Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko
<p><strong>Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan</strong> Merupakan Jurnal yang memuat tentang publikasi penelitian yang relevan dengan bidang ilmu kesehatan yang meliputi keperawatan, kebidanan, fisioterapi, akupuntur, jamu (herbal), okupasi terapi, ortotik prostetik, terapi wicara, kesehatan masyarakat, kedokteran, pendidikan kesehatan dll. Artikel penelitian, literature review dan komentar diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ini.</p>Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesiaen-USBarongko: Jurnal Ilmu Kesehatan2964-0849Akses Dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Pada Masyarakat Pesisir: Studi Kesehatan Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1189
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Coastal communities are vulnerable to health problems due to limited access and socioeconomic conditions. Access to and utilization of health services are important factors in determining the level of public health. This study aims to analyze the factors influencing access to and utilization of health services in coastal communities. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 130 respondents was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using logistic regression. The results indicate that distance to health facilities, income, education level, and perceptions of health services significantly influence health service utilization (p < 0.05). Distance to facilities and perceptions of service quality were the dominant factors. In conclusion, improving physical access and the quality of health services is essential to increase service utilization by coastal communities.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Coastal Communities, Health Access, Service Utilization, Public Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masyarakat pesisir merupakan kelompok yang memiliki kerentanan terhadap masalah kesehatan akibat keterbatasan akses dan kondisi sosial ekonomi. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada masyarakat pesisir. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 130 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor jarak fasilitas kesehatan, pendapatan, tingkat pendidikan, dan persepsi terhadap pelayanan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan (p < 0,05). Jarak fasilitas dan persepsi kualitas pelayanan menjadi faktor dominan. Kesimpulannya, peningkatan akses fisik dan kualitas pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan oleh masyarakat pesisir.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Masyarakat Pesisir, Akses Kesehatan, Pemanfaatan Layanan, Kesehatan Masyarakat</p> <p> </p>Rusdin WallyRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Rusdin Wally, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-044310001008Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1090
<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Vaginal discharge is a common reproductive health issue among adolescent girls. It can be caused by physiological or pathological factors. This study aims to analyze factors influencing vaginal discharge among adolescent girls. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that personal hygiene, type of underwear, and knowledge level were significantly associated with vaginal discharge (p<0.05). It is concluded that behavioral and hygiene factors play an important role in vaginal discharge among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Vaginal Discharge, Adolescents, Hygiene, Reproductive Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisiologis maupun patologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian keputihan pada remaja putri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa kebersihan organ reproduksi, penggunaan pakaian dalam, dan tingkat pengetahuan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian keputihan (p<0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan kebersihan diri berperan penting dalam kejadian keputihan pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Keputihan, Remaja Putri, Kebersihan, Kesehatan Reproduksi</p>Lumastari Ajeng Wijayanti
Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-092026-04-094310581067Hubungan Usia Ibu Dengan Risiko Kehamilan Risiko Tinggi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1230
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High-risk pregnancy is a condition that increases the likelihood of complications during pregnancy, childbirth, and postpartum. Maternal age is one of the influencing factors. This study aims to analyze the relationship between maternal age and high-risk pregnancy. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 pregnant women. Data were collected through questionnaires and medical records and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that mothers aged <20 years and >35 years had a higher risk of high-risk pregnancy compared to those aged 20–35 years (p<0.05). It is concluded that maternal age is significantly associated with high-risk pregnancy.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Age, High-Risk Pregnancy, Maternal Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan risiko tinggi merupakan kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah usia ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia ibu dengan risiko kehamilan risiko tinggi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden ibu hamil. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan usia <20 tahun dan >35 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehamilan risiko tinggi dibandingkan usia 20–35 tahun (p<0,05). Disimpulkan bahwa usia ibu memiliki hubungan signifikan dengan risiko kehamilan risiko tinggi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Usia Ibu, Kehamilan Risiko Tinggi, Kesehatan Maternal</p>Ana Sapitri
Copyright (c) 2026 Ana Sapitri
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-182026-04-184310871096Analisis Cemaran Logam Berat pada Produk Herbal Tradisional
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1187
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Traditional herbal products are widely used by the public as alternative treatments because they are considered safer and more natural. However, several studies have shown that herbal products can be contaminated with heavy metals, potentially endangering human health. This study aims to analyze heavy metal contamination in traditional herbal products on the market.</p> <p>This study used a descriptive analytical method with a laboratory test approach on several traditional herbal product samples. Heavy metal analysis was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) after the sample digestion process. The heavy metals analyzed included lead (Pb), cadmium (Cd), mercury (Hg), and arsenic (As).</p> <p>The results showed that several traditional herbal product samples contained varying amounts of heavy metals. Most samples were below the maximum limits set by food safety standards, but some samples showed heavy metal levels approaching the maximum permissible limits.</p> <p>The study's conclusions indicate that monitoring the quality of traditional herbal products is crucial to ensure safe consumption.</p> <p><strong>Keywords: </strong>Heavy Metals, Herbal Products, Lead, Cadmium, Food Safety</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Produk herbal tradisional banyak digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan karena dianggap lebih aman dan alami. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa produk herbal dapat terkontaminasi oleh logam berat yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran logam berat pada produk herbal tradisional yang beredar di pasaran.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode <strong>deskriptif analitik</strong> dengan pendekatan <strong>uji laboratorium</strong> terhadap beberapa sampel produk herbal tradisional. Analisis logam berat dilakukan menggunakan metode <strong>Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)</strong> setelah proses destruksi sampel. Logam berat yang dianalisis meliputi timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sampel produk herbal tradisional mengandung logam berat dalam jumlah yang berbeda-beda. Sebagian besar sampel masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh standar keamanan pangan, namun beberapa sampel menunjukkan kadar logam berat yang mendekati batas maksimum yang diizinkan.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengawasan terhadap kualitas produk herbal tradisional sangat penting untuk menjamin keamanan konsumsi masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Logam Berat, Produk Herbal, Timbal, Kadmium, Keamanan Pangan</p>Safridha Kemala PutriRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Safridha Kemala Putri, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-0443982990Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Kesehatan Maternal Di Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1225
<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Maternal health is an important indicator of public health status. Family support plays a significant role in improving maternal health during pregnancy, childbirth, and postpartum periods. This study aims to analyze the effect of family support on maternal health quality in the community. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 pregnant and postpartum women. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that mothers with strong family support had significantly better maternal health outcomes (p<0.05). It is concluded that family support significantly influences maternal health quality.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Family Support, Maternal Health, Pregnancy, Health Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan maternal merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Dukungan keluarga memiliki peran signifikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan keluarga terhadap kualitas kesehatan maternal di masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden ibu hamil dan nifas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan keluarga baik memiliki kualitas kesehatan maternal lebih tinggi (p<0,05). Disimpulkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesehatan maternal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Dukungan Keluarga, Kesehatan Maternal, Ibu Hamil, Kualitas Kesehatan</p>Ardiana Priharwanti
Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-102026-04-104310681077Efektivitas Teknik Perawatan Luka Steril terhadap Pencegahan Infeksi Luka Operasi pada Pasien Post Operasi
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1185
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Surgical site infections are a common complication in patients after surgery. These infections can prolong hospitalization, increase medical costs, and worsen the patient's condition. One way to prevent surgical site infections is through the application of sterile wound care techniques in accordance with standard operating procedures. This study aims to analyze the effectiveness of sterile wound care techniques in preventing surgical site infections in postoperative patients. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 50 postoperative patients treated in the operating room. Data were collected through observation of surgical site conditions and patient medical records. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that patients who received wound care using sterile techniques had a lower incidence of surgical site infections compared to patients who received less optimal wound care techniques. The statistical test showed a p-value of 0.021 (p < 0.05). It was concluded that sterile wound care techniques are effective in preventing surgical site infections in postoperative patients.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Sterile Wound Care, Surgical Site Infection, Postoperative Patients</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infeksi luka operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien setelah menjalani tindakan pembedahan. Infeksi ini dapat memperpanjang masa perawatan, meningkatkan biaya pengobatan, serta memperburuk kondisi pasien. Salah satu upaya pencegahan infeksi luka operasi adalah melalui penerapan teknik perawatan luka steril yang sesuai dengan standar prosedur operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik perawatan luka steril terhadap pencegahan infeksi luka operasi pada pasien post operasi. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 50 pasien post operasi yang dirawat di ruang bedah. Data dikumpulkan melalui observasi kondisi luka operasi dan pencatatan rekam medis pasien. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan perawatan luka dengan teknik steril memiliki kejadian infeksi luka operasi yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan teknik perawatan yang kurang optimal. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,021 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa teknik perawatan luka steril efektif dalam mencegah infeksi luka operasi pada pasien post operasi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Perawatan Luka Steril, Infeksi Luka Operasi, Pasien Post Operasi</p>NurlaelahAbdul Rivai Saleh DunggioFebri SriyantiRahmat PannyiwiRahayu Setyaningsih
Copyright (c) 2026 Nurlaelah, Abdul Rivai Saleh Dunggio, Febri Sriyanti, Rahmat Pannyiwi, Rahayu Setyaningsih
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-0443967973Komunikasi Terapeutik Sebagai Strategi Peningkatan Patient-Centered Care Dalam Keperawatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1198
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Therapeutic communication is a core competency in nursing practice that plays a crucial role in improving the quality of patient-centered care. This approach emphasizes active patient involvement in the care process and a collaborative relationship between nurses and patients. This study aims to analyze the influence of therapeutic communication on improving patient-centered care in nursing practice. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 100 inpatients was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The results showed that therapeutic communication significantly influenced patient-centered care (β = 0.52; p < 0.001). In conclusion, effective therapeutic communication can improve patient satisfaction, patient engagement, and the quality of nursing services.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Patient-Centered Care, Nursing, Patient Satisfaction</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi terapeutik merupakan salah satu kompetensi utama dalam praktik keperawatan yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan berbasis <em>patient-centered care</em>. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif pasien dalam proses perawatan serta hubungan yang kolaboratif antara perawat dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap peningkatan <em>patient-centered care</em> dalam praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 pasien rawat inap dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap <em>patient-centered care</em> (β = 0,52; p < 0,001). Kesimpulannya, komunikasi terapeutik yang efektif mampu meningkatkan kepuasan pasien, keterlibatan pasien, serta kualitas pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Patient-Centered Care, Keperawatan, Kepuasan Pasien</p>Suratno KalukuCut Mutia Tatisina
Copyright (c) 2026 Suratno Kaluku, Cut Mutia Tatisina
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-044310301038Analisis Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1183
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hypertension is a chronic disease with a high prevalence in the community and often requires long-term therapy. Inappropriate use of antihypertensive medications can lead to Drug-Related Problems (DRPs), which can potentially reduce the effectiveness of therapy and increase the risk of side effects in patients. This study aims to analyze the incidence of DRPs in hypertensive patients in outpatient settings.</p> <p>This study used a descriptive, observational method with a retrospective approach through a review of the medical records of hypertensive patients in outpatient settings. Data collected included patient characteristics, the type of antihypertensive medication used, and the incidence of DRPs, including inappropriate medication selection, inappropriate dosage, drug interactions, and side effects.</p> <p>The results showed that several DRPs were still found in hypertensive patients, including inappropriate medication dosages, potential drug interactions, and inappropriate medication use based on the patient's clinical condition. These DRPs have the potential to impact the success of hypertension therapy.</p> <p>The conclusion of this study indicates that DRPs still occur in hypertensive patients in outpatient settings. Therefore, the role of healthcare professionals, particularly pharmacists, in monitoring drug therapy is needed to improve the safety and effectiveness of patient treatment.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Hypertension, Drug-Related Problems, Antihypertensive, Outpatient</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat dan sering memerlukan terapi jangka panjang. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya <em>Drug Related Problems</em> (DRPs) yang berpotensi menurunkan efektivitas terapi serta meningkatkan risiko efek samping pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian DRPs pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif melalui penelaahan rekam medis pasien hipertensi di instalasi rawat jalan. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, jenis obat antihipertensi yang digunakan, serta kejadian DRPs yang meliputi pemilihan obat yang tidak tepat, dosis yang tidak sesuai, interaksi obat, dan efek samping obat.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan beberapa kejadian DRPs pada pasien hipertensi, di antaranya dosis obat yang tidak sesuai, potensi interaksi obat, serta penggunaan obat yang tidak tepat berdasarkan kondisi klinis pasien. Kejadian DRPs tersebut berpotensi mempengaruhi keberhasilan terapi hipertensi.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa DRPs masih terjadi pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan, sehingga diperlukan peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, dalam melakukan pemantauan terapi obat untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas pengobatan pasien.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Hipertensi, Drug Related Problems, Antihipertensi, Rawat Jalan</p>Sara SuryaRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Sara Surya, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-032026-04-0343956966Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Masyarakat
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1233
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Tuberculosis (TB) remains a major public health problem worldwide, including in Indonesia. Environmental factors play a crucial role in the transmission of TB, particularly poor housing conditions that do not meet health standards. This study aimed to analyze the relationship between environmental factors and the incidence of tuberculosis in the community.</p> <p>This study used an analytic design with a <strong>cross-sectional approach</strong>. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling technique. Data were collected through environmental observation and structured questionnaires. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with chi-square test at a 95% confidence level.</p> <p>The results showed that there were significant relationships between ventilation (p=0.001), occupancy density (p=0.002), lighting (p=0.003), and floor condition (p=0.005) with the incidence of tuberculosis. Respondents living in houses with poor ventilation and high occupancy density had a higher risk of developing TB compared to those living in healthier environments.</p> <p>In conclusion, environmental factors are significantly associated with the incidence of tuberculosis. Environmental improvement and health education are strongly recommended to reduce TB cases in the community.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Tuberculosis, Environment, Ventilation, Occupancy Density</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, termasuk di Indonesia. Faktor lingkungan berperan penting dalam proses penularan TB, terutama kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan kejadian tuberkulosis di masyarakat.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan <strong>cross-sectional</strong>. Sampel penelitian sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kondisi lingkungan rumah dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah (p=0,001), kepadatan hunian (p=0,002), pencahayaan (p=0,003), dan kondisi lantai rumah (p=0,005) dengan kejadian tuberkulosis. Responden yang tinggal di lingkungan dengan ventilasi buruk dan kepadatan tinggi memiliki risiko lebih besar terkena TB dibandingkan dengan yang tinggal di lingkungan sehat.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah faktor lingkungan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian tuberkulosis. Upaya perbaikan lingkungan dan peningkatan edukasi kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian TB di masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Tuberkulosis, Lingkungan, Ventilasi, Kepadatan Hunian</p>Zuriani Rizki
Copyright (c) 2026 Zuriani Rizki
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-202026-04-204311131123Pengaruh Metode Kangaroo Mother Care (KMC) Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1190
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Low Birth Weight (LBW) is one of the leading causes of neonatal morbidity and mortality. Kangaroo Mother Care (KMC) is a non-pharmacological intervention that is effective in improving the physiological condition of infants, including weight gain. This study aims to analyze the effect of the KMC method on weight gain in LBW infants.</p> <p>This study employed a quantitative design with a quasi-experimental approach (pretest-posttest with control group). A total of 60 LBW infants were divided into two groups: the intervention group (KMC) and the control group. Data were analyzed using a t-test.</p> <p>The results showed a significant increase in body weight in the KMC group compared to the control group (p < 0.001). In conclusion, the KMC method is effective in increasing the weight of LBW infants and is recommended as part of neonatal care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Kangaroo Mother Care, Low Birth Weight, Infant Weight, Neonatal</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal. Metode Kangaroo Mother Care (KMC) merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif dalam meningkatkan kondisi fisiologis bayi, termasuk peningkatan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode KMC terhadap peningkatan berat badan bayi BBLR. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental (pretest-posttest with control group). Sampel sebanyak 60 bayi BBLR dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (KMC) dan kelompok kontrol. Data dianalisis menggunakan uji t. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan berat badan yang signifikan pada kelompok KMC dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Kesimpulannya, metode KMC efektif dalam meningkatkan berat badan bayi BBLR dan direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan neonatal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> KMC, BBLR, Berat Badan Bayi, Neonatal</p>Siti Badria AsikinRezqiqah Aulia Rahmat
Copyright (c) 2026 Siti Badria Asikin, Rezqiqah Aulia Rahmat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-044310091019Hubungan Komunikasi Perawat dengan Persepsi Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1181
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Effective communication between nurses and patients is a crucial factor in improving the quality of nursing care. Good communication can help build a therapeutic relationship, increase patient trust, and influence patient perceptions of the care provided. This study aimed to determine the relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care. The study used an analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 80 inpatients selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire on nurse communication and patient perceptions of nursing care. Data analysis used a chi-square test. The results showed that patients who rated nurse communication as good tended to have positive perceptions of nursing care (75%). The statistical test showed a p-value of 0.012 (p < 0.05). It was concluded that there is a significant relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Nurse Communication, Patient Perception, Nursing Care, Service Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Komunikasi yang baik dapat membantu membangun hubungan terapeutik, meningkatkan kepercayaan pasien, serta memengaruhi persepsi pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner komunikasi perawat dan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menilai komunikasi perawat baik cenderung memiliki persepsi positif terhadap pelayanan keperawatan sebesar 75%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,012 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Perawat, Persepsi Pasien, Pelayanan Keperawatan, Kualitas Pelayanan</p>Syaiful BachriDjunaedi
Copyright (c) 2026 Syaiful Bachri, Djunaedi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-032026-04-0343940946Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Postpartum
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1231
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Breast engorgement is a common condition among postpartum mothers characterized by breast swelling due to milk accumulation. This condition can cause pain and interfere with breastfeeding. This study aims to analyze factors influencing breast engorgement among postpartum mothers. A quantitative cross-sectional design was used involving 110 postpartum mothers. Variables included breastfeeding frequency, technique, family support, and maternal knowledge. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that improper breastfeeding technique (OR=3.9), low breastfeeding frequency (OR=3.5), and lack of knowledge (OR=2.8) significantly influenced breast engorgement (p<0.05). It is concluded that behavioral and knowledge factors play an important role in breast engorgement.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Breast Engorgement, Postpartum, Breastfeeding, Risk Factors</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bendungan ASI merupakan kondisi umum pada ibu postpartum yang ditandai dengan pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, dan gangguan proses menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bendungan ASI pada ibu postpartum. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 110 ibu postpartum. Variabel yang diteliti meliputi frekuensi menyusui, teknik menyusui, dukungan keluarga, dan pengetahuan ibu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik menyusui yang tidak tepat (OR=3,9), frekuensi menyusui rendah (OR=3,5), dan kurangnya pengetahuan (OR=2,8) berpengaruh signifikan terhadap kejadian bendungan ASI (p<0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan pengetahuan berperan penting dalam terjadinya bendungan ASI.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bendungan Asi, Ibu Postpartum, Menyusui, Faktor Risiko</p>Cakrawati RMaria Septiana
Copyright (c) 2026 Cakrawati R, Maria Septiana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-182026-04-184310971104Pengaruh Promosi Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1188
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a crucial effort to improve public health and prevent various infectious and non-infectious diseases. One strategy to increase PHBS implementation is through health promotion activities aimed at increasing public knowledge and awareness of the importance of healthy living behaviors. This study aims to determine the effect of health promotion on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>This study used a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of residents in the study area, using purposive sampling. Data were collected using questionnaires administered before and after the health promotion activities. Data analysis was performed using statistical tests to determine differences in knowledge levels before and after the intervention.</p> <p>The results showed an increase in public knowledge about PHBS after health promotion. The average knowledge score after the intervention was higher than before the intervention. This indicates that health promotion has an impact on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>The conclusion of this study is that health promotion activities are effective in increasing public knowledge about clean and healthy living behaviors. Therefore, health promotion activities need to be carried out continuously to increase public awareness of implementing PHBS in daily life.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Health Promotion, Public Knowledge, PHBS, Health Behavior</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mencegah berbagai penyakit menular maupun tidak menular. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penerapan PHBS adalah melalui kegiatan promosi kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian adalah masyarakat yang berada di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai PHBS setelah diberikan promosi kesehatan. Nilai rata-rata pengetahuan setelah intervensi lebih tinggi dibandingkan sebelum intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kegiatan promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan promosi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Promosi Kesehatan, Pengetahuan Masyarakat, PHBS, Perilaku Kesehatan</p>Yunita KristinaRahmat Pannyiwi
Copyright (c) 2026 Yunita Kristina, Rahmat Pannyiwi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-0443991999Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Terhadap Pelayanan Kesehatan Maternal
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1227
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Maternal compliance with health services is crucial in reducing pregnancy complications and improving maternal and neonatal outcomes. This study aims to analyze factors influencing maternal compliance with maternal health services. A quantitative cross-sectional design was used involving 140 pregnant and postpartum women. Variables included knowledge, education, family support, access to healthcare, and maternal attitudes. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that knowledge (OR=3.8), family support (OR=3.2), and access to healthcare (OR=2.9) were the most significant factors (p<0.05). It is concluded that maternal compliance is influenced by both individual and environmental factors.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Compliance, Maternal Health, Healthcare Services, Determinants</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kepatuhan ibu terhadap pelayanan kesehatan maternal merupakan faktor penting dalam menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan maternal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 140 responden ibu hamil dan nifas. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, pendidikan, dukungan keluarga, akses pelayanan, dan sikap ibu. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah pengetahuan (OR=3,8), dukungan keluarga (OR=3,2), dan akses pelayanan (OR=2,9) dengan p<0,05. Disimpulkan bahwa kepatuhan ibu dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kepatuhan Ibu, Kesehatan Maternal, Pelayanan Kesehatan, Faktor Risiko</p>Ardiana Priharwanti
Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-102026-04-104310781086Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok terhadap Peningkatan Interaksi Sosial pada Pasien Gangguan Jiwa
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1186
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Mental disorders often lead to a decline in an individual's ability to interact socially with their surroundings. Patients with mental disorders tend to experience social isolation, withdrawal, and difficulty establishing interpersonal relationships. Group activity therapy is a therapeutic intervention that can help improve patients' social interaction skills through structured, collaborative activities. This study aims to determine the effect of group activity therapy on improving social interaction in patients with mental disorders. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 30 patients with mental disorders selected using a purposive sampling technique. Data were collected using social interaction observation sheets before and after group activity therapy. Data analysis used a paired t-test. The results showed an increase in social interaction scores from an average of 45.3 to 70.6 after group activity therapy. The statistical test showed a p-value of 0.001 (p < 0.05). It was concluded that group activity therapy had a significant effect on improving social interaction in patients with mental disorders.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Group Activity Therapy, Social Interaction, Mental Disorders, Psychiatric Nursing</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan jiwa seringkali menyebabkan penurunan kemampuan individu dalam berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Pasien dengan gangguan jiwa cenderung mengalami isolasi sosial, menarik diri, serta kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal. Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu intervensi terapeutik yang dapat membantu meningkatkan kemampuan interaksi sosial pasien melalui kegiatan yang terstruktur dan dilakukan secara bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien gangguan jiwa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi interaksi sosial sebelum dan sesudah pelaksanaan terapi aktivitas kelompok. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor interaksi sosial dari rata-rata 45,3 menjadi 70,6 setelah diberikan terapi aktivitas kelompok. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa terapi aktivitas kelompok berpengaruh signifikan terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Terapi Aktivitas Kelompok, Interaksi Sosial, Gangguan Jiwa, Keperawatan Jiwa</p> <p> </p>M. Agus JabirRezqiqah Aulia RahmatAbdul RahimHalbina Famung Halmar
Copyright (c) 2026 M. Agus Jabir, Rezqiqah Aulia Rahmat, Abdul Rahim
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-0443974981Peran Mikroorganisme Dalam Menyebabkan Penyakit Infeksi Pada Sistem Pencernaan
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1210
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Infectious diseases of the digestive system remain a major health problem, particularly in developing countries. Microorganisms such as bacteria, viruses, and parasites are the primary causes of gastrointestinal infections. This study aims to analyze the role of microorganisms in causing infectious diseases of the digestive system and the factors influencing their transmission. This study used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through laboratory examinations and questionnaires, then analyzed descriptively and inferentially. The results showed that bacteria were the most common cause of digestive infections, followed by viruses and parasites. Hygiene and sanitation factors were significantly associated with infection incidence (p < 0.05). In conclusion, microorganisms play a significant role in gastrointestinal infections, and prevention can be achieved through improved hygiene and sanitation.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Microorganisms, Digestive Infection, Bacteria, Sanitation</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit infeksi pada sistem pencernaan masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, terutama di negara berkembang. Mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasit berperan penting dalam menyebabkan berbagai gangguan pencernaan, termasuk diare, gastritis, dan infeksi usus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mikroorganisme dalam menyebabkan penyakit infeksi pada sistem pencernaan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 80 pasien dengan keluhan gangguan pencernaan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium dan rekam medis, kemudian dianalisis secara deskriptif dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa bakteri merupakan penyebab terbanyak (60%), diikuti virus (25%) dan parasit (15%). Mikroorganisme seperti <em>Escherichia coli</em> dan <em>Salmonella</em> menjadi penyebab dominan. Kesimpulannya, mikroorganisme memiliki peran utama dalam penyakit infeksi pencernaan, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui sanitasi dan higiene yang baik.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Mikroorganisme, Infeksi Pencernaan, Bakteri, Virus, Parasit</p> <p> </p>Baharudin LainYulianti Ely
Copyright (c) 2026 Baharudin Lain, Yulianti Ely
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-062026-04-064310391047Pengaruh Konsumsi Fast Food Terhadap Peningkatan Risiko Obesitas Pada Remaja Usia 15–18 Tahun
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1184
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High fast food consumption among adolescents is a major risk factor for obesity. Unhealthy dietary patterns rich in fat, sugar, and calories can lead to energy imbalance. This study aims to analyze the effect of fast food consumption on obesity risk among adolescents aged 15–18 years. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through food frequency questionnaires and body mass index (BMI) measurements. Data analysis used chi-square and logistic regression. The results showed that adolescents with high fast food consumption had a higher risk of obesity (OR=3.9; p<0.05). It is concluded that fast food consumption significantly influences obesity risk among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Fast Food, Obesity, Adolescents, Diet</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Konsumsi fast food yang tinggi pada remaja menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya obesitas. Pola makan tidak sehat yang kaya lemak, gula, dan kalori dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi fast food terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja usia 15–18 tahun. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi fast food dan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa remaja dengan konsumsi fast food tinggi memiliki risiko obesitas lebih besar (OR=3,9; p<0,05). Disimpulkan bahwa konsumsi fast food berpengaruh signifikan terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Fast Food, Obesitas, Remaja, Pola Makan</p>Lumastari Ajeng Wijayanti
Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-092026-04-094310481057Optimalisasi Kesehatan Organ Reproduksi Wanita Melalui Senam “SI-EPIN”
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1235
<p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Reproductive health is a crucial aspect of a woman's quality of life. However, lack of physical activity, high stress levels, and an unbalanced diet often disrupt blood circulation and negatively impact uterine health. An effective non-pharmacological approach is the "Si-Epin" circulation and endorphin exercise. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of women of childbearing age about "Si-Ephin" exercises as a way to prevent reproductive health problems. The activity was held at the X Village Hall, targeting 36 women of childbearing age. The activity included education, demonstrations, and practical practice of "Si-Ephin" exercises, which involve breathing exercises that stimulate blood circulation from the heart and stretching to stimulate endorphins. The results showed an increase in participants' understanding and skills regarding "Si-Ephin" exercises due to their ease of implementation. This activity is expected to contribute to maintaining reproductive health by reducing menstrual pain and smoothing the menstrual cycle.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Reproductive health, women's reproductive organs, women of childbearing age,</em><em>"Si-Ephin" exercises</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan reproduksi merupakan aspek penting dalam kualitas hidup wanita. Namun, kurangnya aktivitas fisik, tingkat stress yang tinggi dan pola makan yang tidak seimbang sering kali mengganggu sirkulasi darah dan berdampak buruk pada kesehatan rahim. Upaya nonfarmakologis yang efektif adalah senam sirkulasi dan endorphin “Si-Epin”. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Wanita Usia Subur tentang senam “Si-Ephin” sebagai upaya mencegah gangguan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa X, dengan sasaran WUS sebanyak 36 orang. Metode kegiatan meliputi edukasi, demonstrasi, dan praktik senam “Si-Ephin” yang meliputi latihan pernapasan melalui sirkulasi pompa darah dari jantung dan peregangan untuk menstimulasi hormon endorphin. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai senam “Si-Ephin” karena mudah dilakukan. Kegiatan ini diharapkan mempunyai kontribusi dalam menjaga kesehatan organ reproduksi untuk mengurangi nyeri menstruasi dan memperlancar siklus mentruasi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kesehatan reproduksi, organ reproduksi wanita, Wanita Usia Subur, senam “Si-Ephin”</p>Naomi Parmila Hesti SavitriSri Wahyuni
Copyright (c) 2026 Naomi Parmila Hesti Savitri, Sri Wahyuni
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-222026-04-224311241130Efektivitas Pendekatan Terapeutik dalam Meningkatkan Kualitas Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1191
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Quality midwifery care is a crucial factor in improving maternal and fetal health during pregnancy. One approach that can improve the quality of midwifery care is through a therapeutic approach between health workers and pregnant women. This therapeutic approach involves effective communication, empathy, and emotional support, which can increase the trust and comfort of pregnant women during the healthcare process. This study aims to determine the effectiveness of the therapeutic approach in improving the quality of midwifery care for pregnant women.</p> <p>This study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample was pregnant women undergoing antenatal care examinations in the study area, using a purposive sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire that measured perceptions of the quality of midwifery care before and after the implementation of the therapeutic approach. Data were analyzed using statistical tests to determine differences in the quality of care before and after the intervention.</p> <p>The results showed an improvement in the quality of midwifery care after the therapeutic approach was implemented. The average service quality score increased after the implementation of therapeutic communication between health workers and pregnant women.</p> <p>The study's conclusions indicate that the therapeutic approach is effective in improving the quality of midwifery care for pregnant women. Therefore, healthcare workers, particularly midwives, are expected to optimally implement therapeutic communication in providing care to pregnant women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Midwifery Care, Pregnant Women, Service Quality</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Asuhan kebidanan yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan adalah melalui pendekatan terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil. Pendekatan terapeutik melibatkan komunikasi yang efektif, empati, serta dukungan emosional yang dapat meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan ibu hamil selama proses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendekatan terapeutik dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal care di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur persepsi kualitas asuhan kebidanan sebelum dan sesudah penerapan pendekatan terapeutik. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan kualitas asuhan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kualitas asuhan kebidanan setelah dilakukan pendekatan terapeutik. Nilai rata-rata skor kualitas pelayanan meningkat setelah penerapan komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan terapeutik efektif dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil. Oleh karena itu, tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat menerapkan komunikasi terapeutik secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada ibu hamil.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Asuhan Kebidanan, Ibu Hamil, Kualitas Pelayanan</p>SahaliaCakrawati R
Copyright (c) 2026 Sahalia, Cakrawati R
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-042026-04-044310201029Karakterisasi Peran Bakteri Endofit Tanaman Herbal terhadap Aktivitas Antibakteri pada Mikroorganisme Patogen Manusia
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1182
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Endophytic bacteria are microorganisms that live within plant tissues without causing damage to their host plants. These bacteria are known to produce various secondary metabolites that have potential as antibacterial agents. Herbal plants, as a source of bioactive compounds, also have the potential to serve as habitats for endophytic bacteria that produce antimicrobial compounds. This study aims to characterize endophytic bacteria from herbal plants and evaluate their antibacterial activity against human pathogenic microorganisms. The study used the method of isolating endophytic bacteria from herbal plant tissues, followed by antibacterial activity testing using the disc diffusion method against pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The results showed that several endophytic bacterial isolates were able to inhibit the growth of pathogenic bacteria with inhibition zones ranging from 10–18 mm. This indicates that endophytic bacteria from herbal plants have potential as a source of natural antibacterial compounds.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Endophytic Bacteria, Herbal Plants, Antibacterial, Pathogenic Microorganisms</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan kerusakan pada tanaman inangnya. Bakteri ini diketahui mampu menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai agen antibakteri. Tanaman herbal sebagai sumber senyawa bioaktif juga berpotensi menjadi habitat bagi bakteri endofit yang menghasilkan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri endofit dari tanaman herbal serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap mikroorganisme patogen manusia. Penelitian menggunakan metode isolasi bakteri endofit dari jaringan tanaman herbal, diikuti dengan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri patogen seperti <em>Staphylococcus aureus</em> dan <em>Escherichia coli</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan zona hambat berkisar antara 10–18 mm. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit tanaman herbal memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bakteri Endofit, Tanaman Herbal, Antibakteri, Mikroorganisme Patogen</p>Rahmat PannyiwiMeillisa Carlen Mainassy
Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Meillisa Carlen Mainassy
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-032026-04-0343947954Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur DenganPemilihan Metode KB
https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1232
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The selection of contraceptive methods is an essential component of family planning programs to control population growth and improve reproductive health. Knowledge level of couples of reproductive age plays an important role in determining contraceptive choices. This study aims to analyze the relationship between knowledge and contraceptive method selection among couples of reproductive age. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that respondents with good knowledge were more likely to choose modern contraceptive methods (p<0.05). It is concluded that there is a significant relationship between knowledge and contraceptive choice.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Knowledge, Reproductive Age Couples, Contraception</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemilihan metode kontrasepsi merupakan bagian penting dalam program keluarga berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan pasangan usia subur (PUS) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan dalam memilih metode KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan pasangan usia subur dengan pemilihan metode KB. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden PUS. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUS dengan pengetahuan baik cenderung memilih metode KB modern dibandingkan tradisional (p<0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan PUS dan pemilihan metode KB.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pengetahuan, Pasangan Usia Subur, KB, Kontrasepsi</p>Rezqiqah Aulia RahmatWulan Citra Sari
Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Wulan Citra Sari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-182026-04-184311051112