Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko
<p><strong>Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan</strong> Merupakan Jurnal yang memuat tentang publikasi penelitian yang relevan dengan bidang ilmu kesehatan yang meliputi keperawatan, kebidanan, fisioterapi, akupuntur, jamu (herbal), okupasi terapi, ortotik prostetik, terapi wicara, kesehatan masyarakat, kedokteran, pendidikan kesehatan dll. Artikel penelitian, literature review dan komentar diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ini.</p>Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesiaen-USBarongko: Jurnal Ilmu Kesehatan2964-0849Analisis Pengaruh Stigma Sosial Dan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Pasien Tuberkulosis (TB) Di Wilayah Puskesmas Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1466
<p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang ditandai dengan belum optimalnya angka keberhasilan pengobatan. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan faktor penting dalam keberhasilan terapi, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial, di antaranya stigma sosial dan dukungan keluarga.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stigma sosial (stigma internal dan stigma eksternal) serta dukungan keluarga (dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan informasional) terhadap kepatuhan minum OAT pada pasien TB di Kabupaten Halmahera Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan di 11 puskesmas di Kabupaten Halmahera Barat. Sampel penelitian berjumlah 75 pasien TB yang dipilih berdasarkan teknik proportionate stratified random sampling berdasarkan proporsi jumlah pasien pada masing-masing Puskesmas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma internal berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum OAT, sedangkan stigma eksternal tidak berpengaruh signifikan. Dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan informasional keluarga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum OAT. Analisis multivariat menunjukkan bahwa dukungan emosional merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kepatuhan minum OAT (p = 0,001; OR = 40,365), diikuti oleh dukungan instrumental, dukungan informasional, dan stigma internal. Disimpulkan bahwa kepatuhan minum OAT pada pasien TB di Kabupaten Halmahera Barat lebih dipengaruhi oleh kondisi psikologis pasien dan kualitas dukungan keluarga, terutama dukungan emosional dan dukungan instrumental, dibandingkan oleh stigma eksternal.</p>Yusti SarunyMuh. Ilyas Nur Muhammad Basyir
Copyright (c) 2026 Yusti Saruny, Muh. Ilyas Nur , Sukirno Kasau
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09511253126710.59585/bajik.v5i1.1466Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Terhadap Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1463
<p>Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia). PPOK bersifat progresif dan menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, penurunan fungsi paru, serta berdampak terhadap kualitas hidup penderita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan PPOK adalah melalui pendidikan kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pengelolaan penyakit. Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang PPOK terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 30 lansia dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang PPOK diberikan dalam dua sesi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan media leaflet. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF sebelum dan dua minggu setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Rata-rata skor kualitas hidup sebelum pendidikan kesehatan adalah 56,43 ± 8,52, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 68,27 ± 7,31. Hasil uji Paired t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara skor kualitas hidup sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan (p < 0,001). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan tentang PPOK berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Pendidikan kesehatan dapat menjadi salah satu intervensi keperawatan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan lansia mengelola penyakit dan mempertahankan kualitas hidup</p>Suaib SuaibBasri Basri
Copyright (c) 2026 Suaib Suaib, Basri Basri
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09511246125210.59585/bajik.v5i1.1463Hubungan Pengetahuan Kebencanaan Dengan Kemampuan Pengambilan Keputusan Saat Situasi Darurat Pada Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1465
<p>Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan klimatologis. Tingginya kejadian bencana menuntut masyarakat memiliki pengetahuan kebencanaan yang memadai agar mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika terjadi situasi darurat. Kemampuan pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian material. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan kebencanaan dengan kemampuan pengambilan keputusan saat situasi darurat pada masyarakat di daerah rawan bencana. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Sampel sebanyak 200 responden dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan kebencanaan dan skenario pengambilan keputusan saat kondisi darurat yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kebencanaan kategori baik (62,5%) dan kemampuan pengambilan keputusan kategori baik (59,0%). Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan kebencanaan dengan kemampuan pengambilan keputusan (r=0,621; p<0,001). Kesimpulan: Pengetahuan kebencanaan berhubungan secara signifikan dengan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan saat situasi darurat. Semakin tinggi pengetahuan kebencanaan yang dimiliki masyarakat, semakin baik kemampuan mereka dalam menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi bencana.</p>Marlin EppangNurhaedah Nurhaedah
Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Nurhaedah Nurhaedah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09511237124510.59585/bajik.v5i1.1465Kajian Epidemiologi Komparatif Penyakit Menular Dan Tidak Menular Pada Populasi Dewasa
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1462
<p>Latar Belakang: Transisi epidemiologi telah menyebabkan perubahan pola penyakit di Indonesia, di mana penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat tanpa diikuti penurunan yang signifikan pada penyakit menular (PM). Kondisi ini menimbulkan <em>double burden of disease</em>, yaitu beban ganda penyakit yang menjadi tantangan bagi sistem kesehatan. Penyakit menular masih berkaitan dengan faktor lingkungan dan sanitasi, sedangkan penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, perilaku kesehatan, dan faktor metabolik. Oleh karena itu, kajian epidemiologi komparatif diperlukan untuk mengidentifikasi perbedaan karakteristik dan faktor risiko kedua kelompok penyakit sehingga dapat menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan yang lebih efektif. Tujuan: Menganalisis perbedaan karakteristik epidemiologi serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional komparatif. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 240 responden dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel dependen adalah status penyakit (penyakit menular dan penyakit tidak menular), sedangkan variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, status merokok, aktivitas fisik, pola makan, indeks massa tubuh (IMT), riwayat penyakit keluarga, sanitasi lingkungan, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, penyakit tidak menular ditemukan pada 57,1% responden, sedangkan penyakit menular sebesar 42,9%. Faktor yang berhubungan dengan penyakit tidak menular meliputi usia, obesitas, aktivitas fisik, merokok, dan riwayat penyakit keluarga (p<0,05). Sementara itu, penyakit menular lebih berhubungan dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan (p<0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor dominan pada penyakit tidak menular (Adjusted OR=4,26), sedangkan sanitasi lingkungan merupakan faktor dominan pada penyakit menular (Adjusted OR=3,84). Kesimpulan: Terdapat perbedaan karakteristik epidemiologi antara penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh faktor perilaku dan metabolik, sedangkan penyakit menular lebih berkaitan dengan faktor lingkungan dan kondisi tempat tinggal.</p>Marlin EppangRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Merlin Eppang, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09511226123610.59585/bajik.v5i1.1462Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan Nasional Pada Peserta Mandiri
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1461
<p>Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam mewujudkan cakupan kesehatan semesta (<em>Universal Health Coverage</em>). Keberlangsungan program JKN sangat bergantung pada kepatuhan peserta dalam membayar iuran, khususnya peserta mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Namun, tingkat kepatuhan pembayaran iuran masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan perilaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembayaran iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada peserta mandiri. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 220 responden dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel dependen adalah kepatuhan pembayaran iuran JKN. Variabel independen meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan tentang JKN, persepsi manfaat, kemampuan membayar iuran, dukungan keluarga, dan lama menjadi peserta JKN. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, serta regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 64,5% responden patuh membayar iuran JKN. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pendapatan (p=0,001), pengetahuan (p=0,003), persepsi manfaat (p=0,006), kemampuan membayar (p<0,001), dan dukungan keluarga (p=0,012) berhubungan signifikan dengan kepatuhan pembayaran iuran. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kemampuan membayar iuran merupakan faktor yang paling dominan (Adjusted OR=4,18; 95% CI=2,01–8,67). Kesimpulan: Kepatuhan pembayaran iuran JKN pada peserta mandiri dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat program, serta dukungan keluarga. Peningkatan edukasi dan strategi pembayaran yang lebih fleksibel diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan peserta</p>Marlin EppangRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Merlin Eppang, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09512114212510.59585/bajik.v5i1.1461Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) Pada Ibu Hamil: Studi Cross Sectional Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1458
<p>Latar belakang: Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil merupakan kondisi kekurangan asupan energi dan protein yang berlangsung dalam waktu lama dan dapat berdampak terhadap kesehatan ibu serta pertumbuhan janin. Wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling masih menghadapi masalah Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Tujuan: Menganalisis hubungan umur ibu, pendidikan, usia kehamilan, paritas, pendapatan keluarga, dan pantangan makanan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi sekaligus sampel adalah seluruh ibu hamil yang terdaftar dan berdomisili aktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling, dengan teknik total sampling sebanyak 56 responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 21. Fisher’s Exact Test digunakan untuk tabel 2×2, sedangkan Fisher–Freeman–Halton Exact Test digunakan untuk variabel usia kehamilan yang berbentuk tabel 3×2. Tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Kekurangan Energi Kronik (KEK) ditemukan pada 8 responden (14,3%). Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (69,6%), berpendidikan tinggi (78,6%), berada pada trimester II (51,8%), memiliki paritas risiko rendah (78,6%), pendapatan keluarga rendah (64,3%), dan tidak mendukung pantangan makanan (82,1%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara umur (p=0,688), pendidikan (p=0,348), usia kehamilan (p=0,103), paritas (p=0,180), pendapatan keluarga (p=1,000), maupun pantangan makanan (p=0,143) dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK). Kesimpulan: Keenam variabel yang diteliti tidak berhubungan secara statistik dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah penelitian. Pencegahan Kekurangan Energi Kronik (KEK) tetap memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pemantauan status gizi, pelayanan antenatal, edukasi gizi, suplementasi, serta intervensi gizi yang tepat sasaran.</p>A.Fitriani A.FitrianiAndi AlimLina FitrianiRidwan Amiruddin
Copyright (c) 2026 A.Fitriani A.Fitriani, Andi Alim, Lina Fitriani, Ridwan Amiruddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09512105211310.59585/bajik.v5i1.1458Hubungan Kadar Gula Darah Puasa Dengan Kadar Gula Darah Post- Prandial 2 Jam Pada Lansia Di Rs Hermina Arcamanik
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1456
<p><em>The increasing prevalence of type 2 diabetes melitus among the erderly is closely linked to a decline in metabolic function. Assessing glycemic status through fasting blood glucose (FBG) and 2-hour postprandial blood glucose (2hPBG) levels is crucial for identifying the progression of diabetes melitus. This study aims to analyze the relationship between fasting blood glucose (FGB) levels and 2-hour postprandial blood glucose(2hPBG) levels the elderly at Hermina Arcamanik Hospital. This is a quantitative study using an observational analytical approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 70 respondents selected through purposive sampling. Data analysis utilized univariate and Spearman’s rho bivariate test. The result showed that the majority of participants met the clinical criteria for prediabetes (23%) and type 2 diabetes melitus (67%). Statistical analysis revealed a significant and strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels, with a correlation coefficient of r = 0.785 and p = 0.000. In conclusion, there is a strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels. Pathophysiologically, an increase in these two parameters indicates pancreatic beta-cell dysfunction and insulin resistance influenced by aging. These findings underscore the importance of comprehensive glycemic screening as the first step in the early identification and monitoring of diabetes melitus risk in</em><em>.</em></p>Erna SariRestiani Alia Pratiwi
Copyright (c) 2026 Erna Sari, Restiani Alia Pratiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09512096201410.59585/bajik.v5i1.1456Analisis Perbedaan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Dengan Antikoagulan Edta Dan Naf Pada Mahasiswa Tingkat Akhir
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1454
<p><em>Random blood glucose (RBG) testing is one of the clinical chemistry examinations whose results may be affected by delayed analysis due to the glycolysis process. The use of an appropriate anticoagulant is essential to maintain glucose stability. Sodium fluoride (NaF) is known to inhibit glycolysis, whereas Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) is more commonly used for hematological examinations but is still occasionally used for glucose testing. The different characteristics of these anticoagulants may influence the accuracy of glucose measurements; therefore, further evaluation is necessary. This study aimed to analyze the differences in random blood glucose levels measured using EDTA plasma and sodium fluoride (NaF) plasma in final-year students. This experimental study employed a comparative design involving two types of anticoagulants using blood samples collected from 20 respondents. Venous blood samples were collected using a vacutainer system, with 3 mL drawn into an EDTA tube and 2 mL into a NaF tube. Random blood glucose levels were measured using the enzymatic hexokinase method. The results showed that the mean random blood glucose level was 86.05 mg/dL in EDTA plasma and 89.80 mg/dL in NaF plasma, with a mean difference of 3.75 mg/dL. The paired t-test demonstrated a statistically significant difference between the two sample types. NaF plasma produced higher glucose levels than EDTA plasma because it effectively inhibited glycolysis, thereby maintaining glucose stability throughout the analytical process.</em></p>Inka Fitra RahmadaniFitria Milanda
Copyright (c) 2026 Inka Fitra Rahmadani, Fitria Milanda
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-092026-08-09512086209510.59585/bajik.v5i1.1454Faktor - Faktor Penyebab Penumpukan Antrean Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Maranatha
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1452
<p><em>Queue buildup at outpatient registration is an issue that can affect the quality of hospital services. Long queues have the potential to increase patient waiting times, reduce satisfaction, and hinder service effectiveness. This study aims to analyze the factors causing queue buildup during outpatient registration at Maranatha Hospital. The study employs a descriptive approach utilizing observation, interviews, and document review. Research informants include registration staff and relevant personnel from the medical records unit. Data were analyzed descriptively to identify the causes of queue buildup based on aspects of human resources, work methods, facilities and infrastructure, and service systems. The findings are expected to provide insight into the factors contributing to queue buildup, thereby serving as a basis for the hospital to evaluate and improve the effectiveness of outpatient registration services.</em></p>Nursipa NursipaDesy Widyaningrum
Copyright (c) 2026 Nursipa, Desy Widyaningrum
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-082026-08-08512074208510.59585/bajik.v5i1.1452Analisis Implementasi Kebijakan Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Banggai Kepulauan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1457
<p>Latar belakang: prevalensi stunting nasional yang masih berada di angka 19,8% pada 2024 menyisakan tantangan besar, terutama di Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai daerah kepulauan dengan prevalensi 27,7% pada 2023, jauh di atas rata-rata nasional maupun provinsi. Fluktuasi jumlah kasus stunting dari 1.029 (2023), 1.105 (2024), hingga 850 (2025) menunjukkan bahwa penurunan prevalensi belum diikuti pengendalian kasus yang stabil, sehingga efektivitas implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting perlu dikaji secara mendalam. Tujuan: penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan tersebut melalui pendekatan Input-Proses-Output yang diintegrasikan dengan empat variabel Edwards III, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: penelitian menggunakan desain studi kasus instrumental tunggal dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 22 informan yang dipilih secara purposive sampling, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil: penelitian menunjukkan komunikasi kebijakan telah berjenjang secara formal namun melemah pada tingkat desa akibat variasi kapasitas kader. Sumber daya manusia dan anggaran tergolong mencukupi secara agregat kabupaten, tetapi timpang pada level distribusi mikro antarpulau dan antar-Puskesmas. Data e-PPGBM menunjukkan penurunan kasus sekitar 14%, namun bertolak belakang dengan tren data survei nasional yang justru meningkat, dan Kabupaten Banggai Kepulauan sempat meraih peringkat empat terbaik se-Provinsi Sulawesi Tengah pada 2024. Kesimpulan: struktur birokrasi telah memenuhi aspek prosedural, tetapi fragmentasi koordinasi informal antar-OPD tetap menjadi kendala substantif. Penguatan koordinasi lintas sektor dan standardisasi rujukan data menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efektivitas kebijakan di wilayah kepulauan serupa</p>Nirmala Wardhani MuhajjiMuhammad Azwar Zamli Zamli
Copyright (c) 2026 Nirmala Wardhani Muhajji, Muhammad Azwar , Zamli Zamli
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-082026-08-08512058207310.59585/bajik.v5i1.1457Analisis Strategi Promosi Kesehatan Dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer Di Puskesmas Tiakur Kabupaten Maluku Barat Daya
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1455
<p>Layanan kesehatan primer merupakan fondasi utama sistem kesehatan yang mampu memenuhi hingga 90 persen kebutuhan kesehatan masyarakat sepanjang siklus hidup, namun implementasinya di daerah kepulauan terpencil seperti Kabupaten Maluku Barat Daya masih menghadapi tantangan struktural pada 2023. Program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan sejak Agustus 2023 menuntut strategi promosi kesehatan berupa advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat, namun kesiapan pelaksanaannya di Puskesmas Tiakur belum terkaji secara mendalam.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi promosi kesehatan dalam implementasi ILP di Puskesmas Tiakur, Kabupaten Maluku Barat Daya, tahun 2026.</p> <p>Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sepuluh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Program ILP, petugas promosi kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan masyarakat penerima layanan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan advokasi berjalan lancar melalui pertemuan rutin tiga hingga enam bulan sekali dengan pemangku kepentingan lintas sektor, bina suasana memanfaatkan jalur keagamaan dan tiga platform media sosial, sedangkan pemberdayaan masyarakat masih terbatas pada pembelajaran sambil bekerja tanpa pelatihan formal bagi kader. Hambatan utama meliputi rangkap tugas satu-satunya petugas promosi kesehatan, sistem informasi puskesmas yang belum terintegrasi, keterbatasan transportasi antarpulau, serta rendahnya kesadaran sebagian kelompok dewasa untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Strategi promosi kesehatan di Puskesmas Tiakur telah berjalan namun masih bertumpu pada modal sosial dan komitmen personal, belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis, sehingga diperlukan penguatan sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, dan dukungan sarana transportasi laut untuk keberlanjutan implementasi ILP di wilayah kepulauan terpencil.</p> <p> </p>Heronika Anthonia MarcusRahmawati AzisJalil Genisa
Copyright (c) 2026 Heronika Anthonia Marcus, Rahmawati Azis, Jalil Genisa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-082026-08-08512042205710.59585/bajik.v5i1.1455Efektivitas Promosi Kesehatan Dalam Mendukung Pengobatan Karies Gigi Pada Pasien Dewasa
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1444
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami masyarakat dan menjadi masalah kesehatan gigi serta mulut di berbagai negara. Pada pasien dewasa, karies yang tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan nyeri, gangguan fungsi pengunyahan, infeksi, penurunan kualitas hidup, hingga kehilangan gigi. Keberhasilan pengobatan karies tidak hanya ditentukan oleh tindakan klinis, tetapi juga oleh perilaku pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut, mematuhi jadwal kontrol, dan menerapkan pola hidup sehat. Promosi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien sehingga mendukung keberhasilan terapi karies. <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis efektivitas promosi kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan menjalani pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. <strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain <strong>quasi-experimental pretest–posttest with control group</strong>. Sebanyak <strong>80 pasien dewasa</strong> yang menjalani perawatan karies dibagi menjadi kelompok intervensi (n=40) dan kelompok kontrol (n=40). Kelompok intervensi menerima promosi kesehatan melalui edukasi tatap muka, media leaflet, video edukasi, dan penguatan melalui media digital selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol memperoleh pelayanan rutin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, observasi perilaku kebersihan gigi dan mulut, serta lembar kepatuhan kontrol. Analisis menggunakan <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, uji Chi-square, dan ANCOVA dengan tingkat signifikansi 5%. <strong>Hasil:</strong> Kelompok intervensi mengalami peningkatan skor pengetahuan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,001). Perilaku menjaga kebersihan gigi dan mulut meningkat secara bermakna setelah intervensi (p<0,001). Tingkat kepatuhan terhadap jadwal kontrol pengobatan pada kelompok intervensi mencapai 90,0%, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (67,5%; p=0,012). <strong>Kesimpulan:</strong> Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. Integrasi program promosi kesehatan ke dalam pelayanan kedokteran gigi dapat mendukung keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.</p>Harlina HarlinaNurhaedah Nurhaedah
Copyright (c) 2026 Harlina Harlina, Nurhaedah Nurhaedah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07512033204110.59585/bajik.v5i1.1444Efektivitas Jahe (Zingiber Officinale) Sebagai Terapi Komplementer Terhadap Penurunan Mual DanMuntah Pada Ibu Hamil Trimester Pertama
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1438
<p>Latar Belakang: Mual dan muntah pada kehamilan (<em>nausea and vomiting of pregnancy/NVP</em>) merupakan keluhan yang dialami oleh sekitar 70–80% ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh perubahan hormonal, terutama peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen. Meskipun bersifat fisiologis, mual dan muntah yang tidak tertangani dapat menurunkan kualitas hidup ibu, mengganggu asupan nutrisi, dan pada kasus yang berat berkembang menjadi hiperemesis gravidarum. Penggunaan terapi komplementer seperti jahe (<em>Zingiber officinale</em>) menjadi alternatif yang banyak diminati karena relatif aman, mudah diperoleh, dan memiliki kandungan bioaktif yang berpotensi mengurangi gejala mual. Tujuan: Menganalisis efektivitas pemberian jahe sebagai terapi komplementer terhadap penurunan tingkat mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan Non-Equivalent Control Group Pretest–Posttest Design. Sebanyak 60 ibu hamil trimester pertama dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30) menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi memperoleh minuman jahe sebanyak 250 mL yang mengandung ±1 gram ekstrak jahe segar, dua kali sehari selama tujuh hari, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi standar mengenai penatalaksanaan mual pada kehamilan. Tingkat mual diukur menggunakan Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE-24). Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, atau uji nonparametrik sesuai distribusi data. Hasil: Rerata skor PUQE-24 pada kelompok intervensi menurun secara bermakna setelah pemberian jahe dibandingkan sebelum intervensi (p<0,001). Penurunan skor mual pada kelompok intervensi juga lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Kesimpulan: Pemberian jahe sebagai terapi komplementer efektif menurunkan tingkat mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama. Jahe dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping yang aman dalam pelayanan antenatal untuk mengurangi gejala mual dan meningkatkan kenyamanan ibu hamil.</p>Nur Rahma SrifitayaniRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Nur Rahma Srifitayani, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06512024203210.59585/bajik.v5i1.1438Pengaruh Kompetensi, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja, Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1435
<p>Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di sektor kesehatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan publik, khususnya di Kabupaten Mamasa yang menghadapi tantangan geografis, tingginya turnover pegawai, dan keterbatasan pengembangan sumber daya manusia pascapandemi COVID-19.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kompetensi, motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan terhadap kinerja ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, baik secara parsial maupun simultan.</p> <p>Pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory survey digunakan dengan melibatkan seluruh ASN dan PPPK aktif melalui metode total sampling (n = 78 orang), pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner.</p> <p>Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kompetensi (p = 0,041), motivasi kerja (p = 0,000), disiplin kerja (p = 0,000), dan pelatihan (p = 0,000) berhubungan signifikan dengan kinerja ASN. Namun, pada analisis multivariat hanya motivasi kerja (OR = 13,779; p = 0,003), disiplin kerja (OR = 8,734; p = 0,013), dan pelatihan (OR = 7,521; p = 0,018) yang tetap berpengaruh signifikan, sedangkan kompetensi tidak signifikan (OR = 6,834; p = 0,109). Motivasi kerja merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kinerja ASN. Model regresi logistik biner dinyatakan layak (Hosmer and Lemeshow p = 0,842), mampu menjelaskan 59,9% variasi kinerja ASN (Nagelkerke R Square = 0,599) dengan akurasi klasifikasi 89,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan merupakan faktor utama yang memengaruhi kinerja ASN. Oleh karena itu, peningkatan motivasi kerja perlu diprioritaskan, disertai penguatan disiplin dan pelatihan</p>Into Harahap Muh. Ilyas NurDiana Mirja Togubu
Copyright (c) 2026 Into Harahap , Muh. Ilyas Nur, Diana Mirja Togubu
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06512009202310.59585/bajik.v5i1.1435Pengaruh Edukasi Qr Code Terhadap Literasi Anemia Remaja Putri Di Mas Aisyiyah Medan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1429
<p>Anemia among adolescent girls remains an unresolved public health and nutrition problem in Indonesia, contributing to morbidity risk during the productive years and to the intergenerational cycle of stunting. Low anemia literacy is suspected to be one of the determinant factors influencing the high prevalence of anemia among adolescent girls. This study aimed to analyze the effect of QR Code-based education on the level of anemia literacy among adolescent girls at MAS Aisyiyah Medan. This quantitative study used a quasi-experimental one group pretest-posttest design, conducted from March to May 2026 with 50 respondents selected through total sampling. Data were analyzed univariately and bivariately using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed a significant increase in anemia literacy scores after the QR Code education intervention (p = 0.000; p<0.05). It is concluded that QR Code-based education effectively improves anemia literacy among adolescent girls and can be recommended as an interactive, low-cost health promotion medium integrated into school health programs (UKS/M).</p>Nelly RustiantiNi Ketut SujatiHalimatussakdiyah Lubis
Copyright (c) 2026 Nelly Rustianti, Ni Ketut Sujati, Halimatussakdiyah Lubis
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05511997200810.59585/bajik.v5i1.1429Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus De Quervain Syndrome Dextra dengan Modalitas Ultrasound dan Terapi Latihan di RSUD Cililin Kab. Bandung Barat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1426
<p><em>De Quervain Syndrome is a musculoskeletal condition affecting the wrist, characterizted by pain on the radial side caused by inflammation of the abductor pollicis longus and extensor pollicis brevis tendons, which leads to limited range of motion and reduced functional ability. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining ultrasound therapy with active exercise in reducing pain, improving range of motion, and enhancing functional ability in a patient with right-sided De Quervain Syndrome. A quantitative descriptive case study design was applied to one patient at RSUD Cililin, West Java Bandung. Outcome measures included the Visual Analog Scale (VAS), goniometer assessment, and Wrist and Hand Disability Index (WHDI), conducted over six treatment sessions. The findings indicated clinical improvement, including reduced resting pain (2 to 0), tenderness (5 to 2), and movement pain (5 to 2). Range of motion also increased in thumb flexion (35°-48°), extension (76°-88°), and abduction (18°-27°). Furthermore, the WHDI score decreased from 58% to 24%, reflecting a shift from severe to moderate disability. These result suggest that the combination of ultrasound and active exercise is effective in improving patient outcomes in De Quervain Syndrome.</em></p>Eli AmeliaIka RahmanAbdul Qudus
Copyright (c) 2026 Eli Amelia, Ika Rahman, Abdul Qudus
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511989199610.59585/bajik.v5i1.1426Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Et Causa Capsulitis Adhesiva dengan Modalitas MWD, TENS, dan Terapi Latihan di RS PUSDIKKES PUSKESAD
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1425
<p><em>Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis is a musculoskeletal disorder of the glenohumeral joint characterized by pain, restricted range of motion, and decreased functional ability due to inflammation and fibrosis of the joint capsule. This condition commonly affects individuals aged 40–65 years and significantly interferes with daily activities if left untreated. This case study aimed to evaluate the effectiveness of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy in reducing pain, improving shoulder range of motion, increasing muscle strength, and restoring functional activities in a patient with Frozen Shoulder. A quantitative descriptive case study was conducted on one patient with left Frozen Shoulder at RS Pusdikkes Puskesad. Clinical outcomes were evaluated over eight treatment sessions using the Visual Analog Scale (VAS), goniometer, Manual Muscle Testing (MMT), and Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). The results demonstrated reductions in resting pain from 2 to 0, tenderness from 4 to 0, and movement pain from 6 to 0. Shoulder range of motion improved from flexion 90° to 180°, extension 40° to 60°, abduction 90° to 180<strong>°</strong>, internal rotation 45° to 90<strong>°</strong>, and external rotation 30° to 90<strong>°</strong>. Muscle strength increased from grade 4 to grade 5, while the SPADI score decreased from 37.5 to 1.5, indicating marked functional recovery. It can be concluded that the combination of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy is effective in reducing pain, improving shoulder mobility, increasing muscle strength, and restoring functional ability in patients with Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis.</em></p>Ika RahmanYuniat IrawatiLona Thesalonika
Copyright (c) 2026 Ika Rahman, Yuniat Irawati, Lona Thesalonika
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511978198810.59585/bajik.v5i1.1425Efektivitas Agen Imunomodulator Dalam Modulasi Respons Imun Pada Pasien Penyakit Autoimun
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1424
<p>Latar Belakang: Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang ditandai oleh hilangnya toleransi imun terhadap antigen tubuh sendiri sehingga menyebabkan inflamasi kronis dan kerusakan jaringan. Diperkirakan lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, termasuk rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease, dan autoimmune thyroid disease. Perkembangan terapi imunomodulator telah mengubah tata laksana penyakit autoimun melalui pengendalian aktivitas sistem imun tanpa menyebabkan imunosupresi total. Tujuan: Menganalisis efektivitas agen imunomodulator dalam memodulasi respons imun pada pasien penyakit autoimun berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review sesuai pedoman PRISMA 2020. Artikel dicari melalui PubMed, Scopus, Web of Science, Embase, dan Cochrane Library dengan rentang publikasi 2020–2025. Kualitas artikel dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tools, sedangkan risiko bias dievaluasi menggunakan RoB 2 dan ROBINS-I. Hasil: Sebanyak 27 artikel memenuhi kriteria inklusi. Agen biologik seperti inhibitor TNF-α, inhibitor IL-6, inhibitor IL-17, inhibitor IL-23, rituximab, abatacept, dan inhibitor JAK menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam menurunkan aktivitas penyakit, kadar sitokin proinflamasi, autoantibodi, serta biomarker inflamasi. Terapi biologik juga meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kekambuhan dibandingkan terapi konvensional. Kesimpulan: Agen imunomodulator modern memberikan manfaat yang signifikan dalam mengendalikan penyakit autoimun melalui modulasi berbagai jalur imun. Pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan karakteristik penyakit, profil imunologis pasien, keamanan, dan risiko efek samping.</p>Meillisa Carlen MainassyRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Meillisa Carlen Mainassy, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511967197710.59585/bajik.v5i1.1424Promosi Kesehatan Sebagai Upaya Preventif Dalam Menurunkan Angka Perokok Pemula
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1423
<p>Latar Belakang: Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Usia pertama kali merokok cenderung semakin muda sehingga meningkatkan risiko ketergantungan nikotin, penyakit tidak menular, serta berbagai dampak kesehatan jangka panjang. Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap negatif terhadap rokok, serta mencegah munculnya perilaku merokok pada remaja. Tujuan: Menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, dan penurunan niat merokok pada remaja sebagai upaya preventif dalam menurunkan angka perokok pemula. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Penelitian dilakukan pada 80 siswa SMP dan SMA yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Intervensi berupa promosi kesehatan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, video edukasi, dan media leaflet mengenai bahaya merokok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan niat merokok yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 64,8±10,5 menjadi 84,6±8,2 setelah intervensi (p<0,001). Rerata skor sikap terhadap perilaku merokok meningkat dari 67,3±9,4 menjadi 86,2±7,6 (p<0,001), sedangkan skor niat merokok menurun secara bermakna dari 18,4±4,7 menjadi 11,2±3,9 (p<0,001). Kesimpulan: Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap yang lebih positif terhadap pencegahan merokok, serta menurunkan niat menjadi perokok pada remaja. Program promosi kesehatan yang dilakukan secara berkelanjutan di sekolah berpotensi menjadi strategi preventif dalam menekan angka perokok pemula.</p>Musaidah MusaidahRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Musaidah Musaidah, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511957196610.59585/bajik.v5i1.1423Hubungan Kepatuhan Penerapan Sepsis Bundle Dengan Outcome Pasien Sepsis Di Ruang Intensif
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1422
<p>Latar Belakang: Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai oleh disfungsi organ akibat respons tubuh yang tidak terkontrol terhadap infeksi dan masih menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di unit perawatan intensif (<em>Intensive Care Unit/ICU</em>). Pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2021 merekomendasikan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dalam satu jam pertama untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan menurunkan angka kematian. Namun, kepatuhan tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan setiap komponen <em>Sepsis Bundle</em> masih bervariasi sehingga berpotensi memengaruhi outcome klinis pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 112 pasien dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari seluruh pasien sepsis yang dirawat di ICU Rumah Sakit X periode Januari–Juni 2026. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan lembar audit kepatuhan <em>Sepsis Bundle</em> berdasarkan pedoman SSC 2021. Outcome pasien dikategorikan menjadi membaik dan meninggal saat keluar dari ICU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Sebanyak 69,6% pasien mendapatkan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> yang patuh, sedangkan 30,4% tidak patuh. Pasien dengan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> yang patuh memiliki proporsi outcome membaik lebih tinggi (79,5%) dibandingkan kelompok tidak patuh (44,1%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dengan outcome pasien (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan outcome pasien (AOR=4,12; 95% CI=1,87–9,09). Kesimpulan: Kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> berhubungan secara signifikan dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Implementasi <em>Sepsis Bundle</em> secara lengkap dan tepat waktu berpotensi meningkatkan keberhasilan terapi serta menurunkan risiko mortalitas pada pasien sepsis.</p>Irawati IrawatiRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Irawati Irawati, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511946195610.59585/bajik.v5i1.1422Analisis Cost Effectiveness Program Promosi Kesehatan Dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1421
<p>Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan kasus PTM menyebabkan beban pembiayaan kesehatan yang semakin besar. Program promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku hidup sehat, serta menurunkan faktor risiko PTM. Selain efektivitas program, aspek efisiensi biaya juga perlu dievaluasi melalui analisis <em>Cost Effectiveness Analysis</em> (CEA) untuk memastikan bahwa sumber daya kesehatan digunakan secara optimal. Tujuan: Menganalisis <em>cost effectiveness</em> program promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit tidak menular. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan metode <em>Cost Effectiveness Analysis</em>. Data diperoleh dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Aek Parombunan selama Januari–Maret 2026. Efektivitas program diukur berdasarkan perubahan proporsi masyarakat yang menerapkan perilaku hidup sehat setelah intervensi, sedangkan biaya dihitung dari perspektif penyelenggara program. Analisis dilakukan dengan menghitung Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Total biaya program promosi kesehatan sebesar Rp45.000.000, dengan peningkatan perilaku hidup sehat sebesar 30% setelah intervensi. Nilai ACER diperoleh sebesar Rp1.500.000 per peningkatan 1% perilaku hidup sehat. Perbandingan dengan program konvensional menghasilkan nilai ICER sebesar Rp500.000 per tambahan peningkatan 1% efektivitas, yang menunjukkan bahwa program promosi kesehatan memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Kesimpulan: Program promosi kesehatan merupakan intervensi yang <em>cost-effective</em> dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan layak dipertimbangkan sebagai strategi prioritas dalam pelayanan kesehatan primer.</p>Warda M Warda MRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Warda M Warda M, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511936194510.59585/bajik.v5i1.1421Pengaruh Latihan Rentang Gerak Terhadap Pemulihan Fungsi Motorik Pasien Stroke
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1418
<p>Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Gangguan fungsi motorik akibat stroke menyebabkan kelemahan otot, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, serta menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan pada fase akut maupun subakut adalah latihan <em>Range of Motion</em> (ROM), yang bertujuan mempertahankan fleksibilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta mempercepat pemulihan fungsi motorik. Meskipun latihan ROM telah banyak diterapkan dalam praktik klinik, bukti mengenai efektivitasnya terhadap pemulihan fungsi motorik pasien stroke di Indonesia masih memerlukan penguatan.Tujuan: Menganalisis pengaruh latihan <em>Range of Motion</em> terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel berjumlah 60 pasien stroke yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30) menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi memperoleh latihan ROM selama 14 hari dengan frekuensi dua kali sehari selama 20–30 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar rumah sakit. Fungsi motorik diukur menggunakan Fugl-Meyer Assessment (FMA) dan kekuatan otot dinilai menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Analisis data menggunakan <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, dan uji signifikansi dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Setelah intervensi, terjadi peningkatan rerata skor fungsi motorik pada kelompok intervensi dari 41,83 ± 8,24 menjadi 60,97 ± 9,11, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 42,10 ± 7,96 menjadi 48,36 ± 8,18. Hasil <em>paired t-test</em> menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok intervensi (p<0,001). Analisis <em>independent t-test</em> menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah perlakuan (p<0,001). Kesimpulan: Latihan <em>Range of Motion</em> berpengaruh signifikan terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Pemberian latihan ROM secara teratur dapat menjadi intervensi keperawatan rehabilitatif yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot, mobilitas sendi, dan kemampuan fungsional pasien stroke.</p>M. Khalid Fredy SaputraRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 M. Khalid Fredy Saputra, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04511925193510.59585/bajik.v5i1.1418Faktor Yang Berhubungan Dengan Healthy Aging Pada Lanjut Usia (Lansia) Di Komunitas
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1412
<p>Latar Belakang: Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat. Kondisi tersebut diikuti oleh meningkatnya kebutuhan terhadap upaya untuk mencapai <em>healthy aging</em>, yaitu proses mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan lansia tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Healthy aging dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, gaya hidup, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Identifikasi faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar penyusunan program intervensi yang mendukung penuaan sehat di tingkat komunitas. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan <em>healthy aging</em> pada lansia di komunitas. Metode: Penelitian menggunakan mixed methods dengan desain Sequential Explanatory Design. Tahap pertama menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 300 lansia yang dipilih menggunakan multistage random sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Tahap kedua menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposif untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Hasil: Sebagian besar lansia memiliki kategori healthy aging yang baik (64,3%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik (OR=4,12; p<0,001), status gizi (OR=3,54; p=0,002), dukungan keluarga (OR=3,26; p=0,003), penyakit kronis (OR=2,87; p=0,007), partisipasi sosial (OR=2,61; p=0,012), dan akses pelayanan kesehatan (OR=2,18; p=0,024) berhubungan signifikan dengan healthy aging. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dukungan keluarga, lingkungan yang ramah lansia, dan keikutsertaan dalam kegiatan masyarakat menjadi faktor utama dalam mempertahankan kesehatan fisik maupun psikososial lansia. Kesimpulan: Healthy aging dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, keluarga, lingkungan sosial, dan pelayanan kesehatan. Pendekatan multidisiplin berbasis komunitas diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.</p>Djusmadi RasyidRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Djusmadi Rasyid, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511914192410.59585/bajik.v5i1.1412Pengaruh Kualitas Makanan Terhadap Sisa Makanan (Plate Waste) Pasien Rawat Inap Di RSUD Weda Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1415
<p>Sisa makanan (plate waste) di rumah sakit merupakan indikator mutu pelayanan gizi yang berdampak pada status gizi pasien, efisiensi biaya operasional, dan keberlanjutan sumber daya rumah sakit.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penampilan makanan, peralatan makan, kebersihan penyajian, konsistensi rasa makanan, dan ketepatan waktu penyajian terhadap sisa makanan pasien rawat inap.</p> <p>Desain penelitian bersifat kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 98 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling dari populasi 4.488 pasien Ruang Interna dan Kebidanan, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan 46,9 persen responden memiliki sisa makanan kategori banyak (>20%), dan kelima variabel terbukti berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap plate waste. Konsistensi rasa makanan merupakan faktor paling dominan (OR=5,739), diikuti kebersihan penyajian (OR=4,163), penampilan makanan (OR=3,452), peralatan makan (OR=2,916), dan ketepatan waktu penyajian (OR=2,879). Kelima variabel secara bersama-sama mampu menjelaskan variasi plate waste sebesar 59,3 persen, dengan ketepatan klasifikasi model sebesar 77,6 persen. Perbaikan mutu makanan, khususnya aspek konsistensi rasa dan kebersihan penyajian, perlu diprioritaskan instalasi gizi guna menekan angka plate waste sesuai standar pelayanan minimal rumah sakit.</p>Mardina SulistiawatiRahmawati RahmawatiJalil Genisa
Copyright (c) 2026 Mardina Sulistiawati, Rahmawati Rahmawati, Jalil Genisa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511898191310.59585/bajik.v5i1.1415Efektivitas Simulasi Obstetric Emergency Terhadap Peningkatan Keterampilan Bidan Dalam Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1411
<p>Latar Belakang: Perdarahan pasca persalinan (<em>postpartum hemorrhage/PPH</em>) merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia. Penanganan yang cepat, tepat, dan sesuai standar sangat bergantung pada kompetensi tenaga kesehatan, terutama bidan sebagai pemberi pelayanan obstetri lini pertama. Salah satu metode yang terbukti meningkatkan kompetensi klinis adalah pelatihan berbasis simulasi (<em>obstetric emergency simulation</em>), yang memungkinkan peserta berlatih keterampilan teknis maupun nonteknis dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata tanpa membahayakan pasien. Tujuan: Menganalisis efektivitas simulasi <em>obstetric emergency</em> terhadap peningkatan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sebanyak 60 bidan dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pelatihan simulasi <em>obstetric emergency</em> selama dua hari yang meliputi penanganan aktif kala III, identifikasi penyebab perdarahan, resusitasi, manajemen syok, komunikasi tim, dan sistem rujukan. Keterampilan bidan dinilai menggunakan lembar Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank atau Paired t-test sesuai distribusi data dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Rata-rata skor keterampilan sebelum pelatihan adalah 68,4 ± 8,7, meningkat menjadi 87,9 ± 6,2 setelah pelatihan. Terdapat peningkatan keterampilan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Kesimpulan: Simulasi <em>obstetric emergency</em> efektif meningkatkan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Pelatihan berbasis simulasi direkomendasikan sebagai bagian dari pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan keselamatan ibu.</p>Delimayani DelimayaniCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Delima Hastadi, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511890189710.59585/bajik.v5i1.1411Korelasi Tingkat Pengetahuan dan Dukungan Pelayanan Kesehatan dengan Kepatuhan Skrining IMS pada Kelompok Berisiko
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1410
<p>Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di dunia maupun Indonesia. Kelompok berisiko seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), transgender, pengguna narkoba suntik, dan individu dengan pasangan seksual berganti-ganti memiliki risiko tinggi mengalami IMS. Kepatuhan melakukan skrining IMS secara berkala merupakan strategi penting dalam mendeteksi infeksi secara dini sehingga dapat menurunkan angka penularan dan komplikasi. Namun, kepatuhan terhadap skrining masih rendah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik responden, tingkat pengetahuan, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (60,7%), memperoleh dukungan layanan kesehatan tinggi (65,3%), serta patuh melakukan skrining IMS (62,0%). Analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p<0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p<0,001). Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan dan penguatan akses layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS</p>Norma SafitriYanti Mustarin
Copyright (c) 2026 Norma Safitri, Yanti Mustarin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511881188910.59585/bajik.v5i1.1410Implementasi Sistem Manajemen Laboratorium Dalam Mendukung Pelayanan Diagnostik Yang Bermutu, Aman, Dan Efisien
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1408
<p>Pelayanan laboratorium merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena sekitar 60–70% keputusan klinis dipengaruhi oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu, penerapan sistem manajemen laboratorium yang efektif menjadi faktor utama dalam menjamin mutu pelayanan diagnostik. Sistem manajemen laboratorium mencakup pengelolaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, peralatan, reagen, keselamatan kerja, pengendalian mutu, dokumentasi, serta sistem informasi laboratorium. Implementasi sistem manajemen laboratorium yang baik mampu meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan, mempercepat waktu pelayanan (<em>turnaround time</em>), meminimalkan kesalahan pada tahap pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik, serta meningkatkan keselamatan pasien dan petugas laboratorium. Selain itu, penerapan standar mutu seperti ISO 15189 dan pemenuhan indikator mutu laboratorium menjadi dasar dalam meningkatkan kepercayaan pengguna layanan. Artikel ini bertujuan mengkaji implementasi sistem manajemen laboratorium dalam mendukung pelayanan diagnostik yang bermutu, aman, dan efisien melalui telaah berbagai aspek manajemen laboratorium modern.</p>Desman Serius NazaraRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Desman Serius Nazara, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511862187210.59585/bajik.v5i1.1408Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Penurunan Berat Badan Pada Orang Dewasa
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1405
<p>Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok. Efek nikotin terhadap penekanan nafsu makan, peningkatan metabolisme basal, dan perubahan regulasi energi diduga berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada perokok. Namun, hubungan tersebut masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, dan lama kebiasaan merokok. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 240 responden berusia 18–60 tahun dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data kebiasaan merokok diperoleh melalui kuesioner terstruktur, sedangkan berat badan dan tinggi badan diukur secara langsung untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 42,5% responden merupakan perokok aktif. Penurunan berat badan atau status berat badan di bawah normal ditemukan pada 28,3% responden. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan penurunan berat badan (p = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki peluang 2,76 kali lebih besar mengalami penurunan berat badan dibandingkan bukan perokok (AOR = 2,76; 95% CI = 1,48–5,14). Kesimpulan: Kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Meskipun demikian, merokok tidak dapat dijadikan sebagai metode pengendalian berat badan karena dampak buruknya terhadap kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dipersepsikan.</p>Nurhasanah Syaharuddin Cakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Nurhasanah Syaharuddin , Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511854186110.59585/bajik.v5i1.1405Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru Pada Pasien Henti Jantung Di Instalasi Gawat Darurat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1404
<p>Latar Belakang: Henti jantung (<em>cardiac arrest</em>) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang ditandai dengan berhentinya aktivitas mekanik jantung sehingga sirkulasi darah dan oksigen ke organ vital terhenti. Kondisi ini memerlukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang terjadinya <em>Return of Spontaneous Circulation</em> (ROSC). Keberhasilan RJP dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia pasien, penyebab henti jantung, waktu respons, irama jantung awal, durasi resusitasi, dan pemberian defibrilasi. Analisis faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan Resusitasi Jantung Paru pada pasien henti jantung di Instalasi Gawat Darurat. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 110 pasien henti jantung yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebanyak 41,8% pasien mengalami keberhasilan ROSC. Analisis menunjukkan bahwa waktu respons (p=0,001), irama jantung awal (p=0,003), durasi RJP (p=0,005), dan pemberian defibrilasi (p=0,002) berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan RJP. Usia (p=0,081) dan jenis kelamin (p=0,427) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru dipengaruhi oleh waktu respons yang cepat, irama jantung awal yang dapat dilakukan defibrilasi, durasi resusitasi yang sesuai, serta tindakan defibrilasi yang tepat. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan optimalisasi sistem respons kegawatdaruratan diperlukan untuk meningkatkan angka keberhasilan RJP.</p>Andi AgustangRahayu Setyaningsih
Copyright (c) 2026 Andi Agustang, Rahayu Setyaningsih
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-032026-08-03511847185310.59585/bajik.v5i1.1404Analisis Mutu Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Dan Empathy
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1403
<p>Latar Belakang: Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator utama dalam menilai keberhasilan pelayanan di fasilitas kesehatan. Pelayanan yang bermutu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana, ketepatan pelayanan, kecepatan respons, jaminan keamanan, serta kepedulian terhadap pasien. Model SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman mengukur mutu pelayanan melalui lima dimensi, yaitu <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em>. Evaluasi terhadap kelima dimensi tersebut penting untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien sekaligus menjadi dasar perbaikan mutu pelayanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis mutu pelayanan kesehatan berdasarkan dimensi <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em> di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner SERVQUAL dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden menilai dimensi <em>Tangibles</em> (70,0%), <em>Reliability</em> (72,7%), <em>Responsiveness</em> (68,0%), <em>Assurance</em> (74,0%), dan <em>Empathy</em> (71,3%) dalam kategori baik. Analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi SERVQUAL memiliki hubungan yang signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan (p<0,05). Kesimpulan: Dimensi <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em> berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Peningkatan kualitas sarana prasarana, kompetensi tenaga kesehatan, kecepatan pelayanan, jaminan keamanan, serta komunikasi yang berpusat pada pasien diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.</p>Nuryanti Thahir Rezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Nuryanti Thahir , Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511847185410.59585/bajik.v5i1.1403Hubungan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan Pada Trimester III
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1406
<p>Latar Belakang: Antenatal Care (ANC) merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil secara terencana dan berkesinambungan untuk memantau kondisi ibu dan janin, mendeteksi faktor risiko, serta mencegah terjadinya komplikasi kehamilan. Kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan ANC sesuai standar berperan penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Namun, masih terdapat ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ANC secara lengkap sehingga komplikasi kehamilan sering terlambat terdeteksi, terutama pada trimester III. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan kunjungan Antenatal Care dengan kejadian komplikasi kehamilan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui telaah buku KIA, rekam medis, dan kuesioner karakteristik responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar (71,7%). Kejadian komplikasi kehamilan ditemukan pada 25,8% responden. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan kunjungan ANC dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III (p = 0,002). Kesimpulan: Kepatuhan kunjungan ANC berhubungan secara signifikan dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III. Ibu hamil yang patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar memiliki risiko lebih rendah mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan ibu yang tidak patuh.</p>Hasrianti HasriantiDian Meiliani Yulis Sutrani Syarif Nurqalbi SR Nurqalbi SR
Copyright (c) 2026 Hasrianti Hasrianti, Dian Meiliani Yulis , Sutrani Syarif , Nurqalbi SR Nurqalbi SR
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511840184610.59585/bajik.v5i1.1406Hubungan Tingkat Pendidikan dan Paritas dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi pada Wanita Usia Subur
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1402
<p>Latar Belakang: Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menurunkan angka kelahiran, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta mewujudkan keluarga yang berkualitas. Keberhasilan program KB dipengaruhi oleh pemilihan metode kontrasepsi yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan usia subur. Tingkat pendidikan dan paritas merupakan faktor yang diduga memengaruhi pengambilan keputusan wanita usia subur dalam memilih metode kontrasepsi. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 wanita usia subur yang menjadi akseptor KB dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan menengah (55,0%), multipara (60,8%), dan menggunakan kontrasepsi hormonal (66,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,003) serta antara paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,001). Kesimpulan: Tingkat pendidikan dan paritas berhubungan secara signifikan dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Peningkatan edukasi dan konseling keluarga berencana diperlukan agar wanita usia subur dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan reproduksinya</p>Elvira SafidniRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Elvira Safidni, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511832183910.59585/bajik.v5i1.1402Analisis Faktor Risiko Gangguan Pembekuan Darah Pada Ibu Postpartum
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1401
<p>Masa postpartum merupakan periode kritis yang berlangsung hingga 42 hari setelah persalinan. Pada periode ini ibu berisiko mengalami berbagai komplikasi, termasuk gangguan pembekuan darah (koagulasi) yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum maupun tromboemboli. Perubahan fisiologis sistem hemostasis selama kehamilan dan setelah persalinan meningkatkan risiko terjadinya gangguan koagulasi, terutama pada ibu dengan faktor risiko tertentu seperti usia maternal tinggi, obesitas, preeklampsia, persalinan seksio sesarea, infeksi, dan riwayat gangguan pembekuan darah. Identifikasi faktor-faktor risiko tersebut penting untuk mendukung deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu. Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 180 ibu postpartum dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari ruang nifas rumah sakit dan puskesmas. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Gangguan pembekuan darah ditemukan pada 26,1% responden. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah usia ≥35 tahun (p=0,021), preeklampsia (p<0,001), persalinan seksio sesarea (p=0,014), obesitas (p=0,008), dan perdarahan postpartum (p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa preeklampsia merupakan faktor yang paling dominan (AOR=4,28; 95% CI=2,01–9,12). Preeklampsia, obesitas, usia maternal ≥35 tahun, persalinan seksio sesarea, dan perdarahan postpartum merupakan faktor risiko utama gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Skrining faktor risiko sejak masa antenatal hingga postpartum diperlukan untuk mencegah komplikasi serius.</p>Susi RabuanaCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Susi Rabuana, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511823183110.59585/bajik.v5i1.1401Faktor Sosiodemografi Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1400
<p>Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk karakteristik sosiodemografi. Faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat tinggal berperan penting dalam menentukan akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat, serta kualitas hidup individu. Perbedaan kondisi sosiodemografi dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, identifikasi faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan menjadi penting sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Menganalisis faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 220 responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kepercayaan 95%. Sebagian besar responden memiliki status kesehatan baik (67,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pendidikan (p=0,002), pendapatan (p<0,001), pekerjaan (p=0,018), dan umur (p=0,031) berhubungan signifikan dengan status kesehatan masyarakat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi status kesehatan (AOR=3,84; 95% CI=2,01–7,32). Faktor sosiodemografi, khususnya pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan umur, berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan masyarakat perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan karakteristik demografi masyarakat sebagai dasar perencanaan program kesehatan.</p>Sahabuddin SahabuddinNurhaedah Nurhaedah
Copyright (c) 2026 Sahabuddin Sahabuddin, Nurhaedah Nurhaedah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511814182210.59585/bajik.v5i1.1400Pengaruh Promosi Kesehatan Berbasis Digital Terhadap Perubahan Perilaku Pencegahan Penyakit Pada Generasi Z
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1399
<p>Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan, terutama pada Generasi Z yang dikenal sebagai <em>digital native</em>. Media digital seperti media sosial, aplikasi kesehatan, situs web, video edukasi, dan platform komunikasi daring menjadi sarana utama dalam penyebaran informasi kesehatan. Promosi kesehatan berbasis digital memiliki potensi besar dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perubahan perilaku pencegahan penyakit. Namun, efektivitas promosi kesehatan digital dipengaruhi oleh kualitas informasi, intensitas paparan, literasi kesehatan digital, serta kemampuan individu dalam memanfaatkan informasi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Menganalisis pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan promosi kesehatan digital dan perilaku pencegahan penyakit. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi 95%. Sebagian besar responden memiliki tingkat paparan promosi kesehatan digital yang tinggi (72,2%) dan menunjukkan perilaku pencegahan penyakit yang baik (69,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit (p<0,001). Promosi kesehatan berbasis digital berpengaruh positif terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Pemanfaatan media digital yang inovatif dan interaktif perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas promosi kesehatan.</p>Rita Rena PudyastutiRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Rita Rena Pudyastuti, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511806181310.59585/bajik.v5i1.1399Efektivitas Metode Diskusi Kelompok Dalam Meningkatkan Pemahaman Dan Perilaku Seksual Sehat Remaja
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1398
<p>Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat cepat. Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak direncanakan, infeksi menular seksual (IMS), serta perilaku seksual berisiko. Salah satu metode pendidikan kesehatan yang dinilai efektif adalah metode diskusi kelompok karena memberikan kesempatan kepada remaja untuk bertukar pengalaman, menyampaikan pendapat, dan memperoleh informasi secara aktif. Menganalisis efektivitas metode diskusi kelompok dalam meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui empat sesi diskusi kelompok mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku seksual sehat, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>paired t-test</em> dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Rata-rata skor pemahaman remaja meningkat dari 61,42 ± 8,73 sebelum intervensi menjadi 82,75 ± 6,54 setelah intervensi. Rata-rata skor perilaku seksual sehat meningkat dari 64,18 ± 7,95 menjadi 80,63 ± 6,88. Hasil uji <em>paired t-test</em> menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah pemberian metode diskusi kelompok. Metode diskusi kelompok efektif meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Metode ini dapat dijadikan salah satu strategi pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah maupun di masyarakat.</p>Raissa PatrisiaDjunaedi Djunaedi
Copyright (c) 2026 Raissa Patrisia, Djunaedi Djunaedi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-022026-08-02511798180510.59585/bajik.v5i1.1398Peran Keselamatan Pasien Sebagai Pilar Utama Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Analitik
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1397
<p>Keselamatan pasien (<em>patient safety</em>) merupakan komponen fundamental dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Penerapan budaya keselamatan pasien bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien, mengurangi risiko cedera, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Berbagai faktor seperti komunikasi efektif, kepatuhan terhadap identifikasi pasien, pelaporan insiden, kepemimpinan, dan kerja sama tim berkontribusi terhadap keberhasilan implementasi keselamatan pasien. Menganalisis peran keselamatan pasien sebagai pilar utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 150 tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit, dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki penerapan keselamatan pasien yang baik (72,7%) dan menilai mutu pelayanan kesehatan dalam kategori baik (76,0%). Analisis menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien (p=0,001), komunikasi efektif (p=0,003), kepatuhan identifikasi pasien (p=0,002), pelaporan insiden keselamatan pasien (p=0,011), dan kerja sama tim (p=0,004) berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Keselamatan pasien memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penguatan budaya keselamatan pasien, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien diperlukan untuk mendukung pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien.</p>Moh. Nisyar Sy. Abd. AzisRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511791179710.59585/bajik.v5i1.1397Studi Kualitatif Implementasi Biosafety Dan Biosecurity Pada Laboratorium Mikrobiologi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1396
<p>Laboratorium mikrobiologi memiliki peran penting dalam diagnosis penyakit, penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Aktivitas laboratorium melibatkan berbagai agen biologis yang berpotensi menimbulkan risiko infeksi bagi petugas, masyarakat, maupun lingkungan apabila tidak dikelola sesuai prinsip biosafety dan biosecurity. Biosafety bertujuan melindungi petugas laboratorium, masyarakat, dan lingkungan dari paparan agen biologis melalui penerapan praktik laboratorium yang aman, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengendalian teknik, serta prosedur operasional standar. Sementara itu, biosecurity bertujuan mencegah kehilangan, pencurian, penyalahgunaan, atau pelepasan agen biologis yang dapat membahayakan keamanan publik. Keberhasilan implementasi kedua prinsip tersebut dipengaruhi oleh kebijakan institusi, kompetensi sumber daya manusia, ketersediaan sarana prasarana, budaya keselamatan kerja, dan sistem pengawasan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menggambarkan upaya peningkatan budaya keselamatan laboratorium. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala laboratorium, analis laboratorium, dosen atau peneliti, serta petugas penjamin mutu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap aktivitas laboratorium, dan telaah dokumen berupa SOP, kebijakan, serta catatan pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan <em>member checking</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi biosafety telah berjalan melalui penggunaan APD, penerapan SOP, pengelolaan limbah infeksius, serta pelatihan keselamatan kerja secara berkala. Namun, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain kepatuhan penggunaan APD yang belum konsisten, keterbatasan fasilitas tertentu, dan belum optimalnya dokumentasi evaluasi risiko. Implementasi biosecurity telah diterapkan melalui pembatasan akses laboratorium, pencatatan penggunaan bahan biologis, dan pengamanan ruang penyimpanan, meskipun masih diperlukan penguatan sistem pengawasan serta peningkatan kesadaran seluruh personel laboratorium. Implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi telah dilaksanakan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek budaya keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur, peningkatan kompetensi petugas, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.</p>Rizky Rahadian WicaksonoMuhammad Hanif
Copyright (c) 2026 Rizky Rahadian Wicaksono, Muhammad Hanif
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511782179010.59585/bajik.v5i1.1396Pengaruh Iklan Rokok Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1395
<p>Perilaku merokok pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular di masa dewasa. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku merokok remaja adalah paparan iklan rokok melalui televisi, media sosial, internet, sponsor kegiatan, maupun media luar ruang. Iklan rokok umumnya menampilkan citra maskulinitas, kebebasan, petualangan, dan keberhasilan yang dapat memengaruhi persepsi serta mendorong remaja untuk mencoba merokok. Menganalisis pengaruh paparan iklan rokok terhadap perilaku merokok pada remaja. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 remaja berusia 15–19 tahun dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan iklan rokok dan perilaku merokok. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebanyak 61,1% responden memiliki tingkat paparan iklan rokok yang tinggi, sedangkan 38,9% memiliki paparan rendah. Remaja yang memiliki perilaku merokok sebanyak 42,8%. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan iklan rokok dengan perilaku merokok pada remaja (p = 0,001). Paparan iklan rokok berpengaruh terhadap perilaku merokok pada remaja. Semakin tinggi paparan iklan rokok, semakin besar kecenderungan remaja untuk mencoba dan mempertahankan kebiasaan merokok. Penguatan regulasi iklan rokok dan edukasi kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah perilaku merokok pada remaja.</p>Rosmiati RosmiatiRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Rosmiati Rosmiati, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511775178110.59585/bajik.v5i1.1395Dampak Paparan Asap Rokok Terhadap Kesehatan Perokok Pasif Dalam Keluarga
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1394
<p>aparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular. Perokok pasif adalah individu yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Dalam lingkungan keluarga, paparan asap rokok sering terjadi di dalam rumah sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada pasangan, anak, dan anggota keluarga lainnya. Paparan asap rokok terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan, penyakit kardiovaskular, kanker paru, serta gangguan kesehatan pada ibu hamil dan anak. Menganalisis dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan perokok pasif dalam keluarga. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 150 anggota keluarga nonperokok yang tinggal serumah dengan perokok aktif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Sebanyak 60,7% responden terpapar asap rokok setiap hari. Gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah batuk kronis (35,3%), infeksi saluran pernapasan akut (28,7%), sesak napas (18,0%), dan kekambuhan asma (12,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan asap rokok di dalam rumah dengan kejadian gangguan kesehatan pada perokok pasif (p = 0,001).Paparan asap rokok dalam lingkungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan pada perokok pasif. Penerapan rumah bebas asap rokok serta edukasi mengenai bahaya asap rokok perlu ditingkatkan untuk melindungi seluruh anggota keluarga</p>Faharuddin FaharuddinRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Faharuddin Faharuddin, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511768177410.59585/bajik.v5i1.1394Hubungan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Dengan Perilaku Pencegahan Risiko Seksual Pada Siswa Sekolah Menengah
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1393
<p>Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa pubertas. Kurangnya pemahaman mengenai seksualitas dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, infeksi menular seksual (IMS), kehamilan yang tidak direncanakan, serta penyalahgunaan media digital. Pendidikan seksualitas komprehensif merupakan salah satu pendekatan pendidikan kesehatan yang bertujuan memberikan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta meningkatkan keterampilan remaja dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi. Namun, penerapan pendidikan seksualitas di lingkungan sekolah masih belum optimal sehingga diperlukan penelitian mengenai hubungannya dengan perilaku pencegahan risiko seksual. Menganalisis hubungan pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 200 siswa dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pendidikan seksualitas komprehensif dan perilaku pencegahan risiko seksual. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual (p = 0,001). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pendidikan seksualitas komprehensif yang baik memiliki peluang 4,13 kali lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan risiko seksual yang baik (OR = 4,13; 95% CI = 2,08–8,19; p = 0,001). Pendidikan seksualitas komprehensif berhubungan secara signifikan dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penguatan program pendidikan seksualitas di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga.</p>Iin FadhilahRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Iin Fadhilah, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511758176710.59585/bajik.v5i1.1393Pengaruh Pursed Lip Breathing Terhadap Frekuensi Pernapasan Pada Pasien PPOK
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1392
<p>Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan progresif. Salah satu gejala utama PPOK adalah sesak napas yang menyebabkan peningkatan frekuensi pernapasan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Teknik <em>Pursed Lip Breathing</em> (PLB) merupakan latihan pernapasan sederhana yang bertujuan memperlambat ekspirasi, mengurangi <em>air trapping</em>, meningkatkan ventilasi alveoli, serta menurunkan kerja otot pernapasan. Menganalisis pengaruh <em>Pursed Lip Breathing</em> terhadap frekuensi pernapasan pada pasien PPOK. Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sebanyak 30 pasien PPOK dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa latihan <em>Pursed Lip Breathing</em> selama 10–15 menit sebanyak dua kali sehari selama lima hari. Frekuensi pernapasan diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi adalah 28,13 ± 3,42 kali/menit dan menurun menjadi 22,47 ± 2,85 kali/menit setelah intervensi. Hasil uji Paired <em>t-test</em> menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan <em>Pursed Lip Breathing</em> terhadap penurunan frekuensi pernapasan (p<0,001). <em>Pursed Lip Breathing</em> efektif menurunkan frekuensi pernapasan pada pasien PPOK sehingga dapat dijadikan sebagai terapi nonfarmakologis dalam membantu mengurangi sesak napas</p>Sofyan SofyanRosida Rosida
Copyright (c) 2026 Sofyan Sofyan, Rosida Rosida
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511751175710.59585/bajik.v5i1.1392Penerapan Konsep Evidence-Based Midwifery Dalam Pengambilan Keputusan Klinis Bidan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1391
<p><em>Evidence-Based Midwifery</em> (EBM) merupakan pendekatan praktik kebidanan yang mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, kompetensi klinis bidan, serta nilai dan preferensi perempuan dalam pengambilan keputusan klinis. Penerapan EBM menjadi komponen penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, keselamatan ibu dan bayi, serta efektivitas intervensi klinis. Meskipun demikian, implementasi EBM di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses terhadap bukti ilmiah, rendahnya kemampuan telaah kritis, serta keterbatasan dukungan institusi.</p> <p>Mengkaji penerapan konsep <em>Evidence-Based Midwifery</em> dalam pengambilan keputusan klinis bidan berdasarkan bukti ilmiah terkini. Artikel ini menggunakan metode<em> Narrative Literature Review.</em> Literatur diperoleh melalui penelusuran pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, Wiley Online Library, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang dipilih merupakan publikasi tahun 2020–2025, tersedia dalam teks lengkap, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta membahas penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> dalam praktik kebidanan. Data dianalisis secara deskriptif melalui proses sintesis naratif berdasarkan tema-tema utama. Kajian menunjukkan bahwa penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis, mengurangi variasi praktik yang tidak didukung bukti, meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, serta memperkuat pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (<em>woman-centred care</em>). Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi bidan, akses terhadap literatur ilmiah, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan organisasi. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya, rendahnya kemampuan appraisal artikel ilmiah, dan budaya kerja menjadi hambatan utama. Penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> merupakan strategi penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan. Penguatan kompetensi bidan, peningkatan akses terhadap bukti ilmiah, serta dukungan kebijakan institusi diperlukan agar pengambilan keputusan klinis berbasis bukti dapat diterapkan secara optimal.</p>Lumastari Ajeng WijayantiRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511742175010.59585/bajik.v5i1.1391Kajian Konsep Continuity Of Care Dalam Asuhan Kebidanan Berkelanjutan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1388
<p>Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memerlukan pelayanan kebidanan yang berkualitas, komprehensif, dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang telah banyak diterapkan dalam pelayanan maternal adalah <em>Continuity of Care</em> (CoC), yaitu model pelayanan yang menjamin kesinambungan asuhan sejak masa prakonsepsi atau kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini menempatkan bidan sebagai pemberi asuhan utama yang membangun hubungan terapeutik secara berkelanjutan dengan perempuan dan keluarganya. Mengkaji konsep <em>Continuity of Care</em> dalam asuhan kebidanan berkelanjutan berdasarkan perkembangan teori, prinsip, komponen, manfaat, serta implementasinya dalam praktik pelayanan kebidanan. Artikel ini merupakan kajian konseptual (<em>conceptual review</em>) yang disusun melalui telaah literatur dari buku teks, pedoman organisasi kesehatan, serta artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai <em>Continuity of Care</em> dalam pelayanan kebidanan. Literatur dipilih berdasarkan relevansi terhadap konsep pelayanan kebidanan berkelanjutan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kajian menunjukkan bahwa <em>Continuity of Care</em> merupakan model pelayanan yang menekankan kesinambungan hubungan antara bidan dan perempuan sepanjang siklus reproduksi. Implementasi CoC meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat deteksi dini komplikasi, meningkatkan kepuasan ibu, mengurangi intervensi yang tidak diperlukan, serta berkontribusi terhadap perbaikan luaran maternal dan neonatal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kompetensi bidan, sistem rujukan, kolaborasi antarprofesi, dukungan kebijakan, dan keterlibatan keluarga. <em>Continuity of Care</em> merupakan konsep fundamental dalam praktik kebidanan modern yang mendukung pelayanan komprehensif, berpusat pada perempuan (<em>woman-centered care</em>), dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Implementasi yang optimal memerlukan dukungan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kebijakan yang mendukung kesinambungan pelayanan.</p>Kiki Uniatri ThalibCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Kiki Uniatri Thalib, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511733174110.59585/bajik.v5i1.1388Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Kesehatan Dan Produktivitas Belajar Anak
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1389
<p>Masalah gizi pada anak usia sekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, gangguan perkembangan kognitif, serta menurunkan kemampuan belajar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik melalui penyediaan makanan bergizi seimbang di sekolah. Program ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan anak, tetapi juga meningkatkan konsentrasi, kehadiran, dan produktivitas belajar. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap status kesehatan dan produktivitas belajar anak berdasarkan hasil penelitian dan publikasi ilmiah terkini. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Literatur diperoleh melalui penelusuran pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 serta membahas program pemberian makan di sekolah, status gizi, kesehatan anak, perkembangan kognitif, dan prestasi belajar dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah berkontribusi terhadap peningkatan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral; perbaikan status gizi; penurunan risiko anemia; peningkatan daya tahan tubuh; serta penurunan angka ketidakhadiran akibat sakit. Selain itu, program tersebut berhubungan dengan peningkatan konsentrasi, fungsi kognitif, motivasi belajar, partisipasi di kelas, dan prestasi akademik. Keberhasilan program dipengaruhi oleh kualitas menu, keamanan pangan, keteraturan pelaksanaan, kecukupan pendanaan, serta keterlibatan keluarga dan sekolah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan dan produktivitas belajar anak apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, memenuhi prinsip gizi seimbang, serta didukung oleh pemantauan dan evaluasi yang sistematis.</p>Sri Sukmawaty SyahrirKasmiati KasmiatiCakrawati R Cakrawati R
Copyright (c) 2026 Sri Sukmawaty Syahrir, Cakrawati R Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511725173210.59585/bajik.v5i1.1389Model Prediksi Risiko Penyakit Kronis Berdasarkan Faktor Epidemiologis Dan Perilaku Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1382
<p>Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronik merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan prevalensi penyakit kronis dipengaruhi oleh berbagai faktor epidemiologis, seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit keluarga, serta perilaku kesehatan yang meliputi kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, konsumsi garam, konsumsi gula, dan konsumsi alkohol. Identifikasi faktor-faktor tersebut melalui model prediksi risiko sangat penting untuk mendukung deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit kronis di masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan yang berhubungan dengan kejadian penyakit kronis serta menyusun model prediksi risiko penyakit kronis pada masyarakat.Penelitian menggunakan desain <strong>kuantitatif analitik</strong> dengan pendekatan <strong>cross-sectional</strong>. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian sebanyak <strong>250 responden</strong> dipilih menggunakan teknik <strong>multistage random sampling</strong>. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, pengukuran antropometri, pemeriksaan tekanan darah, serta pengukuran kadar gula darah sewaktu. Analisis data meliputi analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda untuk membentuk model prediksi risiko penyakit kronis. Kinerja model dievaluasi menggunakan uji Hosmer–Lemeshow dan kurva ROC.Berdasarkan data simulasi, usia ≥45 tahun, obesitas, riwayat penyakit kronis dalam keluarga, aktivitas fisik rendah, konsumsi garam tinggi, dan kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit kronis (p<0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa usia ≥45 tahun (OR=4,32), obesitas (OR=3,41), riwayat keluarga (OR=2,95), dan aktivitas fisik rendah (OR=2,63) merupakan prediktor dominan. Model prediksi memiliki nilai <strong>Area Under Curve (AUC) sebesar 0,87</strong>, yang menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik.Faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan berpengaruh terhadap risiko penyakit kronis. Model prediksi yang dikembangkan memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi individu berisiko tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar skrining dan intervensi promotif-preventif di pelayanan kesehatan primer</p>Nurril Cholifatul IzzaAkbar AkbarRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Nurril Cholifatul Izza, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511715172410.59585/bajik.v5i1.1382Hubungan Lama Berdiri Dengan Keluhan Nyeri Dan Pembengkakan Pada Ekstremitas Bawah
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1380
<p>Berdiri dalam waktu yang lama merupakan salah satu faktor risiko gangguan muskuloskeletal dan gangguan sirkulasi pada ekstremitas bawah. Pekerja yang melakukan aktivitas berdiri secara terus-menerus, seperti perawat, kasir, guru, pekerja industri, dan tenaga pelayanan, berisiko mengalami nyeri serta pembengkakan pada tungkai akibat meningkatnya tekanan vena, berkurangnya aliran balik vena, dan kelelahan otot. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa upaya pencegahan, maka dapat menurunkan produktivitas kerja, meningkatkan angka absensi, serta memengaruhi kualitas hidup pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama berdiri dengan keluhan nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di salah satu perusahaan/instansi di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, pengukuran lama berdiri selama bekerja, Numeric Rating Scale (NRS) untuk menilai intensitas nyeri, serta lembar observasi pembengkakan ekstremitas bawah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat signifikansi 95%. Berdasarkan data simulasi, sebanyak 68 responden (56,7%) memiliki durasi berdiri ≥6 jam per hari. Keluhan nyeri ekstremitas bawah ditemukan pada 74 responden (61,7%), sedangkan pembengkakan ekstremitas bawah dialami oleh 52 responden (43,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama berdiri dengan keluhan nyeri (p = 0,001) serta pembengkakan ekstremitas bawah (p = 0,003). Lama berdiri berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya kejadian nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Pengaturan waktu istirahat, peregangan otot, penggunaan alas kaki yang ergonomis, dan penerapan prinsip ergonomi kerja perlu dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pada ekstremitas bawah.</p>Viyan Septiyana AchmadMarwono MarwonoRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Viyan Septiyana Achmad
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511707171410.59585/bajik.v5i1.1380Risk Factors for Pulmonary Tuberculosis Occurrence Among Active Smokers in the Working Area of Poasia Community Health Center
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1379
<p><em>Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban tuberkulosis dengan kontribusi 10 persen dari total kasus global pada tahun 2024. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kecamatan Poasia di Kota Kendari, mencatat angka kejadian tuberkulosis yang tinggi. Merokok merupakan faktor risiko penting bagi kejadian tuberkulosis paru, namun studi epidemiologis di wilayah tersebut masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian tuberkulosis paru pada perokok aktif di wilayah kerja Puskesmas Poasia. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan sampel perokok aktif berusia minimal 18 tahun. Variabel yang dikaji meliputi umur, tingkat pendidikan, lama merokok, jumlah konsumsi rokok per hari, indeks Brinkman, karboksihemoglobin, riwayat kontak, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan status gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan pemeriksaan laboratorium bakteriologi tahan asam serta karboksihemoglobin. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk menentukan faktor risiko independen. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok berat dengan konsumsi lebih dari 10 batang per hari memiliki risiko 4,27 kali lebih tinggi (OR=4,27; 95% CI: 2,31-7,89; p<0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Kadar karboksihemoglobin tinggi (OR=3,15; p<0,001), riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis (OR=3,88; p=0,001), ventilasi rumah yang buruk (OR=2,97; p=0,001), status gizi kurang (OR=2,99; p<0,001), dan kepadatan hunian yang tinggi (OR=2,95; p<0,001) juga berhubungan signifikan dengan kejadian tuberkulosis paru. Perilaku merokok merupakan faktor risiko independen paling dominan terhadap kejadian tuberkulosis paru (AOR=3,95; 95% CI: 2,11-7,42; p=0,001), diikuti oleh kadar karboksihemoglobin tinggi (AOR=2,87; 95% CI: 1,52-5,41; p=0,001). Disarankan dilakukan skrining tuberkulosis ekstensif bagi perokok, program penghentian merokok terintegrasi, serta peningkatan ventilasi dan pengurangan kepadatan hunian di wilayah Poasia</em></p> <p> </p>Sari Arie Lestari BMohamad Guntur NangiApriyanti Apriyanti
Copyright (c) 2026 Sari Arie Lestari B, Mohamad Guntur Nangi, Apriyanti Apriyanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-012026-08-01511694170610.59585/bajik.v5i1.1379