Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko <p><strong>Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan</strong> Merupakan Jurnal yang memuat tentang publikasi penelitian yang relevan dengan bidang ilmu kesehatan yang meliputi keperawatan, kebidanan, fisioterapi, akupuntur, jamu (herbal), okupasi terapi, ortotik prostetik, terapi wicara, kesehatan masyarakat, kedokteran, pendidikan kesehatan dll. Artikel penelitian, literature review dan komentar diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ini.</p> Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia en-US Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan 2964-0849 Hubungan Quality Of Life Dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Usia Produktif : Studi Cross-Sectional Menggunakan WHOQOL-BREF https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1621 <p>apabila tekanan darah sistolik mencapai ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg berdasarkan hasil pengukuran pada kesempatan yang berbeda. Desain Penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, yaitu studi epidemiologi yang menilai hubungan antara paparan dan penyakit pada waktu yang sama dalam suatu populasi Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat usia produktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Rappang, baik yang mengalami hipertensi maupun yang tidak mengalami hipertensi. Berdasarkan data UPT Puskesmas Rappang, jumlah masyarakat usia produktif yang mengalami hipertensi sebanyak 1.177 orang, sedangkan masyarakat usia produktif yang tidak mengalami hipertensi digunakan sebagai kelompok pembanding. Pemilihan sampel dilakukan sesuai dengan kriteria penelitian dan teknik pengambilan sampel yang telah ditetapkan untuk memperoleh responden yang dapat mewakili populasi penelitian sebanyak 89 orang. Tujuan mengetahui hubungan antara variabel independen (quality of life) dan variabel dependen (kejadian hipertensi) yang diukur secara bersamaan. Pendekatan ini dipilih karena praktis, cepat, dan sesuai untuk menggambarkan kondisi kualitas hidup dengan kejadian hipertensi pada usia produktif di UPT Puskesmas Rappang. Kesimpulan: Secara keseluruhan, kualitas hidup pada domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi pada masyarakat usia produktif. Semakin baik kualitas hidup seseorang, semakin besar peluang untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali.</p> Ina Sutrisno Haniarti Haniarti Henni Kumaladewi Hengky Dirman Sudarman Copyright (c) 2026 Ina Sutrisno, Haniarti Haniarti, Henni Kumaladewi Hengky, Dirman Sudarman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-31 2026-08-31 5 1 1133 1141 10.59585/bajik.v5i1.1621 Terapi Bermain Dalam Keperawatan Anak: Mengurangi Trauma Di Rumah Sakit https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1619 <p>Latar Belakang: Hospitalisasi dapat menjadi pengalaman yang penuh tekanan dan berpotensi menimbulkan trauma pada anak. Lingkungan yang tidak familiar, perpisahan dengan orang tua, serta prosedur medis dapat menyebabkan kecemasan, ketakutan, dan respons emosional negatif. Terapi bermain merupakan salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat membantu anak beradaptasi selama menjalani perawatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan dan respons traumatis pada anak yang menjalani hospitalisasi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Responden berjumlah 36 anak usia 4–12 tahun yang menjalani perawatan di rumah sakit. Terapi bermain diberikan melalui kegiatan menggambar, mewarnai, puzzle, dan bercerita selama 20–30 menit setiap sesi selama tiga hari berturut-turut. Tingkat kecemasan diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 25 anak (69,4%) mengalami kecemasan sedang hingga berat. Setelah diberikan terapi bermain, hanya 8 anak (22,2%) yang masih berada pada kategori kecemasan sedang hingga berat, sedangkan 28 anak (77,8%) berada pada kategori kecemasan ringan atau tidak cemas. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan sebelum dan sesudah terapi bermain (p&lt;0,001). Kesimpulan: Terapi bermain berpengaruh signifikan dalam menurunkan kecemasan dan respons emosional negatif pada anak yang menjalani hospitalisasi. Terapi bermain dapat diintegrasikan dalam asuhan keperawatan anak sebagai intervensi pendukung untuk meminimalkan trauma akibat hospitalisasi</p> Andi Irmayanti Rezky Amaliyah Razak Copyright (c) 2026 Andi Irmayanti, Rezky Amaliyah Razak https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-31 2026-08-31 5 1 1127 1132 10.59585/bajik.v5i1.1619 Analisis Pengaruh Pemanfaatan Program Pelayanan Kesehatan Gratis Terhadap Minat Kunjungan Masyarakat Di UPTD Puskesmas Weda https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1618 <p>Program pelayanan kesehatan gratis merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, pemanfaatannya masih dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat membentuk minat masyarakat untuk melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi minat kunjungan masyarakat dalam pemanfaatan program pelayanan kesehatan gratis di UPTD Puskesmas Weda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>explanatory research</em>. Sampel penelitian berjumlah 100 responden. Variabel independen meliputi faktor aksesibilitas, administratif, budaya, dan persepsi, sedangkan variabel dependen adalah minat kunjungan masyarakat. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor budaya merupakan satu-satunya variabel yang berpengaruh signifikan terhadap minat kunjungan masyarakat (B=3,578; Wald=18,506; p=0,000; Exp(B)=35,790). Responden dengan faktor budaya yang mendukung memiliki odds 35,790 kali lebih besar untuk mempunyai minat kunjungan tinggi dibandingkan responden dengan budaya kurang mendukung setelah variabel lain dikontrol. Sementara itu, faktor aksesibilitas (p=0,196; Exp(B)=3,465), administratif (p=0,785; Exp(B)=1,336), dan persepsi (p=0,070; Exp(B)=4,589) tidak menunjukkan pengaruh independen yang signifikan. Disimpulkan bahwa faktor budaya merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi minat kunjungan masyarakat dalam pemanfaatan program pelayanan kesehatan gratis di UPTD Puskesmas Weda. Puskesmas disarankan mengembangkan pendekatan pelayanan berbasis sosial-budaya melalui pelibatan keluarga, kader, tokoh masyarakat, dan tokoh adat dalam sosialisasi serta penguatan penerimaan masyarakat terhadap program pelayanan kesehatan gratis.</p> Anjuliani Anjuliani Diana Mirja Togubu Siti Nurfaizah Copyright (c) 2026 Anjuliani Anjuliani, Diana Mirja Togubu, Siti Nurfaizah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-31 2026-08-31 5 1 1116 1126 10.59585/bajik.v5i1.1618 Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Sciatica dengan Modalitas MWD, TENS dan William Flexion Exercise di Rumah Sakit PUSDIKKES PUSKESAD https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1610 <p><em>Sciatica </em>dapat menyebabkan nyeri yang menjalar, keterbatasan lingkup gerak, penurunan kekuatan otot, serta gangguan kemampuan fungsional. Penanganan fisioterapi dapat dilakukan dengan mengombinasikan modalitas elektroterapi dan terapi latihan untuk membantu mengurangi keluhan serta meningkatkan fungsi pasien. Mengetahui perubahan nyeri, lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan kemampuan fungsional pada pasien <em>Sciatica </em>setelah diberikan <em>Microwave Diathermy </em>(MWD), <em>Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation </em>(TENS), dan <em>William Flexion Exercise. </em>Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan subjek satu pasien <em>Sciatica </em>yang menjalani fisioterapi di Rumah Sakit Pusdikkes Puskesad. Intervensi diberikan sebanyak enam kali terapi. Evaluasi nyeri menggunakan <em>Visual Analog Scale </em>(VAS), pengukuran lingkup gerak <em>trunk </em>menggunakan goniometer, penilaian kekuatan otot menggunakan <em>Manual Muscle Testing </em>(MMT), dan kemampuan fungsional menggunakan <em>Oswestry Disability Index </em>(ODI). Setelah enam kali terapi, intensitas nyeri mengalami penurunan, dengan nyeri diam dari 3 menjadi 1, nyeri tekan dari 5 menjadi 1, dan nyeri gerak dari 6 menjadi 2. Lingkup gerak <em>trunk </em>menunjukkan peningkatan pada beberapa arah gerakan. Kekuatan otot juga mengalami peningkatan dari 4/5 menjadi 5/5 pada beberapa kelompok otot. Perbaikan kemampuan fungsional ditunjukkan dengan penurunan skor ODI dari 56% menjadi 10%. Kombinasi MWD, TENS, dan <em>William Flexion Exercise </em>yang diberikan selama enam kali terapi menunjukkan adanya perbaikan pada nyeri, lingkup gerak<em> trunk, </em>kekuatan otot, dan kemampuan fungsional pasien<em> Sciatica.</em></p> Sabri Sabri Ika Rachman Copyright (c) 2026 Sabri Sabri, Ika Rachman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-31 2026-08-31 5 1 1109 1115 10.59585/bajik.v5i1.1610 Analisis Penerapan Higiene Sanitasi Pangan Pada SPPG Darul Mujaddin Di Kabupaten Halmahera Tengah Dalam Mendukung Keamanan Pangan Program Makan Bergizi Gratis https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1615 <p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan penerapan higiene sanitasi pangan yang konsisten untuk melindungi penerima manfaat dari risiko penyakit bawaan pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan higiene sanitasi pangan, kepatuhan terhadap prosedur dan regulasi, serta hambatan pengelolaan pangan pada SPPG Darul Mujaddin Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif pada tahun 2026. Enam informan dipilih secara purposif, terdiri atas satu informan kunci, empat informan utama, dan satu informan pendukung. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan content analysis. Hasil menunjukkan higiene sanitasi telah diterapkan sejak penerimaan dan penyimpanan bahan hingga pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Higiene personal, pemisahan bahan mentah dan matang, sanitasi peralatan, serta monitoring suhu telah dilakukan, tetapi konsistensi praktik dan dokumentasinya belum optimal. Kepatuhan prosedural relatif baik karena SOP tersedia dan disosialisasikan, APD digunakan, serta pengawasan internal dan eksternal berjalan. Kelemahan masih terdapat pada pencatatan suhu, kartu stok, buku sanitasi, konsistensi perilaku tanpa pengawasan langsung, penyelesaian IPAL, dan verifikasi status sertifikat laik higiene sanitasi. Hambatan dominan berada pada dokumentasi administratif dan infrastruktur sanitasi, sedangkan faktor geografis lebih merupakan potensi risiko rantai pasok. Penguatan monitoring, dokumentasi, pelatihan berkala, penyelesaian sarana, dan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk menjamin keamanan pangan Program MBG secara berkelanjutan.</p> Rifayanti Kusuma Wardani Muh. Ilyas Nur Muhammad Khadafi S Copyright (c) 2026 Rifayanti Kusuma Wardani, Muh. Ilyas Nur, Muhammad Khadafi S https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1100 1108 10.59585/bajik.v5i1.1615 Analisis Hambatan Cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Weda Kabupaten Halmahera Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1614 <p>Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan strategi penting untuk mencegah perkembangan infeksi TB menjadi penyakit aktif pada kelompok berisiko. Penelitian ini bertujuan menganalisis hambatan cakupan TPT di wilayah kerja Puskesmas Weda Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal pada Juni–Juli 2026. Informan dipilih secara purposive, terdiri atas satu informan kunci, tiga informan utama penerima TPT, dan satu informan tambahan petugas kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan content analysis dan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi empat hambatan yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan masyarakat yang masih terbatas, stigma internal-sosial-keluarga, belum optimalnya intensitas dan jangkauan peran petugas, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung. Masyarakat masih menyamakan TPT dengan pengobatan TB aktif, sedangkan stigma muncul karena kekhawatiran dilabeli sebagai penderita TB. Petugas telah melaksanakan skrining, edukasi, pemberian terapi, pemantauan, dan kunjungan rumah, namun belum dirasakan konsisten oleh seluruh penerima. Obat dan ruang pelayanan dasar tersedia, tetapi ruang tunggu, pemeriksaan penunjang, lemari obat, media KIE, dan transportasi operasional masih terbatas. Peningkatan cakupan TPT memerlukan edukasi terintegrasi, pengurangan stigma, penjangkauan proaktif, pelibatan keluarga dan kader, serta penguatan dukungan pelayanan.</p> Ramdhany Santoely Diana Mirja Togubu Rahmawati Rahmawati Copyright (c) 2026 Ramdhany Santoely, Diana Mirja Togubu, Rahmawati Rahmawati https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1091 1099 10.59585/bajik.v5i1.1614 Efektivitas Media Leaflet Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswi Sma Negeri 1 Kabupaten Halmahera Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1613 <p>Kesehatan reproduksi remaja memerlukan pendidikan kesehatan yang mudah diakses dan sesuai karakteristik usia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas media leaflet dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi pada siswi SMA Negeri 1 Halmahera Tengah. Penelitian kuantitatif menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest dan dilaksanakan pada Juni-Juli 2026. Seluruh siswi kelas X sebanyak 90 orang dijadikan sampel. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena data berpasangan tidak berdistribusi normal. Sebelum intervensi, 77 siswi (85,6%) memiliki pengetahuan baik dan 13 (14,4%) memiliki pengetahuan kurang; sesudah intervensi, pengetahuan baik meningkat menjadi 87 siswi (96,7%) dan pengetahuan kurang menurun menjadi 3 (3,3%). Sikap positif meningkat dari 82 siswi (91,1%) menjadi 88 siswi (97,8%). Uji Wilcoxon pada pengetahuan menunjukkan 56 positive ranks, 5 negative ranks, dan 29 ties dengan p&lt;0,001. Pada sikap terdapat 22 positive ranks, 1 negative rank, dan 67 ties dengan p&lt;0,001. Terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan menggunakan leaflet. Leaflet dapat digunakan sebagai media edukasi kesehatan reproduksi di sekolah dan sebaiknya dipadukan dengan diskusi interaktif serta penguatan berkala.</p> <p>&nbsp;</p> Sukri Hi Samsudin Muh. Ilyas Nur Sukirno Kasau Copyright (c) 2026 Sukri Hi Samsudin, Muh. Ilyas Nur, Sukirno Kasau https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1080 1090 10.59585/bajik.v5i1.1613 Analisis Faktor Determinan Yang Berhubungan Dengan Proteksi Radiasi Pada Mahasiswa Saat Praktik Di Laboratorium Radiologi Stikes Maluku Husada https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1611 <p><strong>Latar&nbsp; Belakang:&nbsp; </strong>Dalam&nbsp; dunia&nbsp; medis,&nbsp; radiasi&nbsp; berperan&nbsp; penting&nbsp; sebagai&nbsp; alat&nbsp; diagnostik&nbsp; yang&nbsp; revolusioner.&nbsp; Penggunaan&nbsp; radiasi&nbsp; pengion&nbsp; seperti&nbsp; Sinar-X,&nbsp; <em>Computed&nbsp; Tomography</em>&nbsp; (CT),&nbsp; dan&nbsp; <em>Positron&nbsp; Emission&nbsp; Tomography</em>&nbsp; (PET)&nbsp; <em>scan</em>&nbsp; memungkinkan&nbsp; dokter&nbsp; untuk&nbsp; melihat&nbsp; struktur&nbsp; internal&nbsp; tubuh&nbsp; manusia&nbsp; tanpa&nbsp; melakukan&nbsp; tindakan&nbsp; pembedahan&nbsp; invasif.&nbsp;</p> <p><strong>Tujuan:</strong>&nbsp; Mengetahui&nbsp; hubungan&nbsp; faktor&nbsp; determinan&nbsp; yang&nbsp; berhubungan&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi&nbsp; pada&nbsp; mahasiswa&nbsp; saat&nbsp; praktik&nbsp; di&nbsp; Laboratorium&nbsp; Radiologi&nbsp; STIKes&nbsp; Maluku&nbsp; Husada.</p> <p><strong>Metode:</strong>&nbsp; Penelitian&nbsp; ini&nbsp; menggunakan&nbsp; metode&nbsp; kuantitatif&nbsp; dengan&nbsp; desain&nbsp; penelitian&nbsp; cross‑sectional.&nbsp; Populasi&nbsp; 101&nbsp; Mahasiswa,&nbsp; Sampel&nbsp; 81&nbsp; Mahasiswa.&nbsp; Data&nbsp; dikumpulakan&nbsp; melalui&nbsp; koesioner&nbsp; dan&nbsp; observasi.&nbsp;</p> <p><strong>Hasil:&nbsp; </strong>Hasil&nbsp; analisis&nbsp; antara&nbsp; pengetahuan&nbsp; Kurang Baik&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi&nbsp; yaitu&nbsp; Kurang Baik&nbsp; sebanyak&nbsp; 38 respoden&nbsp; (65.5%),&nbsp; Pengetahuan Baik dengan perilaku proteksi radiasi kurang baik 2 responden (8.7) dan perilaku proteksi baik 21 responden (91.3%). Hasil&nbsp; analisis&nbsp; antara&nbsp; Sikap&nbsp; negatif&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi Kurang Baik&nbsp;&nbsp;&nbsp; 28 respoden&nbsp; (80,0%),&nbsp; dan&nbsp;&nbsp; Baik&nbsp; 7 respoden&nbsp; (20.0%). Sikap Positif dengan perilaku proteksi radiasi kurang baik 12 responden (26.1%) dan baik 34 responden (73.9%). Hasil&nbsp; analisis&nbsp; antara ketersediaan alat tidak tersedia&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi Kurang Baik&nbsp; sebanyak&nbsp; 30 respoden&nbsp; (88.2%),&nbsp; dan Baik&nbsp;&nbsp; 4 respoden&nbsp; (11.8%), Ketersediaan alat tersedia dengan perilaku proteksi radiasi kurang baik 10 responden (21.3%) dan baik 37 responden (78.7%). Hasil&nbsp; analisis&nbsp; antara kedisiplinan yang tidak disiplin&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi Kurang Baik&nbsp;&nbsp;&nbsp; 30 respoden&nbsp; (75.0%),&nbsp; dan&nbsp; Baik&nbsp; sebanyak 10 respoden&nbsp; (25.0%), Kedisplinan yang disiplin dengan perilaku proteksi radiasi kurang baik&nbsp; 10 responden (24.4%) dan baik 31 responden (75.6%). Berdasarkan&nbsp; Hasil&nbsp; analisis&nbsp; uji&nbsp; chi&nbsp; square&nbsp; di&nbsp; peroleh&nbsp; nilai&nbsp; p&nbsp; =&nbsp; 0.000&nbsp; (&lt;&nbsp; 0.005%)&nbsp; maka&nbsp; secara&nbsp; stastistika&nbsp; ketersediaan&nbsp; alat, Pengetahuan, sikap dan kedisiplinan&nbsp;&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi&nbsp; berhubungan&nbsp; secara&nbsp; signifikan</p> <p><strong>Kesimpulan:&nbsp; </strong>hasil&nbsp; penelitian&nbsp; terdapat&nbsp; Hubungan&nbsp; pengetahuan,&nbsp; sikap,&nbsp; ketersediaan&nbsp; alat&nbsp; &nbsp;dan&nbsp; kedisiplinanan&nbsp; dengan&nbsp; perilaku&nbsp; proteksi&nbsp; radiasi&nbsp; pada&nbsp; mahasiswa&nbsp; saat&nbsp; praktik&nbsp; di&nbsp; laboratorium.</p> Jarna Suneth Muh. Ilyas Nur Muhammad Rifai Copyright (c) 2026 Jarna Suneth, Muh. Ilyas Nur, Muhammad Rifai https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1069 1079 10.59585/bajik.v5i1.1611 Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kejadian Penyakit Pada Pasien PTM Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Jailolo https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1608 <p>Penyakit&nbsp; (PTM) merupakan penyebab kematian tertinggi akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia maupun di Indonesia, sementara data awal di wilayah kerja Puskesmas Kota Jailolo menunjukkan proporsi besar pasien PTM memiliki lebih dari dua faktor risiko&nbsp; yang dapat dimodifikasi secara bersamaan, namun intervensi berbasis gaya hidup yang terstruktur belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aktivitas fisik, pola makan, tingkat stres, dan kualitas tidur terhadap kejadian Penyakit pada pasien PTM, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 133 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin; data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur (IPAQ-SF, FFQ, PSS-10, dan PSQI) serta telaah rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan seluruh variabel tetap berpengaruh secara bermakna setelah dikontrol satu sama lain, yaitu aktivitas fisik (OR=0,229; p=0,001), pola makan (OR=0,151; p=0,000), tingkat stres (OR=0,333; p=0,015), dan kualitas tidur (OR=0,348; p=0,018), dengan pola makan sebagai faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Penyakit. Aktivitas fisik, pola makan, tingkat stres, dan kualitas tidur berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian penyakit&nbsp; pada pasien PTM di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Jailolo, dengan pola makan sebagai faktor paling dominan. Temuan ini mendukung penguatan intervensi promotif-preventif berbasis Posbindu PTM dan Prolanis yang berfokus pada perbaikan pola makan bersamaan dengan peningkatan aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan kualitas tidur di wilayah dengan karakteristik geografis kepulauan</p> Elok Dian Kusumawati Gather Muh. Ilyas Nur Diana Mirja Togubu Copyright (c) 2026 Elok Dian Kusumawati Gather, Muh. Ilyas Nur, Diana Mirja Togubu https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1057 1068 10.59585/bajik.v5i1.1608 Hubungan Olahraga Rutin Terhadap Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Pada Pasien Di Poliklinik Altius Hospitals https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1607 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian, sementara rendahnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan olahraga rutin dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah sebagai dasar upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan olahraga rutin terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah pada pasien di Poliklinik Altius Hospitals.</p> <p><strong>Metode:</strong> Jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan uji analisis data menggunakan <a href="https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&amp;q=Spearman+Rank&amp;mstk=AUtExfAl4_DpjALkCgn6ABnIxNn3z6JoSEg-5lslMzMxekbX9EPfojRamRlTgTurniONwTK7GdXETl3YJpE-tSS6UYlP8P18du6IuGvX7pBQkHZiIUvvm6i6fCm7FyTx2Gz0uGh5t-znpsA5aQ5EBUTXJE8_n97-iB806nxOF1cje2497jQ&amp;csui=3&amp;ved=2ahUKEwjA_p3Cou2TAxUDUGwGHX69I2gQgK4QegQIARAB">Spearman Rank</a> (rho). Sampel berjumlah 80 pasien Poli Jantung yang dipilih menggunakan teknik Total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s rho.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (70%), berusia dewasa 18-59 tahun (85%), dan bekerja sebagai karyawan swasta (51,25%). Sebagian besar responden melakukan olahraga lari (42,5%) dan memiliki kebiasaan olahraga yang tidak rutin (56,25%). Dari 80 responden 47 (58,8%) mengalami gangguan Kesehatan jantung dan pembuluh darah dengan kategori sedang, hasil analisis dengan spearman Rank diketahui nilai &nbsp;(p=0,012; r=0,279).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan signifikan antara olahraga rutin dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah pada pasien Poli Jantung di Poliklinik Altius Hospitals</p> Diah Allawiyah Ratna Ratna Rizal Fajri Sony Fachtarun Copyright (c) 2026 Diah Allawiyah, Ratna Ratna, Rizal Fajri, Sony Fachtarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-29 2026-08-29 5 1 1047 1056 10.59585/bajik.v5i1.1607 Analisis Kadar Gula Darah Puasa Metode POCT Berdasarkan Kebiasaan Sarapan Pada Pekerja Produksi Cream Meses https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1604 <p><em>Breakfast habits are one of the factors that can affect blood glucose levels. Among production workers, working hours starting at 7:00 a.m. make some workers unable to have breakfast, which may affect fasting blood glucose levels. This study aimed to analyze differences in fasting blood glucose levels measured using the Point of Care Testing (POCT) method based on breakfast habits among Cream Meses production workers at PT Multi Star Rukun Abadi. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 32 respondents selected using purposive sampling. Breakfast habit data were collected through questionnaires, while fasting blood glucose levels were measured using capillary blood samples with the POCT method. Data were analyzed using the Independent Samples t-test. The results showed that the average blood glucose level among workers who regularly had breakfast was 90.17 mg/dL, while those who did not regularly have breakfast had an average level of 140.63 mg/dL. There was a significant difference in fasting blood glucose levels based on breakfast habits (p &lt; 0.001). It can be concluded that workers who regularly had breakfast had lower fasting blood glucose levels than workers who did not regularly have breakfast.</em></p> Aldi Rahmat Permana Nursalam Sri Julianti B. Salampessy Copyright (c) 2026 Aldi Rahmat Permana, Nursalam Sri Julianti B. Salampessy https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-28 2026-08-28 5 1 1041 1046 10.59585/bajik.v5i1.1604 Hubungan Literasi Kesehatan Reproduksi Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1600 <p>Latar Belakang: Literasi kesehatan reproduksi berperan penting dalam membantu individu memahami informasi mengenai kesehatan reproduksi dan mengambil keputusan yang tepat terkait metode kontrasepsi. Literasi yang baik dapat mendukung pemilihan kontrasepsi secara sadar dan berdasarkan informasi yang memadai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan literasi kesehatan reproduksi dengan pemilihan metode kontrasepsi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 82 perempuan usia reproduktif yang menggunakan atau berencana menggunakan kontrasepsi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur literasi kesehatan reproduksi dan pemilihan metode kontrasepsi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik, yaitu 53 responden (64,6%). Pemilihan metode kontrasepsi yang sesuai ditemukan pada 58 responden (70,7%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan reproduksi dengan pemilihan metode kontrasepsi (p&lt;0,001). Kesimpulan: Literasi kesehatan reproduksi berhubungan secara signifikan dengan pemilihan metode kontrasepsi. Peningkatan literasi kesehatan reproduksi dapat mendukung perempuan dalam menentukan metode kontrasepsi secara tepat dan berdasarkan informasi yang memadai.</p> <p> </p> Halimatussakdiyah Lubis Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Halimatussakdiyah Lubis, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-27 2026-08-27 5 1 1035 1040 10.59585/bajik.v5i1.1600 Analisis Mutu Pelayanan Provider Kesehatan Terhadap Pasien BPJS Dan Non BPJS Di Puskesmas Waimital Kabupaten Seram Bagian Barat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1589 <p>Pendahuluan: mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan penyelenggaraan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Puskesmas sebagai penyedia layanan kesehatan dituntut mampu memberikan pelayanan yang berkualitas kepada seluruh pasien tanpa membedakan status kepesertaan, baik pasien BPJS maupun non-BPJS. Perbedaan sistem pembiayaan sering kali menimbulkan persepsi adanya perbedaan mutu pelayanan yang diterima pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu provider kesehatan terhadap jenis kepesertaan pasien BPJS dan non-BPJS di Puskesmas Waimital, Kabupaten Seram Bagian Barat. Metode: ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik komparatif dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh pasien BPJS dan non-BPJS yang mendapatkan pelayanan di Puskesmas Waimital. Sampel dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur lima dimensi mutu pelayanan, yaitu bukti fisik (<em>tangibles</em>), keandalan (<em>reliability</em>), daya tanggap (<em>responsiveness</em>), jaminan (<em>assurance</em>), dan empati (<em>empathy</em>). Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (<em>p </em>&lt; 0,05). Hasil : penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar</p> <p> </p> <p>responden menilai mutu pelayanan provider kesehatan di Puskesmas Waimital berada pada kategori baik. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mutu pelayanan yang diterima pasien BPJS dan non-BPJS berdasarkan seluruh dimensi mutu pelayanan (<em>p </em>&gt; 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan telah diberikan secara adil dan merata tanpa membedakan jenis kepesertaan pasien. Kesimpulan : penelitian ini adalah mutu pelayanan provider kesehatan di Puskesmas Waimital tergolong baik dan tidak dipengaruhi oleh status kepesertaan pasien BPJS maupun non-BPJS.</p> Sataria Soumena Jalil Genisa Siti Nurfaizah Copyright (c) 2026 Sataria Soumena, Jalil Genisa, Siti Nurfaizah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-27 2026-08-27 5 1 1023 1034 10.59585/bajik.v5i1.1589 Analisis Implementasi IDRG dalam Menunjang Klaim BPJS Kesehatan di Rumah Sakit X https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1588 <p>Implementasi <em>Indonesian Diagnosis Related Groups</em> (iDRG) dalam program JKN menuntut kesiapan teknis, SDM, dan dokumentasi klinis. Penelitian kualitatif deskriptif ini menganalisis implementasi iDRG di RS X melalui wawancara tujuh informan dan data klaim September 2025–April 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas di RS X yang terlibat dalam proses pengklaiman BPJS Kesehatan. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 7 informan dengan menggunakan teknik<em> purposive sampling</em>. Sumber data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara kepada informan yang terlibat langsung dalam proses pengelolaan klaim BPJS Kesehatan di RS X Implementasi sejak Oktober 2025 berjalan lancar berkat integrasi SIMRS–E-Klaim. Dari 87.544 klaim, ditemukan 4.248 kasus <em>pending</em> (4,86%), didominasi Kunjungan Berulang/Fragmentasi (70,3%), Ketidaksesuaian Koding (10,6%), Ketidaklengkapan Dokumen (9,6%), Alih Jenis Pelayanan (5,4%), dan Indikasi Medis (4,1%), yang mencerminkan dominansi masalah administratif. Evaluasi dokumentasi klinis belum komprehensif akibat transisi rekam medis elektronik (RME) yang bersamaan. Rekomendasi solusi mencakup lima langkah strategis: penguatan tata kelola Pasien Rujuk Balik (PRB), otomatisasi deteksi fragmentasi pada SIMRS, peningkatan kompetensi koder iDRG, penerapan audit rekam medis terstandar, serta akselerasi penyelesaian SIMRS dan stabilisasi RME. Evaluasi dampak implementasi iDRG terhadap kualitas dokumentasi klinis belum dapat dilakukan secara komprehensif karena berlangsung bersamaan dengan proses transisi menuju Rekam Medis Elektronik (RME) dan pengembangan SIMRS. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi koder, peningkatan kualitas dan kelengkapan rekam medis, penguatan tata kelola klaim, serta optimalisasi sistem informasi untuk mendukung pengendalian <em>pending claim</em> secara berkelanjutan</p> Azzahra Jasmine Rahayu Diansyah Diansyah Copyright (c) 2026 Azzahra Jasmine Rahayu, Diansyah Diansyah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-27 2026-08-27 5 1 1010 1022 10.59585/bajik.v5i1.1588 Hubungan Response Time Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Di RS PKU Muhammadiyah Cepu https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1584 <p>Latar Belakang: Response time di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjadi salah satu indikator yang mempengaruhi kepuasan pelayanan. Namun, dalam pelaksanaannya masih dapat ditemukan adanya variasi waktu tanggap petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidakpuasan keluarga, terutama ketika keluarga merasa pasien belum segera mendapatkan penanganan setelah tiba di fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan Penelitian: penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara response time dengan tingkat kepuasan pasien IGD di RS PKU Muhammadiyah Cepu. Metode Penelitian: Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian retrospektif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 responden. Hasil Penelitian: responden dalam penelitian ini berjumlah 66 responden berjenis kelamin perempuan (71%), adapun capaian response time pelayanan IGD di RS PKU Muhammadiyah Cepu sebagian besar (83.9%) berada dalam kategori cepat (5 menit), dan diketahui bahwa sebanyak 53 responden (57%) responden puas dengan pelayanan IGD RS PKU Muhammadiyah Cepu. Hasil uji bivariat menggunakan analisis Chi Square menunjukkan nilai p adalah 0.049, nilai p &lt; 0.05 dengan nilai koefisien korelasi 0.200. Kesimpulan: Response time pelayanan IGD di RS PKU Muhammadiyah Cepu berhubungan dengan kepuasan pasien di IGD</p> Yuanah Kumalasari Yeni Rusyani Luluk Dernawan Copyright (c) 2026 Yuanah Kumalasari, Yeni Rusyani, Luluk Dernawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-26 2026-08-26 5 1 1001 1009 10.59585/bajik.v5i1.1584 Efektifitas Penyuluhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Dalam Meningkatkan Status Gizi Pada Balita Gizi Kurang Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Usa Kab. Bone Tahun 2026 https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1583 <p>Masalah Gizi Kurang pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan di berbagai negara. Kekurangan gizi merupakan kondisi ketidak seimbangan asupan energi. Masalah gizi secara langsung dipengaruhi oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi, secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, sanitasi, ketersediaan pangan, pengetahuan gizi, sosial ekonomi, budaya dan politik. Tujuan Penelitian Menganalisis Efektifitas Penyuluhan Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Pangan Lokal terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan status gizi kurang di UPT Puskesmas Usa Tahun 2026. Desain penelitian ini adalah <em>Quassy experiment</em> dengan rancangan <em>Non Equivalent Control Group Design</em> Populasi adalah seluruh balita gizi kurang di wilayah kerja UPT Puskesmas Usa dengan metode purposive sampling didapatkan sampel sebesar 30 balita yang terdiri atas 15 kelompok kasus dan 15 kelompok kontrol. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed rank dan Mann Withney. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penyuluhan PMT berbasis pangan lokal terhadap peningkatan pengetahuan ibu balita gizi kurang (<em>p-value </em>= 0,046 &lt; 0,05), dari aspek sikap menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan penyuluhan PMT berbasis pangan lokal terhadap sikap ibu balita gizi kurang (<em>p-value </em>= 0,083 &gt; 0,05), terdapat perbedaan signifikan berat badan balita gizi kurang sebelum dan setelah pemberian PMT berbasis pangan lokal <em>p-value </em>= 0,000 &lt; 0,05, terdapat perbedaan yang signifikan antara status gizi pada kelompok kasus yang diberikan penyuluhan dan PMT, dibandingkan kelompok kontrol yang hanya diberikan PMT saja (<em>p-value</em> = 0,007).</p> Arnida Arnida Siti Nurfaizah Diana Mirja Togubu Copyright (c) 2026 Arnida Arnida, Siti Nurfaizah, Diana Mirja Togubu https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-26 2026-08-26 5 1 992 1000 10.59585/bajik.v5i1.1583 Pemberdayaan Pasien Diabetes Melitus Dalam Pencegahan Ulkus Diabetikum Dan Risiko Infeksi Berulang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1586 <p>Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi serius diabetes melitus yang dapat menyebabkan infeksi, rawat inap, amputasi, dan penurunan kualitas hidup. Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur dan perawatan kaki mandiri penting dilakukan untuk mencegah komplikasi kaki diabetik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberdayaan pasien terhadap pengetahuan, perilaku perawatan kaki mandiri, dan risiko infeksi berulang pada pasien diabetes melitus.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Responden berjumlah 64 pasien diabetes melitus yang memiliki faktor risiko komplikasi kaki diabetik. Intervensi berupa edukasi terstruktur mengenai pemeriksaan kaki, kebersihan kaki, penggunaan alas kaki yang tepat, pengendalian glukosa darah, pencegahan luka, dan pengenalan tanda awal infeksi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank.Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 20 responden (31,3%) memiliki pengetahuan baik dan 44 responden (68,7%) memiliki pengetahuan cukup atau kurang. Setelah intervensi, sebanyak 51 responden (79,7%) memiliki pengetahuan baik. Perilaku perawatan kaki yang baik meningkat dari 37,5% sebelum intervensi menjadi 76,6% setelah intervensi. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan dan perilaku perawatan kaki sebelum dan sesudah pemberdayaan (p&lt;0,001). Kesimpulan: Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku perawatan kaki mandiri serta berpotensi menurunkan risiko ulkus diabetikum dan infeksi berulang.</p> Rahmat Pannyiwi Rezqiqah Aulia Rahmat Cakrawati R Cakrawati R Kiki Rizki Dasaryandi Nurhafizah Nasution Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Rezqiqah Aulia Rahmat, Cakrawati R Cakrawati R, Kiki Rizki Dasaryandi , Nurhafizah Nasution https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-26 2026-08-26 5 1 985 991 10.59585/bajik.v5i1.1586 Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Stunting Puskesmas Lelilef Kabupaten Halmahera Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1582 <p>Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan komprehensif melalui program percepatan penurunan stunting.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dukungan anggaran, dan kepatuhan sasaran program terhadap efektivitas pelaksanaan program percepatan penurunan stunting di Puskesmas Lelilef Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas yang terlibat dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting di Puskesmas Lelilef sebanyak 35 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara sumber daya manusia (p=0,000), sarana dan prasarana (p=0,001), dukungan anggaran (p=0,000), dan kepatuhan sasaran program (p=0,000) terhadap efektivitas pelaksanaan program percepatan penurunan stunting pada analisis bivariat. Hasil analisis regresi logistik biner menunjukkan bahwa sumber daya manusia (p=0,000) dan dukungan anggaran (p=0,015) merupakan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap efektivitas program, sedangkan sarana dan prasarana (p=0,124) serta kepatuhan sasaran program (p=0,081) tidak berpengaruh signifikan setelah dikontrol bersama dalam model. Variabel sumber daya manusia merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi efektivitas pelaksanaan program percepatan penurunan stunting. Disarankan kepada Puskesmas Lelilef untuk meningkatkan kompetensi tenaga pelaksana melalui pelatihan berkelanjutan, memperkuat dukungan anggaran program, mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana, serta meningkatkan kepatuhan sasaran melalui penguatan edukasi, pendampingan ibu hamil dan ibu balita.</p> Aidin Abdurahman Healthy Hidayanti Diana Mirja Togubu Copyright (c) 2026 Aidin Abdurahman, Healthy Hidayanti, Diana Mirja Togubu https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-25 2026-08-25 5 1 974 984 10.59585/bajik.v5i1.1582 Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keselamatan Kerja Pada Penanganan Limbah Medis Di RSUD Dr. Chasan Boesoiri Ternate https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1577 <p>Penanganan limbah medis yang tidak sesuai standar berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan kerja, paparan bahan infeksius, serta gangguan kesehatan bagi petugas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keselamatan kerja pada penanganan limbah medis di RSUD Dr. Chasan Boesoirie Ternate. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 71 petugas. Variabel independen meliputi pengetahuan, sikap, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP),variabel dependen adalah keselamatan kerja dalam penanganan limbah medis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (<em>p</em>=0,000), sikap (<em>p</em>=0,028), ketersediaan APD (<em>p</em>=0,000), dan kepatuhan SOP (<em>p</em>=0,000) dengan keselamatan kerja. Hasil analisis multivariat menunjukkan pengetahuan (<em>p</em>=0,048; OR=16,022), sikap (<em>p</em>=0,008; OR=52,964), ketersediaan APD (<em>p</em>=0,003; OR=51,259), dan kepatuhan SOP (<em>p</em>=0,016; OR=46,234) berhubungan signifikan dengan keselamatan kerja. Model memiliki nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,879. Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, ketersediaan APD, dan kepatuhan SOP berhubungan dengan keselamatan kerja dalam penanganan limbah medis. Rumah sakit disarankan meningkatkan pelatihan, memastikan kelengkapan APD, serta memperkuat monitoring kepatuhan terhadap SOP.</p> Sahril Amin Muh. Ilyas Nur Muhammad Khadafi S Copyright (c) 2026 Sahril Amin, Muh. Ilyas Nur, Muhammad Khadafi S Khadafi S https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-24 2026-08-24 5 1 962 973 10.59585/bajik.v5i1.1577 Hubungan Dukungan Suami Dan Self-Efficacy Dengan Kesiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Trimester III https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1562 <p>Latar Belakang: Kehamilan trimester III merupakan periode penting untuk mempersiapkan ibu secara fisik dan psikologis menghadapi persalinan. Dukungan suami dan self-efficacy ibu dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam mempersiapkan persalinan serta menghadapi berbagai tantangan selama proses persalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan suami dan self-efficacy dengan kesiapan persalinan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 92 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Variabel independen adalah dukungan suami dan self-efficacy, sedangkan variabel dependen adalah kesiapan persalinan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57 responden (62,0%) memiliki kesiapan persalinan baik, sedangkan 35 responden (38,0%) memiliki kesiapan kurang baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan kesiapan persalinan (p=0,002). Self-efficacy juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kesiapan persalinan (p=0,001). Kesimpulan: Dukungan suami dan self-efficacy berhubungan secara signifikan dengan kesiapan persalinan pada ibu hamil trimester III. Peningkatan keterlibatan suami dan kepercayaan diri ibu perlu menjadi bagian dari pelayanan antenatal dan program persiapan persalinan.</p> Cakrawati R Cakrawati R Uswatun Insani Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Uswatun Insani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-22 2026-08-22 5 1 955 961 10.59585/bajik.v5i1.1562 Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Minat Kunjung Kembali Pasien di Puskesmas Borong Kompleks Kabupaten Sinjai https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1560 <p>Keputusan pasien untuk kembali menggunakan pelayanan puskesmas tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan pengobatan, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan selama menerima pelayanan. Pelayanan yang aman, ramah, cepat, nyaman, dan tepat dapat menumbuhkan kepercayaan serta mendorong pasien untuk kembali memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sama. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan yang meliputi jaminan (<em>assurance</em>), empati (<em>empathy</em>), daya tanggap (<em>responsiveness</em>), penampilan fisik (<em>tangible</em>), dan keandalan (<em>reliability</em>) terhadap minat kunjung kembali pasien di Puskesmas Borong Kompleks Kabupaten Sinjai. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik. Populasi penelitian berjumlah 679 pasien, sedangkan sampel sebanyak 87 responden dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan multivariat menggunakan regresi linear berganda, uji t parsial, serta uji F simultan pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden, yaitu 87 orang (100%), menyatakan bersedia melakukan kunjungan kembali. Secara parsial, jaminan berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung kembali (t=4,382; p=0,003), empati (t=5,901; p=0,000), daya tanggap (t=3,270; p=0,008), penampilan fisik (t=2,112; p=0,003), dan keandalan (t=2,469; p=0,001). Secara simultan, kelima dimensi kualitas pelayanan juga berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung kembali pasien (F=9,906; p=0,007). Disimpulkan bahwa kualitas pelayanan merupakan faktor penting dalam membentuk minat pasien untuk kembali menggunakan pelayanan di Puskesmas Borong Kompleks. Peningkatan kompetensi petugas, kepedulian, kecepatan pelayanan, kenyamanan fasilitas, serta ketepatan pelayanan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mempertahankan kepercayaan pasien.</p> Puji Rahayu Muh. Ilyas Nur Siti Nurfaizah Copyright (c) 2026 Puji Rahayu, Muh. Ilyas Nur, Siti Nurfaizah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-21 2026-08-21 5 1 943 954 10.59585/bajik.v5i1.1560 Hubungan Pola Konsumsi Tablet Fe dan Kualitas Tidur Pada Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Benteng Kota Palopo Tahun 2026 https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1558 <p>Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di Kota Palopo yang ditandai dengan tren peningkatan kasus yang signifikan di Puskesmas Benteng dalam tiga tahun terakhir. Dua faktor utama yang memicu kondisi ini adalah pola konsumsi suplemen zat besi (Fe) yang kurang disiplin serta gangguan kualitas tidur selama masa kehamilan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pola konsumsi tablet Fe dan kualitas tidur ibu hamil dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Benteng Kota Palopo Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Benteng dengan jumlah sampel sebanyak 79 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan rumus Slovin. Pengumpulan data pola konsumsi tablet Fe diukur menggunakan kuesioner MARS-5, kualitas tidur menggunakan kuesioner PSQI, dan kejadian anemia diukur menggunakan hemoglobin meter. Analisis data menggunakan uji statistik <em>Pearson Chi-Square</em> (α = 0,05). Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil memiliki kepatuhan konsumsi tablet Fe kategori sedang sebesar 65,9% (52 responden), kualitas tidur kategori buruk sebesar 58,2% (46 responden), dan mayoritas berada pada kategori tidak anemia sebesar 51,9% (41 responden). Hasil uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia (p = 0,001), serta terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia (p = 0,002). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi tablet Fe dan kualitas tidur dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Benteng Kota Palopo Tahun 2026. Tenaga kesehatan disarankan untuk mengoptimalkan konseling mengenai kepatuhan suplemen zat besi serta edukasi manajemen istirahat (sleep hygiene) selama kehamilan.</p> Nadia Pagastiati Pallao Yuniar Dwi Yanti Riska Sabriana Copyright (c) 2026 Nadia Pagastiati Pallao, Yuniar Dwi Yusnayanti, Riska Sabriana https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-21 2026-08-21 5 1 933 942 10.59585/bajik.v5i1.1558 Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Capaian Penemuan Kasus (Case Detection Rate) Tuberculosis Di Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1559 <p>Tuberkulosis tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama dengan beban kasus tinggi di Indonesia. Capaian Case Detection Rate (CDR) TB di Kabupaten Pegunungan Bintang menunjukkan tren fluktuatif dan konsisten di bawah target nasional 70 persen, yakni 36,6 persen (2021), 24,4 persen (2022), 49,2 persen (2023), 34,3 persen (2024), dan 33,7 persen (2025), akibat kondisi geografis ekstrem dan keterbatasan sumber daya kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh strategi penemuan kasus, ketersediaan SDM kesehatan, sistem pencatatan dan pelaporan, ketersediaan alat diagnostik, dan akses diagnosis ke rumah sakit terhadap capaian CDR TB, serta mengidentifikasi faktor paling dominan. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei eksplanatori dan desain cross-sectional ini melibatkan seluruh 35 puskesmas sebagai sampel melalui total sampling, dengan 70 responden terdiri atas kepala puskesmas dan pemegang program TB; data dikumpulkan secara hybrid (daring-luring) dan dianalisis univariat, bivariat (Chi-Square/Fisher's Exact Test), serta multivariat (regresi logistik berganda). Hasil bivariat menunjukkan kelima variabel berhubungan signifikan dengan CDR TB (p=0,001; 0,002; 0,004; 0,001; 0,000), namun analisis multivariat mengalami kegagalan konvergensi sehingga faktor dominan belum dapat ditentukan secara valid. Kelima faktor tersebut konsisten berkontribusi terhadap rendahnya penemuan kasus TB di wilayah dengan tantangan geografis ekstrem. Penguatan strategi penemuan aktif, SDM, sistem pencatatan, sarana diagnostik, dan akses rujukan diperlukan secara simultan untuk meningkatkan CDR TB, disertai kajian lanjutan dengan model analisis yang lebih stabil.</p> Grace Wieke Hitijahubessy Hitijahubessy Muh. Ilyas Nur Siti Nurfaizah Rahmawati Azis Copyright (c) 2026 Grace Wieke Hitijahubessy Hitijahubessy, Muh. Ilyas Nur, Siti Nurfaizah, Rahmawati Azis https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-21 2026-08-21 5 1 920 932 10.59585/bajik.v5i1.1559 Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dan Pola Makan Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Direktorat Tahanan Dan Barang Bukti (DIT TAHTI) Polda Kalimantan Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1557 <p>Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Pengendalian tekanan darah dipengaruhi oleh kepatuhan minum obat dan pola makan. Kepatuhan yang rendah serta pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan minum obat dan pola makan dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Kalimantan Tengah. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 45 pasien hipertensi menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner MMAS-8, kuesioner pola makan, dan pengukuran tekanan darah. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden memiliki kepatuhan minum obat rendah (46,7%), pola makan buruk (46,7%), dan tekanan darah kategori hipertensi (55,6%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan tekanan darah (p = 0,000) dan antara pola makan dengan tekanan darah (p = 0,000). Kesimpulan: Kepatuhan minum obat dan pola makan berhubungan signifikan dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Dit Tahti Polda Kalimantan Tengah. Peningkatan kepatuhan pengobatan dan penerapan pola makan sehat diperlukan untuk membantu mengendalikan tekanan darah.</p> Rendy Markus Doembana Dwi Puji Susanti Sony Factarun Copyright (c) 2026 Rendy Markus Doembana, Dwi Puji Susanti, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-21 2026-08-21 5 1 911 919 10.59585/bajik.v5i1.1557 Hubungan Persepsi Perawat Dengan Implementasi Budaya Keselamatan Pasien Di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1556 <p>Latar belakang<strong>:</strong> Budaya keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Persepsi perawat terhadap keselamatan pasien berperan dalam membentuk sikap dan perilaku kerja yang mendukung implementasi budaya keselamatan pasien. &nbsp;Tujuan: Mengetahui hubungan persepsi perawat dengan implementasi budaya keselamatan pasien di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh perawat di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya sebanyak 86 orang, dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi perawat dan budaya keselamatan pasien, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (62,8%), berusia 20-35 tahun (96,5%), masa kerja 6-10 tahun (60,5%), dan berpendidikan Ners (65,1%). Persepsi perawat tentang budaya keselamatan pasien sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 69 responden (80,2%). Budaya keselamatan pasien juga sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 69 responden (80,2%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,000 (&lt;0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi perawat dengan implementasi budaya keselamatan pasien di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya.</p> Dati Novrila Feri Catur Yuliani Rizal Fajri Copyright (c) 2026 Dati Novrila, Feri Catur Yuliani, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-20 2026-08-20 5 1 902 910 10.59585/bajik.v5i1.1556 Hubungan Mutu Pelayanan Dengan Loyalitas Pasien Rawat Jalan Di Poliklinik Mata RS Bhayangkara Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1554 <p>Latar Belakang: Mutu pelayanan merupakan faktor penting yang memengaruhi loyalitas pasien dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan mutu pelayanan dengan loyalitas pasien rawat jalan di Poliklinik Mata RS Bhayangkara Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>cross sectional</em>. Sampel berjumlah 150 pasien rawat jalan yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>chi-square</em> dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Mayoritas responden berusia 26–45 tahun, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan SMA/SMK, dan bekerja di sektor swasta. Sebagian besar responden menilai mutu pelayanan dalam kategori baik dan memiliki loyalitas tinggi. Hasil uji <em>chi-square</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara mutu pelayanan dengan loyalitas pasien (p &lt; 0,05). Responden yang menilai mutu pelayanan baik cenderung memiliki loyalitas lebih tinggi dibandingkan responden yang menilai mutu pelayanan kurang baik. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara mutu pelayanan dengan loyalitas pasien rawat jalan di Poliklinik Mata RS Bhayangkara Palangka Raya. Peningkatan mutu pelayanan berpotensi meningkatkan loyalitas pasien.</p> Yety Muntiasari Akbar Amin Abdullah Bunari Bunari Copyright (c) 2026 Yety Muntiasari, Akbar Amin Abdullah, Bunari Bunari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-20 2026-08-20 5 1 894 901 10.59585/bajik.v5i1.1554 Hubungan Pemberian Informasi Layanan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1553 <p>Latar Belakang: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting dalam menilai mutu pelayanan rumah sakit. Salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan pasien adalah pemberian informasi layanan yang jelas, lengkap, tepat waktu, dan mudah dipahami oleh pasien. Pemberian informasi yang baik dapat meningkatkan pemahaman pasien terhadap pelayanan yang diterima, menumbuhkan kepercayaan, serta meningkatkan kepuasan pasien selama menjalani perawatan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian informasi layanan dengan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Dhira Brata Husada Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya pada tanggal 10 Mei sampai 15 Juni 2026. Sampel penelitian berjumlah 64 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pemberian informasi layanan sebanyak 11 pernyataan dan kuesioner kepuasan pasien sebanyak 25 pernyataan dengan skala Likert. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian informasi layanan berada pada kategori sangat baik. Sebanyak 91,0% responden menyatakan sangat setuju terhadap kejelasan informasi, 92,0% terhadap kelengkapan informasi, 88,9% terhadap ketepatan waktu informasi, dan 86,7% terhadap cara penyampaian informasi. Tingkat kepuasan pasien juga berada pada kategori sangat baik berdasarkan dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,657 dengan p-value &lt; 0,001, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, kuat, dan positif antara pemberian informasi layanan dengan kepuasan pasien rawat inap. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian informasi layanan dengan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya. Semakin baik pemberian informasi layanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diterima.</p> <p>&nbsp;</p> Regina Maghfirati Feri Catur Yuliani Rizal Fajri Copyright (c) 2026 Regina Maghfirati, Feri Catur Yuliani, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-20 2026-08-20 5 1 885 893 10.59585/bajik.v5i1.1553 Faktor Risiko Host Dan Lingkungan Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tokorondo Kabupaten Poso https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1552 <p>Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan pada balita di Indonesia dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Poso. Kejadian ISPA dipengaruhi oleh faktor host dan lingkungan yang saling berinteraksi sehingga diperlukan identifikasi faktor risiko sebagai dasar penyusunan intervensi pencegahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh status imunisasi, kebiasaan merokok anggota keluarga, jenis lantai rumah, dan luas ventilasi rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tokorondo. Penelitian menggunakan pendekatan Sequential Explanatory Mixed Methods dengan desain case control pada tahap kuantitatif dan wawancara mendalam pada tahap kualitatif. Sampel penelitian terdiri atas 50 responden, yaitu 25 kelompok kasus dan 25 kelompok kontrol. Analisis kuantitatif menggunakan uji Chi-Square, Odds Ratio, dan regresi logistik, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status imunisasi berpengaruh signifikan dengan kejadian ISPA (p&lt;0,001; OR=0,048; 95%CI=0,011–0,203) sehingga bersifat protektif. Keberadaan anggota keluarga yang merokok juga berpengaruh signifikan dengan kejadian ISPA (p&lt;0,001; OR=16,625; 95%CI=4,062–68,038). Sebaliknya, jenis lantai rumah dan luas ventilasi rumah tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna. Temuan kualitatif memperkuat bahwa paparan asap rokok di dalam rumah dan ketidaklengkapan imunisasi menjadi faktor utama yang memengaruhi kejadian ISPA pada balita.</p> Reza Wahyu Dwiansyah Zamli Zamli Fadli Fadli Copyright (c) 2026 Reza Wahyu Dwiansyah, Zamli Zamli, Fadli Fadli https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-20 2026-08-20 5 1 876 884 10.59585/bajik.v5i1.1552 Hubungan Kepatuhan Persiapan Pasien Dengan Keberhasilan Kolonoskopi Di Rumah Sakit Altius Harapan Indah Bekasi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1551 <p>Latar Belakang: Kolonoskopi merupakan prosedur diagnostik yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi kolon dan rektum. Keberhasilan tindakan kolonoskopi sangat dipengaruhi oleh kualitas persiapan usus sebelum pemeriksaan. Persiapan yang tidak adekuat dapat menyebabkan visualisasi mukosa kolon menjadi kurang optimal sehingga meningkatkan risiko kegagalan pemeriksaan, memperpanjang waktu tindakan, serta mengharuskan pengulangan prosedur. Kepatuhan pasien dalam mengikuti instruksi persiapan merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi keberhasilan kolonoskopi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan persiapan pasien dengan keberhasilan kolonoskopi di Rumah Sakit Altius Harapan Indah Bekasi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan <strong><em>cross-sectional</em></strong><em>.</em> Sampel penelitian diambil menggunakan teknik <em>total sampling</em><strong>.</strong> Data kepatuhan persiapan pasien diperoleh melalui kuesioner, sedangkan data keberhasilan kolonoskopi diperoleh dari lembar observasi atau rekam medis. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 pasien. Hasil: Hasil uji statistik dengan uji <em>Spearman rank </em>didapatkan nilai koefisien korelasi r = 0,838, yang menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif, serta nilai signifikansi p = 0,002 (p &lt; 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan persiapan pasien dengan keberhasilan kolonoskopi di Rumah Sakit Altius Harapan Indah Bekasi.</p> Putri Nurlitasari Feri Catur Yuliani Rizal Fajri Copyright (c) 2026 Putri Nurlitasari, Feri Catur Yuliani, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-20 2026-08-20 5 1 867 875 10.59585/bajik.v5i1.1551 Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Di Desa Kalikebo https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1548 <p>Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam pengendalian tekanan darah, namun masih banyak pasien yang tidak patuh. Faktor yang memengaruhi kepatuhan antara lain tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dilakukan di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sampel berjumlah 60 responden. Analisis data menggunakan uji univariat dan bivariat dengan Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden berusia 51–55 tahun (41,67%), berjenis kelamin laki-laki (63,33%), memiliki pengetahuan baik (60%), dan dukungan keluarga tinggi (46,67%). Sebagian besar memiliki kepatuhan minum obat rendah (65%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p=0,001) dan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p=0,001), dengan arah korelasi positif. Kesimpulan: Pengetahuan dan dukungan keluarga berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Peningkatan edukasi kesehatan dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan serta mencegah komplikasi.</p> Faris Ganica Dwi Puji Susanti Sony Factarun Copyright (c) 2026 Faris Ganica, Dwi Puji Susanti, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-19 2026-08-19 5 1 857 866 10.59585/bajik.v5i1.1548 Hubungan Self-Efficacy Dengan Caring Behavior Perawat RS Bhayangkara Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1547 <p>Self-efficacy merupakan keyakinan perawat terhadap kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas keperawatan, sedangkan caring behavior adalah perilaku perawat yang menunjukkan perhatian, empati, dan kepedulian kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-efficacy dengan caring behavior perawat di RS Bhayangkara Palangka Raya Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner self-efficacy dan kuesioner caring behavior. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki self-efficacy tinggi sebanyak 26 responden (65,0%) dan caring behavior baik sebanyak 29 responden (72,5%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 (&lt;0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan caring behavior perawat di RS Bhayangkara Palangka Raya.Kesimpulan penelitian ini adalah semakin tinggi self-efficacy perawat maka semakin baik pula caring behavior yang diberikan kepada pasien.</p> M. Ricky Ananda Ratna Ratna Rizal Fajri Copyright (c) 2026 M. Ricky Ananda, Ratna Ratna, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-19 2026-08-19 5 1 846 856 10.59585/bajik.v5i1.1547 Hubungan Waktu Tunggu Pelayanan Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Di Poliklinik Rawat Jalan Rumah Sakit Altius Bekasi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1545 <p>Latar Belakang: Dalam pelayanan modern pasien tidak hanya menilai hasil pengobatan, tetapi juga proses pelayanan yang diterima. Salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh pasien adalah waktu tunggu pelayanan, terutama pada unit rawat jalan atau poliklinik. Waktu tunggu yang lama seringkali menjadi keluhan utama pasien karena dianggap sebagai bentuk ketidakefisienan sistem pelayanan Kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tungu pelayanan degan tingkat kepuasan pasien di poliklinik rawat jalan rumah sakit altius bekasi. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode <em>deskriptif korelasi</em>. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah <em>cross sectional</em>. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah <em>Simple Randoml Sampling.</em> Sampel dalam penelitian ini adalah 58 responden. Hasil: Hasil uji statistik dengan uji <em>Spearman rank </em>didapatkan nilai p(0,000)&lt;α(0,005) dimana nilai <em>p-value </em>lebih kecil dari nilai alpha dan Ha diterima. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan waktu tunggu pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien di poliklinik rawat jalan rumah sakit altius bekasi.</p> Ni Made Dwi Astiti Asih Feri Catur Yuliani Rizal Fajri Copyright (c) 2026 Ni Made Dwi Astiti Asih, Feri Catur Yuliani, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-19 2026-08-19 5 1 836 845 10.59585/bajik.v5i1.1545 Hubungan Kepatuhan Tenaga Kesehatan Dalam Penerapan Bundle Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Dengan Kejadian VAP Di ICU RS Bhayangkara Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1544 <p>Latar Belakang: <em>Ventilator Associated Pneumonia</em> (VAP) merupakan infeksi nosokomial pada pasien pengguna ventilator mekanik di ICU yang meningkatkan lama rawat inap dan risiko mortalitas. Pencegahan VAP dilakukan melalui penerapan <em>bundle</em> pencegahan VAP secara konsisten oleh tenaga kesehatan. Tujuan: Mengetahui hubungan kepatuhan tenaga kesehatan dalam penerapan <em>bundle</em> pencegahan VAP dengan kejadian VAP di ICU RS Bhayangkara Palangka Raya Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 30 pasien pengguna ventilator dan 25 tenaga kesehatan yang dipilih menggunakan <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat kemaknaan <em>p</em>&lt;0,05. Hasil: Sebanyak 19 pasien (63,3%) mendapatkan pelayanan dari tenaga kesehatan yang patuh dalam penerapan <em>bundle</em> pencegahan VAP, sedangkan 11 pasien (36,7%) dari tenaga kesehatan yang tidak patuh. Sebagian besar pasien tidak mengalami VAP, yaitu 20 pasien (66,7%), sedangkan 10 pasien (33,3%) mengalami VAP. Uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan tenaga kesehatan dengan kejadian VAP (<em>p-value</em>=0,010). Kesimpulan: Kepatuhan tenaga kesehatan dalam menerapkan <em>bundle</em> pencegahan VAP berhubungan signifikan dengan penurunan kejadian VAP pada pasien pengguna ventilator.</p> Ayu Arlina Feri Catur Yuliani Bunari Bunari Copyright (c) 2026 Ayu Arlina, Feri Catur Yuliani, Bunari Bunari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-19 2026-08-19 5 1 828 835 10.59585/bajik.v5i1.1544 Systematic Literature Review Tentang Keakuratan Pengkodean Diagnosis Berdasarkan ICD-10 Pada Rekam Medis https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1534 <p><em>This study aims to analyze the accuracy of diagnosis coding based on the International Classification of Diseases Tenth Revision (ICD-10) in medical records using a Systematic Literature Review approach. Accurate diagnosis coding is essential for producing reliable health information and supporting healthcare services. Literature was collected from Google Scholar, GARUDA, and Open Journal System (OJS) databases for articles published between 2022 and 2025. The selection process followed the PRISMA 2020 guidelines, resulting in 20 eligible articles. Data were analyzed descriptively through identification, comparison, and synthesis of the selected studies. The findings showed that diagnosis coding accuracy remains suboptimal. The main factors affecting coding accuracy were the completeness of medical documentation, the accuracy of physicians' diagnosis documentation, and the competence of medical record coders. These findings suggest that improving medical documentation, providing regular ICD-10 coding training, implementing standard operating procedures, conducting coding audits, and applying the WHO ICD-10 guidelines consistently are essential for improving diagnosis coding accuracy. Overall, diagnosis coding accuracy is influenced by several interrelated factors that require continuous improvement to support the quality of health information.</em></p> Ghazi Septiandi Sali Setiatin Copyright (c) 2026 Ghazi Septiandi , Sali Setiatin https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-19 2026-08-19 5 1 817 827 10.59585/bajik.v5i1.1534 Hubungan Lama Hari Rawat Pasien Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Di Ruang Rawat Inap Isolasi Rumah Sakit Bhayangkara TK III Palangkaraya Biddokes Polda Kalimantan Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1538 <p>Latar Belakang: Lama hari rawat (<em>Length of Stay</em>/<em>LOS</em>) merupakan indikator penting dalam pelayanan kesehatan yang mencerminkan efisiensi, mutu pelayanan, serta tingkat keparahan kondisi pasien. keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif atau isolasi memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, dimana sebagian besar berada pada kategori sedang hingga berat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama hari rawat pasien dengan tingkat kecemasan keluarga di ruang rawat inap isolasi Rumah Sakit Bhayangkara TK III Palangkaraya Biddokes Polda Kalimantan Tengah. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode <em>deskriptif korelasi</em>. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah <em>cross sectional</em>. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah <em>Total Sampling.</em> Sampel dalam penelitian ini adalah 32 responden. Hasil: Hasil uji statistik dengan uji <em>Spearman rank </em>didapatkan nilai p (0,002)&lt;α (0,005) dimana nilai <em>p-value </em>lebih kecil dari nilai alpha dan Ha diterima. Kesimpulan: Ada hubungan lama hari rawat pasien dengan tingkat kecemasan keluarga di ruang rawat inap isolasi Rumah Sakit Bhayangkara TK III Palangkaraya Biddokes Polda Kalimantan Tengah.</p> Kartika Sandra Marlina Lia Fadilah Sony Factarun Copyright (c) 2026 Kartika Sandra Marlina, Lia Fadilah, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-18 2026-08-18 5 1 807 816 10.59585/bajik.v5i1.1538 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Pendidikan Perawat Dengan Implementasi Pemeriksaan Primary Survey Pada Pasien Gawat Darurat Di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1537 <p>Latar Belakang<strong>:</strong> Primary Survey merupakan tindakan awal yang sangat penting dalam penanganan pasien gawat darurat untuk mengidentifikasi dan mengatasi kondisi yang mengancam jiwa. Implementasinya dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama tingkat pengetahuan dan pendidikan perawat. Perbedaan kompetensi tersebut dapat memengaruhi ketepatan pelaksanaan Primary Survey sesuai pendekatan ABCDE. Tujuan<strong>:</strong> Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan pendidikan perawat dengan implementasi pemeriksaan Primary Survey pada pasien gawat darurat di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya<strong>. </strong><strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif analitik dengan desain <em>cross-sectional</em>. Sampel menggunakan teknik <em>total sampling</em> sebanyak 86 perawat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, data pendidikan, dan lembar observasi implementasi Primary Survey. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda. Hasil: Mayoritas responden memiliki pengetahuan baik (64,0%) dan pendidikan Profesi Ners (65,1%). Analisis simultan menunjukkan bahwa pengetahuan dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap implementasi Primary Survey (p=0,006), dengan kontribusi sebesar 11,5% (R²=0,115). Secara parsial, pendidikan berpengaruh signifikan (p=0,006), sedangkan pengetahuan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p=0,096). Kesimpulan: Pendidikan perawat berpengaruh signifikan terhadap implementasi Primary Survey, sedangkan pengetahuan tidak berpengaruh secara parsial. Namun, secara bersama-sama pengetahuan dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap implementasi Primary Survey pada pasien gawat darurat di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya.</p> Rizqan Putera Lia Fadilah Sony Factarun Copyright (c) 2026 Rizqan Putera, Lia Fadilah, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-18 2026-08-18 5 1 797 806 10.59585/bajik.v5i1.1537 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Lansia Di Desa Tugu Kabupaten Klaten https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1536 <p>Kualitas hidup lansia merupakan indikator penting dalam menilai kesejahteraan secara fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia adalah dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia di Desa Tugu. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 79 lansia dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Medical Outcomes Study Social Support Survey</em> (MOS-SSS) untuk dukungan keluarga dan WHOQOL-BREF untuk kualitas hidup, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga dan kualitas hidup pada kategori sedang masing-masing sebesar 49,4%. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia (r = 0,717; p = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik dukungan keluarga yang diterima lansia, maka semakin baik pula kualitas hidupnya. Dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup lansia di Desa Tugu, sehingga keterlibatan keluarga dalam perawatan lansia perlu terus ditingkatkan.</p> Eka Septianawati Dwi Puji Astuti Sony Factarun Copyright (c) 2026 Eka Septianawati, Dwi Puji Astuti, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-18 2026-08-18 5 1 789 796 10.59585/bajik.v5i1.1536 Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Koping Keluarga Pasien ICU Di Rumah Sakit Bhayangkara TK III Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1532 <p>Latar Belakang: Keluarga pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) rentan mengalami stres dan kecemasan akibat kondisi pasien yang kritis. Perilaku caring perawat melalui komunikasi, empati, dan dukungan emosional diduga berperan dalam membantu keluarga mengembangkan mekanisme koping yang adaptif. Tujuan: Mengetahui hubungan perilaku caring perawat dengan koping keluarga pasien ICU di RS Bhayangkara TK III Palangka Raya. Metode: Penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi dan sampel berjumlah 30 keluarga pasien ICU menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Assessment Caring Tool</em> (ACT) dan Brief COPE Inventory (BCI), kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki koping adaptif sebanyak 24 orang (80%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku caring perawat dengan koping keluarga pasien ICU, dengan nilai Pearson Chi-Square sebesar 18,600 dan <em>p-value</em> = 0,000 (p&lt;0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku caring perawat dengan koping keluarga pasien ICU. Semakin baik perilaku caring perawat, semakin adaptif mekanisme koping keluarga pasien, sehingga penerapan perilaku caring perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pelayanan keperawatan yang berorientasi pada keluarga.</p> Fittauli Nababan Akbar Amin Abdullah Bunari Bunari Copyright (c) 2026 Fittauli Nababan, Akbar Amin Abdullah, Bunari Bunari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-18 2026-08-18 5 1 778 788 10.59585/bajik.v5i1.1532 Pengaruh Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap Stres Akademik Pada Siswa SMK Muhammadiyah Rembang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1531 <p>Latar Belakang: Stres pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat memengaruhi kesehatan mental, konsentrasi belajar, dan prestasi akademik. Salah satu upaya untuk menurunkan stres adalah melalui teknik relaksasi napas dalam.Tujuan: Mengetahui pengaruh teknik relaksasi napas dalam terhadap tingkat stres akademik pada siswa SMK. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain <em>one group pretest-posttest</em> melibatkan 45 responden yang dipilih menggunakan <em>purposive sampling</em>. Tingkat stres diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon <em>Signed-Rank Test</em> dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, 39 responden (86,67%) mengalami stres berat. Setelah intervensi, 40 responden (88,89%) mengalami stres ringan. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai <em>p</em> = 0,000 (&lt;0,05), yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara tingkat stres sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Teknik relaksasi napas dalam berpengaruh signifikan dalam menurunkan tingkat stres akademik pada siswa SMK sehingga dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesehatan mental siswa.</p> <p> </p> Nailal Muna Dwi Puji Susanti Sony Factarun Copyright (c) 2026 Nailal Muna, Dwi Puji Susanti, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-17 2026-08-17 5 1 770 777 10.59585/bajik.v5i1.1531 Efektivitas Terapi Insulin Terhadap Kontrol Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Di RS Sebening Kasih Pati https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1530 <p>Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila kadar gula darah tidak terkontrol. Terapi insulin menjadi salah satu upaya untuk membantu menurunkan dan mengendalikan kadar gula darah pasien diabetes melitus.</p> <p>Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi insulin terhadap kontrol gula darah pada pasien diabetes melitus di RS Sebening Kasih Pati. Metode: Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 35 pasien diabetes melitus yang mendapatkan terapi insulin dan dipilih menggunakan total sampling. Kadar gula darah diukur sebelum dan dua jam sesudah pemberian insulin menggunakan glukometer sesuai SOP rumah sakit. Data dianalisis menggunakan Paired Sample T-Test. Hasil: Rata-rata kadar gula darah menurun dari 278,17 mg/dL sebelum terapi menjadi 206,03 mg/dL sesudah terapi, dengan penurunan sebesar 72,14 mg/dL. Hasil uji statistik menunjukkan p&lt;0,001, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan. Simpulan: Terapi insulin berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus di RS Sebening Kasih Pati.</p> Alifah Nurul Safitri Ratna Ratna Rizal Fajri Sony Factarun Copyright (c) 2026 Alifah Nurul Safitri, Ratna Ratna, Rizal Fajri, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-17 2026-08-17 5 1 761 769 10.59585/bajik.v5i1.1530 Penilaian Mutu Pelayanan Kesehatan Menggunakan Dimensi Servqual Di Rumah Sakit https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1525 <p>Latar Belakang: Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kepuasan pasien dan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan. SERVQUAL merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai mutu pelayanan berdasarkan lima dimensi, yaitu <em>tangibles</em>, <em>reliability</em>, <em>responsiveness</em>, <em>assurance</em>, dan <em>empathy</em>. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai mutu pelayanan kesehatan menggunakan dimensi SERVQUAL di rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 80 pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SERVQUAL terstruktur yang mencakup lima dimensi, yaitu <em>tangibles</em>, <em>reliability</em>, <em>responsiveness</em>, <em>assurance</em>, dan <em>empathy</em>. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata untuk menggambarkan persepsi pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68 responden (85,0%) menilai mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan berada dalam kategori baik, sedangkan 12 responden (15,0%) menilai dalam kategori cukup. Dimensi dengan penilaian baik tertinggi adalah <em>assurance</em> sebesar 88,8%, diikuti <em>empathy</em> sebesar 87,5%, <em>reliability</em> sebesar 86,3%, <em>tangibles</em> sebesar 83,8%, dan <em>responsiveness</em> sebesar 78,8%. Dimensi <em>responsiveness</em> memperoleh penilaian paling rendah dibandingkan dimensi SERVQUAL lainnya. Kesimpulan: Mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan berada dalam kategori baik. Namun, dimensi <em>responsiveness</em> masih menjadi aspek yang perlu mendapatkan perhatian, terutama dalam hal kecepatan pelayanan, waktu tunggu, dan respons petugas terhadap kebutuhan pasien.</p> Patima Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Patima, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-16 2026-08-16 5 1 754 760 10.59585/bajik.v5i1.1525 Hubungan Tingkat Stres Dengan Kualitas Tidur Pada Lansia Di Wilayah Puskesmas Jongaya Makassar https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1528 <p>Stres dan gangguan tidur merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada lansia dan dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, serta sosial. Perubahan akibat proses penuaan, penyakit kronis, penurunan aktivitas, dan masalah psikososial dapat meningkatkan stres serta berkontribusi terhadap penurunan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat stres dengan kualitas tidur pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jongaya Makassar. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 80 lansia yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur tingkat stres dan kualitas tidur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 responden (27,5%) mengalami stres ringan, 38 responden (47,5%) mengalami stres sedang, dan 20 responden (25,0%) mengalami stres berat. Berdasarkan kualitas tidur, sebanyak 29 responden (36,3%) memiliki kualitas tidur baik, sedangkan 51 responden (63,7%) memiliki kualitas tidur buruk. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dengan kualitas tidur pada lansia (p&lt;0,05). Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan tingkat stres berkaitan dengan semakin buruknya kualitas tidur lansia. Oleh karena itu, deteksi masalah psikologis dan pengelolaan stres perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan lansia.</p> Satiani Dalle Hasiba Hasiba Sudin Riyadi Copyright (c) 2026 Hasiba Hasiba, Satiani Dalle, Sudin Riyadi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-16 2026-08-16 5 1 747 753 10.59585/bajik.v5i1.1528 Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Fear Of Childbirth Pada Ibu Hamil Primigravida https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1524 <p>Latar Belakang: <em>Fear of childbirth</em> (FOC) atau ketakutan menghadapi persalinan merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami ibu selama kehamilan, terutama ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya. Ketakutan menghadapi persalinan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam pendidikan kehamilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan <em>fear of childbirth</em> pada ibu hamil primigravida. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 ibu hamil primigravida yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang persalinan, kecemasan, stres, dukungan suami, keikutsertaan kelas ibu hamil, dan <em>fear of childbirth</em>. Ketakutan menghadapi persalinan diukur menggunakan Wijma Delivery Expectancy/Experience Questionnaire version A (W-DEQ-A). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26 responden (32,5%) mengalami <em>fear of childbirth</em> tinggi dan 54 responden (67,5%) mengalami <em>fear of childbirth</em> rendah sampai sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang persalinan (p=0,008), tingkat kecemasan (p=0,001), tingkat stres (p=0,004), dukungan suami (p=0,006), dan keikutsertaan kelas ibu hamil (p=0,021) dengan <em>fear of childbirth</em>. Kesimpulan: Pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam kelas ibu hamil berhubungan secara signifikan dengan <em>fear of childbirth</em> pada ibu hamil primigravida. Edukasi antenatal yang komprehensif dan dukungan psikologis diperlukan untuk membantu mengurangi ketakutan menghadapi persalinan.</p> Ayu Bella Fauziah Rezqiqah Aulia Rahmat Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Ayu Bella Fauziah, Rezqiqah Aulia Rahmat, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-16 2026-08-16 5 1 739 746 10.59585/bajik.v5i1.1524 Pengaruh Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) Terhadap Kepuasan Pasien Di Puskesmas Agats Kabupaten Asmat Tahun 2026 https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1523 <p>Kebijakan Integrasi Layanan Primer merupakan strategi transformasi kesehatan nasional yang mengorganisasikan pelayanan Puskesmas berdasarkan pendekatan siklus hidup, namun implementasinya di wilayah 3T seperti Kabupaten Asmat menghadapi tantangan geografis rawa dan kepulauan yang berpotensi memengaruhi kualitas layanan dan kepuasan pasien. Minimnya kajian empiris mengenai dampak ILP di Provinsi Papua Selatan menjadikan evaluasi implementasinya penting sebagai dasar advokasi kebijakan daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh klaster layanan, alur pelayanan, SDM dan sumber daya, serta sistem informasi terhadap kepuasan pasien di Puskesmas Agats. Desain penelitian bersifat kuantitatif dengan desain survei deskriptif-analitik pada 100 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling, menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat, bivariat (Chi-Square), serta multivariat (regresi logistik berganda). Hasil univariat menunjukkan 65 persen responden menyatakan puas terhadap pelayanan, dengan alur pelayanan (79%), sistem informasi (77%), SDM dan sumber daya (74%), dan klaster layanan (70%) dinilai baik. Analisis bivariat membuktikan keempat variabel berhubungan bermakna dengan kepuasan pasien (p&lt;0,05), sedangkan analisis multivariat menunjukkan alur pelayanan sebagai faktor paling dominan (Sig=0,000; Exp(B)=0,086), diikuti klaster layanan (Sig=0,002; Exp(B)=0,163), sedangkan SDM dan sumber daya (Sig=0,076) serta sistem informasi (Sig=0,055) tidak berpengaruh signifikan secara parsial, dengan Nagelkerke R Square 0,483. Implementasi ILP terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien, sehingga penguatan alur pelayanan dan struktur klaster perlu menjadi prioritas manajemen Puskesmas di wilayah terpencil.</p> Bita Pammai Muh. Ilyas Nur Muhammad Khadafi Copyright (c) 2026 Bita Pammai, Muh. Ilyas Nur , Muhammad Khadafi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-16 2026-08-16 5 1 727 738 10.59585/bajik.v5i1.1523 Penerapan Siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA) sebagai Upaya Peningkatan Kepatuhan Perawat dalam Pencegahan Risiko Jatuh Pasien di Rumah Sakit https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1521 <p><em>Nurses' compliance in implementing fall risk prevention is a crucial indicator of successful patient safety implementation in hospitals. However, compliance with standard operating procedures for fall risk prevention remains a challenge, necessitating a systematic and sustainable quality improvement strategy, one of which is the Plan–Do–Study–Act (PDSA) cycle. Objective: This study aimed to analyze the effect of implementing the PDSA cycle on nurses' compliance in preventing patient fall risk in hospitals. Methods: This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 20 staff nurses selected using a total sampling technique. Data were collected through an observation sheet assessing nurses' compliance before and after PDSA implementation. Data were analyzed descriptively, followed by normality tests using Shapiro–Wilk, Kolmogorov–Smirnov, and Anderson–Darling, as well as a Paired Samples t-test with a significance level of 5%. Results: The mean compliance score increased from 74.3 ± 7.78 before the intervention to 90.2 ± 5.95 after PDSA implementation. The normality test results indicated that the data were normally distributed (p &gt; 0.05). The Paired Samples t-test showed a significant difference between the pretest and posttest scores (t = -6.83; p = 0.001), with an effect size of 1.53, indicating a very large effect. Conclusion: The implementation of the PDSA cycle was proven effective in improving nurses' compliance in preventing patient fall risk. The application of PDSA is recommended as a continuous quality improvement strategy to support patient safety and enhance the quality of hospital services.</em></p> Lannasari Lannasari Solehudin Solehudin Inas Syabanasyah Copyright (c) 2026 solehudin, Lannasari Lannasari, Inas Syabanasyah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-16 2026-08-16 5 1 718 726 10.59585/bajik.v5i1.1521 Hubungan Kadar Kolesterol Dengan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Masyarakat Pesisir Desa Wabula Kecamatan Wabula Kabupaten Buton https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1491 <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, baik pada usia muda dan usia lanjut. Seseorang dikategorikan mengalami hipertensi apabila Tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih tinggi, dan/ atau tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih. Hipertensi dikenal sebagai <em>pembunuh diam-diam </em>yang kerap berkembang tanpa menimbulkan gejala sehingga tidak disadari pada penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar kolesterol dan tekanan darah pada penderita hipertensi di masyarakat pesisir Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dan dilaksanakan selama satu bulan. Populasi pada penelitian ini seluruh penderita hipertensi dengan jumlah Sampel penelitian 42 responden menggunakan &nbsp;&nbsp;<em>total sampling</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 responden (52,4%) memiliki kadar kolesterol tinggi dan 20 responden (47,6%) memiliki kadar kolesterol normal. Berdasarkan tekanan darah sistolik, terdapat 25 responden (59,5%) tekanan darah sistolik tinggi, 17 responden (40,5%) dengan tekanan darah sistolik normal. Berdasarkan tekanan darah diastolik, sebanyak 29 responden (69,0%) memiliki tekanan darah diastolik tinggi dan 13 responden (31,0%) memiliki tekanan darah diastolik normal. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol dan tekanan darah sistolik dengan nilai <em>p</em> = 0,001 dan koefisien korelasi (<em>r</em>) = 0,475. Uji korelasi pearson juga menunjukkan terdapat hubungan antara kadar kolesterol dan tekanan darah diastolik dengan nilai <em>p</em> = 0,017 dan koefisien korelasi (<em>r</em>) = 0,366. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar kolesterol dan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada penderita hipertensi di masyarakat pesisir Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Puskesmas diharapkan dapat meningkatkan edukasi mengenai penerapan pola hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah secara berkala, serta pemantauan kadar kolesterol secara rutin.</p> Nurfatima Nurfatima Fitri Wijayati Nasir Muna Copyright (c) 2026 Nurfatima fatima, Fitri Wijayati, Nasir Muna https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-15 2026-08-15 5 1 709 717 10.59585/bajik.v5i1.1491 Hubungan Antara Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Sunyaragi Kota Cirebon https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1514 <p><em>Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels resulting from impaired insulin secretion, insulin resistance, or a combination of both. Dietary management is an important component of glycemic control in patients with T2DM. Dietary patterns include the type, frequency, and amount of food consumed. This study aimed to determine the association between dietary patterns and blood glucose levels among patients with type 2 Diabetes Mellitus at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City, from April to June 2026. The study population consisted of 100 registered patients with type 2 Diabetes Mellitus who underwent routine examinations. A total of 80 respondents were selected using consecutive sampling. Dietary patterns were assessed using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), while blood glucose levels were measured using a glucometer. Data were analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test. Most respondents had poor dietary patterns, consisting of 66 respondents (82.5%), followed by moderate dietary patterns in 9 respondents (11.3%) and good dietary patterns in 5 respondents (6.2%). A total of 56 respondents (70.0%) had abnormal blood glucose levels, while 24 respondents (30.0%) had normal blood glucose levels. Among respondents with poor dietary patterns, 50 (75.8%) had abnormal blood glucose levels. In contrast, 4 respondents (80.0%) with good dietary patterns had normal blood glucose levels. The Chi-Square test demonstrated a significant association between dietary patterns and blood glucose levels (p=0.019). There was a significant association between dietary patterns and blood glucose levels among patients with type 2 Diabetes Mellitus at Sunyaragi Community Health Center, Cirebon City. Improving dietary patterns should be an important component of education and management for patients with type 2 Diabetes Mellitus in primary healthcare settings.</em></p> Hasya Hauna Aulia Mutaqin Ignatius Hapsoro Wirandoko Menik Herdiyanti Copyright (c) 2026 Hasya Hauna Aulia Mutaqin, Ignatius Hapsoro Wirandoko, Menik Herdiyanti https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-15 2026-08-15 5 1 701 708 10.59585/bajik.v5i1.1514 Analisis Determinan Kejadian Hipoglikemia Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Pengguna Obat Antidiabetes Oral Di Apotek M Kota Bandung https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1503 <p>Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang menggunakan obat antidiabetes oral. Penggunaan terapi tersebut dapat meningkatkan risiko hipoglikemia yang berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan lama menderita diabetes melitus dengan risiko hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 pengguna obat antidiabetes oral di Apotek M Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 yang memperoleh terapi obat antidiabetes oral di Apotek M Kota Bandung. Sampel penelitian berjumlah 63 pasien yang dipilih dari populasi menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p=0,799), tingkat pendidikan (p=0,716), usia (p=0,124), maupun lama menderita diabetes melitus (p=0,836) dengan risiko hipoglikemia. Disimpulkan bahwa karakteristik sosiodemografi yang diteliti tidak berhubungan dengan risiko hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 pengguna obat antidiabetes oral.</p> Amanda Veny Usviany Copyright (c) 2026 Amanda, Veny Usviany https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 690 700 10.59585/bajik.v5i1.1503 Pengaruh Edukasi Kesehatan Terhadap Tingkat Kepedulian Masyarakat Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Keling https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1516 <p>Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Infeksi diakibatkan oleh virus dengue. Gejala DBD yaitu demam naik turun, gusi, mulut, sakit pada ulu hati terus menerus dan memar di kulit. Di Indonesia DBD salah satu masalah kesehatan masyarakat karena penderitanya tiap tahun semakin meningkat. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat kepedulian masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Pre eksperimen. Sampel penelitian ini berjumal 277 orang responden dengan random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan 15 kuesioner kepedulian dalam pemberantasan (PSN). Analisi data yang dilakukan didapat hasil wilcoxom signed rank test diperoleh asymp. Sig (2-tailed), sebesar 0,002(0&lt;0,050 sehingga H0 ditolah dan H1 dierima. Hasil Penelitian: Sebelum edukasi, responden berkepedulian tinggi sebanyak 152 orang (54,87%), sedang 105 orang (37,91%), dan rendah 20 orang (7,22%). Setelah edukasi, terjadi peningkatan: kepedulian tinggi naik menjadi 237 orang (85,56%), sedang 30 orang (10,83%), dan rendah turun menjadi 10 orang (3,61%). Uji Wilcoxon menunjukkan \(p=0,001 &lt; 0,05\), berarti terdapat pengaruh signifikan dari edukasi terhadap tingkat kepedulian. Simpulan: Terdapat pengaruh signifikan atara edukasi kesehatan dan tingkat kepedulian masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD di Desa Klepu</p> Tri Enik Pujiati Yeni Rusyani Luluk Dermawan Copyright (c) 2026 Tri Enik Pujiati, Yeni Rusyani, Luluk Dermawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 680 689 10.59585/bajik.v5i1.1516 Analisis Indeks Eritrosit Dan Kadar Serum Feritin Sebagai Indikator Risiko Anemia Dalam Mendukung Pengembangan Program Promosi Kesehatan Di Rs Dr.Tadjuddin Chalid Makassar https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1511 <p>Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih memiliki prevalensi tinggi dan berdampak terhadap kualitas hidup serta produktivitas. Indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC) serta kadar serum feritin merupakan parameter laboratorium yang berperan dalam deteksi dini anemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran indeks eritrosit dan kadar serum feritin, hubungannya dengan kejadian anemia, serta pemanfaatannya dalam mendukung pengembangan Program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) di RS Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain crosssectional menggunakan data sekunder rekam medis 1.500 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki nilai indeks eritrosit dan kadar serum feritin normal. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa MCV, MCH, MCHC, dan kadar serum feritin berhubungan signifikan dengan kejadian anemia (p&lt;0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa MCV rendah merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian anemia (OR=5,31; 95% CI=3,95–7,21), diikuti MCH rendah (OR=3,31), kadar serum feritin rendah (OR=2,32), dan MCHC rendah (OR=1,84). Disimpulkan bahwa indeks eritrosit dan kadar serum feritin merupakan indikator yang berhubungan dengan kejadian anemia dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar deteksi dini serta pengembangan PKRS melalui skrining, edukasi kesehatan, konseling gizi, dan intervensi promotive bagi kelompok berisiko</p> Rezqiqah Aulia Rahmat Rahmawati Azis Muh. Ilyas Nur Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Rahmawati Azis , Muh. Ilyas Nur https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 667 679 10.59585/bajik.v5i1.1511 Hubungan Dukungan Petugas Dan Akses Pelayanan Kesehatan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TBC Di Puskesmas Cluwak https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1505 <p>Latar Belakang: Tuberkulosis menjadi masalah kesehatan di masyarakat, baik Indonesia maupun Internasional. Sekitar ¼ populasi penduduk dunia terinfeksi dan 89% TBC diderita oleh orang dewasa, sisanya 11% anak. Angka kesembuhan kasus TB terkonfirmasi di Pati tahun 2024 sebesar 72,1%, angka keberhasilan pengobatan sebesar 85,7%. Pasien merasa malas melanjutkan proses pengobatannya sampai dinyatakan sembuh, kebanyakan kasus ditemukan penderita TB merasa sembuh setelah minum OAT selama 2 bulan, karena gejala penyakitnya sudah dirasa berkurang. Untuk mewujudkan kepatuhan minum OAT perlu adanya faktor pendukung, salah satunya dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC diPuskesmas Cluwak. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional. Sampel sebanyak 30 pasien. Pengumpulan data dengan kuisioner terstruktur, mencakup kuesioner dukungan petugas, akses pelayanan kesehatan dan MMAS. Analisis data menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics, menggunakan uji korelasi Spearman (Rho). Hasil: Menunjukan hubungan antara dukungan petugas (p=0,003 koefisien korelasi 0,524) dan akses pelayanan kesehatan (p=0,004 koefisien korelasi 0,513) dengan kepatuhan berobat pada pasien TBC. Hasil keduanya menunjukan arah korelasi positif (searah) dengan kategori kuat.Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara dukungan petugas dan akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat pasien TBC di Puskesmas Cluwak.</p> Yetti Indarwati Yeni Rusyani Luluk Dermawan Copyright (c) 2026 Yetti Indarwati, Yeni Rusyani, Luluk Dermawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 653 666 Aspek Hukum Dalam Hubungan Antara Tenaga Kesehatan Dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1501 <p>Latar Belakang: Hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien merupakan hubungan profesional yang didasarkan pada kepercayaan, tanggung jawab, serta perlindungan hukum bagi kedua belah pihak. Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, pemenuhan aspek hukum seperti pemberian informed consent, kerahasiaan medis, hak dan kewajiban pasien, serta kepatuhan terhadap standar profesi menjadi faktor penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas. Kurangnya pemahaman terhadap aspek hukum dapat menimbulkan konflik, sengketa medis, bahkan tuntutan hukum terhadap tenaga kesehatan maupun fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerapan aspek hukum dalam pelayanan kesehatan dengan kualitas hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di salah satu rumah sakit umum di Indonesia pada bulan Januari–Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang terdiri atas pasien rawat jalan dan rawat inap, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai penerapan aspek hukum pelayanan kesehatan dan kualitas hubungan tenaga kesehatan–pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 71 responden (59,2%) menilai penerapan aspek hukum dalam pelayanan kesehatan sudah baik, sedangkan 49 responden (40,8%) menilai masih kurang baik. Sebanyak 77 responden (64,2%) menyatakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien berada pada kategori baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan aspek hukum dengan kualitas hubungan tenaga kesehatan dan pasien (p = 0,001). Kesimpulan: Penerapan aspek hukum yang baik dalam pelayanan kesehatan berhubungan dengan meningkatnya kualitas hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Kepatuhan terhadap ketentuan hukum, etika profesi, serta penghormatan terhadap hak pasien perlu terus ditingkatkan guna menciptakan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.</p> Amin Ibrizatun Copyright (c) 2026 Amin Ibrizatun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 645 652 10.59585/bajik.v5i1.1501 Analisis Kebutuhan Sumber Daya Manusia Farmasi Sebagai Dasar Perencanaan Pelayanan Kefarmasian Yang Optimal https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1508 <p>Sumber daya manusia farmasi memiliki peran penting dalam menjamin mutu, keamanan, efektivitas, dan kesinambungan pelayanan kefarmasian. Ketidakseimbangan antara beban kerja dan ketersediaan tenaga farmasi dapat menyebabkan keterlambatan pelayanan, peningkatan beban kerja, penurunan mutu pelayanan, serta peningkatan risiko kesalahan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia farmasi sebagai dasar perencanaan pelayanan kefarmasian yang optimal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode analisis beban kerja. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan pengukuran kegiatan pelayanan kefarmasian yang meliputi skrining resep, penyiapan dan penyerahan obat, pelayanan informasi obat, pengelolaan persediaan, kegiatan administrasi, serta kegiatan kefarmasian lainnya. Analisis mempertimbangkan jumlah tenaga yang tersedia, waktu kerja efektif, volume kegiatan, dan waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan tenaga farmasi. Perencanaan kebutuhan sumber daya manusia berbasis beban kerja diharapkan memberikan dasar yang lebih objektif dalam menentukan kebutuhan tenaga dibandingkan hanya menggunakan rasio normatif. Ketersediaan tenaga farmasi yang sesuai dengan beban kerja dapat mendukung efisiensi pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien, dan memperkuat mutu pelayanan kefarmasian. Oleh karena itu, analisis beban kerja perlu diintegrasikan dalam perencanaan dan evaluasi sumber daya manusia secara berkala.</p> Puti Mandasari Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Puti Mandasari, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-14 2026-08-14 5 1 637 644 10.59585/bajik.v5i1.1508 Hubungan Komunikasi Tenaga Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1506 <p>Latar Belakang: Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan pasien adalah komunikasi tenaga kesehatan. Studi pendahuluan di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya menunjukkan masih terdapat pasien yang mengeluhkan kurang jelasnya informasi, minimnya kesempatan bertanya, dan kurang optimalnya sikap empati tenaga kesehatan. Tujuan: Mengetahui hubungan komunikasi tenaga kesehatan dengan kepuasan pasien di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya. Metode<strong>:</strong> Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat jalan sebanyak 120 orang. Teknik sampling menggunakan <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden menilai komunikasi tenaga kesehatan dalam kategori baik dan tingkat kepuasan pasien dalam kategori puas. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai <em>p-value</em> = 0,000 (&lt;0,05) dan koefisien korelasi <em>r</em> = 0,721 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan kuat dan arah positif antara komunikasi tenaga kesehatan dan kepuasan pasien. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi tenaga kesehatan dengan kepuasan pasien di Klinik Mata Isen Mulang Palangkaraya. Semakin baik komunikasi yang diberikan tenaga kesehatan, semakin tinggi tingkat kepuasan pasien.</p> Nova Isdania Dwi Puji Susanti Sony Factarun Copyright (c) 2026 Nova Isdania, Dwi Puji Susanti, Sony Factarun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-13 2026-08-13 5 1 627 636 10.59585/bajik.v5i1.1506 Model Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Meningkatkan Recovery Pasien Skizofrenia: Studi Cross-Sectional https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1504 <p>Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi fungsi kognitif, emosional, sosial, dan okupasional pasien. Proses pemulihan (<em>recovery</em>) tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh kualitas hubungan terapeutik antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya perawat. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu intervensi keperawatan yang berperan dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, memperkuat harapan, dan mendukung kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara model komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat recovery pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 80 pasien skizofrenia yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Data komunikasi terapeutik perawat dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi pasien, sedangkan recovery diukur menggunakan instrumen pemulihan psikososial. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (67,5%). Pasien yang menerima komunikasi terapeutik kategori baik lebih banyak menunjukkan tingkat recovery tinggi dibandingkan pasien yang menilai komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik perawat dan recovery pasien skizofrenia (p&lt;0,05). Komunikasi terapeutik yang efektif dapat memperkuat hubungan saling percaya, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan mendukung proses pemulihan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi komunikasi terapeutik perlu menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan jiwa.</p> Rahmat Pannyiwi Cakrawati R Cakrawati R Rezqiqah Aulia Rahmat Maelia Unayah Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi; Cakrawati R Cakrawati R, Rezqiqah Aulia Rahmat , Maelia Unayah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-13 2026-08-13 5 1 621 626 10.59585/bajik.v5i1.1504 Implementasi Informed Consent Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Pasien Dan Tenaga Kesehatan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1500 <p>Latar Belakang: <em>Informed consent</em> merupakan salah satu prinsip fundamental dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan memberikan perlindungan hukum bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Di sisi lain, pelaksanaan <em>informed consent</em> yang sesuai ketentuan juga memberikan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik profesional. Namun, implementasi <em>informed consent</em> di fasilitas pelayanan kesehatan masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan komunikasi, rendahnya pemahaman pasien, serta kurang optimalnya dokumentasi persetujuan tindakan medis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara implementasi <em>informed consent</em> dengan perlindungan hukum bagi pasien dan tenaga kesehatan. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilaksanakan di salah satu rumah sakit umum di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai implementasi <em>informed consent</em> dan persepsi perlindungan hukum. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 73 responden (60,8%) menilai implementasi <em>informed consent</em> telah dilakukan dengan baik, sedangkan 47 responden (39,2%) menilai pelaksanaannya masih kurang baik. Sebanyak 79 responden (65,8%) menyatakan bahwa perlindungan hukum dalam pelayanan kesehatan telah berjalan dengan baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi <em>informed consent</em> dengan perlindungan hukum bagi pasien dan tenaga kesehatan (p = 0,001). Kesimpulan: Implementasi <em>informed consent</em> yang baik berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya perlindungan hukum bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memastikan bahwa prosedur <em>informed consent</em> dilaksanakan secara lengkap, jelas, dan terdokumentasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.</p> Amin Ibrizatun Copyright (c) 2026 Amin Ibrizatun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-13 2026-08-13 5 1 613 620 10.59585/bajik.v5i1.1500 Efektivitas Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1499 <p>Latar Belakang: Dismenore merupakan salah satu gangguan menstruasi yang paling sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas belajar, konsentrasi, serta kualitas hidup. Nyeri haid umumnya disebabkan oleh peningkatan produksi prostaglandin yang memicu kontraksi uterus berlebihan sehingga menimbulkan iskemia dan rasa nyeri. Selain terapi farmakologis, penggunaan kompres hangat merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang sederhana, aman, mudah dilakukan, dan memiliki biaya rendah untuk mengurangi intensitas nyeri. Tujuan: Menganalisis efektivitas kompres hangat terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel terdiri atas 60 remaja putri yang mengalami dismenore primer dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) serta kelompok kontrol (n=30). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Kelompok intervensi diberikan kompres hangat bersuhu 38–40°C selama 20 menit pada bagian abdomen bawah, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi kesehatan tanpa pemberian kompres hangat. Analisis data menggunakan uji <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, dan ANCOVA dengan tingkat kemaknaan p&lt;0,05. Hasil: Rerata skor nyeri pada kelompok intervensi menurun secara bermakna dari 6,83±1,12 menjadi 2,97±1,08 (p&lt;0,001), sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami penurunan kecil dari 6,67±1,20 menjadi 5,83±1,15 (p=0,084). Analisis antar kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan setelah intervensi (p&lt;0,001). Kesimpulan: Pemberian kompres hangat efektif menurunkan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang mudah diterapkan di rumah maupun di lingkungan sekolah.</p> Kurnia Mariatul Qiftih Cakrawati R Cakrawati R Hijrah Hijrah Copyright (c) 2026 Kurnia Mariatul Qiftih, Cakrawati R Cakrawati R, Hijrah Hijrah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-13 2026-08-13 5 1 605 612 10.59585/bajik.v5i1.1499 Pengaruh Edukasi Perawatan Luka Mandiri Berbasis Media Video terhadap Kepatuhan dan Kemampuan Perawatan Luka pada Pasien Post-Sectio Caesarea Sebelum Kepulangan (Discharge Planning) di RS PKU Muhammadiyah Cepu https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/596-604 <p>Latar Belakang: Kelalaian perawatan luka <em>Sectio Caesarea</em> (SC) memicu risiko infeksi daerah operasi. Media edukasi berbentuk video dipandang lebih aplikatif dalam meningkatkan kemampuan mandiri pasien dibandingkan metode leaflet. Tujuan: Menganalisis pengaruh video edukasi perawatan luka mandiri terhadap kemampuan mandiri dan kepatuhan perilaku pasien pasca-SC di RS PKU Muhammadiyah Cepu. Metode: Penelitian <em>quasi-experimental</em> (<em>one group pretest-posttest</em>) pada 50 responden pasca-SC dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Analisis bivariat menggunakan uji <em>Paired Samples T-Test</em> (data normal) dan uji <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em> (data tidak normal) berdasarkan uji <em>Shapiro-Wilk</em>. Hasil: Mayoritas responden berusia reproduksi sehat (88,0%), riwayat SC pertama (70,0%), dan berpendidikan SMA (48,0%). Pasca-intervensi, rata-rata nilai kemampuan naik dari 32,60 ± 4,16 menjadi 55,00 ± 5,10. Rata-rata skor kepatuhan juga meningkat dari 7,48 ± 1,61 menjadi 10,92 ± 1,35. Uji bivariat kedua variabel menunjukkan nilai <em>p-value</em> &lt; 0,001. Simpulan: Video edukasi perawatan luka mandiri terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan kemampuan mandiri sekaligus kepatuhan perilaku ibu pasca-SC selama program <em>discharge planning</em>.</p> Sri Indah Nurul Qomariyah Al Mursyidah Ratna Ratna Rizal Fajri Feri Catur Yuliani Copyright (c) 2026 Sri Indah Nurul Qomariyah Al Mursyidah, Ratna Ratna, Rizal Fajri, Feri Catur Yuliani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 1389 1397 10.59585/bajik.v5i1.1495 Analisis Faktor Underweight Anak 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tosora Kabupaten Wajo https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1494 <p>Underweight merupakan salah satu indikator status gizi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Tingginya prevalensi <em>underweight</em> menunjukkan bahwa masih terdapat balita yang mengalami kekurangan berat badan menurut umur akibat faktor asupan gizi, penyakit infeksi, kondisi lingkungan, dan faktor sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan penyebab <em>Underweight </em>balita di wilayah kerja puskesmas tosora kabupaten Wajo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosssectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tosora Kabupaten Wajo pada bulan Mei–Juni 2026. Populasi penelitian Adalah ibu anak <em>underweight</em> 24-59 bulan sebanyak&nbsp; 63 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji <em>Chi-square</em>, dan multivariat menggunakan regresi linier berganda dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bivariat tidak terdapat hubungan signifikan antara pola asuh (p = 1,000), sanitasi dan air bersih&nbsp; (p = 0,419), pengetahuan ibu&nbsp; (p = 0,227) terhadap Kejadian <em>Underweight </em>Balita Usia 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tosora. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pola asuh dengan nilai p-value (Sig.) = 0,767, sanitasi dan air bersih dengan p-value = 0,999), serta pendidikan ibu&nbsp; p-value = 0,999 menunjukkan bahwa tidak ada variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian underweight, karena seluruh variabel independen memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05.</p> Rhahminsyah Ismail Muhammad Rifai Muh. Ilyas Nur Copyright (c) 2026 Rhahminsyah Ismail, Muhammad Rifai, Muh. Ilyas Nur https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 584 595 10.59585/bajik.v5i1.1494 Efektivitas Edukasi Promosi Kesehatan Berbasis Keluarga Terhadap Kepatuhan Kontrol Dan Pengendalian Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Latambaga Kabupaten Kolaka https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1493 <p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang menjadi penyebab utama kematian dini, dengan prevalensi nasional yang masih tinggi meskipun menunjukkan tren penurunan. Rendahnya kepatuhan kontrol dan pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi menjadi tantangan utama dalam penatalaksanaan penyakit ini, sehingga diperlukan pendekatan promosi kesehatan yang melibatkan keluarga sebagai sistem dukungan terdekat penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas edukasi promosi kesehatan berbasis keluarga terhadap kepatuhan kontrol dan pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol, melibatkan 42 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner kepatuhan kontrol dan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), serta dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test, Mann-Whitney U, dan Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kepatuhan kontrol tekanan darah pada kelompok intervensi setelah pemberian edukasi promosi kesehatan berbasis keluarga (p=0,000), disertai penurunan tekanan darah sistolik (p=0,000) dan diastolik (p=0,000). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol pada seluruh variabel (p&lt;0,001), serta ditemukan hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kepatuhan kontrol tekanan darah (rs=0,547; p&lt;0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi promosi kesehatan berbasis keluarga efektif meningkatkan kepatuhan kontrol dan menurunkan tekanan darah, sehingga dapat diadopsi sebagai strategi intervensi tambahan dalam program pengendalian hipertensi di Puskesmas.</p> Nurul Amalia Diana Mirja Togubu Muh. Ilyas Nur Copyright (c) 2026 Nurul Amalia, Diana Mirja Togubu , Muh. Ilyas Nur https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 567 583 10.59585/bajik.v5i1.1493 Hubungan Berat Badan Lahir Rendah Dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Pada Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1492 <p>Latar Belakang: Ikterus neonatorum merupakan gangguan kesehatan umum pada bayi baru lahir, yang berpotensi mengancam jiwa. BBLR diketahui sebagai faktor risiko utama akibat imaturitas sistem konjugasi bilirubin hepatik. Hubungan antara BBLR dengan kejadian ikterus neonatorum di RS PKU Muhammadiyah Cepu belum pernah diteliti secara khusus. Tujuan: Mengetahui hubungan antara BBLR dengan kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru lahir di RS PKU Muhammadiyah Cepu. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik <em>cross sectional</em>. Sampel berjumlah 34 bayi BBLR periode April-Mei 2026, diambil dari rekam medis. Analisis data menggunakan <em>Fisher Exact Test</em> dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Dari 34 sampel BBLR, 20 bayi (58,8%) BBLR preterm dan 14 bayi (41,2%) BBLR aterm. Ikterus ditemukan pada 28 bayi (82,4%), seluruhnya fisiologis. Semua BBLR preterm 100% mengalami ikterus, sedangkan BBLR aterm 57,1%. Uji <em>Fisher Exact Test</em> menghasilkan nilai p = 0,002 dan RR = 1,75. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara BBLR dengan kejadian ikterus neonatorum (p = 0,002). BBLR preterm memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan BBLR aterm (RR = 1,75).</p> Fitria Erni Mulyani Feri Catur Yuliani Rizal Fajri Copyright (c) 2026 Fitria Erni Mulyani, Feri Catur Yuliani, Rizal Fajri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 552 566 10.59585/bajik.v5i1.1492 Hubungan Waktu Tanggap Perawat Dengan Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Palangkaraya Biddokkes Polda Kalimantan Tengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1490 <p>Latar Belakang: Kepuasan pasien mencerminkan perbandingan antara harapan pasien dengan pelayanan yang diterima selama proses perawatan. Dalam era persaingan global pelayanan kesehatan, rumah sakit dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan responsif guna meningkatkan kepuasan pasien serta mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tanggap perawat dengan kepuasan pasien di rumah sakit bhayangkara Tk. III palangkaraya biddokkes polda kalimantan tengah. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode <em>deskriptif korelasi</em>. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah <em>cross sectional</em>. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah <em>Purposive Sampling.</em> Sampel dalam penelitian ini adalah 57 responden. Hasil: Hasil uji statistik dengan uji <em>Spearman rank </em>didapatkan nilai p(0,000)&lt;α(0,005) dimana nilai <em>p-value </em>lebih kecil dari nilai alpha dan Ha diterima. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan waktu tanggap perawat dengan kepuasan pasien di rumah sakit bhayangkara Tk. III palangkaraya biddokkes polda kalimantan tengah.</p> Abdul Rokim Yeni Rusyani Luluk Dermawan Copyright (c) 2026 Abdul Rokim, Yeni Rusyani , Luluk Dermawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 542 551 10.59585/bajik.v5i1.1490 Hubungan Lama Penggunaan Ventilator Dengan Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Di Intensive Care Unit Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1489 <p>Latar Belakang : <em>Ventilator Associated Pneumonia</em> (VAP) merupakan salah satu infeksi nosokomial yang sering terjadi pada pasien yang menggunakan ventilator mekanik di <em>Intensive Care Unit </em>(ICU). Lama penggunaan ventilator merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat meningkatkan kejadian VAP. Semakin lama penggunaan ventilator mekanik, semakin besar risiko terjadinya kolonisasi bakteri pada saluran napas sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama penggunaan ventilator dengan kejadian <em>Ventilator Associated Pneumonia</em> (VAP) di <em>Intensive Care Unit</em> Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 30 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien ICU kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian : Sebagian besar responden menggunakan ventilator selama ≥48 jam sebanyak 20 responden (66,7%), tidak mengalami VAP sebanyak 17 responden (56,7%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> diperoleh nilai p-value = 0,004 (p&lt;0,05), sehingga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama penggunaan ventilator dengan kejadian <em>Ventilator Associated Pneumonia</em> (VAP). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara lama penggunaan ventilator dengan kejadian <em>Ventilator Associated Pneumonia</em> (VAP) di <em>Intensive Care Unit</em> Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya.</p> Mia Ari Andayani Feri Catur Yuliani Bunari Bunari Copyright (c) 2026 Mia Ari Andayani, Feri Catur Yuliani, Bunari Bunari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 533 541 10.59585/bajik.v5i1.1489 Hubungan Motivasi Perawat Dengan Tingkat Keaktifan Kegiatan Prolanis Di Klinik Cantik Sehat Heriani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1488 <p>Latar Belakang: Keberhasilan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya motivasi perawat dalam memberikan pelayanan, edukasi, dan pendampingan kepada peserta program. Tujuan: Mengetahui hubungan motivasi perawat dengan tingkat keaktifan kegiatan Prolanis di Klinik Cantik Sehat Heriani. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 25 perawat yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner motivasi perawat dan keaktifan Prolanis. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki motivasi tinggi sebanyak 15 orang (60%), motivasi sedang 8 orang (32%), dan motivasi rendah 2 orang (8%). Tingkat keaktifan Prolanis menunjukkan 17 responden (68%) aktif dan 8 responden (32%) kurang aktif. Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p-value = 0,003 (p&lt;0,05), yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi perawat dengan tingkat keaktifan kegiatan Prolanis. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara motivasi perawat dan tingkat keaktifan kegiatan Prolanis. Semakin tinggi motivasi perawat, semakin tinggi keaktifan dalam pelaksanaan Prolanis.</p> Aninda Wangi Sundawi Yeni Rusyani Luluk Dermawan Copyright (c) 2026 Aninda Wangi Sundawi, Yeni Rusyani , Luluk Dermawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 525 532 10.59585/bajik.v5i1.1488 Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Pencegahan Infeksi Dengan Kepatuhan Hand Hygine Di Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1487 <p>Latar Belakang: HAIs merupakan infeksi yang terjadi pada pasien selama proses perawatan di fasilitas kesehatan dan tidak ditemukan atau tidak dalam masa inkubasi saat pasien masuk. Meskipun <em>hand hygiene</em> telah lama direkomendasikan sebagai tindakan utama pencegahan infeksi, tingkat kepatuhan tenaga kesehatan, khususnya perawat, masih belum mencapai standar yang diharapkan. Penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi untuk dilakukan karena tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan perawat, tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan perawat tentang pencegahan infeksi dengan kepatuhan <em>hand hygine</em> di rumah sakit bhayangkara palangkaraya. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode <em>deskriptif korelasi</em>. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah <em>cross sectional</em>. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah <em>Total Sampling.</em> Populasi pada penelitian ini adalah perawat yang berdinas di ruang ICU, Bangsal Perawatan, VIP di rumah sakit bhayangkara palangkaraya sebanyak 36 perawat. Sampel dalam penelitian ini adalah 36 responden. Hasil: Hasil uji statistik dengan uji <em>Spearman rank </em>didapatkan nilai p(0,001)&lt;α(0,05) dimana nilai <em>p-value </em>lebih kecil dari nilai alpha dan Ha diterima. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan perawat tentang pencegahan infeksi dengan kepatuhan <em>hand hygine</em> di rumah sakit bhayangkara palangkaraya.</p> Daniel Girando Ratna Ratna Luluk Dermawan Copyright (c) 2026 Daniel Girando, Ratna Ratna, Luluk Dermawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-12 2026-08-12 5 1 512 524 10.59585/bajik.v5i1.1487 Identifikasi Mycobacterium Tuberculosis pada Pengobatan Pasien Rawat Jalan dengan Keluhan Batuk Persisten di Klinik Yudisman Cimahi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1475 <p><em>Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis and is still a significant global health challenge, especially in Indonesia which ranks second in the world in terms of Tuberculosis (TB) caseload. Cimahi city, as a densely populated urban area, has high risk of transmission due to limited population mobility and air quality. The main clinical symptom that is often ignored is a persistent cough for two weeks or more, which should be an importants indicator for immediate laboratory identification to pevent further transmission. This study aims to identify the presence of Mycobacterium Tuberculosis in outpatients with complaints of persistent cough at the Yudisman Cimahi Clinic and evaluate the effectiveness of treatment. The research method used was retrospective descriptive by analyzing the medical record of 30 patients in the period March-June 2025 who has completed 6 months of treatment. The results showed that Tuberculosis (TB) infection was dominated by men (56,7%) and the productive adult age group 26-45 years (46,7%). The high number in this group is associated with lifestyle factors such as smoking and the intensity of air contact in public spaces. The diagnosis is made using a dual method, namely the Rapid Molecular Test (TCM) which has high sensitivity in detecting bacterial DNA fragments, as well as microscopic examination of acid-fast bacteria (BTA) to confirm the patient’s potential for transmission. All research samples received pharmacotherapy intervention using fixed doses of Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) through two phases of treatment, namely an intensive phase for 2 months and a continuation phase for 4 months. The final results of the treatment showed an excellent success rate with 70% of oatients desclared “Cure” and 30% of patients declared “Complete Treatment”. This success proves rhe effectiveness and vital role of Drug Ingestion Monitors (PMO) in preventing the occurrence of drug resistance or MDR-TB.</em></p> Anisa Insani Rahesti Kurnia Rida Emelia Copyright (c) 2026 Anisa Insani Rahesti Kurnia, Rida Emelia https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-11 2026-08-11 5 1 502 511 10.59585/bajik.v5i1.1475 Dampak Dukungan Keluarga Terhadap Pengendalian Tekanan Darah Pada Pasien Stroke Rawat Jalan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1477 <p>Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dapat menyebabkan gangguan fungsi neurologis dan membutuhkan perawatan jangka panjang. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama stroke dan juga dapat menjadi masalah yang berkelanjutan setelah pasien mengalami stroke. Pengendalian tekanan darah pada pasien stroke rawat jalan membutuhkan kepatuhan terhadap pengobatan, pola hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah secara rutin, dan dukungan keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam membantu pasien menjalankan pengobatan dan mempertahankan perilaku kesehatan. Dukungan keluarga yang baik diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam mengendalikan tekanan darah dan mencegah terjadinya stroke berulang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan pengendalian tekanan darah pada pasien stroke rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilakukan pada pasien stroke yang menjalani rawat jalan di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Dukungan keluarga diukur menggunakan kuesioner yang mencakup dukungan emosional, informasional, instrumental, dan penghargaan. Pengendalian tekanan darah dinilai berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan status tekanan darah pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 62 responden (62,0%) memperoleh dukungan keluarga baik dan 38 responden (38,0%) memperoleh dukungan keluarga kurang. Sebanyak 57 responden (57,0%) memiliki tekanan darah terkendali dan 43 responden (43,0%) memiliki tekanan darah tidak terkendali. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien dengan dukungan keluarga baik lebih banyak memiliki tekanan darah terkendali dibandingkan pasien dengan dukungan keluarga kurang. Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pengendalian tekanan darah pada pasien stroke rawat jalan (p = 0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pengendalian tekanan darah pada pasien stroke rawat jalan. Dukungan keluarga perlu diperkuat sebagai bagian dari intervensi keperawatan dan program pengelolaan pasien stroke untuk membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan dan pengendalian faktor risiko.</p> Supriadin Imam Fajlurrahman Zulkarnain Zulkarnain Amirul Kadafi Copyright (c) 2026 Supriadin, Imam Fajlurrahman, Zulkarnain Zulkarnain, Amirul Kadafi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-11 2026-08-11 5 1 493 501 10.59585/bajik.v5i1.1477 Hubungan Pola Konsumsi Garam Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Pesisir https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1476 <p>Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, stroke, serta penyakit ginjal. Kejadian hipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang tidak dapat dimodifikasi maupun faktor gaya hidup. Pola konsumsi garam yang berlebihan dan aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor perilaku yang berpotensi meningkatkan risiko hipertensi. Masyarakat pesisir memiliki karakteristik sosial, budaya, dan pola konsumsi yang beragam, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan yang diawetkan atau diolah dengan kandungan garam tinggi. Oleh karena itu, identifikasi hubungan pola konsumsi garam dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi penting dilakukan sebagai dasar upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di masyarakat pesisir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola konsumsi garam dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilakukan pada masyarakat pesisir di salah satu wilayah pesisir Indonesia. Populasi penelitian adalah masyarakat dewasa yang tinggal di wilayah pesisir. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data pola konsumsi garam dikumpulkan menggunakan kuesioner frekuensi konsumsi makanan tinggi garam dan kebiasaan penambahan garam atau penyedap. Aktivitas fisik diukur menggunakan <em>International Physical Activity Questionnaire</em> (IPAQ). Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter sesuai prosedur standar. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 67 responden (55,8%) memiliki pola konsumsi garam tinggi dan 53 responden (44,2%) memiliki pola konsumsi garam rendah. Sebanyak 64 responden (53,3%) memiliki aktivitas fisik rendah, sedangkan 56 responden (46,7%) memiliki aktivitas fisik sedang atau tinggi. Sebanyak 54 responden (45,0%) mengalami hipertensi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi garam dengan kejadian hipertensi (p = 0,003) dan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi (p = 0,012). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi garam dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir. Upaya pencegahan hipertensi perlu diarahkan pada pengurangan konsumsi garam dan peningkatan aktivitas fisik secara teratur melalui edukasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.</p> Supriadin Imam Fajlurrahman Arif Rahman Anas Kiki Anugrah Copyright (c) 2026 Supriadin, Imam Fajlurrahman, Arif Rahman, Anas Kiki Anugrah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-11 2026-08-11 5 1 483 492 10.59585/bajik.v5i1.1476 Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Diruang Rawat Inap RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai Tahun 2023 https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1472 <p>Latar Belakang :Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral bagi perawat. Apabila tidak terbentuknya komunikasi yang baik antara perawat dan pasien atau keluarga pasien maka tidak akan terciptanya hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien. Keadaan ini akan membuat perawatan yang diberikan tidak diterima dengan optimal dan angka ketidakpuasan pasien terhadap layanan keperawatan akan meningkat. Selanjutnya, hal tersebut akan berdampak pada keinginan pasien atau keluarga untuk menggunakan layanan secara berulang. Hal ini akan mempengaruhi kepuasan pasien dan jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingat kepuasan pasien diruang rawat inap RSUD Dr. R.M Djoelham Binjai tahun 2023<em>.</em> Metode : Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain analitik <em>Cross sectional. </em>Pada penelitian ini populasinya pasien yang sedang rawat inap RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai<em> sebanyak 43 oran.</em> pengambilan sampel dilakukan secara <em>acidental sampling</em> &nbsp;Hasil :Analisis dilakukan dengan menggunakan uji <em>Chi-Square</em> didapat ada Hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan Tingkat kepuasan pasien diruang rawat inap RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai tahun 2023 dengan jumlah 43 orang dengan derajat kemaknaan (α) = 0,05 dan df = 4 diperoleh hasil perhitungan yaitu Sig (2-tailed) 0.000 &lt; (α) = 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. &nbsp;Kesimpulannya ada Hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan Tingkat kepuasan pasien diruang rawat inap RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai tahun 2023.</p> Nur Hasanah Copyright (c) 2026 Nur Hasanah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-10 2026-08-10 5 1 475 482 10.59585/bajik.v5i1.1472 Analisis Pengaruh Stigma Sosial Dan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Pasien Tuberkulosis (TB) Di Wilayah Puskesmas Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1466 <p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang ditandai dengan belum optimalnya angka keberhasilan pengobatan. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan faktor penting dalam keberhasilan terapi, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial, di antaranya stigma sosial dan dukungan keluarga.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stigma sosial (stigma internal dan stigma eksternal) serta dukungan keluarga (dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan informasional) terhadap kepatuhan minum OAT pada pasien TB di Kabupaten Halmahera Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan di 11 puskesmas di Kabupaten Halmahera Barat. Sampel penelitian berjumlah 75 pasien TB yang dipilih berdasarkan teknik proportionate stratified random sampling berdasarkan proporsi jumlah pasien pada masing-masing Puskesmas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma internal berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum OAT, sedangkan stigma eksternal tidak berpengaruh signifikan. Dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan informasional keluarga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum OAT. Analisis multivariat menunjukkan bahwa dukungan emosional merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kepatuhan minum OAT (p = 0,001; OR = 40,365), diikuti oleh dukungan instrumental, dukungan informasional, dan stigma internal. Disimpulkan bahwa kepatuhan minum OAT pada pasien TB di Kabupaten Halmahera Barat lebih dipengaruhi oleh kondisi psikologis pasien dan kualitas dukungan keluarga, terutama dukungan emosional dan dukungan instrumental, dibandingkan oleh stigma eksternal.</p> Yusti Saruny Muh. Ilyas Nur Muhammad Basyir Copyright (c) 2026 Yusti Saruny, Muh. Ilyas Nur , Sukirno Kasau https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 460 474 10.59585/bajik.v5i1.1466 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Terhadap Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1463 <p>Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia). PPOK bersifat progresif dan menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, penurunan fungsi paru, serta berdampak terhadap kualitas hidup penderita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan PPOK adalah melalui pendidikan kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pengelolaan penyakit. Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang PPOK terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 30 lansia dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang PPOK diberikan dalam dua sesi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan media leaflet. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF sebelum dan dua minggu setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Rata-rata skor kualitas hidup sebelum pendidikan kesehatan adalah 56,43 ± 8,52, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 68,27 ± 7,31. Hasil uji Paired t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara skor kualitas hidup sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan (p &lt; 0,001). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan tentang PPOK berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Pendidikan kesehatan dapat menjadi salah satu intervensi keperawatan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan lansia mengelola penyakit dan mempertahankan kualitas hidup</p> Suaib Suaib Basri Basri Copyright (c) 2026 Suaib Suaib, Basri Basri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 453 459 10.59585/bajik.v5i1.1463 Hubungan Pengetahuan Kebencanaan Dengan Kemampuan Pengambilan Keputusan Saat Situasi Darurat Pada Masyarakat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1465 <p>Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan klimatologis. Tingginya kejadian bencana menuntut masyarakat memiliki pengetahuan kebencanaan yang memadai agar mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika terjadi situasi darurat. Kemampuan pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian material. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan kebencanaan dengan kemampuan pengambilan keputusan saat situasi darurat pada masyarakat di daerah rawan bencana. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Sampel sebanyak 200 responden dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan kebencanaan dan skenario pengambilan keputusan saat kondisi darurat yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kebencanaan kategori baik (62,5%) dan kemampuan pengambilan keputusan kategori baik (59,0%). Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan kebencanaan dengan kemampuan pengambilan keputusan (r=0,621; p&lt;0,001). Kesimpulan: Pengetahuan kebencanaan berhubungan secara signifikan dengan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan saat situasi darurat. Semakin tinggi pengetahuan kebencanaan yang dimiliki masyarakat, semakin baik kemampuan mereka dalam menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi bencana.</p> Marlin Eppang Nurhaedah Nurhaedah Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Nurhaedah Nurhaedah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 444 452 10.59585/bajik.v5i1.1465 Kajian Epidemiologi Komparatif Penyakit Menular Dan Tidak Menular Pada Populasi Dewasa https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1462 <p>Latar Belakang: Transisi epidemiologi telah menyebabkan perubahan pola penyakit di Indonesia, di mana penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat tanpa diikuti penurunan yang signifikan pada penyakit menular (PM). Kondisi ini menimbulkan <em>double burden of disease</em>, yaitu beban ganda penyakit yang menjadi tantangan bagi sistem kesehatan. Penyakit menular masih berkaitan dengan faktor lingkungan dan sanitasi, sedangkan penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, perilaku kesehatan, dan faktor metabolik. Oleh karena itu, kajian epidemiologi komparatif diperlukan untuk mengidentifikasi perbedaan karakteristik dan faktor risiko kedua kelompok penyakit sehingga dapat menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan yang lebih efektif. Tujuan: Menganalisis perbedaan karakteristik epidemiologi serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional komparatif. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 240 responden dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel dependen adalah status penyakit (penyakit menular dan penyakit tidak menular), sedangkan variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, status merokok, aktivitas fisik, pola makan, indeks massa tubuh (IMT), riwayat penyakit keluarga, sanitasi lingkungan, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, penyakit tidak menular ditemukan pada 57,1% responden, sedangkan penyakit menular sebesar 42,9%. Faktor yang berhubungan dengan penyakit tidak menular meliputi usia, obesitas, aktivitas fisik, merokok, dan riwayat penyakit keluarga (p&lt;0,05). Sementara itu, penyakit menular lebih berhubungan dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan (p&lt;0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor dominan pada penyakit tidak menular (Adjusted OR=4,26), sedangkan sanitasi lingkungan merupakan faktor dominan pada penyakit menular (Adjusted OR=3,84). Kesimpulan: Terdapat perbedaan karakteristik epidemiologi antara penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh faktor perilaku dan metabolik, sedangkan penyakit menular lebih berkaitan dengan faktor lingkungan dan kondisi tempat tinggal.</p> Marlin Eppang Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Merlin Eppang, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 433 443 10.59585/bajik.v5i1.1462 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan Nasional Pada Peserta Mandiri https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1461 <p>Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam mewujudkan cakupan kesehatan semesta (<em>Universal Health Coverage</em>). Keberlangsungan program JKN sangat bergantung pada kepatuhan peserta dalam membayar iuran, khususnya peserta mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Namun, tingkat kepatuhan pembayaran iuran masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan perilaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembayaran iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada peserta mandiri. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 220 responden dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel dependen adalah kepatuhan pembayaran iuran JKN. Variabel independen meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan tentang JKN, persepsi manfaat, kemampuan membayar iuran, dukungan keluarga, dan lama menjadi peserta JKN. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, serta regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 64,5% responden patuh membayar iuran JKN. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pendapatan (p=0,001), pengetahuan (p=0,003), persepsi manfaat (p=0,006), kemampuan membayar (p&lt;0,001), dan dukungan keluarga (p=0,012) berhubungan signifikan dengan kepatuhan pembayaran iuran. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kemampuan membayar iuran merupakan faktor yang paling dominan (Adjusted OR=4,18; 95% CI=2,01–8,67). Kesimpulan: Kepatuhan pembayaran iuran JKN pada peserta mandiri dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat program, serta dukungan keluarga. Peningkatan edukasi dan strategi pembayaran yang lebih fleksibel diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan peserta</p> Marlin Eppang Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Merlin Eppang, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 421 432 10.59585/bajik.v5i1.1461 Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) Pada Ibu Hamil: Studi Cross Sectional Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026 https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1458 <p>Latar belakang: Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil merupakan kondisi kekurangan asupan energi dan protein yang berlangsung dalam waktu lama dan dapat berdampak terhadap kesehatan ibu serta pertumbuhan janin. Wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling masih menghadapi masalah Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Tujuan: Menganalisis hubungan umur ibu, pendidikan, usia kehamilan, paritas, pendapatan keluarga, dan pantangan makanan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi sekaligus sampel adalah seluruh ibu hamil yang terdaftar dan berdomisili aktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling, dengan teknik total sampling sebanyak 56 responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 21. Fisher’s Exact Test digunakan untuk tabel 2×2, sedangkan Fisher–Freeman–Halton Exact Test digunakan untuk variabel usia kehamilan yang berbentuk tabel 3×2. Tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Kekurangan Energi Kronik (KEK) ditemukan pada 8 responden (14,3%). Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (69,6%), berpendidikan tinggi (78,6%), berada pada trimester II (51,8%), memiliki paritas risiko rendah (78,6%), pendapatan keluarga rendah (64,3%), dan tidak mendukung pantangan makanan (82,1%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara umur (p=0,688), pendidikan (p=0,348), usia kehamilan (p=0,103), paritas (p=0,180), pendapatan keluarga (p=1,000), maupun pantangan makanan (p=0,143) dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK). Kesimpulan: Keenam variabel yang diteliti tidak berhubungan secara statistik dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah penelitian. Pencegahan Kekurangan Energi Kronik (KEK) tetap memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pemantauan status gizi, pelayanan antenatal, edukasi gizi, suplementasi, serta intervensi gizi yang tepat sasaran.</p> A.Fitriani A.Fitriani Andi Alim Lina Fitriani Ridwan Amiruddin Copyright (c) 2026 A.Fitriani A.Fitriani, Andi Alim, Lina Fitriani, Ridwan Amiruddin https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 412 420 10.59585/bajik.v5i1.1458 Hubungan Kadar Gula Darah Puasa Dengan Kadar Gula Darah Post- Prandial 2 Jam Pada Lansia Di Rs Hermina Arcamanik https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1456 <p><em>The increasing prevalence of type 2 diabetes melitus among the erderly is closely linked to a decline in metabolic function. Assessing glycemic status through fasting blood glucose (FBG) and 2-hour postprandial blood glucose (2hPBG) levels is crucial for identifying the progression of diabetes melitus. This study aims to analyze the relationship between fasting blood glucose (FGB) levels and 2-hour postprandial blood glucose(2hPBG) levels the elderly at Hermina Arcamanik Hospital. This is a quantitative study using an observational analytical approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 70 respondents selected through purposive sampling. Data analysis utilized univariate and Spearman’s rho bivariate test. The result showed that the majority of participants met the clinical criteria for prediabetes (23%) and type 2 diabetes melitus (67%). Statistical analysis revealed a significant and strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels, with a correlation coefficient of r = 0.785 and p = 0.000. In conclusion, there is a strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels. Pathophysiologically, an increase in these two parameters indicates pancreatic beta-cell dysfunction and insulin resistance influenced by aging. These findings underscore the importance of comprehensive glycemic screening as the first step in the early identification and monitoring of diabetes melitus risk in</em><em>.</em></p> Erna Sari Restiani Alia Pratiwi Copyright (c) 2026 Erna Sari, Restiani Alia Pratiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 403 411 10.59585/bajik.v5i1.1456 Analisis Perbedaan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Dengan Antikoagulan Edta Dan Naf Pada Mahasiswa Tingkat Akhir https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1454 <p><em>Random blood glucose (RBG) testing is one of the clinical chemistry examinations whose results may be affected by delayed analysis due to the glycolysis process. The use of an appropriate anticoagulant is essential to maintain glucose stability. Sodium fluoride (NaF) is known to inhibit glycolysis, whereas Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) is more commonly used for hematological examinations but is still occasionally used for glucose testing. The different characteristics of these anticoagulants may influence the accuracy of glucose measurements; therefore, further evaluation is necessary. This study aimed to analyze the differences in random blood glucose levels measured using EDTA plasma and sodium fluoride (NaF) plasma in final-year students. This experimental study employed a comparative design involving two types of anticoagulants using blood samples collected from 20 respondents. Venous blood samples were collected using a vacutainer system, with 3 mL drawn into an EDTA tube and 2 mL into a NaF tube. Random blood glucose levels were measured using the enzymatic hexokinase method. The results showed that the mean random blood glucose level was 86.05 mg/dL in EDTA plasma and 89.80 mg/dL in NaF plasma, with a mean difference of 3.75 mg/dL. The paired t-test demonstrated a statistically significant difference between the two sample types. NaF plasma produced higher glucose levels than EDTA plasma because it effectively inhibited glycolysis, thereby maintaining glucose stability throughout the analytical process.</em></p> Inka Fitra Rahmadani Fitria Milanda Copyright (c) 2026 Inka Fitra Rahmadani, Fitria Milanda https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-09 2026-08-09 5 1 393 402 10.59585/bajik.v5i1.1454 Faktor - Faktor Penyebab Penumpukan Antrean Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Maranatha https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1452 <p><em>Queue buildup at outpatient registration is an issue that can affect the quality of hospital services. Long queues have the potential to increase patient waiting times, reduce satisfaction, and hinder service effectiveness. This study aims to analyze the factors causing queue buildup during outpatient registration at Maranatha Hospital. The study employs a descriptive approach utilizing observation, interviews, and document review. Research informants include registration staff and relevant personnel from the medical records unit. Data were analyzed descriptively to identify the causes of queue buildup based on aspects of human resources, work methods, facilities and infrastructure, and service systems. The findings are expected to provide insight into the factors contributing to queue buildup, thereby serving as a basis for the hospital to evaluate and improve the effectiveness of outpatient registration services.</em></p> Nursipa Nursipa Desy Widyaningrum Copyright (c) 2026 Nursipa, Desy Widyaningrum https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-08 2026-08-08 5 1 381 392 10.59585/bajik.v5i1.1452 Analisis Implementasi Kebijakan Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Banggai Kepulauan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1457 <p>Latar belakang: prevalensi stunting nasional yang masih berada di angka 19,8% pada 2024 menyisakan tantangan besar, terutama di Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai daerah kepulauan dengan prevalensi 27,7% pada 2023, jauh di atas rata-rata nasional maupun provinsi. Fluktuasi jumlah kasus stunting dari 1.029 (2023), 1.105 (2024), hingga 850 (2025) menunjukkan bahwa penurunan prevalensi belum diikuti pengendalian kasus yang stabil, sehingga efektivitas implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting perlu dikaji secara mendalam. Tujuan: penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan tersebut melalui pendekatan Input-Proses-Output yang diintegrasikan dengan empat variabel Edwards III, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: penelitian menggunakan desain studi kasus instrumental tunggal dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 22 informan yang dipilih secara purposive sampling, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil: penelitian menunjukkan komunikasi kebijakan telah berjenjang secara formal namun melemah pada tingkat desa akibat variasi kapasitas kader. Sumber daya manusia dan anggaran tergolong mencukupi secara agregat kabupaten, tetapi timpang pada level distribusi mikro antarpulau dan antar-Puskesmas. Data e-PPGBM menunjukkan penurunan kasus sekitar 14%, namun bertolak belakang dengan tren data survei nasional yang justru meningkat, dan Kabupaten Banggai Kepulauan sempat meraih peringkat empat terbaik se-Provinsi Sulawesi Tengah pada 2024. Kesimpulan: struktur birokrasi telah memenuhi aspek prosedural, tetapi fragmentasi koordinasi informal antar-OPD tetap menjadi kendala substantif. Penguatan koordinasi lintas sektor dan standardisasi rujukan data menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efektivitas kebijakan di wilayah kepulauan serupa</p> Nirmala Wardhani Muhajji Muhammad Azwar Zamli Zamli Copyright (c) 2026 Nirmala Wardhani Muhajji, Muhammad Azwar , Zamli Zamli https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-08 2026-08-08 5 1 365 380 10.59585/bajik.v5i1.1457 Analisis Strategi Promosi Kesehatan Dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer Di Puskesmas Tiakur Kabupaten Maluku Barat Daya https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1455 <p>Layanan kesehatan primer merupakan fondasi utama sistem kesehatan yang mampu memenuhi hingga 90 persen kebutuhan kesehatan masyarakat sepanjang siklus hidup, namun implementasinya di daerah kepulauan terpencil seperti Kabupaten Maluku Barat Daya masih menghadapi tantangan struktural pada 2023. Program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan sejak Agustus 2023 menuntut strategi promosi kesehatan berupa advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat, namun kesiapan pelaksanaannya di Puskesmas Tiakur belum terkaji secara mendalam.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi promosi kesehatan dalam implementasi ILP di Puskesmas Tiakur, Kabupaten Maluku Barat Daya, tahun 2026.</p> <p>Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sepuluh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Program ILP, petugas promosi kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan masyarakat penerima layanan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan advokasi berjalan lancar melalui pertemuan rutin tiga hingga enam bulan sekali dengan pemangku kepentingan lintas sektor, bina suasana memanfaatkan jalur keagamaan dan tiga platform media sosial, sedangkan pemberdayaan masyarakat masih terbatas pada pembelajaran sambil bekerja tanpa pelatihan formal bagi kader. Hambatan utama meliputi rangkap tugas satu-satunya petugas promosi kesehatan, sistem informasi puskesmas yang belum terintegrasi, keterbatasan transportasi antarpulau, serta rendahnya kesadaran sebagian kelompok dewasa untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Strategi promosi kesehatan di Puskesmas Tiakur telah berjalan namun masih bertumpu pada modal sosial dan komitmen personal, belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis, sehingga diperlukan penguatan sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, dan dukungan sarana transportasi laut untuk keberlanjutan implementasi ILP di wilayah kepulauan terpencil.</p> <p>&nbsp;</p> Heronika Anthonia Marcus Rahmawati Azis Jalil Genisa Copyright (c) 2026 Heronika Anthonia Marcus, Rahmawati Azis, Jalil Genisa https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-08 2026-08-08 5 1 349 364 10.59585/bajik.v5i1.1455 Efektivitas Promosi Kesehatan Dalam Mendukung Pengobatan Karies Gigi Pada Pasien Dewasa https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1444 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami masyarakat dan menjadi masalah kesehatan gigi serta mulut di berbagai negara. Pada pasien dewasa, karies yang tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan nyeri, gangguan fungsi pengunyahan, infeksi, penurunan kualitas hidup, hingga kehilangan gigi. Keberhasilan pengobatan karies tidak hanya ditentukan oleh tindakan klinis, tetapi juga oleh perilaku pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut, mematuhi jadwal kontrol, dan menerapkan pola hidup sehat. Promosi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien sehingga mendukung keberhasilan terapi karies. <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis efektivitas promosi kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan menjalani pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. <strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain <strong>quasi-experimental pretest–posttest with control group</strong>. Sebanyak <strong>80 pasien dewasa</strong> yang menjalani perawatan karies dibagi menjadi kelompok intervensi (n=40) dan kelompok kontrol (n=40). Kelompok intervensi menerima promosi kesehatan melalui edukasi tatap muka, media leaflet, video edukasi, dan penguatan melalui media digital selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol memperoleh pelayanan rutin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, observasi perilaku kebersihan gigi dan mulut, serta lembar kepatuhan kontrol. Analisis menggunakan <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, uji Chi-square, dan ANCOVA dengan tingkat signifikansi 5%. <strong>Hasil:</strong> Kelompok intervensi mengalami peningkatan skor pengetahuan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p&lt;0,001). Perilaku menjaga kebersihan gigi dan mulut meningkat secara bermakna setelah intervensi (p&lt;0,001). Tingkat kepatuhan terhadap jadwal kontrol pengobatan pada kelompok intervensi mencapai 90,0%, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (67,5%; p=0,012). <strong>Kesimpulan:</strong> Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. Integrasi program promosi kesehatan ke dalam pelayanan kedokteran gigi dapat mendukung keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> Harlina Harlina Nurhaedah Nurhaedah Copyright (c) 2026 Harlina Harlina, Nurhaedah Nurhaedah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-07 2026-08-07 5 1 340 348 10.59585/bajik.v5i1.1444 Efektivitas Jahe (Zingiber Officinale) Sebagai Terapi Komplementer Terhadap Penurunan Mual DanMuntah Pada Ibu Hamil Trimester Pertama https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1438 <p>Latar Belakang: Mual dan muntah pada kehamilan (<em>nausea and vomiting of pregnancy/NVP</em>) merupakan keluhan yang dialami oleh sekitar 70–80% ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh perubahan hormonal, terutama peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen. Meskipun bersifat fisiologis, mual dan muntah yang tidak tertangani dapat menurunkan kualitas hidup ibu, mengganggu asupan nutrisi, dan pada kasus yang berat berkembang menjadi hiperemesis gravidarum. Penggunaan terapi komplementer seperti jahe (<em>Zingiber officinale</em>) menjadi alternatif yang banyak diminati karena relatif aman, mudah diperoleh, dan memiliki kandungan bioaktif yang berpotensi mengurangi gejala mual. Tujuan: Menganalisis efektivitas pemberian jahe sebagai terapi komplementer terhadap penurunan tingkat mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan Non-Equivalent Control Group Pretest–Posttest Design. Sebanyak 60 ibu hamil trimester pertama dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30) menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi memperoleh minuman jahe sebanyak 250 mL yang mengandung ±1 gram ekstrak jahe segar, dua kali sehari selama tujuh hari, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi standar mengenai penatalaksanaan mual pada kehamilan. Tingkat mual diukur menggunakan Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE-24). Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, atau uji nonparametrik sesuai distribusi data. Hasil: Rerata skor PUQE-24 pada kelompok intervensi menurun secara bermakna setelah pemberian jahe dibandingkan sebelum intervensi (p&lt;0,001). Penurunan skor mual pada kelompok intervensi juga lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (p&lt;0,05). Kesimpulan: Pemberian jahe sebagai terapi komplementer efektif menurunkan tingkat mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama. Jahe dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping yang aman dalam pelayanan antenatal untuk mengurangi gejala mual dan meningkatkan kenyamanan ibu hamil.</p> Nur Rahma Srifitayani Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Nur Rahma Srifitayani, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-06 2026-08-06 5 1 331 339 10.59585/bajik.v5i1.1438 Pengaruh Kompetensi, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja, Dan Pelatihan Terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1435 <p>Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di sektor kesehatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan publik, khususnya di Kabupaten Mamasa yang menghadapi tantangan geografis, tingginya turnover pegawai, dan keterbatasan pengembangan sumber daya manusia pascapandemi COVID-19.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kompetensi, motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan terhadap kinerja ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, baik secara parsial maupun simultan.</p> <p>Pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory survey digunakan dengan melibatkan seluruh ASN dan PPPK aktif melalui metode total sampling (n = 78 orang), pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner.</p> <p>Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kompetensi (p = 0,041), motivasi kerja (p = 0,000), disiplin kerja (p = 0,000), dan pelatihan (p = 0,000) berhubungan signifikan dengan kinerja ASN. Namun, pada analisis multivariat hanya motivasi kerja (OR = 13,779; p = 0,003), disiplin kerja (OR = 8,734; p = 0,013), dan pelatihan (OR = 7,521; p = 0,018) yang tetap berpengaruh signifikan, sedangkan kompetensi tidak signifikan (OR = 6,834; p = 0,109). Motivasi kerja merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kinerja ASN. Model regresi logistik biner dinyatakan layak (Hosmer and Lemeshow p = 0,842), mampu menjelaskan 59,9% variasi kinerja ASN (Nagelkerke R Square = 0,599) dengan akurasi klasifikasi 89,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi kerja, disiplin kerja, dan pelatihan merupakan faktor utama yang memengaruhi kinerja ASN. Oleh karena itu, peningkatan motivasi kerja perlu diprioritaskan, disertai penguatan disiplin dan pelatihan</p> Into Harahap Muh. Ilyas Nur Diana Mirja Togubu Copyright (c) 2026 Into Harahap , Muh. Ilyas Nur, Diana Mirja Togubu https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-06 2026-08-06 5 1 316 330 10.59585/bajik.v5i1.1435 Pengaruh Edukasi Qr Code Terhadap Literasi Anemia Remaja Putri Di Mas Aisyiyah Medan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1429 <p>Anemia among adolescent girls remains an unresolved public health and nutrition problem in Indonesia, contributing to morbidity risk during the productive years and to the intergenerational cycle of stunting. Low anemia literacy is suspected to be one of the determinant factors influencing the high prevalence of anemia among adolescent girls. This study aimed to analyze the effect of QR Code-based education on the level of anemia literacy among adolescent girls at MAS Aisyiyah Medan. This quantitative study used a quasi-experimental one group pretest-posttest design, conducted from March to May 2026 with 50 respondents selected through total sampling. Data were analyzed univariately and bivariately using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed a significant increase in anemia literacy scores after the QR Code education intervention (p = 0.000; p&lt;0.05). It is concluded that QR Code-based education effectively improves anemia literacy among adolescent girls and can be recommended as an interactive, low-cost health promotion medium integrated into school health programs (UKS/M).</p> Nelly Rustianti Ni Ketut Sujati Halimatussakdiyah Lubis Copyright (c) 2026 Nelly Rustianti, Ni Ketut Sujati, Halimatussakdiyah Lubis https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-05 2026-08-05 5 1 304 315 10.59585/bajik.v5i1.1429 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus De Quervain Syndrome Dextra dengan Modalitas Ultrasound dan Terapi Latihan di RSUD Cililin Kab. Bandung Barat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1426 <p><em>De Quervain Syndrome is a musculoskeletal condition affecting the wrist, characterizted by pain on the radial side caused by inflammation of the abductor pollicis longus and extensor pollicis brevis tendons, which leads to limited range of motion and reduced functional ability. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining ultrasound therapy with active exercise in reducing pain, improving range of motion, and enhancing functional ability in a patient with right-sided De Quervain Syndrome. A quantitative descriptive case study design was applied to one patient at RSUD Cililin, West Java Bandung. Outcome measures included the Visual Analog Scale (VAS), goniometer assessment, and Wrist and Hand Disability Index (WHDI), conducted over six treatment sessions. The findings indicated clinical improvement, including reduced resting pain (2 to 0), tenderness (5 to 2), and movement pain (5 to 2). Range of motion also increased in thumb flexion (35°-48°), extension (76°-88°), and abduction (18°-27°). Furthermore, the WHDI score decreased from 58% to 24%, reflecting a shift from severe to moderate disability. These result suggest that the combination of ultrasound and active exercise is effective in improving patient outcomes in De Quervain Syndrome.</em></p> Eli Amelia Ika Rahman Abdul Qudus Copyright (c) 2026 Eli Amelia, Ika Rahman, Abdul Qudus https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 296 303 10.59585/bajik.v5i1.1426 Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Et Causa Capsulitis Adhesiva dengan Modalitas MWD, TENS, dan Terapi Latihan di RS PUSDIKKES PUSKESAD https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1425 <p><em>Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis is a musculoskeletal disorder of the glenohumeral joint characterized by pain, restricted range of motion, and decreased functional ability due to inflammation and fibrosis of the joint capsule. This condition commonly affects individuals aged 40–65 years and significantly interferes with daily activities if left untreated. This case study aimed to evaluate the effectiveness of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy in reducing pain, improving shoulder range of motion, increasing muscle strength, and restoring functional activities in a patient with Frozen Shoulder. A quantitative descriptive case study was conducted on one patient with left Frozen Shoulder at RS Pusdikkes Puskesad. Clinical outcomes were evaluated over eight treatment sessions using the Visual Analog Scale (VAS), goniometer, Manual Muscle Testing (MMT), and Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). The results demonstrated reductions in resting pain from 2 to 0, tenderness from 4 to 0, and movement pain from 6 to 0. Shoulder range of motion improved from flexion 90° to 180°, extension 40° to 60°, abduction 90° to 180<strong>°</strong>, internal rotation 45° to 90<strong>°</strong>, and external rotation 30° to 90<strong>°</strong>. Muscle strength increased from grade 4 to grade 5, while the SPADI score decreased from 37.5 to 1.5, indicating marked functional recovery. It can be concluded that the combination of Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), and Exercise Therapy is effective in reducing pain, improving shoulder mobility, increasing muscle strength, and restoring functional ability in patients with Frozen Shoulder caused by Adhesive Capsulitis.</em></p> Ika Rahman Yuniat Irawati Lona Thesalonika Copyright (c) 2026 Ika Rahman, Yuniat Irawati, Lona Thesalonika https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 285 295 10.59585/bajik.v5i1.1425 Efektivitas Agen Imunomodulator Dalam Modulasi Respons Imun Pada Pasien Penyakit Autoimun https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1424 <p>Latar Belakang: Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang ditandai oleh hilangnya toleransi imun terhadap antigen tubuh sendiri sehingga menyebabkan inflamasi kronis dan kerusakan jaringan. Diperkirakan lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, termasuk rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease, dan autoimmune thyroid disease. Perkembangan terapi imunomodulator telah mengubah tata laksana penyakit autoimun melalui pengendalian aktivitas sistem imun tanpa menyebabkan imunosupresi total. Tujuan: Menganalisis efektivitas agen imunomodulator dalam memodulasi respons imun pada pasien penyakit autoimun berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review sesuai pedoman PRISMA 2020. Artikel dicari melalui PubMed, Scopus, Web of Science, Embase, dan Cochrane Library dengan rentang publikasi 2020–2025. Kualitas artikel dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tools, sedangkan risiko bias dievaluasi menggunakan RoB 2 dan ROBINS-I. Hasil: Sebanyak 27 artikel memenuhi kriteria inklusi. Agen biologik seperti inhibitor TNF-α, inhibitor IL-6, inhibitor IL-17, inhibitor IL-23, rituximab, abatacept, dan inhibitor JAK menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam menurunkan aktivitas penyakit, kadar sitokin proinflamasi, autoantibodi, serta biomarker inflamasi. Terapi biologik juga meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kekambuhan dibandingkan terapi konvensional. Kesimpulan: Agen imunomodulator modern memberikan manfaat yang signifikan dalam mengendalikan penyakit autoimun melalui modulasi berbagai jalur imun. Pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan karakteristik penyakit, profil imunologis pasien, keamanan, dan risiko efek samping.</p> Meillisa Carlen Mainassy Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Meillisa Carlen Mainassy, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 274 284 10.59585/bajik.v5i1.1424 Promosi Kesehatan Sebagai Upaya Preventif Dalam Menurunkan Angka Perokok Pemula https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1423 <p>Latar Belakang: Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Usia pertama kali merokok cenderung semakin muda sehingga meningkatkan risiko ketergantungan nikotin, penyakit tidak menular, serta berbagai dampak kesehatan jangka panjang. Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap negatif terhadap rokok, serta mencegah munculnya perilaku merokok pada remaja. Tujuan: Menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, dan penurunan niat merokok pada remaja sebagai upaya preventif dalam menurunkan angka perokok pemula. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Penelitian dilakukan pada 80 siswa SMP dan SMA yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Intervensi berupa promosi kesehatan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, video edukasi, dan media leaflet mengenai bahaya merokok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan niat merokok yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 64,8±10,5 menjadi 84,6±8,2 setelah intervensi (p&lt;0,001). Rerata skor sikap terhadap perilaku merokok meningkat dari 67,3±9,4 menjadi 86,2±7,6 (p&lt;0,001), sedangkan skor niat merokok menurun secara bermakna dari 18,4±4,7 menjadi 11,2±3,9 (p&lt;0,001). Kesimpulan: Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap yang lebih positif terhadap pencegahan merokok, serta menurunkan niat menjadi perokok pada remaja. Program promosi kesehatan yang dilakukan secara berkelanjutan di sekolah berpotensi menjadi strategi preventif dalam menekan angka perokok pemula.</p> Musaidah Musaidah Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Musaidah Musaidah, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 264 273 10.59585/bajik.v5i1.1423 Hubungan Kepatuhan Penerapan Sepsis Bundle Dengan Outcome Pasien Sepsis Di Ruang Intensif https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1422 <p>Latar Belakang: Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai oleh disfungsi organ akibat respons tubuh yang tidak terkontrol terhadap infeksi dan masih menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di unit perawatan intensif (<em>Intensive Care Unit/ICU</em>). Pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2021 merekomendasikan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dalam satu jam pertama untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan menurunkan angka kematian. Namun, kepatuhan tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan setiap komponen <em>Sepsis Bundle</em> masih bervariasi sehingga berpotensi memengaruhi outcome klinis pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 112 pasien dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari seluruh pasien sepsis yang dirawat di ICU Rumah Sakit X periode Januari–Juni 2026. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan lembar audit kepatuhan <em>Sepsis Bundle</em> berdasarkan pedoman SSC 2021. Outcome pasien dikategorikan menjadi membaik dan meninggal saat keluar dari ICU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. Hasil: Sebanyak 69,6% pasien mendapatkan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> yang patuh, sedangkan 30,4% tidak patuh. Pasien dengan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> yang patuh memiliki proporsi outcome membaik lebih tinggi (79,5%) dibandingkan kelompok tidak patuh (44,1%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> dengan outcome pasien (p&lt;0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan outcome pasien (AOR=4,12; 95% CI=1,87–9,09). Kesimpulan: Kepatuhan penerapan <em>Sepsis Bundle</em> berhubungan secara signifikan dengan outcome pasien sepsis di ruang intensif. Implementasi <em>Sepsis Bundle</em> secara lengkap dan tepat waktu berpotensi meningkatkan keberhasilan terapi serta menurunkan risiko mortalitas pada pasien sepsis.</p> Irawati Irawati Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Irawati Irawati, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 253 263 10.59585/bajik.v5i1.1422 Analisis Cost Effectiveness Program Promosi Kesehatan Dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1421 <p>Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan kasus PTM menyebabkan beban pembiayaan kesehatan yang semakin besar. Program promosi kesehatan merupakan salah satu strategi preventif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku hidup sehat, serta menurunkan faktor risiko PTM. Selain efektivitas program, aspek efisiensi biaya juga perlu dievaluasi melalui analisis <em>Cost Effectiveness Analysis</em> (CEA) untuk memastikan bahwa sumber daya kesehatan digunakan secara optimal. Tujuan: Menganalisis <em>cost effectiveness</em> program promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit tidak menular. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan metode <em>Cost Effectiveness Analysis</em>. Data diperoleh dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Aek Parombunan selama Januari–Maret 2026. Efektivitas program diukur berdasarkan perubahan proporsi masyarakat yang menerapkan perilaku hidup sehat setelah intervensi, sedangkan biaya dihitung dari perspektif penyelenggara program. Analisis dilakukan dengan menghitung Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Total biaya program promosi kesehatan sebesar Rp45.000.000, dengan peningkatan perilaku hidup sehat sebesar 30% setelah intervensi. Nilai ACER diperoleh sebesar Rp1.500.000 per peningkatan 1% perilaku hidup sehat. Perbandingan dengan program konvensional menghasilkan nilai ICER sebesar Rp500.000 per tambahan peningkatan 1% efektivitas, yang menunjukkan bahwa program promosi kesehatan memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Kesimpulan: Program promosi kesehatan merupakan intervensi yang <em>cost-effective</em> dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan layak dipertimbangkan sebagai strategi prioritas dalam pelayanan kesehatan primer.</p> Warda M Warda M Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Warda M Warda M, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 243 252 10.59585/bajik.v5i1.1421 Pengaruh Latihan Rentang Gerak Terhadap Pemulihan Fungsi Motorik Pasien Stroke https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1418 <p>Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Gangguan fungsi motorik akibat stroke menyebabkan kelemahan otot, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, serta menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan pada fase akut maupun subakut adalah latihan <em>Range of Motion</em> (ROM), yang bertujuan mempertahankan fleksibilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta mempercepat pemulihan fungsi motorik. Meskipun latihan ROM telah banyak diterapkan dalam praktik klinik, bukti mengenai efektivitasnya terhadap pemulihan fungsi motorik pasien stroke di Indonesia masih memerlukan penguatan.Tujuan: Menganalisis pengaruh latihan <em>Range of Motion</em> terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel berjumlah 60 pasien stroke yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30) menggunakan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi memperoleh latihan ROM selama 14 hari dengan frekuensi dua kali sehari selama 20–30 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar rumah sakit. Fungsi motorik diukur menggunakan Fugl-Meyer Assessment (FMA) dan kekuatan otot dinilai menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Analisis data menggunakan <em>paired t-test</em>, <em>independent t-test</em>, dan uji signifikansi dengan tingkat kemaknaan p&lt;0,05. Hasil: Setelah intervensi, terjadi peningkatan rerata skor fungsi motorik pada kelompok intervensi dari 41,83 ± 8,24 menjadi 60,97 ± 9,11, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 42,10 ± 7,96 menjadi 48,36 ± 8,18. Hasil <em>paired t-test</em> menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok intervensi (p&lt;0,001). Analisis <em>independent t-test</em> menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah perlakuan (p&lt;0,001). Kesimpulan: Latihan <em>Range of Motion</em> berpengaruh signifikan terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Pemberian latihan ROM secara teratur dapat menjadi intervensi keperawatan rehabilitatif yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot, mobilitas sendi, dan kemampuan fungsional pasien stroke.</p> M. Khalid Fredy Saputra Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 M. Khalid Fredy Saputra, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-04 2026-08-04 5 1 232 242 10.59585/bajik.v5i1.1418 Faktor Yang Berhubungan Dengan Healthy Aging Pada Lanjut Usia (Lansia) Di Komunitas https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1412 <p>Latar Belakang: Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat. Kondisi tersebut diikuti oleh meningkatnya kebutuhan terhadap upaya untuk mencapai <em>healthy aging</em>, yaitu proses mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan lansia tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Healthy aging dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, gaya hidup, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Identifikasi faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar penyusunan program intervensi yang mendukung penuaan sehat di tingkat komunitas. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan <em>healthy aging</em> pada lansia di komunitas. Metode: Penelitian menggunakan mixed methods dengan desain Sequential Explanatory Design. Tahap pertama menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 300 lansia yang dipilih menggunakan multistage random sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Tahap kedua menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposif untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Hasil: Sebagian besar lansia memiliki kategori healthy aging yang baik (64,3%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik (OR=4,12; p&lt;0,001), status gizi (OR=3,54; p=0,002), dukungan keluarga (OR=3,26; p=0,003), penyakit kronis (OR=2,87; p=0,007), partisipasi sosial (OR=2,61; p=0,012), dan akses pelayanan kesehatan (OR=2,18; p=0,024) berhubungan signifikan dengan healthy aging. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dukungan keluarga, lingkungan yang ramah lansia, dan keikutsertaan dalam kegiatan masyarakat menjadi faktor utama dalam mempertahankan kesehatan fisik maupun psikososial lansia. Kesimpulan: Healthy aging dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, keluarga, lingkungan sosial, dan pelayanan kesehatan. Pendekatan multidisiplin berbasis komunitas diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.</p> Djusmadi Rasyid Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Djusmadi Rasyid, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 221 231 10.59585/bajik.v5i1.1412 Pengaruh Kualitas Makanan Terhadap Plate Waste Pasien Rawat Inap Di RSUD Weda Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1415 <p>Sisa makanan (plate waste) di rumah sakit merupakan indikator mutu pelayanan gizi yang berdampak pada status gizi pasien, efisiensi biaya operasional, dan keberlanjutan sumber daya rumah sakit.</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penampilan makanan, peralatan makan, kebersihan penyajian, konsistensi rasa makanan, dan ketepatan waktu penyajian terhadap sisa makanan pasien rawat inap.</p> <p>Desain penelitian bersifat kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 98 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling dari populasi 4.488 pasien Ruang Interna dan Kebidanan, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan 46,9 persen responden memiliki sisa makanan kategori banyak (&gt;20%), dan kelima variabel terbukti berpengaruh signifikan (p&lt;0,05) terhadap plate waste. Konsistensi rasa makanan merupakan faktor paling dominan (OR=5,739), diikuti kebersihan penyajian (OR=4,163), penampilan makanan (OR=3,452), peralatan makan (OR=2,916), dan ketepatan waktu penyajian (OR=2,879). Kelima variabel secara bersama-sama mampu menjelaskan variasi plate waste sebesar 59,3 persen, dengan ketepatan klasifikasi model sebesar 77,6 persen. Perbaikan mutu makanan, khususnya aspek konsistensi rasa dan kebersihan penyajian, perlu diprioritaskan instalasi gizi guna menekan angka plate waste sesuai standar pelayanan minimal rumah sakit.</p> Mardina Sulistiawati Rahmawati Azis Jalil Genisa Copyright (c) 2026 Mardina Sulistiawati, Rahmawati Rahmawati, Jalil Genisa https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 205 220 10.59585/bajik.v5i1.1415 Efektivitas Simulasi Obstetric Emergency Terhadap Peningkatan Keterampilan Bidan Dalam Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1411 <p>Latar Belakang: Perdarahan pasca persalinan (<em>postpartum hemorrhage/PPH</em>) merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia. Penanganan yang cepat, tepat, dan sesuai standar sangat bergantung pada kompetensi tenaga kesehatan, terutama bidan sebagai pemberi pelayanan obstetri lini pertama. Salah satu metode yang terbukti meningkatkan kompetensi klinis adalah pelatihan berbasis simulasi (<em>obstetric emergency simulation</em>), yang memungkinkan peserta berlatih keterampilan teknis maupun nonteknis dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata tanpa membahayakan pasien. Tujuan: Menganalisis efektivitas simulasi <em>obstetric emergency</em> terhadap peningkatan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sebanyak 60 bidan dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pelatihan simulasi <em>obstetric emergency</em> selama dua hari yang meliputi penanganan aktif kala III, identifikasi penyebab perdarahan, resusitasi, manajemen syok, komunikasi tim, dan sistem rujukan. Keterampilan bidan dinilai menggunakan lembar Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank atau Paired t-test sesuai distribusi data dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Rata-rata skor keterampilan sebelum pelatihan adalah 68,4 ± 8,7, meningkat menjadi 87,9 ± 6,2 setelah pelatihan. Terdapat peningkatan keterampilan yang bermakna secara statistik (p &lt; 0,001). Kesimpulan: Simulasi <em>obstetric emergency</em> efektif meningkatkan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Pelatihan berbasis simulasi direkomendasikan sebagai bagian dari pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan keselamatan ibu.</p> Delimayani Delimayani Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Delima Hastadi, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 197 204 10.59585/bajik.v5i1.1411 Korelasi Tingkat Pengetahuan dan Dukungan Pelayanan Kesehatan dengan Kepatuhan Skrining IMS pada Kelompok Berisiko https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1410 <p>Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di dunia maupun Indonesia. Kelompok berisiko seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), transgender, pengguna narkoba suntik, dan individu dengan pasangan seksual berganti-ganti memiliki risiko tinggi mengalami IMS. Kepatuhan melakukan skrining IMS secara berkala merupakan strategi penting dalam mendeteksi infeksi secara dini sehingga dapat menurunkan angka penularan dan komplikasi. Namun, kepatuhan terhadap skrining masih rendah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik responden, tingkat pengetahuan, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (60,7%), memperoleh dukungan layanan kesehatan tinggi (65,3%), serta patuh melakukan skrining IMS (62,0%). Analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p&lt;0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p&lt;0,001). Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan dukungan layanan kesehatan berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan dan penguatan akses layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS</p> Norma Safitri Yanti Mustarin Copyright (c) 2026 Norma Safitri, Yanti Mustarin https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 188 196 10.59585/bajik.v5i1.1410 Implementasi Sistem Manajemen Laboratorium Dalam Mendukung Pelayanan Diagnostik Yang Bermutu, Aman, Dan Efisien https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1408 <p>Pelayanan laboratorium merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena sekitar 60–70% keputusan klinis dipengaruhi oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu, penerapan sistem manajemen laboratorium yang efektif menjadi faktor utama dalam menjamin mutu pelayanan diagnostik. Sistem manajemen laboratorium mencakup pengelolaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, peralatan, reagen, keselamatan kerja, pengendalian mutu, dokumentasi, serta sistem informasi laboratorium. Implementasi sistem manajemen laboratorium yang baik mampu meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan, mempercepat waktu pelayanan (<em>turnaround time</em>), meminimalkan kesalahan pada tahap pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik, serta meningkatkan keselamatan pasien dan petugas laboratorium. Selain itu, penerapan standar mutu seperti ISO 15189 dan pemenuhan indikator mutu laboratorium menjadi dasar dalam meningkatkan kepercayaan pengguna layanan. Artikel ini bertujuan mengkaji implementasi sistem manajemen laboratorium dalam mendukung pelayanan diagnostik yang bermutu, aman, dan efisien melalui telaah berbagai aspek manajemen laboratorium modern.</p> Desman Serius Nazara Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Desman Serius Nazara, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 177 187 10.59585/bajik.v5i1.1408 Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Penurunan Berat Badan Pada Orang Dewasa https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1405 <p>Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok. Efek nikotin terhadap penekanan nafsu makan, peningkatan metabolisme basal, dan perubahan regulasi energi diduga berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada perokok. Namun, hubungan tersebut masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, dan lama kebiasaan merokok. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 240 responden berusia 18–60 tahun dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data kebiasaan merokok diperoleh melalui kuesioner terstruktur, sedangkan berat badan dan tinggi badan diukur secara langsung untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 42,5% responden merupakan perokok aktif. Penurunan berat badan atau status berat badan di bawah normal ditemukan pada 28,3% responden. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan penurunan berat badan (p = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki peluang 2,76 kali lebih besar mengalami penurunan berat badan dibandingkan bukan perokok (AOR = 2,76; 95% CI = 1,48–5,14). Kesimpulan: Kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Meskipun demikian, merokok tidak dapat dijadikan sebagai metode pengendalian berat badan karena dampak buruknya terhadap kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dipersepsikan.</p> Nurhasanah Syaharuddin Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Nurhasanah Syaharuddin , Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 169 176 10.59585/bajik.v5i1.1405 Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru Pada Pasien Henti Jantung Di Instalasi Gawat Darurat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1404 <p>Latar Belakang: Henti jantung (<em>cardiac arrest</em>) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang ditandai dengan berhentinya aktivitas mekanik jantung sehingga sirkulasi darah dan oksigen ke organ vital terhenti. Kondisi ini memerlukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang terjadinya <em>Return of Spontaneous Circulation</em> (ROSC). Keberhasilan RJP dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia pasien, penyebab henti jantung, waktu respons, irama jantung awal, durasi resusitasi, dan pemberian defibrilasi. Analisis faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan Resusitasi Jantung Paru pada pasien henti jantung di Instalasi Gawat Darurat. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 110 pasien henti jantung yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebanyak 41,8% pasien mengalami keberhasilan ROSC. Analisis menunjukkan bahwa waktu respons (p=0,001), irama jantung awal (p=0,003), durasi RJP (p=0,005), dan pemberian defibrilasi (p=0,002) berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan RJP. Usia (p=0,081) dan jenis kelamin (p=0,427) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru dipengaruhi oleh waktu respons yang cepat, irama jantung awal yang dapat dilakukan defibrilasi, durasi resusitasi yang sesuai, serta tindakan defibrilasi yang tepat. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan optimalisasi sistem respons kegawatdaruratan diperlukan untuk meningkatkan angka keberhasilan RJP.</p> Andi Agustang Badaruddin Badaruddin Rahayu Setyaningsih Copyright (c) 2026 Andi Agustang, Rahayu Setyaningsih https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-03 2026-08-03 5 1 162 168 10.59585/bajik.v5i1.1404 Analisis Mutu Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Dan Empathy https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1403 <p>Latar Belakang: Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator utama dalam menilai keberhasilan pelayanan di fasilitas kesehatan. Pelayanan yang bermutu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana, ketepatan pelayanan, kecepatan respons, jaminan keamanan, serta kepedulian terhadap pasien. Model SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman mengukur mutu pelayanan melalui lima dimensi, yaitu <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em>. Evaluasi terhadap kelima dimensi tersebut penting untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien sekaligus menjadi dasar perbaikan mutu pelayanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis mutu pelayanan kesehatan berdasarkan dimensi <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em> di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner SERVQUAL dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden menilai dimensi <em>Tangibles</em> (70,0%), <em>Reliability</em> (72,7%), <em>Responsiveness</em> (68,0%), <em>Assurance</em> (74,0%), dan <em>Empathy</em> (71,3%) dalam kategori baik. Analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi SERVQUAL memiliki hubungan yang signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan (p&lt;0,05). Kesimpulan: Dimensi <em>Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance,</em> dan <em>Empathy</em> berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Peningkatan kualitas sarana prasarana, kompetensi tenaga kesehatan, kecepatan pelayanan, jaminan keamanan, serta komunikasi yang berpusat pada pasien diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.</p> Nuryanti Thahir Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Nuryanti Thahir , Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 154 161 10.59585/bajik.v5i1.1403 Hubungan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan Pada Trimester III https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1406 <p>Latar Belakang: Antenatal Care (ANC) merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil secara terencana dan berkesinambungan untuk memantau kondisi ibu dan janin, mendeteksi faktor risiko, serta mencegah terjadinya komplikasi kehamilan. Kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan ANC sesuai standar berperan penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Namun, masih terdapat ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ANC secara lengkap sehingga komplikasi kehamilan sering terlambat terdeteksi, terutama pada trimester III. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan kunjungan Antenatal Care dengan kejadian komplikasi kehamilan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui telaah buku KIA, rekam medis, dan kuesioner karakteristik responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar (71,7%). Kejadian komplikasi kehamilan ditemukan pada 25,8% responden. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan kunjungan ANC dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III (p = 0,002). Kesimpulan: Kepatuhan kunjungan ANC berhubungan secara signifikan dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III. Ibu hamil yang patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar memiliki risiko lebih rendah mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan ibu yang tidak patuh.</p> Hasrianti Hasrianti Dian Meiliani Yulis Sutrani Syarif Nurqalbi SR Nurqalbi SR Copyright (c) 2026 Hasrianti Hasrianti, Dian Meiliani Yulis , Sutrani Syarif , Nurqalbi SR Nurqalbi SR https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 147 153 10.59585/bajik.v5i1.1406 Hubungan Tingkat Pendidikan dan Paritas dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi pada Wanita Usia Subur https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1402 <p>Latar Belakang: Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menurunkan angka kelahiran, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta mewujudkan keluarga yang berkualitas. Keberhasilan program KB dipengaruhi oleh pemilihan metode kontrasepsi yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan usia subur. Tingkat pendidikan dan paritas merupakan faktor yang diduga memengaruhi pengambilan keputusan wanita usia subur dalam memilih metode kontrasepsi. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 wanita usia subur yang menjadi akseptor KB dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan menengah (55,0%), multipara (60,8%), dan menggunakan kontrasepsi hormonal (66,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,003) serta antara paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,001). Kesimpulan: Tingkat pendidikan dan paritas berhubungan secara signifikan dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Peningkatan edukasi dan konseling keluarga berencana diperlukan agar wanita usia subur dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan reproduksinya</p> Elvira Safidni Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Elvira Safidni, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 139 146 10.59585/bajik.v5i1.1402 Analisis Faktor Risiko Gangguan Pembekuan Darah Pada Ibu Postpartum https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1401 <p>Masa postpartum merupakan periode kritis yang berlangsung hingga 42 hari setelah persalinan. Pada periode ini ibu berisiko mengalami berbagai komplikasi, termasuk gangguan pembekuan darah (koagulasi) yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum maupun tromboemboli. Perubahan fisiologis sistem hemostasis selama kehamilan dan setelah persalinan meningkatkan risiko terjadinya gangguan koagulasi, terutama pada ibu dengan faktor risiko tertentu seperti usia maternal tinggi, obesitas, preeklampsia, persalinan seksio sesarea, infeksi, dan riwayat gangguan pembekuan darah. Identifikasi faktor-faktor risiko tersebut penting untuk mendukung deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu. Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 180 ibu postpartum dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari ruang nifas rumah sakit dan puskesmas. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Gangguan pembekuan darah ditemukan pada 26,1% responden. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah usia ≥35 tahun (p=0,021), preeklampsia (p&lt;0,001), persalinan seksio sesarea (p=0,014), obesitas (p=0,008), dan perdarahan postpartum (p&lt;0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa preeklampsia merupakan faktor yang paling dominan (AOR=4,28; 95% CI=2,01–9,12). Preeklampsia, obesitas, usia maternal ≥35 tahun, persalinan seksio sesarea, dan perdarahan postpartum merupakan faktor risiko utama gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Skrining faktor risiko sejak masa antenatal hingga postpartum diperlukan untuk mencegah komplikasi serius.</p> Susi Rabuana Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Susi Rabuana, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 130 138 10.59585/bajik.v5i1.1401 Faktor Sosiodemografi Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Masyarakat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1400 <p>Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk karakteristik sosiodemografi. Faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat tinggal berperan penting dalam menentukan akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat, serta kualitas hidup individu. Perbedaan kondisi sosiodemografi dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, identifikasi faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan menjadi penting sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Menganalisis faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 220 responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kepercayaan 95%. Sebagian besar responden memiliki status kesehatan baik (67,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pendidikan (p=0,002), pendapatan (p&lt;0,001), pekerjaan (p=0,018), dan umur (p=0,031) berhubungan signifikan dengan status kesehatan masyarakat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi status kesehatan (AOR=3,84; 95% CI=2,01–7,32). Faktor sosiodemografi, khususnya pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan umur, berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan masyarakat perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan karakteristik demografi masyarakat sebagai dasar perencanaan program kesehatan.</p> Sahabuddin Sahabuddin Nurhaedah Nurhaedah Copyright (c) 2026 Sahabuddin Sahabuddin, Nurhaedah Nurhaedah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 121 129 10.59585/bajik.v5i1.1400 Pengaruh Promosi Kesehatan Berbasis Digital Terhadap Perubahan Perilaku Pencegahan Penyakit Pada Generasi Z https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1399 <p>Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan, terutama pada Generasi Z yang dikenal sebagai <em>digital native</em>. Media digital seperti media sosial, aplikasi kesehatan, situs web, video edukasi, dan platform komunikasi daring menjadi sarana utama dalam penyebaran informasi kesehatan. Promosi kesehatan berbasis digital memiliki potensi besar dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perubahan perilaku pencegahan penyakit. Namun, efektivitas promosi kesehatan digital dipengaruhi oleh kualitas informasi, intensitas paparan, literasi kesehatan digital, serta kemampuan individu dalam memanfaatkan informasi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Menganalisis pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan promosi kesehatan digital dan perilaku pencegahan penyakit. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi 95%. Sebagian besar responden memiliki tingkat paparan promosi kesehatan digital yang tinggi (72,2%) dan menunjukkan perilaku pencegahan penyakit yang baik (69,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit (p&lt;0,001). Promosi kesehatan berbasis digital berpengaruh positif terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Pemanfaatan media digital yang inovatif dan interaktif perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas promosi kesehatan.</p> Rita Rena Pudyastuti Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Rita Rena Pudyastuti, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 113 120 10.59585/bajik.v5i1.1399 Efektivitas Metode Diskusi Kelompok Dalam Meningkatkan Pemahaman Dan Perilaku Seksual Sehat Remaja https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1398 <p>Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat cepat. Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak direncanakan, infeksi menular seksual (IMS), serta perilaku seksual berisiko. Salah satu metode pendidikan kesehatan yang dinilai efektif adalah metode diskusi kelompok karena memberikan kesempatan kepada remaja untuk bertukar pengalaman, menyampaikan pendapat, dan memperoleh informasi secara aktif. Menganalisis efektivitas metode diskusi kelompok dalam meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui empat sesi diskusi kelompok mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku seksual sehat, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>paired t-test</em> dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Rata-rata skor pemahaman remaja meningkat dari 61,42 ± 8,73 sebelum intervensi menjadi 82,75 ± 6,54 setelah intervensi. Rata-rata skor perilaku seksual sehat meningkat dari 64,18 ± 7,95 menjadi 80,63 ± 6,88. Hasil uji <em>paired t-test</em> menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah pemberian metode diskusi kelompok. Metode diskusi kelompok efektif meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Metode ini dapat dijadikan salah satu strategi pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah maupun di masyarakat.</p> Raissa Patrisia Djunaedi Djunaedi Copyright (c) 2026 Raissa Patrisia, Djunaedi Djunaedi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-02 2026-08-02 5 1 105 112 10.59585/bajik.v5i1.1398 Peran Keselamatan Pasien Sebagai Pilar Utama Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Analitik https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1397 <p>Keselamatan pasien (<em>patient safety</em>) merupakan komponen fundamental dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Penerapan budaya keselamatan pasien bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien, mengurangi risiko cedera, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Berbagai faktor seperti komunikasi efektif, kepatuhan terhadap identifikasi pasien, pelaporan insiden, kepemimpinan, dan kerja sama tim berkontribusi terhadap keberhasilan implementasi keselamatan pasien. Menganalisis peran keselamatan pasien sebagai pilar utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 150 tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit, dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki penerapan keselamatan pasien yang baik (72,7%) dan menilai mutu pelayanan kesehatan dalam kategori baik (76,0%). Analisis menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien (p=0,001), komunikasi efektif (p=0,003), kepatuhan identifikasi pasien (p=0,002), pelaporan insiden keselamatan pasien (p=0,011), dan kerja sama tim (p=0,004) berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Keselamatan pasien memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penguatan budaya keselamatan pasien, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien diperlukan untuk mendukung pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien.</p> Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 98 104 10.59585/bajik.v5i1.1397 Studi Kualitatif Implementasi Biosafety Dan Biosecurity Pada Laboratorium Mikrobiologi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1396 <p>Laboratorium mikrobiologi memiliki peran penting dalam diagnosis penyakit, penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Aktivitas laboratorium melibatkan berbagai agen biologis yang berpotensi menimbulkan risiko infeksi bagi petugas, masyarakat, maupun lingkungan apabila tidak dikelola sesuai prinsip biosafety dan biosecurity. Biosafety bertujuan melindungi petugas laboratorium, masyarakat, dan lingkungan dari paparan agen biologis melalui penerapan praktik laboratorium yang aman, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengendalian teknik, serta prosedur operasional standar. Sementara itu, biosecurity bertujuan mencegah kehilangan, pencurian, penyalahgunaan, atau pelepasan agen biologis yang dapat membahayakan keamanan publik. Keberhasilan implementasi kedua prinsip tersebut dipengaruhi oleh kebijakan institusi, kompetensi sumber daya manusia, ketersediaan sarana prasarana, budaya keselamatan kerja, dan sistem pengawasan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menggambarkan upaya peningkatan budaya keselamatan laboratorium. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala laboratorium, analis laboratorium, dosen atau peneliti, serta petugas penjamin mutu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap aktivitas laboratorium, dan telaah dokumen berupa SOP, kebijakan, serta catatan pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan <em>member checking</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi biosafety telah berjalan melalui penggunaan APD, penerapan SOP, pengelolaan limbah infeksius, serta pelatihan keselamatan kerja secara berkala. Namun, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain kepatuhan penggunaan APD yang belum konsisten, keterbatasan fasilitas tertentu, dan belum optimalnya dokumentasi evaluasi risiko. Implementasi biosecurity telah diterapkan melalui pembatasan akses laboratorium, pencatatan penggunaan bahan biologis, dan pengamanan ruang penyimpanan, meskipun masih diperlukan penguatan sistem pengawasan serta peningkatan kesadaran seluruh personel laboratorium. Implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi telah dilaksanakan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek budaya keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur, peningkatan kompetensi petugas, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.</p> Rizky Rahadian Wicaksono Muhammad Hanif Copyright (c) 2026 Rizky Rahadian Wicaksono, Muhammad Hanif https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 89 97 10.59585/bajik.v5i1.1396 Pengaruh Iklan Rokok Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1395 <p>Perilaku merokok pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular di masa dewasa. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku merokok remaja adalah paparan iklan rokok melalui televisi, media sosial, internet, sponsor kegiatan, maupun media luar ruang. Iklan rokok umumnya menampilkan citra maskulinitas, kebebasan, petualangan, dan keberhasilan yang dapat memengaruhi persepsi serta mendorong remaja untuk mencoba merokok. Menganalisis pengaruh paparan iklan rokok terhadap perilaku merokok pada remaja. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 remaja berusia 15–19 tahun dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan iklan rokok dan perilaku merokok. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebanyak 61,1% responden memiliki tingkat paparan iklan rokok yang tinggi, sedangkan 38,9% memiliki paparan rendah. Remaja yang memiliki perilaku merokok sebanyak 42,8%. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan iklan rokok dengan perilaku merokok pada remaja (p = 0,001). Paparan iklan rokok berpengaruh terhadap perilaku merokok pada remaja. Semakin tinggi paparan iklan rokok, semakin besar kecenderungan remaja untuk mencoba dan mempertahankan kebiasaan merokok. Penguatan regulasi iklan rokok dan edukasi kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah perilaku merokok pada remaja.</p> Rosmiati Rosmiati Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Rosmiati Rosmiati, Rahmat Pannyiwi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 82 88 10.59585/bajik.v5i1.1395 Dampak Paparan Asap Rokok Terhadap Kesehatan Perokok Pasif Dalam Keluarga https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1394 <p>aparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular. Perokok pasif adalah individu yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Dalam lingkungan keluarga, paparan asap rokok sering terjadi di dalam rumah sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada pasangan, anak, dan anggota keluarga lainnya. Paparan asap rokok terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan, penyakit kardiovaskular, kanker paru, serta gangguan kesehatan pada ibu hamil dan anak. Menganalisis dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan perokok pasif dalam keluarga. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 150 anggota keluarga nonperokok yang tinggal serumah dengan perokok aktif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Sebanyak 60,7% responden terpapar asap rokok setiap hari. Gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah batuk kronis (35,3%), infeksi saluran pernapasan akut (28,7%), sesak napas (18,0%), dan kekambuhan asma (12,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan asap rokok di dalam rumah dengan kejadian gangguan kesehatan pada perokok pasif (p = 0,001).Paparan asap rokok dalam lingkungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan pada perokok pasif. Penerapan rumah bebas asap rokok serta edukasi mengenai bahaya asap rokok perlu ditingkatkan untuk melindungi seluruh anggota keluarga</p> Faharuddin Faharuddin Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Faharuddin Faharuddin, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 75 81 10.59585/bajik.v5i1.1394 Hubungan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Dengan Perilaku Pencegahan Risiko Seksual Pada Siswa Sekolah Menengah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1393 <p>Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa pubertas. Kurangnya pemahaman mengenai seksualitas dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, infeksi menular seksual (IMS), kehamilan yang tidak direncanakan, serta penyalahgunaan media digital. Pendidikan seksualitas komprehensif merupakan salah satu pendekatan pendidikan kesehatan yang bertujuan memberikan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta meningkatkan keterampilan remaja dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi. Namun, penerapan pendidikan seksualitas di lingkungan sekolah masih belum optimal sehingga diperlukan penelitian mengenai hubungannya dengan perilaku pencegahan risiko seksual. Menganalisis hubungan pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 200 siswa dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pendidikan seksualitas komprehensif dan perilaku pencegahan risiko seksual. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual (p = 0,001). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pendidikan seksualitas komprehensif yang baik memiliki peluang 4,13 kali lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan risiko seksual yang baik (OR = 4,13; 95% CI = 2,08–8,19; p = 0,001). Pendidikan seksualitas komprehensif berhubungan secara signifikan dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penguatan program pendidikan seksualitas di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga.</p> Iin Fadhilah Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Iin Fadhilah, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 65 74 10.59585/bajik.v5i1.1393 Pengaruh Pursed Lip Breathing Terhadap Frekuensi Pernapasan Pada Pasien PPOK https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1392 <p>Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan progresif. Salah satu gejala utama PPOK adalah sesak napas yang menyebabkan peningkatan frekuensi pernapasan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Teknik <em>Pursed Lip Breathing</em> (PLB) merupakan latihan pernapasan sederhana yang bertujuan memperlambat ekspirasi, mengurangi <em>air trapping</em>, meningkatkan ventilasi alveoli, serta menurunkan kerja otot pernapasan. Menganalisis pengaruh <em>Pursed Lip Breathing</em> terhadap frekuensi pernapasan pada pasien PPOK. Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sebanyak 30 pasien PPOK dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa latihan <em>Pursed Lip Breathing</em> selama 10–15 menit sebanyak dua kali sehari selama lima hari. Frekuensi pernapasan diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi adalah 28,13 ± 3,42 kali/menit dan menurun menjadi 22,47 ± 2,85 kali/menit setelah intervensi. Hasil uji Paired <em>t-test</em> menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan <em>Pursed Lip Breathing</em> terhadap penurunan frekuensi pernapasan (p&lt;0,001). <em>Pursed Lip Breathing</em> efektif menurunkan frekuensi pernapasan pada pasien PPOK sehingga dapat dijadikan sebagai terapi nonfarmakologis dalam membantu mengurangi sesak napas</p> Sofyan Sofyan Rosida Rosida Copyright (c) 2026 Sofyan Sofyan, Rosida Rosida https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 58 64 10.59585/bajik.v5i1.1392 Penerapan Konsep Evidence-Based Midwifery Dalam Pengambilan Keputusan Klinis Bidan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1391 <p><em>Evidence-Based Midwifery</em> (EBM) merupakan pendekatan praktik kebidanan yang mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, kompetensi klinis bidan, serta nilai dan preferensi perempuan dalam pengambilan keputusan klinis. Penerapan EBM menjadi komponen penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, keselamatan ibu dan bayi, serta efektivitas intervensi klinis. Meskipun demikian, implementasi EBM di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses terhadap bukti ilmiah, rendahnya kemampuan telaah kritis, serta keterbatasan dukungan institusi.</p> <p>Mengkaji penerapan konsep <em>Evidence-Based Midwifery</em> dalam pengambilan keputusan klinis bidan berdasarkan bukti ilmiah terkini. Artikel ini menggunakan metode<em> Narrative Literature Review.</em> Literatur diperoleh melalui penelusuran pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, Wiley Online Library, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang dipilih merupakan publikasi tahun 2020–2025, tersedia dalam teks lengkap, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta membahas penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> dalam praktik kebidanan. Data dianalisis secara deskriptif melalui proses sintesis naratif berdasarkan tema-tema utama. Kajian menunjukkan bahwa penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis, mengurangi variasi praktik yang tidak didukung bukti, meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, serta memperkuat pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (<em>woman-centred care</em>). Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi bidan, akses terhadap literatur ilmiah, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan organisasi. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya, rendahnya kemampuan appraisal artikel ilmiah, dan budaya kerja menjadi hambatan utama. Penerapan <em>Evidence-Based Midwifery</em> merupakan strategi penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan. Penguatan kompetensi bidan, peningkatan akses terhadap bukti ilmiah, serta dukungan kebijakan institusi diperlukan agar pengambilan keputusan klinis berbasis bukti dapat diterapkan secara optimal.</p> Lumastari Ajeng Wijayanti Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 49 57 10.59585/bajik.v5i1.1391 Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Kesehatan Dan Produktivitas Belajar Anak https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1389 <p>Masalah gizi pada anak usia sekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, gangguan perkembangan kognitif, serta menurunkan kemampuan belajar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik melalui penyediaan makanan bergizi seimbang di sekolah. Program ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan anak, tetapi juga meningkatkan konsentrasi, kehadiran, dan produktivitas belajar. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap status kesehatan dan produktivitas belajar anak berdasarkan hasil penelitian dan publikasi ilmiah terkini. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Literatur diperoleh melalui penelusuran pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 serta membahas program pemberian makan di sekolah, status gizi, kesehatan anak, perkembangan kognitif, dan prestasi belajar dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah berkontribusi terhadap peningkatan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral; perbaikan status gizi; penurunan risiko anemia; peningkatan daya tahan tubuh; serta penurunan angka ketidakhadiran akibat sakit. Selain itu, program tersebut berhubungan dengan peningkatan konsentrasi, fungsi kognitif, motivasi belajar, partisipasi di kelas, dan prestasi akademik. Keberhasilan program dipengaruhi oleh kualitas menu, keamanan pangan, keteraturan pelaksanaan, kecukupan pendanaan, serta keterlibatan keluarga dan sekolah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan dan produktivitas belajar anak apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, memenuhi prinsip gizi seimbang, serta didukung oleh pemantauan dan evaluasi yang sistematis.</p> Sri Sukmawaty Syahrir Kasmiati Kasmiati Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Sri Sukmawaty Syahrir, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 41 48 10.59585/bajik.v5i1.1389 Kajian Konsep Continuity Of Care Dalam Asuhan Kebidanan Berkelanjutan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1388 <p>Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memerlukan pelayanan kebidanan yang berkualitas, komprehensif, dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang telah banyak diterapkan dalam pelayanan maternal adalah <em>Continuity of Care</em> (CoC), yaitu model pelayanan yang menjamin kesinambungan asuhan sejak masa prakonsepsi atau kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini menempatkan bidan sebagai pemberi asuhan utama yang membangun hubungan terapeutik secara berkelanjutan dengan perempuan dan keluarganya. Mengkaji konsep <em>Continuity of Care</em> dalam asuhan kebidanan berkelanjutan berdasarkan perkembangan teori, prinsip, komponen, manfaat, serta implementasinya dalam praktik pelayanan kebidanan. Artikel ini merupakan kajian konseptual (<em>conceptual review</em>) yang disusun melalui telaah literatur dari buku teks, pedoman organisasi kesehatan, serta artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai <em>Continuity of Care</em> dalam pelayanan kebidanan. Literatur dipilih berdasarkan relevansi terhadap konsep pelayanan kebidanan berkelanjutan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kajian menunjukkan bahwa <em>Continuity of Care</em> merupakan model pelayanan yang menekankan kesinambungan hubungan antara bidan dan perempuan sepanjang siklus reproduksi. Implementasi CoC meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat deteksi dini komplikasi, meningkatkan kepuasan ibu, mengurangi intervensi yang tidak diperlukan, serta berkontribusi terhadap perbaikan luaran maternal dan neonatal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kompetensi bidan, sistem rujukan, kolaborasi antarprofesi, dukungan kebijakan, dan keterlibatan keluarga. <em>Continuity of Care</em> merupakan konsep fundamental dalam praktik kebidanan modern yang mendukung pelayanan komprehensif, berpusat pada perempuan (<em>woman-centered care</em>), dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Implementasi yang optimal memerlukan dukungan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kebijakan yang mendukung kesinambungan pelayanan.</p> Kiki Uniatri Thalib Cakrawati R Cakrawati R Copyright (c) 2026 Kiki Uniatri Thalib, Cakrawati R Cakrawati R https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 32 40 10.59585/bajik.v5i1.1388 Model Prediksi Risiko Penyakit Kronis Berdasarkan Faktor Epidemiologis Dan Perilaku Kesehatan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1382 <p>Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronik merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan prevalensi penyakit kronis dipengaruhi oleh berbagai faktor epidemiologis, seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit keluarga, serta perilaku kesehatan yang meliputi kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, konsumsi garam, konsumsi gula, dan konsumsi alkohol. Identifikasi faktor-faktor tersebut melalui model prediksi risiko sangat penting untuk mendukung deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit kronis di masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan yang berhubungan dengan kejadian penyakit kronis serta menyusun model prediksi risiko penyakit kronis pada masyarakat.Penelitian menggunakan desain <strong>kuantitatif analitik</strong> dengan pendekatan <strong>cross-sectional</strong>. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian sebanyak <strong>250 responden</strong> dipilih menggunakan teknik <strong>multistage random sampling</strong>. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, pengukuran antropometri, pemeriksaan tekanan darah, serta pengukuran kadar gula darah sewaktu. Analisis data meliputi analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda untuk membentuk model prediksi risiko penyakit kronis. Kinerja model dievaluasi menggunakan uji Hosmer–Lemeshow dan kurva ROC.Berdasarkan data simulasi, usia ≥45 tahun, obesitas, riwayat penyakit kronis dalam keluarga, aktivitas fisik rendah, konsumsi garam tinggi, dan kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit kronis (p&lt;0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa usia ≥45 tahun (OR=4,32), obesitas (OR=3,41), riwayat keluarga (OR=2,95), dan aktivitas fisik rendah (OR=2,63) merupakan prediktor dominan. Model prediksi memiliki nilai <strong>Area Under Curve (AUC) sebesar 0,87</strong>, yang menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik.Faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan berpengaruh terhadap risiko penyakit kronis. Model prediksi yang dikembangkan memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi individu berisiko tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar skrining dan intervensi promotif-preventif di pelayanan kesehatan primer</p> Nurril Cholifatul Izza Akbar Akbar Rezqiqah Aulia Rahmat Copyright (c) 2026 Nurril Cholifatul Izza, Rezqiqah Aulia Rahmat https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 22 31 10.59585/bajik.v5i1.1382 Hubungan Lama Berdiri Dengan Keluhan Nyeri Dan Pembengkakan Pada Ekstremitas Bawah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1380 <p>Berdiri dalam waktu yang lama merupakan salah satu faktor risiko gangguan muskuloskeletal dan gangguan sirkulasi pada ekstremitas bawah. Pekerja yang melakukan aktivitas berdiri secara terus-menerus, seperti perawat, kasir, guru, pekerja industri, dan tenaga pelayanan, berisiko mengalami nyeri serta pembengkakan pada tungkai akibat meningkatnya tekanan vena, berkurangnya aliran balik vena, dan kelelahan otot. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa upaya pencegahan, maka dapat menurunkan produktivitas kerja, meningkatkan angka absensi, serta memengaruhi kualitas hidup pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama berdiri dengan keluhan nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di salah satu perusahaan/instansi di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, pengukuran lama berdiri selama bekerja, Numeric Rating Scale (NRS) untuk menilai intensitas nyeri, serta lembar observasi pembengkakan ekstremitas bawah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat signifikansi 95%. Berdasarkan data simulasi, sebanyak 68 responden (56,7%) memiliki durasi berdiri ≥6 jam per hari. Keluhan nyeri ekstremitas bawah ditemukan pada 74 responden (61,7%), sedangkan pembengkakan ekstremitas bawah dialami oleh 52 responden (43,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama berdiri dengan keluhan nyeri (p = 0,001) serta pembengkakan ekstremitas bawah (p = 0,003). Lama berdiri berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya kejadian nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Pengaturan waktu istirahat, peregangan otot, penggunaan alas kaki yang ergonomis, dan penerapan prinsip ergonomi kerja perlu dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pada ekstremitas bawah.</p> Viyan Septiyana Achmad Marwono Marwono Rahmat Pannyiwi Copyright (c) 2026 Viyan Septiyana Achmad https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 14 21 10.59585/bajik.v5i1.1380 Risk Factors for Pulmonary Tuberculosis Occurrence Among Active Smokers in the Working Area of Poasia Community Health Center https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1379 <p><em>Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban tuberkulosis dengan kontribusi 10 persen dari total kasus global pada tahun 2024. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kecamatan Poasia di Kota Kendari, mencatat angka kejadian tuberkulosis yang tinggi. Merokok merupakan faktor risiko penting bagi kejadian tuberkulosis paru, namun studi epidemiologis di wilayah tersebut masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian tuberkulosis paru pada perokok aktif di wilayah kerja Puskesmas Poasia. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan sampel perokok aktif berusia minimal 18 tahun. Variabel yang dikaji meliputi umur, tingkat pendidikan, lama merokok, jumlah konsumsi rokok per hari, indeks Brinkman, karboksihemoglobin, riwayat kontak, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan status gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan pemeriksaan laboratorium bakteriologi tahan asam serta karboksihemoglobin. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk menentukan faktor risiko independen. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok berat dengan konsumsi lebih dari 10 batang per hari memiliki risiko 4,27 kali lebih tinggi (OR=4,27; 95% CI: 2,31-7,89; p&lt;0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Kadar karboksihemoglobin tinggi (OR=3,15; p&lt;0,001), riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis (OR=3,88; p=0,001), ventilasi rumah yang buruk (OR=2,97; p=0,001), status gizi kurang (OR=2,99; p&lt;0,001), dan kepadatan hunian yang tinggi (OR=2,95; p&lt;0,001) juga berhubungan signifikan dengan kejadian tuberkulosis paru. Perilaku merokok merupakan faktor risiko independen paling dominan terhadap kejadian tuberkulosis paru (AOR=3,95; 95% CI: 2,11-7,42; p=0,001), diikuti oleh kadar karboksihemoglobin tinggi (AOR=2,87; 95% CI: 1,52-5,41; p=0,001). Disarankan dilakukan skrining tuberkulosis ekstensif bagi perokok, program penghentian merokok terintegrasi, serta peningkatan ventilasi dan pengurangan kepadatan hunian di wilayah Poasia</em></p> <p>&nbsp;</p> Sari Arie Lestari B Mohamad Guntur Nangi Apriyanti Apriyanti Copyright (c) 2026 Sari Arie Lestari B, Mohamad Guntur Nangi, Apriyanti Apriyanti https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-08-01 2026-08-01 5 1 1 13 10.59585/bajik.v5i1.1379