https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/issue/feed Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan 2026-06-10T10:25:08+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan</strong> Merupakan Jurnal yang memuat tentang publikasi penelitian yang relevan dengan bidang ilmu kesehatan yang meliputi keperawatan, kebidanan, fisioterapi, akupuntur, jamu (herbal), okupasi terapi, ortotik prostetik, terapi wicara, kesehatan masyarakat, kedokteran, pendidikan kesehatan dll. Artikel penelitian, literature review dan komentar diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ini.</p> https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1181 Hubungan Komunikasi Perawat dengan Persepsi Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan 2026-04-03T06:38:19+00:00 Syaiful Bachri syaifulbrg62@gmail.com Djunaedi syaifulbrg62@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Effective communication between nurses and patients is a crucial factor in improving the quality of nursing care. Good communication can help build a therapeutic relationship, increase patient trust, and influence patient perceptions of the care provided. This study aimed to determine the relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care. The study used an analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 80 inpatients selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire on nurse communication and patient perceptions of nursing care. Data analysis used a chi-square test. The results showed that patients who rated nurse communication as good tended to have positive perceptions of nursing care (75%). The statistical test showed a p-value of 0.012 (p &lt; 0.05). It was concluded that there is a significant relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Nurse Communication, Patient Perception, Nursing Care, Service Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Komunikasi yang baik dapat membantu membangun hubungan terapeutik, meningkatkan kepercayaan pasien, serta memengaruhi persepsi pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner komunikasi perawat dan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menilai komunikasi perawat baik cenderung memiliki persepsi positif terhadap pelayanan keperawatan sebesar 75%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,012 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Perawat, Persepsi Pasien, Pelayanan Keperawatan, Kualitas Pelayanan</p> 2026-04-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Syaiful Bachri, Djunaedi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1182 Karakterisasi Peran Bakteri Endofit Tanaman Herbal terhadap Aktivitas Antibakteri pada Mikroorganisme Patogen Manusia 2026-04-03T06:38:41+00:00 Eni Kurniati eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id Rahmat Pannyiwi eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id Meillisa Carlen Mainassy eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Endophytic bacteria are microorganisms that live within plant tissues without causing damage to their host plants. These bacteria are known to produce various secondary metabolites that have potential as antibacterial agents. Herbal plants, as a source of bioactive compounds, also have the potential to serve as habitats for endophytic bacteria that produce antimicrobial compounds. This study aims to characterize endophytic bacteria from herbal plants and evaluate their antibacterial activity against human pathogenic microorganisms. The study used the method of isolating endophytic bacteria from herbal plant tissues, followed by antibacterial activity testing using the disc diffusion method against pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The results showed that several endophytic bacterial isolates were able to inhibit the growth of pathogenic bacteria with inhibition zones ranging from 10–18 mm. This indicates that endophytic bacteria from herbal plants have potential as a source of natural antibacterial compounds.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Endophytic Bacteria, Herbal Plants, Antibacterial, Pathogenic Microorganisms</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan kerusakan pada tanaman inangnya. Bakteri ini diketahui mampu menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai agen antibakteri. Tanaman herbal sebagai sumber senyawa bioaktif juga berpotensi menjadi habitat bagi bakteri endofit yang menghasilkan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri endofit dari tanaman herbal serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap mikroorganisme patogen manusia. Penelitian menggunakan metode isolasi bakteri endofit dari jaringan tanaman herbal, diikuti dengan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri patogen seperti <em>Staphylococcus aureus</em> dan <em>Escherichia coli</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan zona hambat berkisar antara 10–18 mm. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit tanaman herbal memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bakteri Endofit, Tanaman Herbal, Antibakteri, Mikroorganisme Patogen</p> 2026-04-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Meillisa Carlen Mainassy https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1183 Analisis Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan 2026-04-03T06:39:06+00:00 Sara Surya sar4surya@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hypertension is a chronic disease with a high prevalence in the community and often requires long-term therapy. Inappropriate use of antihypertensive medications can lead to Drug-Related Problems (DRPs), which can potentially reduce the effectiveness of therapy and increase the risk of side effects in patients. This study aims to analyze the incidence of DRPs in hypertensive patients in outpatient settings.</p> <p>This study used a descriptive, observational method with a retrospective approach through a review of the medical records of hypertensive patients in outpatient settings. Data collected included patient characteristics, the type of antihypertensive medication used, and the incidence of DRPs, including inappropriate medication selection, inappropriate dosage, drug interactions, and side effects.</p> <p>The results showed that several DRPs were still found in hypertensive patients, including inappropriate medication dosages, potential drug interactions, and inappropriate medication use based on the patient's clinical condition. These DRPs have the potential to impact the success of hypertension therapy.</p> <p>The conclusion of this study indicates that DRPs still occur in hypertensive patients in outpatient settings. Therefore, the role of healthcare professionals, particularly pharmacists, in monitoring drug therapy is needed to improve the safety and effectiveness of patient treatment.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Hypertension, Drug-Related Problems, Antihypertensive, Outpatient</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat dan sering memerlukan terapi jangka panjang. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya <em>Drug Related Problems</em> (DRPs) yang berpotensi menurunkan efektivitas terapi serta meningkatkan risiko efek samping pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian DRPs pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif melalui penelaahan rekam medis pasien hipertensi di instalasi rawat jalan. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, jenis obat antihipertensi yang digunakan, serta kejadian DRPs yang meliputi pemilihan obat yang tidak tepat, dosis yang tidak sesuai, interaksi obat, dan efek samping obat.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan beberapa kejadian DRPs pada pasien hipertensi, di antaranya dosis obat yang tidak sesuai, potensi interaksi obat, serta penggunaan obat yang tidak tepat berdasarkan kondisi klinis pasien. Kejadian DRPs tersebut berpotensi mempengaruhi keberhasilan terapi hipertensi.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa DRPs masih terjadi pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan, sehingga diperlukan peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, dalam melakukan pemantauan terapi obat untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas pengobatan pasien.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Hipertensi, Drug Related Problems, Antihipertensi, Rawat Jalan</p> 2026-04-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sara Surya, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1185 Efektivitas Teknik Perawatan Luka Steril terhadap Pencegahan Infeksi Luka Operasi pada Pasien Post Operasi 2026-04-03T06:39:44+00:00 Nurlaelah nur887525@gmail.com Abdul Rivai Saleh Dunggio nur887525@gmail.com Febri Sriyanti nur887525@gmail.com Rahmat Pannyiwi nur887525@gmail.com Rahayu Setyaningsih nur887525@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Surgical site infections are a common complication in patients after surgery. These infections can prolong hospitalization, increase medical costs, and worsen the patient's condition. One way to prevent surgical site infections is through the application of sterile wound care techniques in accordance with standard operating procedures. This study aims to analyze the effectiveness of sterile wound care techniques in preventing surgical site infections in postoperative patients. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 50 postoperative patients treated in the operating room. Data were collected through observation of surgical site conditions and patient medical records. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that patients who received wound care using sterile techniques had a lower incidence of surgical site infections compared to patients who received less optimal wound care techniques. The statistical test showed a p-value of 0.021 (p &lt; 0.05). It was concluded that sterile wound care techniques are effective in preventing surgical site infections in postoperative patients.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Sterile Wound Care, Surgical Site Infection, Postoperative Patients</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infeksi luka operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien setelah menjalani tindakan pembedahan. Infeksi ini dapat memperpanjang masa perawatan, meningkatkan biaya pengobatan, serta memperburuk kondisi pasien. Salah satu upaya pencegahan infeksi luka operasi adalah melalui penerapan teknik perawatan luka steril yang sesuai dengan standar prosedur operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik perawatan luka steril terhadap pencegahan infeksi luka operasi pada pasien post operasi. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 50 pasien post operasi yang dirawat di ruang bedah. Data dikumpulkan melalui observasi kondisi luka operasi dan pencatatan rekam medis pasien. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan perawatan luka dengan teknik steril memiliki kejadian infeksi luka operasi yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan teknik perawatan yang kurang optimal. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,021 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa teknik perawatan luka steril efektif dalam mencegah infeksi luka operasi pada pasien post operasi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Perawatan Luka Steril, Infeksi Luka Operasi, Pasien Post Operasi</p> 2026-04-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Nurlaelah, Abdul Rivai Saleh Dunggio, Febri Sriyanti, Rahmat Pannyiwi, Rahayu Setyaningsih https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1186 Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok terhadap Peningkatan Interaksi Sosial pada Pasien Gangguan Jiwa 2026-04-03T22:40:16+00:00 M. Agus Jabir agusjabirmuhammad@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat agusjabirmuhammad@gmail.com Abdul Rahim agusjabirmuhammad@gmail.com Halbina Famung Halmar agusjabirmuhammad@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Mental disorders often lead to a decline in an individual's ability to interact socially with their surroundings. Patients with mental disorders tend to experience social isolation, withdrawal, and difficulty establishing interpersonal relationships. Group activity therapy is a therapeutic intervention that can help improve patients' social interaction skills through structured, collaborative activities. This study aims to determine the effect of group activity therapy on improving social interaction in patients with mental disorders. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 30 patients with mental disorders selected using a purposive sampling technique. Data were collected using social interaction observation sheets before and after group activity therapy. Data analysis used a paired t-test. The results showed an increase in social interaction scores from an average of 45.3 to 70.6 after group activity therapy. The statistical test showed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05). It was concluded that group activity therapy had a significant effect on improving social interaction in patients with mental disorders.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Group Activity Therapy, Social Interaction, Mental Disorders, Psychiatric Nursing</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan jiwa seringkali menyebabkan penurunan kemampuan individu dalam berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Pasien dengan gangguan jiwa cenderung mengalami isolasi sosial, menarik diri, serta kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal. Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu intervensi terapeutik yang dapat membantu meningkatkan kemampuan interaksi sosial pasien melalui kegiatan yang terstruktur dan dilakukan secara bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien gangguan jiwa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi interaksi sosial sebelum dan sesudah pelaksanaan terapi aktivitas kelompok. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor interaksi sosial dari rata-rata 45,3 menjadi 70,6 setelah diberikan terapi aktivitas kelompok. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa terapi aktivitas kelompok berpengaruh signifikan terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Terapi Aktivitas Kelompok, Interaksi Sosial, Gangguan Jiwa, Keperawatan Jiwa</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 M. Agus Jabir, Rezqiqah Aulia Rahmat, Abdul Rahim https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1187 Analisis Cemaran Logam Berat pada Produk Herbal Tradisional 2026-04-03T22:41:08+00:00 Safridha Kemala Putri safridhakemaputri@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat safridhakemaputri@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Traditional herbal products are widely used by the public as alternative treatments because they are considered safer and more natural. However, several studies have shown that herbal products can be contaminated with heavy metals, potentially endangering human health. This study aims to analyze heavy metal contamination in traditional herbal products on the market.</p> <p>This study used a descriptive analytical method with a laboratory test approach on several traditional herbal product samples. Heavy metal analysis was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) after the sample digestion process. The heavy metals analyzed included lead (Pb), cadmium (Cd), mercury (Hg), and arsenic (As).</p> <p>The results showed that several traditional herbal product samples contained varying amounts of heavy metals. Most samples were below the maximum limits set by food safety standards, but some samples showed heavy metal levels approaching the maximum permissible limits.</p> <p>The study's conclusions indicate that monitoring the quality of traditional herbal products is crucial to ensure safe consumption.</p> <p><strong>Keywords: </strong>Heavy Metals, Herbal Products, Lead, Cadmium, Food Safety</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Produk herbal tradisional banyak digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan karena dianggap lebih aman dan alami. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa produk herbal dapat terkontaminasi oleh logam berat yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran logam berat pada produk herbal tradisional yang beredar di pasaran.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode <strong>deskriptif analitik</strong> dengan pendekatan <strong>uji laboratorium</strong> terhadap beberapa sampel produk herbal tradisional. Analisis logam berat dilakukan menggunakan metode <strong>Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)</strong> setelah proses destruksi sampel. Logam berat yang dianalisis meliputi timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sampel produk herbal tradisional mengandung logam berat dalam jumlah yang berbeda-beda. Sebagian besar sampel masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh standar keamanan pangan, namun beberapa sampel menunjukkan kadar logam berat yang mendekati batas maksimum yang diizinkan.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengawasan terhadap kualitas produk herbal tradisional sangat penting untuk menjamin keamanan konsumsi masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Logam Berat, Produk Herbal, Timbal, Kadmium, Keamanan Pangan</p> 2026-04-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Safridha Kemala Putri, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1188 Pengaruh Promosi Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2026-04-03T22:41:52+00:00 Yunita Kristina yunkris78@gmail.com Rahmat Pannyiwi yunkris78@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a crucial effort to improve public health and prevent various infectious and non-infectious diseases. One strategy to increase PHBS implementation is through health promotion activities aimed at increasing public knowledge and awareness of the importance of healthy living behaviors. This study aims to determine the effect of health promotion on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>This study used a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of residents in the study area, using purposive sampling. Data were collected using questionnaires administered before and after the health promotion activities. Data analysis was performed using statistical tests to determine differences in knowledge levels before and after the intervention.</p> <p>The results showed an increase in public knowledge about PHBS after health promotion. The average knowledge score after the intervention was higher than before the intervention. This indicates that health promotion has an impact on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>The conclusion of this study is that health promotion activities are effective in increasing public knowledge about clean and healthy living behaviors. Therefore, health promotion activities need to be carried out continuously to increase public awareness of implementing PHBS in daily life.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Health Promotion, Public Knowledge, PHBS, Health Behavior</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mencegah berbagai penyakit menular maupun tidak menular. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penerapan PHBS adalah melalui kegiatan promosi kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian adalah masyarakat yang berada di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai PHBS setelah diberikan promosi kesehatan. Nilai rata-rata pengetahuan setelah intervensi lebih tinggi dibandingkan sebelum intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kegiatan promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan promosi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Promosi Kesehatan, Pengetahuan Masyarakat, PHBS, Perilaku Kesehatan</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yunita Kristina, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1189 Akses Dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Pada Masyarakat Pesisir: Studi Kesehatan Masyarakat 2026-04-04T02:21:15+00:00 Rusdin Wally choganwally73@gmail.com Rahmat Pannyiwi choganwally73@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Coastal communities are vulnerable to health problems due to limited access and socioeconomic conditions. Access to and utilization of health services are important factors in determining the level of public health. This study aims to analyze the factors influencing access to and utilization of health services in coastal communities. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 130 respondents was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using logistic regression. The results indicate that distance to health facilities, income, education level, and perceptions of health services significantly influence health service utilization (p &lt; 0.05). Distance to facilities and perceptions of service quality were the dominant factors. In conclusion, improving physical access and the quality of health services is essential to increase service utilization by coastal communities.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Coastal Communities, Health Access, Service Utilization, Public Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masyarakat pesisir merupakan kelompok yang memiliki kerentanan terhadap masalah kesehatan akibat keterbatasan akses dan kondisi sosial ekonomi. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada masyarakat pesisir. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 130 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor jarak fasilitas kesehatan, pendapatan, tingkat pendidikan, dan persepsi terhadap pelayanan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan (p &lt; 0,05). Jarak fasilitas dan persepsi kualitas pelayanan menjadi faktor dominan. Kesimpulannya, peningkatan akses fisik dan kualitas pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan oleh masyarakat pesisir.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Masyarakat Pesisir, Akses Kesehatan, Pemanfaatan Layanan, Kesehatan Masyarakat</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rusdin Wally, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1190 Pengaruh Metode Kangaroo Mother Care (KMC) Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 2026-04-04T02:22:07+00:00 Siti Badria Asikin badria.stikes@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat badria.stikes@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Low Birth Weight (LBW) is one of the leading causes of neonatal morbidity and mortality. Kangaroo Mother Care (KMC) is a non-pharmacological intervention that is effective in improving the physiological condition of infants, including weight gain. This study aims to analyze the effect of the KMC method on weight gain in LBW infants.</p> <p>This study employed a quantitative design with a quasi-experimental approach (pretest-posttest with control group). A total of 60 LBW infants were divided into two groups: the intervention group (KMC) and the control group. Data were analyzed using a t-test.</p> <p>The results showed a significant increase in body weight in the KMC group compared to the control group (p &lt; 0.001). In conclusion, the KMC method is effective in increasing the weight of LBW infants and is recommended as part of neonatal care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Kangaroo Mother Care, Low Birth Weight, Infant Weight, Neonatal</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal. Metode Kangaroo Mother Care (KMC) merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif dalam meningkatkan kondisi fisiologis bayi, termasuk peningkatan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode KMC terhadap peningkatan berat badan bayi BBLR. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental (pretest-posttest with control group). Sampel sebanyak 60 bayi BBLR dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (KMC) dan kelompok kontrol. Data dianalisis menggunakan uji t. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan berat badan yang signifikan pada kelompok KMC dibandingkan kelompok kontrol (p &lt; 0,001). Kesimpulannya, metode KMC efektif dalam meningkatkan berat badan bayi BBLR dan direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan neonatal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> KMC, BBLR, Berat Badan Bayi, Neonatal</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Siti Badria Asikin, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1191 Efektivitas Pendekatan Terapeutik dalam Meningkatkan Kualitas Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil 2026-04-04T02:22:56+00:00 Sahalia Sahalia lianurjil89@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R lianurjil89@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Quality midwifery care is a crucial factor in improving maternal and fetal health during pregnancy. One approach that can improve the quality of midwifery care is through a therapeutic approach between health workers and pregnant women. This therapeutic approach involves effective communication, empathy, and emotional support, which can increase the trust and comfort of pregnant women during the healthcare process. This study aims to determine the effectiveness of the therapeutic approach in improving the quality of midwifery care for pregnant women.</p> <p>This study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample was pregnant women undergoing antenatal care examinations in the study area, using a purposive sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire that measured perceptions of the quality of midwifery care before and after the implementation of the therapeutic approach. Data were analyzed using statistical tests to determine differences in the quality of care before and after the intervention.</p> <p>The results showed an improvement in the quality of midwifery care after the therapeutic approach was implemented. The average service quality score increased after the implementation of therapeutic communication between health workers and pregnant women.</p> <p>The study's conclusions indicate that the therapeutic approach is effective in improving the quality of midwifery care for pregnant women. Therefore, healthcare workers, particularly midwives, are expected to optimally implement therapeutic communication in providing care to pregnant women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Midwifery Care, Pregnant Women, Service Quality</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Asuhan kebidanan yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan adalah melalui pendekatan terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil. Pendekatan terapeutik melibatkan komunikasi yang efektif, empati, serta dukungan emosional yang dapat meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan ibu hamil selama proses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendekatan terapeutik dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal care di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur persepsi kualitas asuhan kebidanan sebelum dan sesudah penerapan pendekatan terapeutik. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan kualitas asuhan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kualitas asuhan kebidanan setelah dilakukan pendekatan terapeutik. Nilai rata-rata skor kualitas pelayanan meningkat setelah penerapan komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan terapeutik efektif dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil. Oleh karena itu, tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat menerapkan komunikasi terapeutik secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada ibu hamil.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Asuhan Kebidanan, Ibu Hamil, Kualitas Pelayanan</p> 2026-04-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sahalia, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1198 Komunikasi Terapeutik Sebagai Strategi Peningkatan Patient-Centered Care Dalam Keperawatan 2026-04-04T13:51:48+00:00 Suratno Kaluku ners.nano@gmail.co Cut Mutia Tatisina ners.nano@gmail.co <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Therapeutic communication is a core competency in nursing practice that plays a crucial role in improving the quality of patient-centered care. This approach emphasizes active patient involvement in the care process and a collaborative relationship between nurses and patients. This study aims to analyze the influence of therapeutic communication on improving patient-centered care in nursing practice. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 100 inpatients was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The results showed that therapeutic communication significantly influenced patient-centered care (β = 0.52; p &lt; 0.001). In conclusion, effective therapeutic communication can improve patient satisfaction, patient engagement, and the quality of nursing services.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Patient-Centered Care, Nursing, Patient Satisfaction</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi terapeutik merupakan salah satu kompetensi utama dalam praktik keperawatan yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan berbasis <em>patient-centered care</em>. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif pasien dalam proses perawatan serta hubungan yang kolaboratif antara perawat dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap peningkatan <em>patient-centered care</em> dalam praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 pasien rawat inap dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap <em>patient-centered care</em> (β = 0,52; p &lt; 0,001). Kesimpulannya, komunikasi terapeutik yang efektif mampu meningkatkan kepuasan pasien, keterlibatan pasien, serta kualitas pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Patient-Centered Care, Keperawatan, Kepuasan Pasien</p> 2026-04-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Suratno Kaluku, Cut Mutia Tatisina https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1210 Peran Mikroorganisme Dalam Menyebabkan Penyakit Infeksi Pada Sistem Pencernaan 2026-04-06T13:14:43+00:00 Baharudin Lain rudizero03@gmail.com Yulianti Ely rudizero03@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Infectious diseases of the digestive system remain a major health problem, particularly in developing countries. Microorganisms such as bacteria, viruses, and parasites are the primary causes of gastrointestinal infections. This study aims to analyze the role of microorganisms in causing infectious diseases of the digestive system and the factors influencing their transmission. This study used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through laboratory examinations and questionnaires, then analyzed descriptively and inferentially. The results showed that bacteria were the most common cause of digestive infections, followed by viruses and parasites. Hygiene and sanitation factors were significantly associated with infection incidence (p &lt; 0.05). In conclusion, microorganisms play a significant role in gastrointestinal infections, and prevention can be achieved through improved hygiene and sanitation.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Microorganisms, Digestive Infection, Bacteria, Sanitation</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit infeksi pada sistem pencernaan masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, terutama di negara berkembang. Mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasit berperan penting dalam menyebabkan berbagai gangguan pencernaan, termasuk diare, gastritis, dan infeksi usus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mikroorganisme dalam menyebabkan penyakit infeksi pada sistem pencernaan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 80 pasien dengan keluhan gangguan pencernaan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium dan rekam medis, kemudian dianalisis secara deskriptif dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa bakteri merupakan penyebab terbanyak (60%), diikuti virus (25%) dan parasit (15%). Mikroorganisme seperti <em>Escherichia coli</em> dan <em>Salmonella</em> menjadi penyebab dominan. Kesimpulannya, mikroorganisme memiliki peran utama dalam penyakit infeksi pencernaan, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui sanitasi dan higiene yang baik.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Mikroorganisme, Infeksi Pencernaan, Bakteri, Virus, Parasit</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Baharudin Lain, Yulianti Ely https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1184 Pengaruh Konsumsi Fast Food Terhadap Peningkatan Risiko Obesitas Pada Remaja Usia 15–18 Tahun 2026-04-09T02:23:21+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High fast food consumption among adolescents is a major risk factor for obesity. Unhealthy dietary patterns rich in fat, sugar, and calories can lead to energy imbalance. This study aims to analyze the effect of fast food consumption on obesity risk among adolescents aged 15–18 years. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through food frequency questionnaires and body mass index (BMI) measurements. Data analysis used chi-square and logistic regression. The results showed that adolescents with high fast food consumption had a higher risk of obesity (OR=3.9; p&lt;0.05). It is concluded that fast food consumption significantly influences obesity risk among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Fast Food, Obesity, Adolescents, Diet</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Konsumsi fast food yang tinggi pada remaja menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya obesitas. Pola makan tidak sehat yang kaya lemak, gula, dan kalori dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi fast food terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja usia 15–18 tahun. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi fast food dan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa remaja dengan konsumsi fast food tinggi memiliki risiko obesitas lebih besar (OR=3,9; p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa konsumsi fast food berpengaruh signifikan terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Fast Food, Obesitas, Remaja, Pola Makan</p> 2026-04-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1090 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri 2026-04-09T02:22:43+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Vaginal discharge is a common reproductive health issue among adolescent girls. It can be caused by physiological or pathological factors. This study aims to analyze factors influencing vaginal discharge among adolescent girls. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that personal hygiene, type of underwear, and knowledge level were significantly associated with vaginal discharge (p&lt;0.05). It is concluded that behavioral and hygiene factors play an important role in vaginal discharge among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Vaginal Discharge, Adolescents, Hygiene, Reproductive Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisiologis maupun patologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian keputihan pada remaja putri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa kebersihan organ reproduksi, penggunaan pakaian dalam, dan tingkat pengetahuan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian keputihan (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan kebersihan diri berperan penting dalam kejadian keputihan pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Keputihan, Remaja Putri, Kebersihan, Kesehatan Reproduksi</p> 2026-04-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1225 Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Kesehatan Maternal Di Masyarakat 2026-04-09T12:43:31+00:00 Ardiana Priharwanti diana.arif25@gmail.com <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Maternal health is an important indicator of public health status. Family support plays a significant role in improving maternal health during pregnancy, childbirth, and postpartum periods. This study aims to analyze the effect of family support on maternal health quality in the community. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 pregnant and postpartum women. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that mothers with strong family support had significantly better maternal health outcomes (p&lt;0.05). It is concluded that family support significantly influences maternal health quality.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Family Support, Maternal Health, Pregnancy, Health Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan maternal merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Dukungan keluarga memiliki peran signifikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan keluarga terhadap kualitas kesehatan maternal di masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden ibu hamil dan nifas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan keluarga baik memiliki kualitas kesehatan maternal lebih tinggi (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesehatan maternal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Dukungan Keluarga, Kesehatan Maternal, Ibu Hamil, Kualitas Kesehatan</p> 2026-04-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1227 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Terhadap Pelayanan Kesehatan Maternal 2026-04-09T12:47:35+00:00 Ardiana Priharwanti diana.arif25@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Maternal compliance with health services is crucial in reducing pregnancy complications and improving maternal and neonatal outcomes. This study aims to analyze factors influencing maternal compliance with maternal health services. A quantitative cross-sectional design was used involving 140 pregnant and postpartum women. Variables included knowledge, education, family support, access to healthcare, and maternal attitudes. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that knowledge (OR=3.8), family support (OR=3.2), and access to healthcare (OR=2.9) were the most significant factors (p&lt;0.05). It is concluded that maternal compliance is influenced by both individual and environmental factors.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Compliance, Maternal Health, Healthcare Services, Determinants</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kepatuhan ibu terhadap pelayanan kesehatan maternal merupakan faktor penting dalam menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan maternal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 140 responden ibu hamil dan nifas. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, pendidikan, dukungan keluarga, akses pelayanan, dan sikap ibu. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah pengetahuan (OR=3,8), dukungan keluarga (OR=3,2), dan akses pelayanan (OR=2,9) dengan p&lt;0,05. Disimpulkan bahwa kepatuhan ibu dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kepatuhan Ibu, Kesehatan Maternal, Pelayanan Kesehatan, Faktor Risiko</p> 2026-04-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1230 Hubungan Usia Ibu Dengan Risiko Kehamilan Risiko Tinggi 2026-04-18T11:29:23+00:00 Ana Sapitri anasapitri6@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High-risk pregnancy is a condition that increases the likelihood of complications during pregnancy, childbirth, and postpartum. Maternal age is one of the influencing factors. This study aims to analyze the relationship between maternal age and high-risk pregnancy. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 pregnant women. Data were collected through questionnaires and medical records and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that mothers aged &lt;20 years and &gt;35 years had a higher risk of high-risk pregnancy compared to those aged 20–35 years (p&lt;0.05). It is concluded that maternal age is significantly associated with high-risk pregnancy.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Age, High-Risk Pregnancy, Maternal Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan risiko tinggi merupakan kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah usia ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia ibu dengan risiko kehamilan risiko tinggi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden ibu hamil. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan usia &lt;20 tahun dan &gt;35 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehamilan risiko tinggi dibandingkan usia 20–35 tahun (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa usia ibu memiliki hubungan signifikan dengan risiko kehamilan risiko tinggi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Usia Ibu, Kehamilan Risiko Tinggi, Kesehatan Maternal</p> 2026-04-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ana Sapitri https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1231 Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Postpartum 2026-04-18T11:36:27+00:00 Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com Maria Septiana cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Breast engorgement is a common condition among postpartum mothers characterized by breast swelling due to milk accumulation. This condition can cause pain and interfere with breastfeeding. This study aims to analyze factors influencing breast engorgement among postpartum mothers. A quantitative cross-sectional design was used involving 110 postpartum mothers. Variables included breastfeeding frequency, technique, family support, and maternal knowledge. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that improper breastfeeding technique (OR=3.9), low breastfeeding frequency (OR=3.5), and lack of knowledge (OR=2.8) significantly influenced breast engorgement (p&lt;0.05). It is concluded that behavioral and knowledge factors play an important role in breast engorgement.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Breast Engorgement, Postpartum, Breastfeeding, Risk Factors</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bendungan ASI merupakan kondisi umum pada ibu postpartum yang ditandai dengan pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, dan gangguan proses menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bendungan ASI pada ibu postpartum. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 110 ibu postpartum. Variabel yang diteliti meliputi frekuensi menyusui, teknik menyusui, dukungan keluarga, dan pengetahuan ibu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik menyusui yang tidak tepat (OR=3,9), frekuensi menyusui rendah (OR=3,5), dan kurangnya pengetahuan (OR=2,8) berpengaruh signifikan terhadap kejadian bendungan ASI (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan pengetahuan berperan penting dalam terjadinya bendungan ASI.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bendungan Asi, Ibu Postpartum, Menyusui, Faktor Risiko</p> 2026-04-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cakrawati R, Maria Septiana https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1232 Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur DenganPemilihan Metode KB 2026-04-18T11:39:24+00:00 Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com Wulan Citra Sari rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The selection of contraceptive methods is an essential component of family planning programs to control population growth and improve reproductive health. Knowledge level of couples of reproductive age plays an important role in determining contraceptive choices. This study aims to analyze the relationship between knowledge and contraceptive method selection among couples of reproductive age. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that respondents with good knowledge were more likely to choose modern contraceptive methods (p&lt;0.05). It is concluded that there is a significant relationship between knowledge and contraceptive choice.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Knowledge, Reproductive Age Couples, Contraception</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemilihan metode kontrasepsi merupakan bagian penting dalam program keluarga berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan pasangan usia subur (PUS) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan dalam memilih metode KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan pasangan usia subur dengan pemilihan metode KB. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden PUS. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUS dengan pengetahuan baik cenderung memilih metode KB modern dibandingkan tradisional (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan PUS dan pemilihan metode KB.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pengetahuan, Pasangan Usia Subur, KB, Kontrasepsi</p> 2026-04-13T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Wulan Citra Sari https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1233 Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Masyarakat 2026-04-20T05:30:30+00:00 Zuriani Rizki rizkirajul@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Tuberculosis (TB) remains a major public health problem worldwide, including in Indonesia. Environmental factors play a crucial role in the transmission of TB, particularly poor housing conditions that do not meet health standards. This study aimed to analyze the relationship between environmental factors and the incidence of tuberculosis in the community.</p> <p>This study used an analytic design with a <strong>cross-sectional approach</strong>. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling technique. Data were collected through environmental observation and structured questionnaires. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with chi-square test at a 95% confidence level.</p> <p>The results showed that there were significant relationships between ventilation (p=0.001), occupancy density (p=0.002), lighting (p=0.003), and floor condition (p=0.005) with the incidence of tuberculosis. Respondents living in houses with poor ventilation and high occupancy density had a higher risk of developing TB compared to those living in healthier environments.</p> <p>In conclusion, environmental factors are significantly associated with the incidence of tuberculosis. Environmental improvement and health education are strongly recommended to reduce TB cases in the community.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Tuberculosis, Environment, Ventilation, Occupancy Density</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, termasuk di Indonesia. Faktor lingkungan berperan penting dalam proses penularan TB, terutama kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan kejadian tuberkulosis di masyarakat.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan <strong>cross-sectional</strong>. Sampel penelitian sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kondisi lingkungan rumah dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah (p=0,001), kepadatan hunian (p=0,002), pencahayaan (p=0,003), dan kondisi lantai rumah (p=0,005) dengan kejadian tuberkulosis. Responden yang tinggal di lingkungan dengan ventilasi buruk dan kepadatan tinggi memiliki risiko lebih besar terkena TB dibandingkan dengan yang tinggal di lingkungan sehat.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah faktor lingkungan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian tuberkulosis. Upaya perbaikan lingkungan dan peningkatan edukasi kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka kejadian TB di masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Tuberkulosis, Lingkungan, Ventilasi, Kepadatan Hunian</p> 2026-04-14T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Zuriani Rizki https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1235 Optimalisasi Kesehatan Organ Reproduksi Wanita Melalui Senam “SI-EPIN” 2026-04-22T04:21:47+00:00 Naomi Parmila Hesti Savitri naomi-parmila@usp.ac.id Sri Wahyuni naomi-parmila@usp.ac.id <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Reproductive health is a crucial aspect of a woman's quality of life. However, lack of physical activity, high stress levels, and an unbalanced diet often disrupt blood circulation and negatively impact uterine health. An effective non-pharmacological approach is the "Si-Epin" circulation and endorphin exercise. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of women of childbearing age about "Si-Ephin" exercises as a way to prevent reproductive health problems. The activity was held at the X Village Hall, targeting 36 women of childbearing age. The activity included education, demonstrations, and practical practice of "Si-Ephin" exercises, which involve breathing exercises that stimulate blood circulation from the heart and stretching to stimulate endorphins. The results showed an increase in participants' understanding and skills regarding "Si-Ephin" exercises due to their ease of implementation. This activity is expected to contribute to maintaining reproductive health by reducing menstrual pain and smoothing the menstrual cycle.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Reproductive health, women's reproductive organs, women of childbearing age,</em><em>"Si-Ephin" exercises</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan reproduksi merupakan aspek penting dalam kualitas hidup wanita. Namun, kurangnya aktivitas fisik, tingkat stress yang tinggi dan pola makan yang tidak seimbang sering kali mengganggu sirkulasi darah dan berdampak buruk pada kesehatan rahim. Upaya nonfarmakologis yang efektif adalah senam sirkulasi dan endorphin “Si-Epin”. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Wanita Usia Subur tentang senam “Si-Ephin” sebagai upaya mencegah gangguan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa X, dengan sasaran WUS sebanyak 36 orang. Metode kegiatan meliputi edukasi, demonstrasi, dan praktik senam “Si-Ephin” yang meliputi latihan pernapasan melalui sirkulasi pompa darah dari jantung dan peregangan untuk menstimulasi hormon endorphin. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai senam “Si-Ephin” karena mudah dilakukan. Kegiatan ini diharapkan mempunyai kontribusi dalam menjaga kesehatan organ reproduksi untuk mengurangi nyeri menstruasi dan memperlancar siklus mentruasi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kesehatan reproduksi, organ reproduksi wanita, Wanita Usia Subur, senam “Si-Ephin”</p> 2026-04-16T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Naomi Parmila Hesti Savitri, Sri Wahyuni https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1236 Hubungan Waktu Tanggap (Response Time) Perawat Dan Bidan Dengan Keselamatan Ibu Pada Kasus Perdarahan Postpartum Di IGD 2026-04-24T01:11:19+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Postpartum hemorrhage is one of the leading causes of maternal mortality requiring prompt and appropriate management. The response time of healthcare providers, especially nurses and midwives in the emergency department, plays a crucial role in maternal safety. This study aimed to determine the relationship between response time and maternal safety in postpartum hemorrhage cases.</p> <p>This study used a quantitative method with a cross-sectional analytic design. The sample consisted of 40 postpartum hemorrhage cases managed in the emergency department. Data were collected through observation and documentation. Data were analyzed using chi-square test and Odds Ratio (OR).</p> <p>The results showed a significant relationship between response time and maternal safety with a p-value of 0.001 and OR = 6.25.</p> <p>In conclusion, faster response time is associated with improved maternal safety in postpartum hemorrhage cases.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Response time, postpartum hemorrhage, maternal safety</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Waktu tanggap (<em>response time</em>) tenaga kesehatan, khususnya perawat dan bidan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sangat menentukan keselamatan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tanggap perawat dan bidan dengan keselamatan ibu pada kasus perdarahan postpartum di IGD.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 40 responden yang merupakan kasus perdarahan postpartum yang ditangani di IGD. Data dikumpulkan melalui observasi waktu tanggap tenaga kesehatan dan dokumentasi kondisi pasien. Analisis data menggunakan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio (OR).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tanggap dengan keselamatan ibu dengan nilai p-value = 0,001 (&lt;0,05) dan OR = 6,25.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah waktu tanggap yang cepat dari perawat dan bidan berhubungan erat dengan peningkatan keselamatan ibu pada kasus perdarahan postpartum.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Response Time, Perdarahan Postpartum, Keselamatan Ibu</p> 2026-04-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1237 Hubungan Pemberian MP-ASI Dengan Status Gizi Pada Bayi Usia 6–24 Bulan 2026-04-24T14:54:21+00:00 Warda M Warda M wardamarzuki31@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Complementary feeding (MP-ASI) is an important factor influencing the nutritional status of infants aged 6–24 months. Inappropriate feeding practices may lead to malnutrition. This study aimed to determine the relationship between complementary feeding and nutritional status among infants aged 6–24 months.</p> <p>This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 50 infants aged 6–24 months selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires and anthropometric measurements. Data were analyzed using chi-square test and Odds Ratio (OR).</p> <p>The results showed a significant relationship between complementary feeding and nutritional status with a p-value of 0.003 and OR = 4.20.</p> <p>The conclusion of this study is that the provision of appropriate MP-ASI is associated with good nutritional status in infants aged 6–24 months.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> MP-ASI, Nutritional Status, Infants</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan status gizi bayi usia 6–24 bulan. Pemberian MP-ASI yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah gizi seperti gizi kurang maupun gizi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi pada bayi usia 6–24 bulan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 50 bayi usia 6–24 bulan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pemberian MP-ASI dan pengukuran status gizi berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U). Analisis data menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio (OR).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi dengan nilai p-value = 0,003 (&lt;0,05) dan OR = 4,20.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian MP-ASI yang tepat berhubungan dengan status gizi yang baik pada bayi usia 6–24 bulan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> MP-ASI, Status Gizi, Bayi</em></p> 2026-04-16T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Warda M, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1238 Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pada Ibu Hamil Terhadap Status Gizi Ibu 2026-04-24T23:26:32+00:00 Risma Putri Utama rezqiqahika@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Maternal nutritional status is an important factor affecting maternal and fetal health. One strategy to improve maternal nutrition is supplementary feeding. This study aimed to determine the effect of supplementary feeding on the nutritional status of pregnant women.</p> <p>This study used a quantitative method with a pre-experimental (one group pretest-posttest design). The sample consisted of 40 pregnant women selected using purposive sampling. Data were collected through weight and MUAC measurements before and after intervention. Data were analyzed using paired t-test.</p> <p>The results showed a significant improvement in nutritional status after supplementary feeding with a p-value of 0.001.</p> <p>The conclusion of this study is that providing additional food has a significant effect on improving the nutritional status of pregnant women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Supplementary Food, Pregnant Women, Nutritional Status</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Status gizi ibu hamil merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan ibu dan janin. Salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi ibu hamil adalah melalui pemberian makanan tambahan (PMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap status gizi ibu hamil.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental (one group pretest-posttest). Sampel penelitian sebanyak 40 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan dan lingkar lengan atas (LILA) sebelum dan sesudah intervensi PMT. Analisis data menggunakan uji paired t-test.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan status gizi ibu hamil setelah pemberian PMT dengan nilai p-value = 0,001 (&lt;0,05).</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian makanan tambahan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan status gizi ibu hamil.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Makanan Tambahan, Ibu Hamil, Status Gizi</p> 2026-04-17T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Risma Putri Utama, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1239 Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Wanita Usia Subur 2026-04-24T23:35:17+00:00 Rizky Aprilia apriliariz03@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Vaginal discharge is a common condition among women of reproductive age and can be physiological or pathological. Poor personal hygiene is one of the risk factors. This study aims to analyze the relationship between personal hygiene and vaginal discharge among women of reproductive age. A quantitative cross-sectional design was used involving 140 respondents. Data were collected using questionnaires and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that women with poor personal hygiene had a higher risk of vaginal discharge (p&lt;0.05). It is concluded that there is a significant relationship between personal hygiene and vaginal discharge.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Personal Hygiene, Vaginal Discharge, Reproductive-Age Women</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keputihan merupakan kondisi umum yang dialami oleh wanita usia subur dan dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Personal hygiene yang kurang baik menjadi salah satu faktor risiko terjadinya keputihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada wanita usia subur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 140 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan personal hygiene kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami keputihan (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara personal hygiene dan kejadian keputihan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Personal Hygiene, Keputihan, Wanita Usia Subur</p> 2026-04-18T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rizky Aprilia, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1246 Gizi Anak Usia Sekolah Ceria Cegah Anemia Remaja Dengan Imbangan Asupan 2026-05-02T11:22:01+00:00 Egy Sunanda Putra egyputra93@poltekkesjambi.ac.id Rusmimpong Rusmimpong egyputra93@poltekkesjambi.ac.id Alpari Nopindra egyputra93@poltekkesjambi.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The high risk of anemia among female students at SMA Negeri 5 in Jambi City reflects a serious nutritional problem. Many students experience symptoms such as dizziness, weakness, nausea, and abdominal pain, which are directly related to anemia and nutritional imbalance. Dizziness and weakness can indicate iron deficiency, especially in adolescent girls. Complaints of nausea and heartburn indicate irregular eating patterns, which result in low intake of essential nutrients.</p> <p>Lack of knowledge about anemia and balanced nutrition is a major factor influencing unhealthy eating patterns among adolescents. To address this, educational interventions were conducted through education on anemia and balanced nutrition using Battle Quizzes and Kahoot! quizzes, the introduction of the "Isi Piringku" concept as a visual guide to healthy eating, and the establishment of the "Pojok Sehat CERIA" as a health information center at the school. Furthermore, a "Pojok Sehat CERIA" (CERIA Health Content Competition) was held with the theme of anemia and balanced nutrition. The winner will be crowned as a CERIA friend ambassador. These "CERIA friend ambassadors" will serve as role models for students and will continue the efforts of the Pojok Sehat CERIA.</p> <p>This activity was conducted from April 28–May 20, 2025, and involved 10th-grade students. Evaluation showed a significant increase in students' knowledge and awareness regarding the importance of a balanced, nutritious diet and anemia prevention. This visual-based, participatory intervention proved effective and could be adapted as a promotive-preventive effort for adolescent health in other schools.</p> <p><strong>Keywords: </strong>Balanced Nutrition, Anemia, Adolescents, Nutrition Education, My Plate, Health Promotion.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tingginya risiko anemia di kalangan siswi SMA Negeri 5 Kota Jambi mencerminkan permasalahan gizi yang serius, dengan banyak siswa mengalami gejala seperti pusing, lemas, mual, dan sakit perut, merupakan gejala yang berhubungan langsung dengan anemia dan ketidakseimbangan gizi. Pusing dan lemas bisa mengindikasikan kekurangan zat besi, terutama pada remaja putri. Keluhan mual dan maag menunjukkan pola makan yang tidak teratur, yang berdampak pada rendahnya asupan nutrisi penting.</p> <p>Kurangnya pengetahuan tentang anemia dan gizi seimbang menjadi faktor utama yang memengaruhi pola makan tidak sehat di kalangan remaja. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan intervensi edukatif melalui edukasi Anemia dan Gizi Seimbang dengan Battle Quizz dan juga kuis Kahoot!, pengenalan konsep “Isi Piringku” sebagai panduan visual makan sehat, pembentukan “Pojok Sehat CERIA” sebagai pusat informasi kesehatan di sekolah. Lalu mengadakan “Lomba Konten Kesehatan CERIA” dengan tema Anemia dan Gizi Seimbang, dimana pemenangnya akan dinobatkan sebagai duta sahabat CERIA. “Duta Sahabat CERIA” tersebut akan menjadi role model bagi siswa/i dan akan meneruskan Pojok Sehat CERIA.</p> <p>Kegiatan ini dilaksanakan pada 28 April–20 Mei 2025 dan melibatkan siswa kelas X. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya pola makan bergizi seimbang dan pencegahan anemia. Intervensi berbasis visual dan partisipatif ini terbukti efektif dan dapat diadaptasi sebagai upaya promotif-preventif kesehatan remaja di sekolah lain.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: <em>Gizi seimbang, anemia, remaja, edukasi gizi, Isi Piringku, promosi kesehatan.</em></p> 2026-05-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Egy Sunanda Putra, Rusmimpong Rusmimpong, Alpari Nopindra https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1256 Analisis Interaksi Sosial Antara Tenaga Kesehatan Dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan 2026-05-06T07:51:39+00:00 Ahmad Hilal fhasranoldua@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This study aims to analyze social interaction between healthcare workers and patients in healthcare services. Social interaction plays a crucial role in determining service quality and patient satisfaction. This research uses a qualitative descriptive approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation.</p> <p>The results show that effective communication, empathy, and professional attitudes of healthcare workers significantly influence patient trust and comfort. Social interaction occurs in both verbal and nonverbal forms, where clear explanations and supportive body language enhance patient understanding. However, several barriers were identified, including limited consultation time, high workload, and differences in social and cultural backgrounds.</p> <p>Furthermore, the findings indicate a significant relationship between the quality of social interaction and patient satisfaction, as supported by a Chi-Square analysis. Good interaction improves patient compliance, reduces anxiety, and enhances overall healthcare outcomes. Therefore, improving interpersonal communication skills among healthcare workers is essential to achieve better healthcare service quality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Communication, Social Interaction, Patient Satisfaction, Healthcare Workers</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, faktor, serta dampak interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang baik ditandai dengan adanya komunikasi dua arah, empati, serta penghargaan terhadap pasien. Sebaliknya, interaksi yang kurang optimal dipengaruhi oleh beban kerja tinggi dan kurangnya pelatihan komunikasi. Dampak dari interaksi yang baik adalah meningkatnya kepuasan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas komunikasi dalam pelayanan kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Komunikasi Kesehatan, Interaksi Sosial, Kepuasan Pasien, Tenaga Medis</em></p> 2026-05-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ahmad Hilal, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1257 Hubungan Beban Kerja Dengan Burnout Perawat Rsu Diponegoro Dua Satu Klaten 2026-05-07T10:55:42+00:00 Yosi Murtiwi yosimurtiwi@gmail.com Ratna Ratna yosimurtiwi@gmail.com Yeni Rusyani yosimurtiwi@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Nurses providing nursing services can experience workloads that cause stress, which can lead to burnout syndrome. The purpose of this study was to determine the relationship between workload and burnout among nurses at Diponegoro Dua Satu Klaten General Hospital. This study used a cross-sectional approach with proportional random sampling as the sampling technique. The instruments used were a workload questionnaire and a burnout questionnaire, and the analysis method employed was Kendall's tau B. The study found that 42 nurses (75%) had high workload and 36 nurses (64.3%) had low burnout. The statistical test yielded a P-value of 0.001, where P-value &lt; α-value (0.05). The workload experienced by nurses is classified as high, while the burnout level is low; however, the burnout level falls within the low category. It is recommended that respondents establish work hour limits, take breaks when tired, and make optimal efforts in their work.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Workload, Burnout, Nurses</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat menimbulkan beban kerja dan mengakibatkan stress kepada perawat yang dapat mengakibatkan burnout syndrome. Tujuan penelitian ini untuk menetahui hubungan beban kerja dengan burnout perawat RSU Diponegoro Dua Satu Klaten. Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>cross sectional</em> dengan menggunakan teknik sampling yaitu <em>proportional random sampling</em>, instrumen yang digunakan adalah kuesioner beban kerja dan kuesioner burnout, serta analisis yang digunakan yaitu Kendal tau B. Penelitian ini didapatkan 42 beban kerja tinggi (75%) dan 36 burnout rendah (64,3%). Hasil Uji statistik diperoleh nilai P value = 0.001 maka p value &lt; nilai α (0.05). Beban kerja yang dialami perawat berada pada beban kerja tinggi dan tingkat burnout rendah namun untuk tingkat burnout berada dalam kategori redah. Diharapkan kepada responden agar menetapkan batasan jam bekerja, istirahat jika lelah, dan melakukan usaha yang optimal dalam pekerjaannya.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> : Beban Kerja, Burnout, Perawat</em></p> 2026-05-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yosi Murtiwi, Ratna Ratna, Yeni Rusyani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1282 Hubungan Kepemilikan Jamban Sehat Dengan Kejadian Diare Di Wilayah Pedesaan 2026-06-02T22:44:08+00:00 Lorensius Lonik lorensiuslonik29@gmail.com Djunaedi Djunaedi lorensiuslonik29@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Diarrhea remains a significant public health problem in rural areas and is closely associated with environmental sanitation conditions. Ownership of healthy latrines is an important factor in preventing environmentally related diseases, including diarrhea. Limited access to proper sanitation facilities increases the risk of environmental contamination and water source pollution, facilitating the spread of diarrhea-causing microorganisms. This Community Service Program aimed to improve community knowledge regarding the importance of healthy latrine ownership and utilization as a strategy for diarrhea prevention in rural areas. The methods included health education, household sanitation observations, family assistance, and knowledge evaluations through pre-tests and post-tests. The program involved 40 household heads from a rural community. The results showed an increase in the average knowledge score from 58.5 before the intervention to 84.2 after the intervention. Furthermore, observational findings indicated that households with healthy latrines experienced lower rates of diarrhea compared to those without healthy latrines. This program positively contributed to raising community awareness regarding environmental sanitation and the importance of healthy latrine use. Sustainable efforts through education, community assistance, and multisectoral collaboration are needed to improve access to adequate sanitation in rural areas.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Healthy Latrine, Diarrhea, Environmental Sanitation, Rural Area</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan di wilayah pedesaan dan berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan. Kepemilikan jamban sehat merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan penularan penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare. Kurangnya akses terhadap jamban sehat dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan sumber air sehingga mempermudah penyebaran mikroorganisme penyebab diare. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan dan penggunaan jamban sehat sebagai upaya pencegahan diare di wilayah pedesaan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, observasi kondisi sanitasi rumah tangga, pendampingan keluarga, dan evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 40 kepala keluarga di wilayah pedesaan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dari nilai rata-rata 58,5 menjadi 84,2 setelah edukasi. Selain itu, hasil observasi menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki jamban sehat cenderung memiliki riwayat kejadian diare yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi lingkungan dan penggunaan jamban sehat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui edukasi, pendampingan, dan dukungan lintas sektor untuk meningkatkan akses sanitasi yang layak di wilayah pedesaan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Jamban Sehat, Diare, Sanitasi Lingkungan, Pedesaan</em></p> 2026-06-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lorensius Lonik, Djunaedi Djunaedi, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1283 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care (ANC) 2026-06-03T11:17:16+00:00 Arnita Rapang lady12arwen@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pregnancy is a physiological process that requires regular monitoring to detect complications that may endanger both the mother and fetus. Pregnant women's knowledge regarding danger signs during pregnancy plays an important role in increasing awareness and compliance with Antenatal Care (ANC) visits. This study aimed to determine the relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with Antenatal Care visits.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on knowledge of pregnancy danger signs and observation sheets of ANC visit compliance based on maternal and child health records. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents had good knowledge levels (56%) and were compliant with ANC visits (70%). The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with ANC visits.</p> <p>It can be concluded that better knowledge regarding pregnancy danger signs is associated with higher compliance in attending ANC visits. Therefore, health education programs should be strengthened to improve maternal awareness and utilization of ANC services.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Knowledge, Pregnancy Danger Signs, Pregnant Women, Antenatal Care, ANC </em><em>Compliance</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang memerlukan pemantauan secara rutin untuk mendeteksi adanya komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur melalui pelayanan Antenatal Care (ANC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC).</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan dan lembar observasi kepatuhan kunjungan ANC berdasarkan buku KIA. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 28 orang (56%) dan patuh melakukan kunjungan ANC sebanyak 35 orang (70%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan ANC.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan maka semakin tinggi tingkat kepatuhan dalam melakukan kunjungan ANC. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan kepada ibu hamil untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan ANC.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Pengetahuan, Tanda Bahaya Kehamilan, Ibu Hamil, Antenatal Care, Kepatuhan </em><em>ANC</em></p> 2026-06-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Anita Rappang, Cakrawati R Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1284 Pengaruh Pendampingan Kehamilan Terhadap Kesiapan Persalinan Dan Perawatan Bayi Di Masa Nifas 2026-06-03T12:35:03+00:00 Jean Christy Ade Putri jeanestikap@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pregnancy assistance is an important effort in improving maternal readiness for childbirth and postpartum infant care. Assistance provided by healthcare workers, family members, and community health volunteers can offer physical, psychological, and educational support during pregnancy. This study aimed to determine the effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and infant care during the postpartum period.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 third-trimester pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on pregnancy assistance, childbirth readiness, and infant care readiness. Data were analyzed using the Chi-Square test.</p> <p>The results showed that most respondents received good pregnancy assistance (64%). A total of 72% of respondents demonstrated good readiness for childbirth and infant care. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and postpartum infant care.</p> <p>It can be concluded that pregnancy assistance positively influences maternal readiness for childbirth and infant care during the postpartum period.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Pregnancy Assistance, Childbirth Readiness, Infant Care, Postpartum Period, Pregnant Women</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendampingan kehamilan merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan dan masa nifas. Pendampingan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga, maupun kader kesehatan dapat memberikan dukungan fisik, psikologis, dan informasi kesehatan yang dibutuhkan selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendampingan kehamilan terhadap kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pendampingan kehamilan dan kesiapan persalinan serta perawatan bayi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh pendampingan kehamilan yang baik sebanyak 32 responden (64%). Sebanyak 36 responden (72%) memiliki kesiapan persalinan dan perawatan bayi yang baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pendampingan kehamilan dengan kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas.</p> <p>Disimpulkan bahwa pendampingan kehamilan berpengaruh positif terhadap kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dan merawat bayi setelah melahirkan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Pendampingan Kehamilan, Kesiapan Persalinan, Perawatan Bayi, Masa Nifas, Ibu Hamil</em></p> 2026-06-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jean Christy Ade Putri, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1289 Analisis Risiko Perdarahan Postpartum Akibat Atonia Uteri Pada Ibu Pasca Persalinan 2026-06-04T22:02:03+00:00 Jean Christy Ade Putri jeanestikap@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Postpartum hemorrhage remains one of the leading causes of maternal mortality worldwide. Uterine atony is the most common cause of postpartum hemorrhage due to the inability of the uterus to contract effectively after delivery. This condition can result in excessive blood loss and may threaten maternal survival if not managed promptly and appropriately. This study aimed to analyze the risk of postpartum hemorrhage caused by uterine atony among postpartum mothers.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. A total of 45 postpartum mothers were selected through purposive sampling. Data were collected from medical records and observation sheets. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a 95% confidence level.</p> <p>The results showed a significant relationship between risk factors for uterine atony and the occurrence of postpartum hemorrhage (p=0.002). The dominant risk factors included prolonged labor, multiparity, multiple pregnancy, and fetal macrosomia. Mothers with these risk factors had a greater likelihood of experiencing postpartum hemorrhage than those without such risk factors.</p> <p>In conclusion, uterine atony is a major contributing factor to postpartum hemorrhage. Early detection and proper management of risk factors are essential to prevent complications and reduce maternal mortality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Postpartum Hemorrhage, Uterine Atony, Postpartum Mothers, Risk Factors, Maternal Health</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia. Atonia uteri menjadi penyebab paling sering terjadinya perdarahan postpartum karena kegagalan uterus berkontraksi secara adekuat setelah persalinan. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar yang berpotensi mengancam keselamatan ibu apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko perdarahan postpartum akibat atonia uteri pada ibu pasca persalinan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 45 ibu pasca persalinan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko atonia uteri dengan kejadian perdarahan postpartum (p=0,002). Faktor risiko yang paling dominan adalah persalinan lama, multiparitas, kehamilan ganda, dan makrosomia. Ibu dengan faktor risiko tersebut memiliki kemungkinan lebih besar mengalami perdarahan postpartum dibandingkan ibu tanpa faktor risiko.</p> <p>Disimpulkan bahwa atonia uteri merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya perdarahan postpartum. Deteksi dini dan penanganan faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian ibu.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Perdarahan Postpartum, Atonia Uteri, Ibu Pasca Persalinan, Faktor Risiko, Kesehatan Maternal</em></p> 2026-06-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jean Christy Ade Putri, Cakrawati R Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1290 Analisis Pemantauan Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar Kepala, Dan Tanda Vital Pada Anak Usia 0–5 Tahun 2026-06-05T04:52:16+00:00 Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com Naomi Malaha cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Monitoring children's growth and health status is essential to ensure optimal development during the first five years of life. Anthropometric measurements such as weight, height, and head circumference, along with vital sign assessments, are important indicators for evaluating children's growth and overall health conditions. This study aimed to analyze the monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs among children aged 0–5 years.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. The sample consisted of 50 children aged 0–5 years selected using purposive sampling. Data were collected through anthropometric measurements and vital sign examinations, including body temperature, pulse rate, respiratory rate, and blood pressure. Data were analyzed using descriptive and univariate statistical methods.</p> <p>The results showed that most children had normal growth status based on weight-for-age, height-for-age, and head circumference indicators. Vital sign assessments also revealed that the majority of respondents were within normal physiological ranges according to their age groups. Regular monitoring was found to be effective in identifying growth disorders and health problems at an early stage.</p> <p>In conclusion, routine monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs is essential to support optimal growth and development among children aged 0–5 years.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Body Weight, Height, Head Circumference, Vital Signs, Child Growth, Early Childhood</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0–5 tahun merupakan indikator penting dalam menilai status kesehatan anak. Pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara rutin diperlukan untuk mendeteksi dini gangguan pertumbuhan, perkembangan, maupun masalah kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital pada anak usia 0–5 tahun.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 50 anak usia 0–5 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan tanda vital yang meliputi suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. Analisis data dilakukan secara univariat dan deskriptif.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status pertumbuhan dalam kategori normal berdasarkan indikator berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan lingkar kepala sesuai usia. Hasil pemeriksaan tanda vital juga menunjukkan sebagian besar responden berada dalam rentang normal sesuai kelompok usia. Pemantauan rutin terbukti penting dalam mendeteksi gangguan kesehatan dan pertumbuhan anak sejak dini.</p> <p>Disimpulkan bahwa pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara berkala sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak usia 0–5 tahun.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, tanda vital, anak usia dini, pertumbuhan anak</p> 2026-06-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Naomi Malaha https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1293 Hubungan Pemahaman Aspek Legal Keperawatan Dengan Kualitas Pelayanan Keperawatan Anak 2026-06-07T03:56:09+00:00 Marlin Eppang marlineppang@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pediatric nursing care is an essential component of healthcare services that requires both clinical competence and an adequate understanding of legal nursing aspects. A good understanding of legal aspects enables nurses to provide care in accordance with professional standards, ethical principles, and applicable regulations, thereby improving the quality of nursing services. This study aimed to determine the relationship between nurses' understanding of legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 40 nurses working in pediatric wards and selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on legal nursing knowledge and observation sheets assessing the quality of pediatric nursing care. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents had a good understanding of legal nursing aspects (60%). Good quality pediatric nursing care was found among 67.5% of respondents. Statistical analysis revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between understanding legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care.</p> <p>It can be concluded that a better understanding of legal nursing aspects is associated with improved quality of pediatric nursing care. Therefore, strengthening legal nursing education is essential to enhance service quality and patient safety.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Legal Aspects Of Nursing, Service Quality, Pediatric Nursing Care, Nurses, Healthcare Services</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pelayanan keperawatan anak merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang memerlukan kompetensi klinis dan pemahaman aspek legal keperawatan. Pemahaman aspek legal yang baik dapat membantu perawat melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar profesi, kode etik, dan peraturan yang berlaku sehingga kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang bertugas di ruang perawatan anak dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pemahaman aspek legal keperawatan dan lembar observasi kualitas pelayanan keperawatan anak. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman aspek legal keperawatan dalam kategori baik sebanyak 24 responden (60%). Kualitas pelayanan keperawatan anak dalam kategori baik ditemukan pada 27 responden (67,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik pemahaman perawat mengenai aspek legal keperawatan, maka semakin baik pula kualitas pelayanan keperawatan anak yang diberikan kepada pasien.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Aspek Legal Keperawatan, Kualitas Pelayanan, Keperawatan Anak, Perawat, Pelayanan Kesehatan</em></p> 2026-06-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1294 Pengaruh Pelatihan Basic Life Support (BLS) Terhadap Kesiapsiagaan Perawat Dalam Penanganan Henti Jantung 2026-06-07T22:22:13+00:00 Djunaedi Djunaedi djunaedi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Cardiac arrest is a life-threatening emergency that requires immediate and appropriate intervention to improve patient survival. Nurses, as frontline healthcare providers, play a crucial role in initiating resuscitation through Basic Life Support (BLS). BLS training is essential to enhance nurses’ knowledge, skills, and preparedness in managing cardiac arrest cases. This study aimed to determine the effect of Basic Life Support (BLS) training on nurses’ preparedness in handling cardiac arrest.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 40 nurses selected using purposive sampling. Data were collected using preparedness questionnaires and BLS skill observation sheets before and after training. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean preparedness score increased from 65.20 ± 8.14 before training to 84.75 ± 6.32 after training. The Paired Sample t-Test yielded a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of BLS training on nurses’ preparedness in managing cardiac arrest.</p> <p>In conclusion, BLS training is effective in improving nurses’ preparedness and should be conducted regularly as part of professional competency development programs.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Basic Life Support, BLS, Nurse Preparedness, Cardiac Arrest, Emergency Training</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera dan tepat untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang sering berada di garis depan pelayanan memiliki peran penting dalam melakukan tindakan resusitasi awal melalui Basic Life Support (BLS). Pelatihan BLS diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi kasus henti jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan Basic Life Support (BLS) terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>pre-experimental one group pretest-posttest</em>. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kesiapsiagaan dan lembar observasi keterampilan BLS sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kesiapsiagaan perawat sebelum pelatihan adalah 65,20 ± 8,14 dan meningkat menjadi 84,75 ± 6,32 setelah pelatihan. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pelatihan Basic Life Support terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung.</p> <p>Disimpulkan bahwa pelatihan BLS efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan perawat sehingga perlu dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Basic Life Support, BLS, Kesiapsiagaan Perawat, Henti Jantung, Pelatihan Kegawatdaruratan</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Djunaedi Djunaedi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1295 Pengembangan Model Community Health Nursing Dalam Meningkatkan Ketangguhan Masyarakat Terhadap Bencana 2026-06-08T04:48:40+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Natural and non-natural disasters can cause significant impacts on community health, social conditions, economic stability, and environmental sustainability. Indonesia's high vulnerability to disasters requires effective strategies to strengthen community resilience through community-based health approaches. Community Health Nursing (CHN) is one of the approaches that can improve preparedness, adaptive capacity, and resilience among communities facing disaster situations. This study aimed to develop a Community Health Nursing model to enhance community resilience toward disasters.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. A total of 60 respondents consisting of health cadres, community leaders, and community health workers were selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and observation sheets. Data were analyzed using univariate and Chi-Square statistical tests.</p> <p>The results showed that the implementation of the Community Health Nursing model was significantly associated with increased community resilience toward disasters (p=0.001). Health education programs, disaster preparedness training, establishment of disaster response groups, and empowerment of health cadres significantly improved community capacity in dealing with emergency situations.</p> <p>In conclusion, the development of a Community Health Nursing model is an effective strategy for enhancing community resilience through promotive, preventive, and community empowerment approaches.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Community Health Nursing, Community Resilience, Disaster Preparedness, Disaster Management, Community Health</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bencana alam maupun nonalam merupakan peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian besar terhadap kehidupan masyarakat, baik dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Tingginya risiko bencana di Indonesia menuntut adanya upaya peningkatan ketangguhan masyarakat melalui pendekatan kesehatan berbasis komunitas. <em>Community Health Nursing</em> (CHN) merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, kemampuan adaptasi, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model <em>Community Health Nursing</em> dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang terdiri dari kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan komunitas yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model <em>Community Health Nursing</em> berhubungan signifikan dengan peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana (p=0,001). Program edukasi kesehatan, pelatihan kesiapsiagaan bencana, pembentukan kelompok siaga bencana, dan pemberdayaan kader kesehatan terbukti meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.</p> <p>Disimpulkan bahwa pengembangan model <em>Community Health Nursing</em> dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana melalui pendekatan promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Community Health Nursing, Ketangguhan Masyarakat, Bencana, Kesiapsiagaan, Kesehatan Komunitas</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1296 Perspektif Tenaga Kesehatan Tentang Perlindungan Hak Dan Martabat Pasien Melalui Prinsip Confidentiality 2026-06-08T12:08:26+00:00 Marlin Eppang marlineppang@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Confidentiality is a fundamental principle in healthcare services aimed at protecting patients' rights, privacy, and dignity. Healthcare professionals have ethical and professional responsibilities to maintain the confidentiality of patient information throughout the healthcare process. Violations of confidentiality may reduce patient trust, cause psychological harm, and result in legal consequences for healthcare providers. This study aimed to explore healthcare professionals’ perspectives on protecting patient rights and dignity through the principle of confidentiality.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. The sample consisted of 40 healthcare professionals, including nurses and midwives, selected using purposive sampling techniques. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate and Chi-Square statistical tests.</p> <p>The results showed that most healthcare professionals had a good understanding of confidentiality principles (70%). The majority also demonstrated good implementation of confidentiality practices in healthcare services (75%). Statistical analysis revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between healthcare professionals' understanding of confidentiality and the protection of patients' rights and dignity.</p> <p>In conclusion, proper implementation of confidentiality principles enhances the protection of patient rights and dignity and strengthens patient trust in healthcare services.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Confidentiality, Patient Rights, Patient Dignity, Healthcare Professionals, Healthcare Ethics</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Prinsip <em>confidentiality</em> atau kerahasiaan merupakan salah satu aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan melindungi hak, privasi, dan martabat pasien. Tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab profesional dan etik untuk menjaga kerahasiaan informasi medis pasien selama proses pelayanan kesehatan berlangsung. Pelanggaran terhadap prinsip kerahasiaan dapat menurunkan kepercayaan pasien, menimbulkan dampak psikologis, serta berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum bagi tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif tenaga kesehatan tentang perlindungan hak dan martabat pasien melalui penerapan prinsip <em>confidentiality</em>.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 40 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat dan bidan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang baik mengenai prinsip <em>confidentiality</em> sebanyak 28 responden (70%). Sebagian besar responden juga menunjukkan penerapan prinsip kerahasiaan yang baik dalam pelayanan kesehatan sebanyak 30 responden (75%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pemahaman tenaga kesehatan mengenai <em>confidentiality</em> dengan perlindungan hak dan martabat pasien.</p> <p>Disimpulkan bahwa penerapan prinsip <em>confidentiality</em> yang baik dapat meningkatkan perlindungan hak dan martabat pasien serta memperkuat kepercayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Confidentiality, Hak Pasien, Martabat Pasien, Tenaga Kesehatan, Etika Kesehatan</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1297 Peran Keselamatan Pasien Sebagai Pilar Utama Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Analitik 2026-06-08T22:18:25+00:00 Djunaedi Djunaedi djunaedi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Patient safety is a fundamental component of healthcare systems aimed at preventing injuries, medical errors, and adverse events during healthcare delivery. Effective implementation of patient safety principles can improve healthcare quality, patient satisfaction, and public trust in healthcare institutions. This study aimed to analyze the role of patient safety as a primary pillar in improving healthcare service quality.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 healthcare professionals, including nurses, midwives, and other healthcare workers selected through purposive sampling. Data were collected using patient safety culture questionnaires and healthcare quality observation sheets. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents demonstrated good implementation of patient safety practices (68%). Good healthcare service quality was identified in 74% of respondents. Statistical analysis revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between patient safety implementation and healthcare service quality.</p> <p>In conclusion, patient safety plays a crucial role in improving healthcare quality. Better implementation of patient safety practices is associated with higher healthcare service quality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Patient Safety, Healthcare Quality, Quality Of Care, Healthcare Services, Healthcare Professionals</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keselamatan pasien (<em>patient safety</em>) merupakan komponen utama dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya cedera, kesalahan medis, dan kejadian tidak diharapkan selama proses pelayanan kesehatan. Penerapan keselamatan pasien yang optimal dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, kepuasan pasien, serta kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran keselamatan pasien sebagai pilar utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dan lembar observasi mutu pelayanan kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki penerapan keselamatan pasien dalam kategori baik sebanyak 34 responden (68%). Mutu pelayanan kesehatan dalam kategori baik ditemukan pada 37 responden (74%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan keselamatan pasien dengan mutu pelayanan kesehatan.</p> <p>Disimpulkan bahwa keselamatan pasien memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Semakin baik penerapan keselamatan pasien, maka semakin tinggi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Keselamatan Pasien, Mutu Pelayanan Kesehatan, Patient Safety, Kualitas Pelayanan, Tenaga Kesehatan</em></p> 2026-06-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Djunaedi Djunaedi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1298 Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Perubahan Perilaku Hidup Sehat Dalam Upaya Menurunkan Angka Morbiditas Pada Masyarakat 2026-06-10T05:03:20+00:00 Rosdiana Rosdiana rosdianarusly993@gmail.com Nurhaedah Nurhaedah rosdianarusly993@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Health promotion is one of the primary strategies for increasing public awareness and encouraging healthy lifestyle behaviors. Positive behavioral changes can help prevent various diseases and reduce morbidity rates in the community. Lack of knowledge and awareness regarding healthy living remains a contributing factor to the high incidence of communicable and non-communicable diseases. This study aimed to analyze the effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes in efforts to reduce community morbidity rates.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using healthy lifestyle behavior questionnaires before and after health promotion interventions. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean healthy lifestyle behavior score increased from 64.25 ± 7.86 before health promotion to 82.70 ± 6.14 after health promotion. Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes among community members.</p> <p>In conclusion, health promotion effectively improves healthy lifestyle behaviors and can contribute to reducing morbidity rates through increased public awareness and participation in maintaining health.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Health Promotion, Healthy Lifestyle Behavior, Morbidity, Community, Health Education</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi utama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Perubahan perilaku yang positif dapat membantu mencegah berbagai penyakit dan menurunkan angka morbiditas di masyarakat. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat masih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kejadian penyakit menular maupun tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat dalam upaya menurunkan angka morbiditas pada masyarakat.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner perilaku hidup sehat sebelum dan sesudah pelaksanaan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku hidup sehat meningkat dari 64,25 ± 7,86 sebelum promosi kesehatan menjadi 82,70 ± 6,14 setelah promosi kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat masyarakat.</p> <p>Disimpulkan bahwa promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu upaya untuk menurunkan angka morbiditas melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Promosi Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat, Morbiditas, Masyarakat, Pendidikan Kesehatan</em></p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rosdiana Rosdiana, Nurhaedah Nurhaedah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1301 Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas: Studi Pretest-Posttest 2026-06-10T10:17:34+00:00 Musaidah Musaidah rustammusaidah@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hypertension is one of the leading non-communicable diseases contributing significantly to morbidity and mortality worldwide. Medication adherence is a crucial factor in controlling blood pressure and preventing complications. However, many hypertensive patients remain non-adherent to treatment due to limited knowledge and awareness regarding the importance of long-term therapy. Health promotion is considered an effective strategy to improve medication adherence among hypertensive patients. This study aimed to determine the effect of health promotion on medication adherence among hypertensive patients at a primary healthcare center.</p> <p>This study employed a quantitative approach using a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 50 hypertensive patients selected through purposive sampling. Data were collected using medication adherence questionnaires administered before and after the health promotion intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean medication adherence score increased from 62.84 ± 8.12 before the intervention to 83.56 ± 6.25 after the intervention. Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of health promotion on medication adherence among hypertensive patients.</p> <p>In conclusion, health promotion effectively improves medication adherence among hypertensive patients and supports better blood pressure control and prevention of disease complications.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Health Promotion, Medication Adherence, Hypertension, Health Education, Primary Healthcare</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah dan pencegahan komplikasi. Namun, masih banyak pasien hipertensi yang tidak patuh terhadap pengobatan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya terapi jangka panjang. Promosi kesehatan menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi di puskesmas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 50 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepatuhan pengobatan sebelum dan sesudah intervensi promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kepatuhan pengobatan meningkat dari 62,84 ± 8,12 sebelum intervensi menjadi 83,56 ± 6,25 setelah intervensi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan promosi kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan pasien hipertensi.</p> <p>Disimpulkan bahwa promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi sehingga dapat mendukung pengendalian tekanan darah dan mencegah komplikasi penyakit.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Promosi Kesehatan, Kepatuhan Pengobatan, Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Puskesmas</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Musaidah Musaidah, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1303 Pengaruh Kompetensi Apoteker Terhadap Keberhasilan Manajemen Farmasi Di Puskesmas 2026-06-10T10:25:08+00:00 Sara Surya sar4surya@gmail.com Mukriani Mukriani sar4surya@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pharmacist competency is an essential factor influencing the quality of pharmaceutical services and the success of pharmacy management in primary healthcare centers. Pharmacists play a strategic role in drug management, medication information services, therapy monitoring, and quality assurance of pharmaceutical services. High competency levels contribute to effective pharmacy management, ensuring drug availability, safety, and rational use. This study aimed to analyze the effect of pharmacist competency on the success of pharmacy management in primary healthcare centers.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a cross-sectional analytical design. The sample consisted of 35 pharmacists and pharmacy technicians working in several primary healthcare centers. Data were collected using pharmacist competency questionnaires and pharmacy management observation sheets. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that 68.6% of respondents had good competency levels, while 74.3% demonstrated successful pharmacy management practices. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of pharmacist competency on pharmacy management success.</p> <p>In conclusion, pharmacist competency significantly influences the success of pharmacy management in primary healthcare centers. Continuous professional education and training programs are recommended to improve pharmaceutical service quality.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Pharmacist Competency, Pharmacy Management, Pharmaceutical Services, Primary Healthcare, Clinical Pharmacy</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kompetensi apoteker merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas pelayanan kefarmasian dan keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas. Apoteker memiliki peran strategis dalam pengelolaan obat, pelayanan informasi obat, pemantauan terapi, serta pengendalian mutu pelayanan kefarmasian. Kompetensi yang baik akan mendukung efektivitas manajemen farmasi sehingga ketersediaan, keamanan, dan penggunaan obat dapat terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi apoteker terhadap keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 35 apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di beberapa puskesmas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kompetensi apoteker dan lembar observasi manajemen farmasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kompetensi dalam kategori baik sebanyak 24 responden (68,6%). Keberhasilan manajemen farmasi dalam kategori baik ditemukan pada 26 responden (74,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara kompetensi apoteker dan keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas.</p> <p>Disimpulkan bahwa kompetensi apoteker berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas. Peningkatan kompetensi melalui pendidikan berkelanjutan dan pelatihan profesional perlu terus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kompetensi Apoteker, Manajemen Farmasi, Pelayanan Kefarmasian, Puskesmas, Farmasi Klinik</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sara Surya, Mukriani Mukriani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1302 Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Pada Remaja Putri 2026-06-10T10:21:13+00:00 Rismayana Rismayana badorismayana@yahoo.com Nurhaedah Nurhaedah badorismayana@yahoo.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Gender-based violence is a significant social and public health issue affecting adolescent girls. Limited knowledge of reproductive health may increase adolescents’ vulnerability to various forms of violence, including physical, psychological, sexual, and online violence. Adequate reproductive health knowledge is expected to foster positive attitudes toward preventing gender-based violence. This study aimed to determine the relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention among adolescent girls.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a cross-sectional analytical design. The sample consisted of 60 adolescent girls selected using purposive sampling. Data were collected using reproductive health knowledge questionnaires and gender-based violence prevention attitude questionnaires. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that 68.3% of respondents had good reproductive health knowledge, while 65% demonstrated positive attitudes toward gender-based violence prevention. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention.</p> <p>In conclusion, better reproductive health knowledge is associated with more positive attitudes toward preventing gender-based violence among adolescent girls.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Reproductive Health, Gender-Based Violence, Adolescent Girls, Knowledge, Attitude</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekerasan berbasis gender merupakan salah satu masalah sosial dan kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan kekerasan dalam lingkungan digital. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik diharapkan dapat membentuk sikap positif dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dan kuesioner sikap pencegahan kekerasan berbasis gender. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41 responden (68,3%) memiliki tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, sedangkan 39 responden (65%) memiliki sikap pencegahan kekerasan berbasis gender yang positif. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan kesehatan reproduksi yang dimiliki remaja putri, maka semakin positif pula sikap mereka dalam mencegah kekerasan berbasis gender.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kesehatan Reproduksi, Kekerasan Berbasis Gender, Remaja Putri, Pengetahuan, Sikap</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rismayana Rismayana, Nurhaedah Nurhaedah