22:40:54+00:00Rezqiqah Aulia Rahmatrezqiqahika@gmail.comWarda M Warda Mwardamarzuki31@gmail.com<p>Masa balita merupakan periode emas (<em>golden period</em>) yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa selanjutnya. Gangguan pertumbuhan maupun keterlambatan perkembangan yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas hidup anak. Keluarga memiliki peran utama dalam memberikan stimulasi, pemantauan tumbuh kembang, dan pemanfaatan layanan kesehatan. Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya deteksi dini, penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), maupun skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Buku KIA dan KPSP merupakan bagian penting dari pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di pelayanan primer. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dalam melakukan pemantauan pertumbuhan, stimulasi perkembangan, serta deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak melalui pemberdayaan keluarga di Puskesmas. Kegiatan dilaksanakan pada Oktober 2026 di salah satu Puskesmas dengan melibatkan 40 peserta yang terdiri atas orang tua balita, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan. Intervensi meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi stimulasi perkembangan sesuai usia, pelatihan penggunaan Buku KIA, skrining perkembangan menggunakan KPSP, pengukuran antropometri, konsultasi individual, serta diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi keterampilan peserta, serta penilaian kepuasan kegiatan. Data dianalisis secara deskriptif. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,9 menjadi 90,8 setelah edukasi. Sebanyak 95,0% peserta mampu menggunakan Buku KIA sebagai media pemantauan tumbuh kembang, 92,5% mampu melakukan stimulasi perkembangan sesuai usia anak, dan 90,0% memahami penggunaan KPSP sebagai skrining awal perkembangan. Tingkat kepuasan peserta terhadap kegiatan mencapai 97,5%.Program Puskesmas Ramah Anak efektif meningkatkan kapasitas keluarga dalam melakukan pemantauan pertumbuhan, stimulasi perkembangan, dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak. Program ini berpotensi mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak berbasis keluarga di tingkat pelayanan primer.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Deteksi Dini; Keluarga; Kpsp; Puskesmas Ramah Anak; Tumbuh Kembang</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Warda M Warda M