https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/issue/feed Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan 2026-07-17T06:10:47+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan</strong> Merupakan Jurnal yang memuat tentang publikasi penelitian yang relevan dengan bidang ilmu kesehatan yang meliputi keperawatan, kebidanan, fisioterapi, akupuntur, jamu (herbal), okupasi terapi, ortotik prostetik, terapi wicara, kesehatan masyarakat, kedokteran, pendidikan kesehatan dll. Artikel penelitian, literature review dan komentar diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ini.</p> https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1181 Hubungan Komunikasi Perawat dengan Persepsi Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan 2026-04-03T06:38:19+00:00 Syaiful Bachri syaifulbrg62@gmail.com Djunaedi syaifulbrg62@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Effective communication between nurses and patients is a crucial factor in improving the quality of nursing care. Good communication can help build a therapeutic relationship, increase patient trust, and influence patient perceptions of the care provided. This study aimed to determine the relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care. The study used an analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 80 inpatients selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire on nurse communication and patient perceptions of nursing care. Data analysis used a chi-square test. The results showed that patients who rated nurse communication as good tended to have positive perceptions of nursing care (75%). The statistical test showed a p-value of 0.012 (p &lt; 0.05). It was concluded that there is a significant relationship between nurse communication and patient perceptions of nursing care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Nurse Communication, Patient Perception, Nursing Care, Service Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Komunikasi yang baik dapat membantu membangun hubungan terapeutik, meningkatkan kepercayaan pasien, serta memengaruhi persepsi pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner komunikasi perawat dan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menilai komunikasi perawat baik cenderung memiliki persepsi positif terhadap pelayanan keperawatan sebesar 75%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,012 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara komunikasi perawat dengan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Perawat, Persepsi Pasien, Pelayanan Keperawatan, Kualitas Pelayanan</p> 2026-04-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Syaiful Bachri, Djunaedi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1182 Karakterisasi Peran Bakteri Endofit Tanaman Herbal terhadap Aktivitas Antibakteri pada Mikroorganisme Patogen Manusia 2026-04-03T06:38:41+00:00 Eni Kurniati eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id Rahmat Pannyiwi eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id Meillisa Carlen Mainassy eni.kurniati@poltekkesjogja.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Endophytic bacteria are microorganisms that live within plant tissues without causing damage to their host plants. These bacteria are known to produce various secondary metabolites that have potential as antibacterial agents. Herbal plants, as a source of bioactive compounds, also have the potential to serve as habitats for endophytic bacteria that produce antimicrobial compounds. This study aims to characterize endophytic bacteria from herbal plants and evaluate their antibacterial activity against human pathogenic microorganisms. The study used the method of isolating endophytic bacteria from herbal plant tissues, followed by antibacterial activity testing using the disc diffusion method against pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The results showed that several endophytic bacterial isolates were able to inhibit the growth of pathogenic bacteria with inhibition zones ranging from 10–18 mm. This indicates that endophytic bacteria from herbal plants have potential as a source of natural antibacterial compounds.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Endophytic Bacteria, Herbal Plants, Antibacterial, Pathogenic Microorganisms</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan kerusakan pada tanaman inangnya. Bakteri ini diketahui mampu menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai agen antibakteri. Tanaman herbal sebagai sumber senyawa bioaktif juga berpotensi menjadi habitat bagi bakteri endofit yang menghasilkan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri endofit dari tanaman herbal serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap mikroorganisme patogen manusia. Penelitian menggunakan metode isolasi bakteri endofit dari jaringan tanaman herbal, diikuti dengan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri patogen seperti <em>Staphylococcus aureus</em> dan <em>Escherichia coli</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan zona hambat berkisar antara 10–18 mm. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit tanaman herbal memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bakteri Endofit, Tanaman Herbal, Antibakteri, Mikroorganisme Patogen</p> 2026-04-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Meillisa Carlen Mainassy https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1183 Analisis Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan 2026-04-03T06:39:06+00:00 Sara Surya sar4surya@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hypertension is a chronic disease with a high prevalence in the community and often requires long-term therapy. Inappropriate use of antihypertensive medications can lead to Drug-Related Problems (DRPs), which can potentially reduce the effectiveness of therapy and increase the risk of side effects in patients. This study aims to analyze the incidence of DRPs in hypertensive patients in outpatient settings.</p> <p>This study used a descriptive, observational method with a retrospective approach through a review of the medical records of hypertensive patients in outpatient settings. Data collected included patient characteristics, the type of antihypertensive medication used, and the incidence of DRPs, including inappropriate medication selection, inappropriate dosage, drug interactions, and side effects.</p> <p>The results showed that several DRPs were still found in hypertensive patients, including inappropriate medication dosages, potential drug interactions, and inappropriate medication use based on the patient's clinical condition. These DRPs have the potential to impact the success of hypertension therapy.</p> <p>The conclusion of this study indicates that DRPs still occur in hypertensive patients in outpatient settings. Therefore, the role of healthcare professionals, particularly pharmacists, in monitoring drug therapy is needed to improve the safety and effectiveness of patient treatment.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Hypertension, Drug-Related Problems, Antihypertensive, Outpatient</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat dan sering memerlukan terapi jangka panjang. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya <em>Drug Related Problems</em> (DRPs) yang berpotensi menurunkan efektivitas terapi serta meningkatkan risiko efek samping pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian DRPs pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif melalui penelaahan rekam medis pasien hipertensi di instalasi rawat jalan. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, jenis obat antihipertensi yang digunakan, serta kejadian DRPs yang meliputi pemilihan obat yang tidak tepat, dosis yang tidak sesuai, interaksi obat, dan efek samping obat.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan beberapa kejadian DRPs pada pasien hipertensi, di antaranya dosis obat yang tidak sesuai, potensi interaksi obat, serta penggunaan obat yang tidak tepat berdasarkan kondisi klinis pasien. Kejadian DRPs tersebut berpotensi mempengaruhi keberhasilan terapi hipertensi.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa DRPs masih terjadi pada pasien hipertensi di instalasi rawat jalan, sehingga diperlukan peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, dalam melakukan pemantauan terapi obat untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas pengobatan pasien.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Hipertensi, Drug Related Problems, Antihipertensi, Rawat Jalan</p> 2026-04-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sara Surya, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1185 Efektivitas Teknik Perawatan Luka Steril terhadap Pencegahan Infeksi Luka Operasi pada Pasien Post Operasi 2026-04-03T06:39:44+00:00 Nurlaelah nur887525@gmail.com Abdul Rivai Saleh Dunggio nur887525@gmail.com Febri Sriyanti nur887525@gmail.com Rahmat Pannyiwi nur887525@gmail.com Rahayu Setyaningsih nur887525@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Surgical site infections are a common complication in patients after surgery. These infections can prolong hospitalization, increase medical costs, and worsen the patient's condition. One way to prevent surgical site infections is through the application of sterile wound care techniques in accordance with standard operating procedures. This study aims to analyze the effectiveness of sterile wound care techniques in preventing surgical site infections in postoperative patients. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 50 postoperative patients treated in the operating room. Data were collected through observation of surgical site conditions and patient medical records. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that patients who received wound care using sterile techniques had a lower incidence of surgical site infections compared to patients who received less optimal wound care techniques. The statistical test showed a p-value of 0.021 (p &lt; 0.05). It was concluded that sterile wound care techniques are effective in preventing surgical site infections in postoperative patients.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Sterile Wound Care, Surgical Site Infection, Postoperative Patients</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infeksi luka operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien setelah menjalani tindakan pembedahan. Infeksi ini dapat memperpanjang masa perawatan, meningkatkan biaya pengobatan, serta memperburuk kondisi pasien. Salah satu upaya pencegahan infeksi luka operasi adalah melalui penerapan teknik perawatan luka steril yang sesuai dengan standar prosedur operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik perawatan luka steril terhadap pencegahan infeksi luka operasi pada pasien post operasi. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 50 pasien post operasi yang dirawat di ruang bedah. Data dikumpulkan melalui observasi kondisi luka operasi dan pencatatan rekam medis pasien. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan perawatan luka dengan teknik steril memiliki kejadian infeksi luka operasi yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan teknik perawatan yang kurang optimal. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,021 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa teknik perawatan luka steril efektif dalam mencegah infeksi luka operasi pada pasien post operasi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Perawatan Luka Steril, Infeksi Luka Operasi, Pasien Post Operasi</p> 2026-04-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Nurlaelah, Abdul Rivai Saleh Dunggio, Febri Sriyanti, Rahmat Pannyiwi, Rahayu Setyaningsih https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1186 Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok terhadap Peningkatan Interaksi Sosial pada Pasien Gangguan Jiwa 2026-04-03T22:40:16+00:00 M. Agus Jabir agusjabirmuhammad@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat agusjabirmuhammad@gmail.com Abdul Rahim agusjabirmuhammad@gmail.com Halbina Famung Halmar agusjabirmuhammad@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Mental disorders often lead to a decline in an individual's ability to interact socially with their surroundings. Patients with mental disorders tend to experience social isolation, withdrawal, and difficulty establishing interpersonal relationships. Group activity therapy is a therapeutic intervention that can help improve patients' social interaction skills through structured, collaborative activities. This study aims to determine the effect of group activity therapy on improving social interaction in patients with mental disorders. The study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample consisted of 30 patients with mental disorders selected using a purposive sampling technique. Data were collected using social interaction observation sheets before and after group activity therapy. Data analysis used a paired t-test. The results showed an increase in social interaction scores from an average of 45.3 to 70.6 after group activity therapy. The statistical test showed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05). It was concluded that group activity therapy had a significant effect on improving social interaction in patients with mental disorders.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Group Activity Therapy, Social Interaction, Mental Disorders, Psychiatric Nursing</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan jiwa seringkali menyebabkan penurunan kemampuan individu dalam berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Pasien dengan gangguan jiwa cenderung mengalami isolasi sosial, menarik diri, serta kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal. Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu intervensi terapeutik yang dapat membantu meningkatkan kemampuan interaksi sosial pasien melalui kegiatan yang terstruktur dan dilakukan secara bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien gangguan jiwa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi interaksi sosial sebelum dan sesudah pelaksanaan terapi aktivitas kelompok. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor interaksi sosial dari rata-rata 45,3 menjadi 70,6 setelah diberikan terapi aktivitas kelompok. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa terapi aktivitas kelompok berpengaruh signifikan terhadap peningkatan interaksi sosial pada pasien gangguan jiwa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Terapi Aktivitas Kelompok, Interaksi Sosial, Gangguan Jiwa, Keperawatan Jiwa</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 M. Agus Jabir, Rezqiqah Aulia Rahmat, Abdul Rahim https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1187 Analisis Cemaran Logam Berat pada Produk Herbal Tradisional 2026-04-03T22:41:08+00:00 Safridha Kemala Putri safridhakemaputri@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat safridhakemaputri@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Traditional herbal products are widely used by the public as alternative treatments because they are considered safer and more natural. However, several studies have shown that herbal products can be contaminated with heavy metals, potentially endangering human health. This study aims to analyze heavy metal contamination in traditional herbal products on the market.</p> <p>This study used a descriptive analytical method with a laboratory test approach on several traditional herbal product samples. Heavy metal analysis was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) after the sample digestion process. The heavy metals analyzed included lead (Pb), cadmium (Cd), mercury (Hg), and arsenic (As).</p> <p>The results showed that several traditional herbal product samples contained varying amounts of heavy metals. Most samples were below the maximum limits set by food safety standards, but some samples showed heavy metal levels approaching the maximum permissible limits.</p> <p>The study's conclusions indicate that monitoring the quality of traditional herbal products is crucial to ensure safe consumption.</p> <p><strong>Keywords: </strong>Heavy Metals, Herbal Products, Lead, Cadmium, Food Safety</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Produk herbal tradisional banyak digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan karena dianggap lebih aman dan alami. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa produk herbal dapat terkontaminasi oleh logam berat yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran logam berat pada produk herbal tradisional yang beredar di pasaran.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode <strong>deskriptif analitik</strong> dengan pendekatan <strong>uji laboratorium</strong> terhadap beberapa sampel produk herbal tradisional. Analisis logam berat dilakukan menggunakan metode <strong>Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)</strong> setelah proses destruksi sampel. Logam berat yang dianalisis meliputi timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sampel produk herbal tradisional mengandung logam berat dalam jumlah yang berbeda-beda. Sebagian besar sampel masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh standar keamanan pangan, namun beberapa sampel menunjukkan kadar logam berat yang mendekati batas maksimum yang diizinkan.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengawasan terhadap kualitas produk herbal tradisional sangat penting untuk menjamin keamanan konsumsi masyarakat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Logam Berat, Produk Herbal, Timbal, Kadmium, Keamanan Pangan</p> 2026-04-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Safridha Kemala Putri, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1188 Pengaruh Promosi Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2026-04-03T22:41:52+00:00 Yunita Kristina yunkris78@gmail.com Rahmat Pannyiwi yunkris78@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a crucial effort to improve public health and prevent various infectious and non-infectious diseases. One strategy to increase PHBS implementation is through health promotion activities aimed at increasing public knowledge and awareness of the importance of healthy living behaviors. This study aims to determine the effect of health promotion on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>This study used a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of residents in the study area, using purposive sampling. Data were collected using questionnaires administered before and after the health promotion activities. Data analysis was performed using statistical tests to determine differences in knowledge levels before and after the intervention.</p> <p>The results showed an increase in public knowledge about PHBS after health promotion. The average knowledge score after the intervention was higher than before the intervention. This indicates that health promotion has an impact on increasing public knowledge about PHBS.</p> <p>The conclusion of this study is that health promotion activities are effective in increasing public knowledge about clean and healthy living behaviors. Therefore, health promotion activities need to be carried out continuously to increase public awareness of implementing PHBS in daily life.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Health Promotion, Public Knowledge, PHBS, Health Behavior</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mencegah berbagai penyakit menular maupun tidak menular. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penerapan PHBS adalah melalui kegiatan promosi kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian adalah masyarakat yang berada di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai PHBS setelah diberikan promosi kesehatan. Nilai rata-rata pengetahuan setelah intervensi lebih tinggi dibandingkan sebelum intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang PHBS.</p> <p>Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kegiatan promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan promosi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Promosi Kesehatan, Pengetahuan Masyarakat, PHBS, Perilaku Kesehatan</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yunita Kristina, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1189 Akses Dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Pada Masyarakat Pesisir: Studi Kesehatan Masyarakat 2026-04-04T02:21:15+00:00 Rusdin Wally choganwally73@gmail.com Rahmat Pannyiwi choganwally73@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Coastal communities are vulnerable to health problems due to limited access and socioeconomic conditions. Access to and utilization of health services are important factors in determining the level of public health. This study aims to analyze the factors influencing access to and utilization of health services in coastal communities. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 130 respondents was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using logistic regression. The results indicate that distance to health facilities, income, education level, and perceptions of health services significantly influence health service utilization (p &lt; 0.05). Distance to facilities and perceptions of service quality were the dominant factors. In conclusion, improving physical access and the quality of health services is essential to increase service utilization by coastal communities.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Coastal Communities, Health Access, Service Utilization, Public Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masyarakat pesisir merupakan kelompok yang memiliki kerentanan terhadap masalah kesehatan akibat keterbatasan akses dan kondisi sosial ekonomi. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada masyarakat pesisir. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 130 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor jarak fasilitas kesehatan, pendapatan, tingkat pendidikan, dan persepsi terhadap pelayanan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan (p &lt; 0,05). Jarak fasilitas dan persepsi kualitas pelayanan menjadi faktor dominan. Kesimpulannya, peningkatan akses fisik dan kualitas pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan oleh masyarakat pesisir.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Masyarakat Pesisir, Akses Kesehatan, Pemanfaatan Layanan, Kesehatan Masyarakat</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rusdin Wally, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1190 Pengaruh Metode Kangaroo Mother Care (KMC) Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 2026-04-04T02:22:07+00:00 Siti Badria Asikin badria.stikes@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat badria.stikes@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Low Birth Weight (LBW) is one of the leading causes of neonatal morbidity and mortality. Kangaroo Mother Care (KMC) is a non-pharmacological intervention that is effective in improving the physiological condition of infants, including weight gain. This study aims to analyze the effect of the KMC method on weight gain in LBW infants.</p> <p>This study employed a quantitative design with a quasi-experimental approach (pretest-posttest with control group). A total of 60 LBW infants were divided into two groups: the intervention group (KMC) and the control group. Data were analyzed using a t-test.</p> <p>The results showed a significant increase in body weight in the KMC group compared to the control group (p &lt; 0.001). In conclusion, the KMC method is effective in increasing the weight of LBW infants and is recommended as part of neonatal care.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Kangaroo Mother Care, Low Birth Weight, Infant Weight, Neonatal</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal. Metode Kangaroo Mother Care (KMC) merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif dalam meningkatkan kondisi fisiologis bayi, termasuk peningkatan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode KMC terhadap peningkatan berat badan bayi BBLR. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental (pretest-posttest with control group). Sampel sebanyak 60 bayi BBLR dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (KMC) dan kelompok kontrol. Data dianalisis menggunakan uji t. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan berat badan yang signifikan pada kelompok KMC dibandingkan kelompok kontrol (p &lt; 0,001). Kesimpulannya, metode KMC efektif dalam meningkatkan berat badan bayi BBLR dan direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan neonatal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> KMC, BBLR, Berat Badan Bayi, Neonatal</p> 2026-04-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Siti Badria Asikin, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1191 Efektivitas Pendekatan Terapeutik dalam Meningkatkan Kualitas Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil 2026-04-04T02:22:56+00:00 Sahalia Sahalia lianurjil89@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R lianurjil89@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Quality midwifery care is a crucial factor in improving maternal and fetal health during pregnancy. One approach that can improve the quality of midwifery care is through a therapeutic approach between health workers and pregnant women. This therapeutic approach involves effective communication, empathy, and emotional support, which can increase the trust and comfort of pregnant women during the healthcare process. This study aims to determine the effectiveness of the therapeutic approach in improving the quality of midwifery care for pregnant women.</p> <p>This study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach. The study sample was pregnant women undergoing antenatal care examinations in the study area, using a purposive sampling technique. Data collection was conducted using a questionnaire that measured perceptions of the quality of midwifery care before and after the implementation of the therapeutic approach. Data were analyzed using statistical tests to determine differences in the quality of care before and after the intervention.</p> <p>The results showed an improvement in the quality of midwifery care after the therapeutic approach was implemented. The average service quality score increased after the implementation of therapeutic communication between health workers and pregnant women.</p> <p>The study's conclusions indicate that the therapeutic approach is effective in improving the quality of midwifery care for pregnant women. Therefore, healthcare workers, particularly midwives, are expected to optimally implement therapeutic communication in providing care to pregnant women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Midwifery Care, Pregnant Women, Service Quality</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Asuhan kebidanan yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan adalah melalui pendekatan terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil. Pendekatan terapeutik melibatkan komunikasi yang efektif, empati, serta dukungan emosional yang dapat meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan ibu hamil selama proses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendekatan terapeutik dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest. Sampel penelitian adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal care di wilayah penelitian dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur persepsi kualitas asuhan kebidanan sebelum dan sesudah penerapan pendekatan terapeutik. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan kualitas asuhan sebelum dan sesudah intervensi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kualitas asuhan kebidanan setelah dilakukan pendekatan terapeutik. Nilai rata-rata skor kualitas pelayanan meningkat setelah penerapan komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan ibu hamil.</p> <p>Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan terapeutik efektif dalam meningkatkan kualitas asuhan kebidanan pada ibu hamil. Oleh karena itu, tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat menerapkan komunikasi terapeutik secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada ibu hamil.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Asuhan Kebidanan, Ibu Hamil, Kualitas Pelayanan</p> 2026-04-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sahalia, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1198 Komunikasi Terapeutik Sebagai Strategi Peningkatan Patient-Centered Care Dalam Keperawatan 2026-04-04T13:51:48+00:00 Suratno Kaluku ners.nano@gmail.co Cut Mutia Tatisina ners.nano@gmail.co <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Therapeutic communication is a core competency in nursing practice that plays a crucial role in improving the quality of patient-centered care. This approach emphasizes active patient involvement in the care process and a collaborative relationship between nurses and patients. This study aims to analyze the influence of therapeutic communication on improving patient-centered care in nursing practice. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 100 inpatients was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The results showed that therapeutic communication significantly influenced patient-centered care (β = 0.52; p &lt; 0.001). In conclusion, effective therapeutic communication can improve patient satisfaction, patient engagement, and the quality of nursing services.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Therapeutic Communication, Patient-Centered Care, Nursing, Patient Satisfaction</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi terapeutik merupakan salah satu kompetensi utama dalam praktik keperawatan yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan berbasis <em>patient-centered care</em>. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif pasien dalam proses perawatan serta hubungan yang kolaboratif antara perawat dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap peningkatan <em>patient-centered care</em> dalam praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 pasien rawat inap dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap <em>patient-centered care</em> (β = 0,52; p &lt; 0,001). Kesimpulannya, komunikasi terapeutik yang efektif mampu meningkatkan kepuasan pasien, keterlibatan pasien, serta kualitas pelayanan keperawatan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Komunikasi Terapeutik, Patient-Centered Care, Keperawatan, Kepuasan Pasien</p> 2026-04-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Suratno Kaluku, Cut Mutia Tatisina https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1210 Peran Mikroorganisme Dalam Menyebabkan Penyakit Infeksi Pada Sistem Pencernaan 2026-04-06T13:14:43+00:00 Baharudin Lain rudizero03@gmail.com Yulianti Ely rudizero03@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Infectious diseases of the digestive system remain a major health problem, particularly in developing countries. Microorganisms such as bacteria, viruses, and parasites are the primary causes of gastrointestinal infections. This study aims to analyze the role of microorganisms in causing infectious diseases of the digestive system and the factors influencing their transmission. This study used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through laboratory examinations and questionnaires, then analyzed descriptively and inferentially. The results showed that bacteria were the most common cause of digestive infections, followed by viruses and parasites. Hygiene and sanitation factors were significantly associated with infection incidence (p &lt; 0.05). In conclusion, microorganisms play a significant role in gastrointestinal infections, and prevention can be achieved through improved hygiene and sanitation.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Microorganisms, Digestive Infection, Bacteria, Sanitation</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit infeksi pada sistem pencernaan masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan, terutama di negara berkembang. Mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasit berperan penting dalam menyebabkan berbagai gangguan pencernaan, termasuk diare, gastritis, dan infeksi usus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mikroorganisme dalam menyebabkan penyakit infeksi pada sistem pencernaan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 80 pasien dengan keluhan gangguan pencernaan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium dan rekam medis, kemudian dianalisis secara deskriptif dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa bakteri merupakan penyebab terbanyak (60%), diikuti virus (25%) dan parasit (15%). Mikroorganisme seperti <em>Escherichia coli</em> dan <em>Salmonella</em> menjadi penyebab dominan. Kesimpulannya, mikroorganisme memiliki peran utama dalam penyakit infeksi pencernaan, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui sanitasi dan higiene yang baik.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Mikroorganisme, Infeksi Pencernaan, Bakteri, Virus, Parasit</p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Baharudin Lain, Yulianti Ely https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1184 Pengaruh Konsumsi Fast Food Terhadap Peningkatan Risiko Obesitas Pada Remaja Usia 15–18 Tahun 2026-04-09T02:23:21+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High fast food consumption among adolescents is a major risk factor for obesity. Unhealthy dietary patterns rich in fat, sugar, and calories can lead to energy imbalance. This study aims to analyze the effect of fast food consumption on obesity risk among adolescents aged 15–18 years. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through food frequency questionnaires and body mass index (BMI) measurements. Data analysis used chi-square and logistic regression. The results showed that adolescents with high fast food consumption had a higher risk of obesity (OR=3.9; p&lt;0.05). It is concluded that fast food consumption significantly influences obesity risk among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Fast Food, Obesity, Adolescents, Diet</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Konsumsi fast food yang tinggi pada remaja menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya obesitas. Pola makan tidak sehat yang kaya lemak, gula, dan kalori dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi fast food terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja usia 15–18 tahun. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi fast food dan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa remaja dengan konsumsi fast food tinggi memiliki risiko obesitas lebih besar (OR=3,9; p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa konsumsi fast food berpengaruh signifikan terhadap peningkatan risiko obesitas pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Fast Food, Obesitas, Remaja, Pola Makan</p> 2026-04-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1090 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri 2026-04-09T02:22:43+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Vaginal discharge is a common reproductive health issue among adolescent girls. It can be caused by physiological or pathological factors. This study aims to analyze factors influencing vaginal discharge among adolescent girls. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that personal hygiene, type of underwear, and knowledge level were significantly associated with vaginal discharge (p&lt;0.05). It is concluded that behavioral and hygiene factors play an important role in vaginal discharge among adolescents.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Vaginal Discharge, Adolescents, Hygiene, Reproductive Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisiologis maupun patologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian keputihan pada remaja putri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa kebersihan organ reproduksi, penggunaan pakaian dalam, dan tingkat pengetahuan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian keputihan (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan kebersihan diri berperan penting dalam kejadian keputihan pada remaja.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Keputihan, Remaja Putri, Kebersihan, Kesehatan Reproduksi</p> 2026-04-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1225 Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Kesehatan Maternal Di Masyarakat 2026-04-09T12:43:31+00:00 Ardiana Priharwanti diana.arif25@gmail.com <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Maternal health is an important indicator of public health status. Family support plays a significant role in improving maternal health during pregnancy, childbirth, and postpartum periods. This study aims to analyze the effect of family support on maternal health quality in the community. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 pregnant and postpartum women. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that mothers with strong family support had significantly better maternal health outcomes (p&lt;0.05). It is concluded that family support significantly influences maternal health quality.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Family Support, Maternal Health, Pregnancy, Health Quality</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan maternal merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Dukungan keluarga memiliki peran signifikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan keluarga terhadap kualitas kesehatan maternal di masyarakat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden ibu hamil dan nifas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan keluarga baik memiliki kualitas kesehatan maternal lebih tinggi (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesehatan maternal.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Dukungan Keluarga, Kesehatan Maternal, Ibu Hamil, Kualitas Kesehatan</p> 2026-04-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1227 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Terhadap Pelayanan Kesehatan Maternal 2026-04-09T12:47:35+00:00 Ardiana Priharwanti diana.arif25@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Maternal compliance with health services is crucial in reducing pregnancy complications and improving maternal and neonatal outcomes. This study aims to analyze factors influencing maternal compliance with maternal health services. A quantitative cross-sectional design was used involving 140 pregnant and postpartum women. Variables included knowledge, education, family support, access to healthcare, and maternal attitudes. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. The results showed that knowledge (OR=3.8), family support (OR=3.2), and access to healthcare (OR=2.9) were the most significant factors (p&lt;0.05). It is concluded that maternal compliance is influenced by both individual and environmental factors.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Compliance, Maternal Health, Healthcare Services, Determinants</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kepatuhan ibu terhadap pelayanan kesehatan maternal merupakan faktor penting dalam menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan maternal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 140 responden ibu hamil dan nifas. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan, pendidikan, dukungan keluarga, akses pelayanan, dan sikap ibu. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah pengetahuan (OR=3,8), dukungan keluarga (OR=3,2), dan akses pelayanan (OR=2,9) dengan p&lt;0,05. Disimpulkan bahwa kepatuhan ibu dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kepatuhan Ibu, Kesehatan Maternal, Pelayanan Kesehatan, Faktor Risiko</p> 2026-04-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ardiana Priharwanti https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1230 Hubungan Usia Ibu Dengan Risiko Kehamilan Risiko Tinggi 2026-04-18T11:29:23+00:00 Ana Sapitri anasapitri6@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>High-risk pregnancy is a condition that increases the likelihood of complications during pregnancy, childbirth, and postpartum. Maternal age is one of the influencing factors. This study aims to analyze the relationship between maternal age and high-risk pregnancy. A quantitative cross-sectional design was used involving 120 pregnant women. Data were collected through questionnaires and medical records and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that mothers aged &lt;20 years and &gt;35 years had a higher risk of high-risk pregnancy compared to those aged 20–35 years (p&lt;0.05). It is concluded that maternal age is significantly associated with high-risk pregnancy.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Maternal Age, High-Risk Pregnancy, Maternal Health</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan risiko tinggi merupakan kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah usia ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia ibu dengan risiko kehamilan risiko tinggi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 120 responden ibu hamil. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan usia &lt;20 tahun dan &gt;35 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehamilan risiko tinggi dibandingkan usia 20–35 tahun (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa usia ibu memiliki hubungan signifikan dengan risiko kehamilan risiko tinggi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Usia Ibu, Kehamilan Risiko Tinggi, Kesehatan Maternal</p> 2026-04-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ana Sapitri https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1231 Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Postpartum 2026-04-18T11:36:27+00:00 Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com Maria Septiana cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Breast engorgement is a common condition among postpartum mothers characterized by breast swelling due to milk accumulation. This condition can cause pain and interfere with breastfeeding. This study aims to analyze factors influencing breast engorgement among postpartum mothers. A quantitative cross-sectional design was used involving 110 postpartum mothers. Variables included breastfeeding frequency, technique, family support, and maternal knowledge. Data were analyzed using chi-square and logistic regression. Results showed that improper breastfeeding technique (OR=3.9), low breastfeeding frequency (OR=3.5), and lack of knowledge (OR=2.8) significantly influenced breast engorgement (p&lt;0.05). It is concluded that behavioral and knowledge factors play an important role in breast engorgement.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Breast Engorgement, Postpartum, Breastfeeding, Risk Factors</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bendungan ASI merupakan kondisi umum pada ibu postpartum yang ditandai dengan pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, dan gangguan proses menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bendungan ASI pada ibu postpartum. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 110 ibu postpartum. Variabel yang diteliti meliputi frekuensi menyusui, teknik menyusui, dukungan keluarga, dan pengetahuan ibu. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik menyusui yang tidak tepat (OR=3,9), frekuensi menyusui rendah (OR=3,5), dan kurangnya pengetahuan (OR=2,8) berpengaruh signifikan terhadap kejadian bendungan ASI (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa faktor perilaku dan pengetahuan berperan penting dalam terjadinya bendungan ASI.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bendungan Asi, Ibu Postpartum, Menyusui, Faktor Risiko</p> 2026-04-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cakrawati R, Maria Septiana https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1232 Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur DenganPemilihan Metode KB 2026-04-18T11:39:24+00:00 Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com Wulan Citra Sari rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The selection of contraceptive methods is an essential component of family planning programs to control population growth and improve reproductive health. Knowledge level of couples of reproductive age plays an important role in determining contraceptive choices. This study aims to analyze the relationship between knowledge and contraceptive method selection among couples of reproductive age. A quantitative cross-sectional design was used involving 130 respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that respondents with good knowledge were more likely to choose modern contraceptive methods (p&lt;0.05). It is concluded that there is a significant relationship between knowledge and contraceptive choice.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Knowledge, Reproductive Age Couples, Contraception</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemilihan metode kontrasepsi merupakan bagian penting dalam program keluarga berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan pasangan usia subur (PUS) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan dalam memilih metode KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan pasangan usia subur dengan pemilihan metode KB. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 130 responden PUS. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUS dengan pengetahuan baik cenderung memilih metode KB modern dibandingkan tradisional (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan PUS dan pemilihan metode KB.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pengetahuan, Pasangan Usia Subur, KB, Kontrasepsi</p> 2026-04-13T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rezqiqah Aulia Rahmat, Wulan Citra Sari https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1235 Optimalisasi Kesehatan Organ Reproduksi Wanita Melalui Senam “SI-EPIN” 2026-04-22T04:21:47+00:00 Naomi Parmila Hesti Savitri naomi-parmila@usp.ac.id Sri Wahyuni naomi-parmila@usp.ac.id <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Reproductive health is a crucial aspect of a woman's quality of life. However, lack of physical activity, high stress levels, and an unbalanced diet often disrupt blood circulation and negatively impact uterine health. An effective non-pharmacological approach is the "Si-Epin" circulation and endorphin exercise. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of women of childbearing age about "Si-Ephin" exercises as a way to prevent reproductive health problems. The activity was held at the X Village Hall, targeting 36 women of childbearing age. The activity included education, demonstrations, and practical practice of "Si-Ephin" exercises, which involve breathing exercises that stimulate blood circulation from the heart and stretching to stimulate endorphins. The results showed an increase in participants' understanding and skills regarding "Si-Ephin" exercises due to their ease of implementation. This activity is expected to contribute to maintaining reproductive health by reducing menstrual pain and smoothing the menstrual cycle.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Reproductive health, women's reproductive organs, women of childbearing age,</em><em>"Si-Ephin" exercises</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan reproduksi merupakan aspek penting dalam kualitas hidup wanita. Namun, kurangnya aktivitas fisik, tingkat stress yang tinggi dan pola makan yang tidak seimbang sering kali mengganggu sirkulasi darah dan berdampak buruk pada kesehatan rahim. Upaya nonfarmakologis yang efektif adalah senam sirkulasi dan endorphin “Si-Epin”. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Wanita Usia Subur tentang senam “Si-Ephin” sebagai upaya mencegah gangguan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa X, dengan sasaran WUS sebanyak 36 orang. Metode kegiatan meliputi edukasi, demonstrasi, dan praktik senam “Si-Ephin” yang meliputi latihan pernapasan melalui sirkulasi pompa darah dari jantung dan peregangan untuk menstimulasi hormon endorphin. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai senam “Si-Ephin” karena mudah dilakukan. Kegiatan ini diharapkan mempunyai kontribusi dalam menjaga kesehatan organ reproduksi untuk mengurangi nyeri menstruasi dan memperlancar siklus mentruasi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kesehatan reproduksi, organ reproduksi wanita, Wanita Usia Subur, senam “Si-Ephin”</p> 2026-04-16T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Naomi Parmila Hesti Savitri, Sri Wahyuni https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1236 Hubungan Waktu Tanggap (Response Time) Perawat Dan Bidan Dengan Keselamatan Ibu Pada Kasus Perdarahan Postpartum Di IGD 2026-04-24T01:11:19+00:00 Lumastari Ajeng Wijayanti ajengg1612@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Postpartum hemorrhage is one of the leading causes of maternal mortality requiring prompt and appropriate management. The response time of healthcare providers, especially nurses and midwives in the emergency department, plays a crucial role in maternal safety. This study aimed to determine the relationship between response time and maternal safety in postpartum hemorrhage cases.</p> <p>This study used a quantitative method with a cross-sectional analytic design. The sample consisted of 40 postpartum hemorrhage cases managed in the emergency department. Data were collected through observation and documentation. Data were analyzed using chi-square test and Odds Ratio (OR).</p> <p>The results showed a significant relationship between response time and maternal safety with a p-value of 0.001 and OR = 6.25.</p> <p>In conclusion, faster response time is associated with improved maternal safety in postpartum hemorrhage cases.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Response time, postpartum hemorrhage, maternal safety</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Waktu tanggap (<em>response time</em>) tenaga kesehatan, khususnya perawat dan bidan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sangat menentukan keselamatan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tanggap perawat dan bidan dengan keselamatan ibu pada kasus perdarahan postpartum di IGD.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 40 responden yang merupakan kasus perdarahan postpartum yang ditangani di IGD. Data dikumpulkan melalui observasi waktu tanggap tenaga kesehatan dan dokumentasi kondisi pasien. Analisis data menggunakan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio (OR).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tanggap dengan keselamatan ibu dengan nilai p-value = 0,001 (&lt;0,05) dan OR = 6,25.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah waktu tanggap yang cepat dari perawat dan bidan berhubungan erat dengan peningkatan keselamatan ibu pada kasus perdarahan postpartum.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Response Time, Perdarahan Postpartum, Keselamatan Ibu</p> 2026-04-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lumastari Ajeng Wijayanti, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1237 Hubungan Pemberian MP-ASI Dengan Status Gizi Pada Bayi Usia 6–24 Bulan 2026-04-24T14:54:21+00:00 Warda M Warda M wardamarzuki31@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Complementary feeding (MP-ASI) is an important factor influencing the nutritional status of infants aged 6–24 months. Inappropriate feeding practices may lead to malnutrition. This study aimed to determine the relationship between complementary feeding and nutritional status among infants aged 6–24 months.</p> <p>This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 50 infants aged 6–24 months selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires and anthropometric measurements. Data were analyzed using chi-square test and Odds Ratio (OR).</p> <p>The results showed a significant relationship between complementary feeding and nutritional status with a p-value of 0.003 and OR = 4.20.</p> <p>The conclusion of this study is that the provision of appropriate MP-ASI is associated with good nutritional status in infants aged 6–24 months.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> MP-ASI, Nutritional Status, Infants</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan status gizi bayi usia 6–24 bulan. Pemberian MP-ASI yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah gizi seperti gizi kurang maupun gizi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi pada bayi usia 6–24 bulan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 50 bayi usia 6–24 bulan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pemberian MP-ASI dan pengukuran status gizi berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U). Analisis data menggunakan uji chi-square dan Odds Ratio (OR).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi dengan nilai p-value = 0,003 (&lt;0,05) dan OR = 4,20.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian MP-ASI yang tepat berhubungan dengan status gizi yang baik pada bayi usia 6–24 bulan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> MP-ASI, Status Gizi, Bayi</em></p> 2026-04-16T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Warda M, Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1238 Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pada Ibu Hamil Terhadap Status Gizi Ibu 2026-04-24T23:26:32+00:00 Risma Putri Utama rezqiqahika@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Maternal nutritional status is an important factor affecting maternal and fetal health. One strategy to improve maternal nutrition is supplementary feeding. This study aimed to determine the effect of supplementary feeding on the nutritional status of pregnant women.</p> <p>This study used a quantitative method with a pre-experimental (one group pretest-posttest design). The sample consisted of 40 pregnant women selected using purposive sampling. Data were collected through weight and MUAC measurements before and after intervention. Data were analyzed using paired t-test.</p> <p>The results showed a significant improvement in nutritional status after supplementary feeding with a p-value of 0.001.</p> <p>The conclusion of this study is that providing additional food has a significant effect on improving the nutritional status of pregnant women.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Supplementary Food, Pregnant Women, Nutritional Status</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Status gizi ibu hamil merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan ibu dan janin. Salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi ibu hamil adalah melalui pemberian makanan tambahan (PMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap status gizi ibu hamil.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental (one group pretest-posttest). Sampel penelitian sebanyak 40 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan dan lingkar lengan atas (LILA) sebelum dan sesudah intervensi PMT. Analisis data menggunakan uji paired t-test.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan status gizi ibu hamil setelah pemberian PMT dengan nilai p-value = 0,001 (&lt;0,05).</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian makanan tambahan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan status gizi ibu hamil.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Makanan Tambahan, Ibu Hamil, Status Gizi</p> 2026-04-17T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Risma Putri Utama, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1239 Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Wanita Usia Subur 2026-04-24T23:35:17+00:00 Rizky Aprilia apriliariz03@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Vaginal discharge is a common condition among women of reproductive age and can be physiological or pathological. Poor personal hygiene is one of the risk factors. This study aims to analyze the relationship between personal hygiene and vaginal discharge among women of reproductive age. A quantitative cross-sectional design was used involving 140 respondents. Data were collected using questionnaires and analyzed using chi-square and t-tests. The results showed that women with poor personal hygiene had a higher risk of vaginal discharge (p&lt;0.05). It is concluded that there is a significant relationship between personal hygiene and vaginal discharge.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Personal Hygiene, Vaginal Discharge, Reproductive-Age Women</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keputihan merupakan kondisi umum yang dialami oleh wanita usia subur dan dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Personal hygiene yang kurang baik menjadi salah satu faktor risiko terjadinya keputihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada wanita usia subur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 140 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan personal hygiene kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami keputihan (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara personal hygiene dan kejadian keputihan.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Personal Hygiene, Keputihan, Wanita Usia Subur</p> 2026-04-18T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rizky Aprilia, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1246 Gizi Anak Usia Sekolah Ceria Cegah Anemia Remaja Dengan Imbangan Asupan 2026-05-02T11:22:01+00:00 Egy Sunanda Putra egyputra93@poltekkesjambi.ac.id Rusmimpong Rusmimpong egyputra93@poltekkesjambi.ac.id Alpari Nopindra egyputra93@poltekkesjambi.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The high risk of anemia among female students at SMA Negeri 5 in Jambi City reflects a serious nutritional problem. Many students experience symptoms such as dizziness, weakness, nausea, and abdominal pain, which are directly related to anemia and nutritional imbalance. Dizziness and weakness can indicate iron deficiency, especially in adolescent girls. Complaints of nausea and heartburn indicate irregular eating patterns, which result in low intake of essential nutrients.</p> <p>Lack of knowledge about anemia and balanced nutrition is a major factor influencing unhealthy eating patterns among adolescents. To address this, educational interventions were conducted through education on anemia and balanced nutrition using Battle Quizzes and Kahoot! quizzes, the introduction of the "Isi Piringku" concept as a visual guide to healthy eating, and the establishment of the "Pojok Sehat CERIA" as a health information center at the school. Furthermore, a "Pojok Sehat CERIA" (CERIA Health Content Competition) was held with the theme of anemia and balanced nutrition. The winner will be crowned as a CERIA friend ambassador. These "CERIA friend ambassadors" will serve as role models for students and will continue the efforts of the Pojok Sehat CERIA.</p> <p>This activity was conducted from April 28–May 20, 2025, and involved 10th-grade students. Evaluation showed a significant increase in students' knowledge and awareness regarding the importance of a balanced, nutritious diet and anemia prevention. This visual-based, participatory intervention proved effective and could be adapted as a promotive-preventive effort for adolescent health in other schools.</p> <p><strong>Keywords: </strong>Balanced Nutrition, Anemia, Adolescents, Nutrition Education, My Plate, Health Promotion.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tingginya risiko anemia di kalangan siswi SMA Negeri 5 Kota Jambi mencerminkan permasalahan gizi yang serius, dengan banyak siswa mengalami gejala seperti pusing, lemas, mual, dan sakit perut, merupakan gejala yang berhubungan langsung dengan anemia dan ketidakseimbangan gizi. Pusing dan lemas bisa mengindikasikan kekurangan zat besi, terutama pada remaja putri. Keluhan mual dan maag menunjukkan pola makan yang tidak teratur, yang berdampak pada rendahnya asupan nutrisi penting.</p> <p>Kurangnya pengetahuan tentang anemia dan gizi seimbang menjadi faktor utama yang memengaruhi pola makan tidak sehat di kalangan remaja. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan intervensi edukatif melalui edukasi Anemia dan Gizi Seimbang dengan Battle Quizz dan juga kuis Kahoot!, pengenalan konsep “Isi Piringku” sebagai panduan visual makan sehat, pembentukan “Pojok Sehat CERIA” sebagai pusat informasi kesehatan di sekolah. Lalu mengadakan “Lomba Konten Kesehatan CERIA” dengan tema Anemia dan Gizi Seimbang, dimana pemenangnya akan dinobatkan sebagai duta sahabat CERIA. “Duta Sahabat CERIA” tersebut akan menjadi role model bagi siswa/i dan akan meneruskan Pojok Sehat CERIA.</p> <p>Kegiatan ini dilaksanakan pada 28 April–20 Mei 2025 dan melibatkan siswa kelas X. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya pola makan bergizi seimbang dan pencegahan anemia. Intervensi berbasis visual dan partisipatif ini terbukti efektif dan dapat diadaptasi sebagai upaya promotif-preventif kesehatan remaja di sekolah lain.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: <em>Gizi seimbang, anemia, remaja, edukasi gizi, Isi Piringku, promosi kesehatan.</em></p> 2026-05-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Egy Sunanda Putra, Rusmimpong Rusmimpong, Alpari Nopindra https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1256 Analisis Interaksi Sosial Antara Tenaga Kesehatan Dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan 2026-05-06T07:51:39+00:00 Ahmad Hilal fhasranoldua@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This study aims to analyze social interaction between healthcare workers and patients in healthcare services. Social interaction plays a crucial role in determining service quality and patient satisfaction. This research uses a qualitative descriptive approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation.</p> <p>The results show that effective communication, empathy, and professional attitudes of healthcare workers significantly influence patient trust and comfort. Social interaction occurs in both verbal and nonverbal forms, where clear explanations and supportive body language enhance patient understanding. However, several barriers were identified, including limited consultation time, high workload, and differences in social and cultural backgrounds.</p> <p>Furthermore, the findings indicate a significant relationship between the quality of social interaction and patient satisfaction, as supported by a Chi-Square analysis. Good interaction improves patient compliance, reduces anxiety, and enhances overall healthcare outcomes. Therefore, improving interpersonal communication skills among healthcare workers is essential to achieve better healthcare service quality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Communication, Social Interaction, Patient Satisfaction, Healthcare Workers</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, faktor, serta dampak interaksi sosial dalam pelayanan kesehatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang baik ditandai dengan adanya komunikasi dua arah, empati, serta penghargaan terhadap pasien. Sebaliknya, interaksi yang kurang optimal dipengaruhi oleh beban kerja tinggi dan kurangnya pelatihan komunikasi. Dampak dari interaksi yang baik adalah meningkatnya kepuasan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas komunikasi dalam pelayanan kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Komunikasi Kesehatan, Interaksi Sosial, Kepuasan Pasien, Tenaga Medis</em></p> 2026-05-06T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ahmad Hilal, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1257 Hubungan Beban Kerja Dengan Burnout Perawat Rsu Diponegoro Dua Satu Klaten 2026-05-07T10:55:42+00:00 Yosi Murtiwi yosimurtiwi@gmail.com Ratna Ratna yosimurtiwi@gmail.com Yeni Rusyani yosimurtiwi@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Nurses providing nursing services can experience workloads that cause stress, which can lead to burnout syndrome. The purpose of this study was to determine the relationship between workload and burnout among nurses at Diponegoro Dua Satu Klaten General Hospital. This study used a cross-sectional approach with proportional random sampling as the sampling technique. The instruments used were a workload questionnaire and a burnout questionnaire, and the analysis method employed was Kendall's tau B. The study found that 42 nurses (75%) had high workload and 36 nurses (64.3%) had low burnout. The statistical test yielded a P-value of 0.001, where P-value &lt; α-value (0.05). The workload experienced by nurses is classified as high, while the burnout level is low; however, the burnout level falls within the low category. It is recommended that respondents establish work hour limits, take breaks when tired, and make optimal efforts in their work.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Workload, Burnout, Nurses</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat menimbulkan beban kerja dan mengakibatkan stress kepada perawat yang dapat mengakibatkan burnout syndrome. Tujuan penelitian ini untuk menetahui hubungan beban kerja dengan burnout perawat RSU Diponegoro Dua Satu Klaten. Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>cross sectional</em> dengan menggunakan teknik sampling yaitu <em>proportional random sampling</em>, instrumen yang digunakan adalah kuesioner beban kerja dan kuesioner burnout, serta analisis yang digunakan yaitu Kendal tau B. Penelitian ini didapatkan 42 beban kerja tinggi (75%) dan 36 burnout rendah (64,3%). Hasil Uji statistik diperoleh nilai P value = 0.001 maka p value &lt; nilai α (0.05). Beban kerja yang dialami perawat berada pada beban kerja tinggi dan tingkat burnout rendah namun untuk tingkat burnout berada dalam kategori redah. Diharapkan kepada responden agar menetapkan batasan jam bekerja, istirahat jika lelah, dan melakukan usaha yang optimal dalam pekerjaannya.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em> : Beban Kerja, Burnout, Perawat</em></p> 2026-05-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yosi Murtiwi, Ratna Ratna, Yeni Rusyani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1282 Hubungan Kepemilikan Jamban Sehat Dengan Kejadian Diare Di Wilayah Pedesaan 2026-06-02T22:44:08+00:00 Lorensius Lonik lorensiuslonik29@gmail.com Djunaedi Djunaedi lorensiuslonik29@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Diarrhea remains a significant public health problem in rural areas and is closely associated with environmental sanitation conditions. Ownership of healthy latrines is an important factor in preventing environmentally related diseases, including diarrhea. Limited access to proper sanitation facilities increases the risk of environmental contamination and water source pollution, facilitating the spread of diarrhea-causing microorganisms. This Community Service Program aimed to improve community knowledge regarding the importance of healthy latrine ownership and utilization as a strategy for diarrhea prevention in rural areas. The methods included health education, household sanitation observations, family assistance, and knowledge evaluations through pre-tests and post-tests. The program involved 40 household heads from a rural community. The results showed an increase in the average knowledge score from 58.5 before the intervention to 84.2 after the intervention. Furthermore, observational findings indicated that households with healthy latrines experienced lower rates of diarrhea compared to those without healthy latrines. This program positively contributed to raising community awareness regarding environmental sanitation and the importance of healthy latrine use. Sustainable efforts through education, community assistance, and multisectoral collaboration are needed to improve access to adequate sanitation in rural areas.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Healthy Latrine, Diarrhea, Environmental Sanitation, Rural Area</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan di wilayah pedesaan dan berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan. Kepemilikan jamban sehat merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan penularan penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare. Kurangnya akses terhadap jamban sehat dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan sumber air sehingga mempermudah penyebaran mikroorganisme penyebab diare. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan dan penggunaan jamban sehat sebagai upaya pencegahan diare di wilayah pedesaan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, observasi kondisi sanitasi rumah tangga, pendampingan keluarga, dan evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 40 kepala keluarga di wilayah pedesaan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dari nilai rata-rata 58,5 menjadi 84,2 setelah edukasi. Selain itu, hasil observasi menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki jamban sehat cenderung memiliki riwayat kejadian diare yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi lingkungan dan penggunaan jamban sehat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui edukasi, pendampingan, dan dukungan lintas sektor untuk meningkatkan akses sanitasi yang layak di wilayah pedesaan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Jamban Sehat, Diare, Sanitasi Lingkungan, Pedesaan</em></p> 2026-06-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lorensius Lonik, Djunaedi Djunaedi, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1283 Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care (ANC) 2026-06-03T11:17:16+00:00 Arnita Rapang lady12arwen@gmail.com Rizqy Wahyuni Imran lady12arwen@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pregnancy is a physiological process that requires regular monitoring to detect complications that may endanger both the mother and fetus. Pregnant women's knowledge regarding danger signs during pregnancy plays an important role in increasing awareness and compliance with Antenatal Care (ANC) visits. This study aimed to determine the relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with Antenatal Care visits.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on knowledge of pregnancy danger signs and observation sheets of ANC visit compliance based on maternal and child health records. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents had good knowledge levels (56%) and were compliant with ANC visits (70%). The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between pregnant women's knowledge of pregnancy danger signs and compliance with ANC visits.</p> <p>It can be concluded that better knowledge regarding pregnancy danger signs is associated with higher compliance in attending ANC visits. Therefore, health education programs should be strengthened to improve maternal awareness and utilization of ANC services.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Knowledge, Pregnancy Danger Signs, Pregnant Women, Antenatal Care, ANC </em><em>Compliance</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang memerlukan pemantauan secara rutin untuk mendeteksi adanya komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur melalui pelayanan Antenatal Care (ANC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC).</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan dan lembar observasi kepatuhan kunjungan ANC berdasarkan buku KIA. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 28 orang (56%) dan patuh melakukan kunjungan ANC sebanyak 35 orang (70%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan ANC.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan maka semakin tinggi tingkat kepatuhan dalam melakukan kunjungan ANC. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan kepada ibu hamil untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan ANC.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Pengetahuan, Tanda Bahaya Kehamilan, Ibu Hamil, Antenatal Care, Kepatuhan </em><em>ANC</em></p> 2026-06-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Anita Rappang, Cakrawati R Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1284 Pengaruh Pendampingan Kehamilan Terhadap Kesiapan Persalinan Dan Perawatan Bayi Di Masa Nifas 2026-06-03T12:35:03+00:00 Jean Christy Ade Putri jeanestikap@gmail.com Nur Fatimah fatimahnurfatimah31@yahoo.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pregnancy assistance is an important effort in improving maternal readiness for childbirth and postpartum infant care. Assistance provided by healthcare workers, family members, and community health volunteers can offer physical, psychological, and educational support during pregnancy. This study aimed to determine the effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and infant care during the postpartum period.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 third-trimester pregnant women selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on pregnancy assistance, childbirth readiness, and infant care readiness. Data were analyzed using the Chi-Square test.</p> <p>The results showed that most respondents received good pregnancy assistance (64%). A total of 72% of respondents demonstrated good readiness for childbirth and infant care. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of pregnancy assistance on childbirth readiness and postpartum infant care.</p> <p>It can be concluded that pregnancy assistance positively influences maternal readiness for childbirth and infant care during the postpartum period.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Pregnancy Assistance, Childbirth Readiness, Infant Care, Postpartum Period, Pregnant Women</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendampingan kehamilan merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan dan masa nifas. Pendampingan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga, maupun kader kesehatan dapat memberikan dukungan fisik, psikologis, dan informasi kesehatan yang dibutuhkan selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendampingan kehamilan terhadap kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pendampingan kehamilan dan kesiapan persalinan serta perawatan bayi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh pendampingan kehamilan yang baik sebanyak 32 responden (64%). Sebanyak 36 responden (72%) memiliki kesiapan persalinan dan perawatan bayi yang baik. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pendampingan kehamilan dengan kesiapan persalinan dan perawatan bayi di masa nifas.</p> <p>Disimpulkan bahwa pendampingan kehamilan berpengaruh positif terhadap kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan dan merawat bayi setelah melahirkan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Pendampingan Kehamilan, Kesiapan Persalinan, Perawatan Bayi, Masa Nifas, Ibu Hamil</em></p> 2026-06-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jean Christy Ade Putri, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1289 Analisis Risiko Perdarahan Postpartum Akibat Atonia Uteri Pada Ibu Pasca Persalinan 2026-06-04T22:02:03+00:00 Jean Christy Ade Putri jeanestikap@gmail.com Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Postpartum hemorrhage remains one of the leading causes of maternal mortality worldwide. Uterine atony is the most common cause of postpartum hemorrhage due to the inability of the uterus to contract effectively after delivery. This condition can result in excessive blood loss and may threaten maternal survival if not managed promptly and appropriately. This study aimed to analyze the risk of postpartum hemorrhage caused by uterine atony among postpartum mothers.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. A total of 45 postpartum mothers were selected through purposive sampling. Data were collected from medical records and observation sheets. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a 95% confidence level.</p> <p>The results showed a significant relationship between risk factors for uterine atony and the occurrence of postpartum hemorrhage (p=0.002). The dominant risk factors included prolonged labor, multiparity, multiple pregnancy, and fetal macrosomia. Mothers with these risk factors had a greater likelihood of experiencing postpartum hemorrhage than those without such risk factors.</p> <p>In conclusion, uterine atony is a major contributing factor to postpartum hemorrhage. Early detection and proper management of risk factors are essential to prevent complications and reduce maternal mortality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Postpartum Hemorrhage, Uterine Atony, Postpartum Mothers, Risk Factors, Maternal Health</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perdarahan postpartum merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia. Atonia uteri menjadi penyebab paling sering terjadinya perdarahan postpartum karena kegagalan uterus berkontraksi secara adekuat setelah persalinan. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar yang berpotensi mengancam keselamatan ibu apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko perdarahan postpartum akibat atonia uteri pada ibu pasca persalinan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 45 ibu pasca persalinan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko atonia uteri dengan kejadian perdarahan postpartum (p=0,002). Faktor risiko yang paling dominan adalah persalinan lama, multiparitas, kehamilan ganda, dan makrosomia. Ibu dengan faktor risiko tersebut memiliki kemungkinan lebih besar mengalami perdarahan postpartum dibandingkan ibu tanpa faktor risiko.</p> <p>Disimpulkan bahwa atonia uteri merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya perdarahan postpartum. Deteksi dini dan penanganan faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian ibu.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Perdarahan Postpartum, Atonia Uteri, Ibu Pasca Persalinan, Faktor Risiko, Kesehatan Maternal</em></p> 2026-06-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jean Christy Ade Putri, Cakrawati R Cakrawati R https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1290 Analisis Pemantauan Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar Kepala, Dan Tanda Vital Pada Anak Usia 0–5 Tahun 2026-06-05T04:52:16+00:00 Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com Naomi Malaha cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Monitoring children's growth and health status is essential to ensure optimal development during the first five years of life. Anthropometric measurements such as weight, height, and head circumference, along with vital sign assessments, are important indicators for evaluating children's growth and overall health conditions. This study aimed to analyze the monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs among children aged 0–5 years.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. The sample consisted of 50 children aged 0–5 years selected using purposive sampling. Data were collected through anthropometric measurements and vital sign examinations, including body temperature, pulse rate, respiratory rate, and blood pressure. Data were analyzed using descriptive and univariate statistical methods.</p> <p>The results showed that most children had normal growth status based on weight-for-age, height-for-age, and head circumference indicators. Vital sign assessments also revealed that the majority of respondents were within normal physiological ranges according to their age groups. Regular monitoring was found to be effective in identifying growth disorders and health problems at an early stage.</p> <p>In conclusion, routine monitoring of weight, height, head circumference, and vital signs is essential to support optimal growth and development among children aged 0–5 years.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Body Weight, Height, Head Circumference, Vital Signs, Child Growth, Early Childhood</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0–5 tahun merupakan indikator penting dalam menilai status kesehatan anak. Pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara rutin diperlukan untuk mendeteksi dini gangguan pertumbuhan, perkembangan, maupun masalah kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital pada anak usia 0–5 tahun.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 50 anak usia 0–5 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan tanda vital yang meliputi suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. Analisis data dilakukan secara univariat dan deskriptif.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status pertumbuhan dalam kategori normal berdasarkan indikator berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan lingkar kepala sesuai usia. Hasil pemeriksaan tanda vital juga menunjukkan sebagian besar responden berada dalam rentang normal sesuai kelompok usia. Pemantauan rutin terbukti penting dalam mendeteksi gangguan kesehatan dan pertumbuhan anak sejak dini.</p> <p>Disimpulkan bahwa pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan tanda vital secara berkala sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak usia 0–5 tahun.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, tanda vital, anak usia dini, pertumbuhan anak</p> 2026-06-05T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Naomi Malaha https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1293 Hubungan Pemahaman Aspek Legal Keperawatan Dengan Kualitas Pelayanan Keperawatan Anak 2026-06-07T03:56:09+00:00 Marlin Eppang marlineppang@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pediatric nursing care is an essential component of healthcare services that requires both clinical competence and an adequate understanding of legal nursing aspects. A good understanding of legal aspects enables nurses to provide care in accordance with professional standards, ethical principles, and applicable regulations, thereby improving the quality of nursing services. This study aimed to determine the relationship between nurses' understanding of legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 40 nurses working in pediatric wards and selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires on legal nursing knowledge and observation sheets assessing the quality of pediatric nursing care. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents had a good understanding of legal nursing aspects (60%). Good quality pediatric nursing care was found among 67.5% of respondents. Statistical analysis revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between understanding legal nursing aspects and the quality of pediatric nursing care.</p> <p>It can be concluded that a better understanding of legal nursing aspects is associated with improved quality of pediatric nursing care. Therefore, strengthening legal nursing education is essential to enhance service quality and patient safety.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Legal Aspects Of Nursing, Service Quality, Pediatric Nursing Care, Nurses, Healthcare Services</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pelayanan keperawatan anak merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang memerlukan kompetensi klinis dan pemahaman aspek legal keperawatan. Pemahaman aspek legal yang baik dapat membantu perawat melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar profesi, kode etik, dan peraturan yang berlaku sehingga kualitas pelayanan dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang bertugas di ruang perawatan anak dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pemahaman aspek legal keperawatan dan lembar observasi kualitas pelayanan keperawatan anak. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman aspek legal keperawatan dalam kategori baik sebanyak 24 responden (60%). Kualitas pelayanan keperawatan anak dalam kategori baik ditemukan pada 27 responden (67,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pemahaman aspek legal keperawatan dengan kualitas pelayanan keperawatan anak.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik pemahaman perawat mengenai aspek legal keperawatan, maka semakin baik pula kualitas pelayanan keperawatan anak yang diberikan kepada pasien.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Aspek Legal Keperawatan, Kualitas Pelayanan, Keperawatan Anak, Perawat, Pelayanan Kesehatan</em></p> 2026-06-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1294 Pengaruh Pelatihan Basic Life Support (BLS) Terhadap Kesiapsiagaan Perawat Dalam Penanganan Henti Jantung 2026-06-07T22:22:13+00:00 Djunaedi Djunaedi djunaedi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Cardiac arrest is a life-threatening emergency that requires immediate and appropriate intervention to improve patient survival. Nurses, as frontline healthcare providers, play a crucial role in initiating resuscitation through Basic Life Support (BLS). BLS training is essential to enhance nurses’ knowledge, skills, and preparedness in managing cardiac arrest cases. This study aimed to determine the effect of Basic Life Support (BLS) training on nurses’ preparedness in handling cardiac arrest.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 40 nurses selected using purposive sampling. Data were collected using preparedness questionnaires and BLS skill observation sheets before and after training. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean preparedness score increased from 65.20 ± 8.14 before training to 84.75 ± 6.32 after training. The Paired Sample t-Test yielded a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of BLS training on nurses’ preparedness in managing cardiac arrest.</p> <p>In conclusion, BLS training is effective in improving nurses’ preparedness and should be conducted regularly as part of professional competency development programs.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Basic Life Support, BLS, Nurse Preparedness, Cardiac Arrest, Emergency Training</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera dan tepat untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang sering berada di garis depan pelayanan memiliki peran penting dalam melakukan tindakan resusitasi awal melalui Basic Life Support (BLS). Pelatihan BLS diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi kasus henti jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan Basic Life Support (BLS) terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>pre-experimental one group pretest-posttest</em>. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kesiapsiagaan dan lembar observasi keterampilan BLS sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kesiapsiagaan perawat sebelum pelatihan adalah 65,20 ± 8,14 dan meningkat menjadi 84,75 ± 6,32 setelah pelatihan. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pelatihan Basic Life Support terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penanganan henti jantung.</p> <p>Disimpulkan bahwa pelatihan BLS efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan perawat sehingga perlu dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Basic Life Support, BLS, Kesiapsiagaan Perawat, Henti Jantung, Pelatihan Kegawatdaruratan</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Djunaedi Djunaedi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1295 Pengembangan Model Community Health Nursing Dalam Meningkatkan Ketangguhan Masyarakat Terhadap Bencana 2026-06-08T04:48:40+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Natural and non-natural disasters can cause significant impacts on community health, social conditions, economic stability, and environmental sustainability. Indonesia's high vulnerability to disasters requires effective strategies to strengthen community resilience through community-based health approaches. Community Health Nursing (CHN) is one of the approaches that can improve preparedness, adaptive capacity, and resilience among communities facing disaster situations. This study aimed to develop a Community Health Nursing model to enhance community resilience toward disasters.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. A total of 60 respondents consisting of health cadres, community leaders, and community health workers were selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and observation sheets. Data were analyzed using univariate and Chi-Square statistical tests.</p> <p>The results showed that the implementation of the Community Health Nursing model was significantly associated with increased community resilience toward disasters (p=0.001). Health education programs, disaster preparedness training, establishment of disaster response groups, and empowerment of health cadres significantly improved community capacity in dealing with emergency situations.</p> <p>In conclusion, the development of a Community Health Nursing model is an effective strategy for enhancing community resilience through promotive, preventive, and community empowerment approaches.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Community Health Nursing, Community Resilience, Disaster Preparedness, Disaster Management, Community Health</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bencana alam maupun nonalam merupakan peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian besar terhadap kehidupan masyarakat, baik dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Tingginya risiko bencana di Indonesia menuntut adanya upaya peningkatan ketangguhan masyarakat melalui pendekatan kesehatan berbasis komunitas. <em>Community Health Nursing</em> (CHN) merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, kemampuan adaptasi, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model <em>Community Health Nursing</em> dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang terdiri dari kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan komunitas yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model <em>Community Health Nursing</em> berhubungan signifikan dengan peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana (p=0,001). Program edukasi kesehatan, pelatihan kesiapsiagaan bencana, pembentukan kelompok siaga bencana, dan pemberdayaan kader kesehatan terbukti meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.</p> <p>Disimpulkan bahwa pengembangan model <em>Community Health Nursing</em> dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana melalui pendekatan promotif, preventif, dan pemberdayaan masyarakat.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Community Health Nursing, Ketangguhan Masyarakat, Bencana, Kesiapsiagaan, Kesehatan Komunitas</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1296 Perspektif Tenaga Kesehatan Tentang Perlindungan Hak Dan Martabat Pasien Melalui Prinsip Confidentiality 2026-06-08T12:08:26+00:00 Marlin Eppang marlineppang@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Confidentiality is a fundamental principle in healthcare services aimed at protecting patients' rights, privacy, and dignity. Healthcare professionals have ethical and professional responsibilities to maintain the confidentiality of patient information throughout the healthcare process. Violations of confidentiality may reduce patient trust, cause psychological harm, and result in legal consequences for healthcare providers. This study aimed to explore healthcare professionals’ perspectives on protecting patient rights and dignity through the principle of confidentiality.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a descriptive analytic design. The sample consisted of 40 healthcare professionals, including nurses and midwives, selected using purposive sampling techniques. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate and Chi-Square statistical tests.</p> <p>The results showed that most healthcare professionals had a good understanding of confidentiality principles (70%). The majority also demonstrated good implementation of confidentiality practices in healthcare services (75%). Statistical analysis revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between healthcare professionals' understanding of confidentiality and the protection of patients' rights and dignity.</p> <p>In conclusion, proper implementation of confidentiality principles enhances the protection of patient rights and dignity and strengthens patient trust in healthcare services.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Confidentiality, Patient Rights, Patient Dignity, Healthcare Professionals, Healthcare Ethics</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Prinsip <em>confidentiality</em> atau kerahasiaan merupakan salah satu aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan melindungi hak, privasi, dan martabat pasien. Tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab profesional dan etik untuk menjaga kerahasiaan informasi medis pasien selama proses pelayanan kesehatan berlangsung. Pelanggaran terhadap prinsip kerahasiaan dapat menurunkan kepercayaan pasien, menimbulkan dampak psikologis, serta berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum bagi tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif tenaga kesehatan tentang perlindungan hak dan martabat pasien melalui penerapan prinsip <em>confidentiality</em>.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 40 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat dan bidan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang baik mengenai prinsip <em>confidentiality</em> sebanyak 28 responden (70%). Sebagian besar responden juga menunjukkan penerapan prinsip kerahasiaan yang baik dalam pelayanan kesehatan sebanyak 30 responden (75%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pemahaman tenaga kesehatan mengenai <em>confidentiality</em> dengan perlindungan hak dan martabat pasien.</p> <p>Disimpulkan bahwa penerapan prinsip <em>confidentiality</em> yang baik dapat meningkatkan perlindungan hak dan martabat pasien serta memperkuat kepercayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Confidentiality, Hak Pasien, Martabat Pasien, Tenaga Kesehatan, Etika Kesehatan</em></p> 2026-06-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Marlin Eppang, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1297 Peran Keselamatan Pasien Sebagai Pilar Utama Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Analitik 2026-06-08T22:18:25+00:00 Djunaedi Djunaedi djunaedi79@gmail.com Marlin Eppang marlineppang@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Patient safety is a fundamental component of healthcare systems aimed at preventing injuries, medical errors, and adverse events during healthcare delivery. Effective implementation of patient safety principles can improve healthcare quality, patient satisfaction, and public trust in healthcare institutions. This study aimed to analyze the role of patient safety as a primary pillar in improving healthcare service quality.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 50 healthcare professionals, including nurses, midwives, and other healthcare workers selected through purposive sampling. Data were collected using patient safety culture questionnaires and healthcare quality observation sheets. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that most respondents demonstrated good implementation of patient safety practices (68%). Good healthcare service quality was identified in 74% of respondents. Statistical analysis revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between patient safety implementation and healthcare service quality.</p> <p>In conclusion, patient safety plays a crucial role in improving healthcare quality. Better implementation of patient safety practices is associated with higher healthcare service quality.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Patient Safety, Healthcare Quality, Quality Of Care, Healthcare Services, Healthcare Professionals</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keselamatan pasien (<em>patient safety</em>) merupakan komponen utama dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya cedera, kesalahan medis, dan kejadian tidak diharapkan selama proses pelayanan kesehatan. Penerapan keselamatan pasien yang optimal dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, kepuasan pasien, serta kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran keselamatan pasien sebagai pilar utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 50 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dan lembar observasi mutu pelayanan kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki penerapan keselamatan pasien dalam kategori baik sebanyak 34 responden (68%). Mutu pelayanan kesehatan dalam kategori baik ditemukan pada 37 responden (74%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan keselamatan pasien dengan mutu pelayanan kesehatan.</p> <p>Disimpulkan bahwa keselamatan pasien memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Semakin baik penerapan keselamatan pasien, maka semakin tinggi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Keselamatan Pasien, Mutu Pelayanan Kesehatan, Patient Safety, Kualitas Pelayanan, Tenaga Kesehatan</em></p> 2026-06-09T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Djunaedi Djunaedi, Marlin Eppang https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1298 Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Perubahan Perilaku Hidup Sehat Dalam Upaya Menurunkan Angka Morbiditas Pada Masyarakat 2026-06-10T05:03:20+00:00 Rosdiana Rosdiana rosdianarusly993@gmail.com Endam Apulina Br Sembiring rosdianarusly993@gmail.com Nurhaedah Nurhaedah rosdianarusly993@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Health promotion is one of the primary strategies for increasing public awareness and encouraging healthy lifestyle behaviors. Positive behavioral changes can help prevent various diseases and reduce morbidity rates in the community. Lack of knowledge and awareness regarding healthy living remains a contributing factor to the high incidence of communicable and non-communicable diseases. This study aimed to analyze the effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes in efforts to reduce community morbidity rates.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using healthy lifestyle behavior questionnaires before and after health promotion interventions. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean healthy lifestyle behavior score increased from 64.25 ± 7.86 before health promotion to 82.70 ± 6.14 after health promotion. Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of health promotion on healthy lifestyle behavior changes among community members.</p> <p>In conclusion, health promotion effectively improves healthy lifestyle behaviors and can contribute to reducing morbidity rates through increased public awareness and participation in maintaining health.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Health Promotion, Healthy Lifestyle Behavior, Morbidity, Community, Health Education</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Promosi kesehatan merupakan salah satu strategi utama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Perubahan perilaku yang positif dapat membantu mencegah berbagai penyakit dan menurunkan angka morbiditas di masyarakat. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat masih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kejadian penyakit menular maupun tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat dalam upaya menurunkan angka morbiditas pada masyarakat.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner perilaku hidup sehat sebelum dan sesudah pelaksanaan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku hidup sehat meningkat dari 64,25 ± 7,86 sebelum promosi kesehatan menjadi 82,70 ± 6,14 setelah promosi kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku hidup sehat masyarakat.</p> <p>Disimpulkan bahwa promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu upaya untuk menurunkan angka morbiditas melalui peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Promosi Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat, Morbiditas, Masyarakat, Pendidikan Kesehatan</em></p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rosdiana Rosdiana, Nurhaedah Nurhaedah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1301 Pengaruh Promosi Kesehatan Terhadap Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas: Studi Pretest-Posttest 2026-06-10T10:17:34+00:00 Musaidah Musaidah rustammusaidah@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hypertension is one of the leading non-communicable diseases contributing significantly to morbidity and mortality worldwide. Medication adherence is a crucial factor in controlling blood pressure and preventing complications. However, many hypertensive patients remain non-adherent to treatment due to limited knowledge and awareness regarding the importance of long-term therapy. Health promotion is considered an effective strategy to improve medication adherence among hypertensive patients. This study aimed to determine the effect of health promotion on medication adherence among hypertensive patients at a primary healthcare center.</p> <p>This study employed a quantitative approach using a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 50 hypertensive patients selected through purposive sampling. Data were collected using medication adherence questionnaires administered before and after the health promotion intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-Test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that the mean medication adherence score increased from 62.84 ± 8.12 before the intervention to 83.56 ± 6.25 after the intervention. Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of health promotion on medication adherence among hypertensive patients.</p> <p>In conclusion, health promotion effectively improves medication adherence among hypertensive patients and supports better blood pressure control and prevention of disease complications.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Health Promotion, Medication Adherence, Hypertension, Health Education, Primary Healthcare</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah dan pencegahan komplikasi. Namun, masih banyak pasien hipertensi yang tidak patuh terhadap pengobatan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya terapi jangka panjang. Promosi kesehatan menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi di puskesmas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 50 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepatuhan pengobatan sebelum dan sesudah intervensi promosi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kepatuhan pengobatan meningkat dari 62,84 ± 8,12 sebelum intervensi menjadi 83,56 ± 6,25 setelah intervensi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan promosi kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan pasien hipertensi.</p> <p>Disimpulkan bahwa promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi sehingga dapat mendukung pengendalian tekanan darah dan mencegah komplikasi penyakit.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Promosi Kesehatan, Kepatuhan Pengobatan, Hipertensi, Pendidikan Kesehatan, Puskesmas</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Musaidah Musaidah, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1303 Pengaruh Kompetensi Apoteker Terhadap Keberhasilan Manajemen Farmasi Di Puskesmas 2026-06-10T10:25:08+00:00 Sara Surya sar4surya@gmail.com Mukriani Mukriani sar4surya@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pharmacist competency is an essential factor influencing the quality of pharmaceutical services and the success of pharmacy management in primary healthcare centers. Pharmacists play a strategic role in drug management, medication information services, therapy monitoring, and quality assurance of pharmaceutical services. High competency levels contribute to effective pharmacy management, ensuring drug availability, safety, and rational use. This study aimed to analyze the effect of pharmacist competency on the success of pharmacy management in primary healthcare centers.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a cross-sectional analytical design. The sample consisted of 35 pharmacists and pharmacy technicians working in several primary healthcare centers. Data were collected using pharmacist competency questionnaires and pharmacy management observation sheets. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that 68.6% of respondents had good competency levels, while 74.3% demonstrated successful pharmacy management practices. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.002 (p &lt; 0.05), indicating a significant effect of pharmacist competency on pharmacy management success.</p> <p>In conclusion, pharmacist competency significantly influences the success of pharmacy management in primary healthcare centers. Continuous professional education and training programs are recommended to improve pharmaceutical service quality.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Pharmacist Competency, Pharmacy Management, Pharmaceutical Services, Primary Healthcare, Clinical Pharmacy</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kompetensi apoteker merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas pelayanan kefarmasian dan keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas. Apoteker memiliki peran strategis dalam pengelolaan obat, pelayanan informasi obat, pemantauan terapi, serta pengendalian mutu pelayanan kefarmasian. Kompetensi yang baik akan mendukung efektivitas manajemen farmasi sehingga ketersediaan, keamanan, dan penggunaan obat dapat terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi apoteker terhadap keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 35 apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di beberapa puskesmas. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kompetensi apoteker dan lembar observasi manajemen farmasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kompetensi dalam kategori baik sebanyak 24 responden (68,6%). Keberhasilan manajemen farmasi dalam kategori baik ditemukan pada 26 responden (74,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara kompetensi apoteker dan keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas.</p> <p>Disimpulkan bahwa kompetensi apoteker berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan manajemen farmasi di puskesmas. Peningkatan kompetensi melalui pendidikan berkelanjutan dan pelatihan profesional perlu terus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kompetensi Apoteker, Manajemen Farmasi, Pelayanan Kefarmasian, Puskesmas, Farmasi Klinik</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Sara Surya, Mukriani Mukriani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1302 Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Pada Remaja Putri 2026-06-10T10:21:13+00:00 Rismayana Rismayana badorismayana@yahoo.com Nurhaedah Nurhaedah badorismayana@yahoo.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Gender-based violence is a significant social and public health issue affecting adolescent girls. Limited knowledge of reproductive health may increase adolescents’ vulnerability to various forms of violence, including physical, psychological, sexual, and online violence. Adequate reproductive health knowledge is expected to foster positive attitudes toward preventing gender-based violence. This study aimed to determine the relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention among adolescent girls.</p> <p>This study employed a quantitative approach with a cross-sectional analytical design. The sample consisted of 60 adolescent girls selected using purposive sampling. Data were collected using reproductive health knowledge questionnaires and gender-based violence prevention attitude questionnaires. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 95%.</p> <p>The results showed that 68.3% of respondents had good reproductive health knowledge, while 65% demonstrated positive attitudes toward gender-based violence prevention. The Chi-Square test revealed a p-value of 0.001 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between reproductive health knowledge and attitudes toward gender-based violence prevention.</p> <p>In conclusion, better reproductive health knowledge is associated with more positive attitudes toward preventing gender-based violence among adolescent girls.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Reproductive Health, Gender-Based Violence, Adolescent Girls, Knowledge, Attitude</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekerasan berbasis gender merupakan salah satu masalah sosial dan kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan kekerasan dalam lingkungan digital. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik diharapkan dapat membentuk sikap positif dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dan kuesioner sikap pencegahan kekerasan berbasis gender. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41 responden (68,3%) memiliki tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, sedangkan 39 responden (65%) memiliki sikap pencegahan kekerasan berbasis gender yang positif. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dan sikap pencegahan kekerasan berbasis gender pada remaja putri.</p> <p>Disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan kesehatan reproduksi yang dimiliki remaja putri, maka semakin positif pula sikap mereka dalam mencegah kekerasan berbasis gender.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Kesehatan Reproduksi, Kekerasan Berbasis Gender, Remaja Putri, Pengetahuan, Sikap</p> 2026-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rismayana Rismayana, Nurhaedah Nurhaedah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1226 Pengaruh Kebiasaan Sarapan Terhadap Konsentrasi Belajar Anak Sekolah Dasar 2026-06-23T10:01:52+00:00 Dia Rejeki Utami diarejekiutami@gmail.com Andi Ernawati Manuntungi diarejekiutami@gmail.com Nuryanti Thahir diarejekiutami@gmail.com <p>Breakfast is one of the eating habits that plays an important role in providing energy for the body, especially for school-aged children who require optimal concentration during learning activities. This study aimed to determine the effect of breakfast habits on learning concentration among elementary school children. This research used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 60 elementary school students selected using purposive sampling techniques. Breakfast habits were measured using questionnaires, while learning concentration levels were assessed through observation instruments. Data were analyzed using statistical tests to determine the relationship between breakfast habits and learning concentration. The results showed that children who regularly consumed breakfast had better learning concentration compared to children who did not regularly eat breakfast. The analysis indicated that breakfast habits were associated with learning concentration among elementary school children. Regular breakfast consumption can help fulfill energy and nutritional needs, thereby supporting cognitive function, attention, and learning activities.</p> 2026-04-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Dia Rejeki Utami https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1326 Hubungan Kesepian (Loneliness) Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia 2026-06-28T13:52:35+00:00 Cici Yusnayanti cicistikesmw@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai perubahan dalam aspek fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu masalah psikologis yang sering terjadi pada lansia adalah kesepian (<em>loneliness</em>) yang dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi. Kesepian dapat muncul akibat berkurangnya interaksi sosial, kehilangan pasangan hidup, keterbatasan aktivitas, maupun perubahan peran dalam keluarga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesepian (<em>loneliness</em>) dengan tingkat depresi pada lansia.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 60 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner UCLA Loneliness Scale untuk mengukur tingkat kesepian dan Geriatric Depression Scale (GDS) untuk mengukur tingkat depresi lansia. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kesepian dengan tingkat depresi pada lansia (p &lt; 0,05). Lansia dengan tingkat kesepian tinggi cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih berat dibandingkan lansia dengan tingkat kesepian rendah. Kesepian menjadi salah satu faktor psikososial yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia.</p> 2026-06-28T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cici Yusnayanti, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1327 Faktor Yang Berhubungan Dengan Healthy Aging Pada Lansia Di Komunitas 2026-06-28T13:56:16+00:00 Ramadhan Putra Satria satriaa2604@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p>Peningkatan jumlah populasi lansia menjadi tantangan dalam bidang kesehatan karena proses penuaan dapat menyebabkan perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Konsep <em>healthy aging</em> menjadi salah satu pendekatan penting untuk membantu lansia mempertahankan kemampuan fungsional, kemandirian, dan kualitas hidup yang optimal. Berbagai faktor seperti aktivitas fisik, status kesehatan, dukungan sosial, pola hidup, serta kondisi psikologis dapat memengaruhi keberhasilan proses penuaan sehat pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan <em>healthy aging</em> pada lansia di komunitas.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 60 lansia yang berada di komunitas dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner <em>healthy aging</em>, aktivitas fisik, dukungan sosial, gaya hidup, dan status kesehatan lansia. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik, dukungan sosial, dan kondisi kesehatan dengan penerapan <em>healthy aging</em> pada lansia (p &lt; 0,05). Lansia yang aktif secara fisik, mendapatkan dukungan sosial yang baik, dan memiliki kondisi kesehatan yang lebih optimal cenderung memiliki kemampuan <em>healthy aging</em> yang lebih baik.</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ramadhan Putra Satria, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1328 Korelasi Tingkat Pengetahuan Dan Dukungan Layanan Kesehatan Dengan Kepatuhan Skrining IMS Pada Kelompok Berisiko 2026-07-01T05:11:44+00:00 Achmad Hilal fhasranoldua@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Sexually Transmitted Infections (STIs) remain a major public health concern, particularly among high-risk groups. Limited knowledge about STIs and inadequate support from healthcare services may reduce the utilization of STI screening programs. Early screening is essential for detecting infections, preventing transmission, and reducing complications. This study aimed to determine the correlation between the level of knowledge and healthcare service support with compliance with STI screening among high-risk groups. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study involved 100 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires measuring STI knowledge, healthcare service support, and STI screening compliance. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that 62% of respondents had good knowledge about STIs, 58% received good healthcare service support, and 65% complied with STI screening. Statistical analysis showed a significant correlation between knowledge level and STI screening compliance (p=0.001). A significant correlation was also found between healthcare service support and STI screening compliance (p=0.003). Higher STI knowledge levels and better healthcare service support are associated with increased compliance with STI screening among high-risk groups. Strengthening sexual health education, improving accessibility, and providing stigma-free healthcare services are important strategies to increase STI screening participation.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Knowledge, Healthcare Service Support, Compliance, STI Screening, High-Risk Groups</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan pada kelompok berisiko. Rendahnya pengetahuan mengenai IMS serta keterbatasan dukungan layanan kesehatan dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan skrining secara rutin. Skrining IMS berperan penting dalam deteksi dini, pencegahan penularan, dan pengendalian komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang IMS dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan melakukan skrining IMS pada kelompok berisiko. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 100 responden dari kelompok berisiko yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner mengenai tingkat pengetahuan IMS, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan IMS kategori baik (62%), mendapatkan dukungan layanan kesehatan yang baik (58%), dan patuh melakukan skrining IMS (65%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,003). Tingkat pengetahuan yang baik dan dukungan layanan kesehatan yang memadai berhubungan dengan meningkatnya kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan seksual dan penguatan layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Pengetahuan, Dukungan Layanan Kesehatan, Kepatuhan, Skrining IMS, Kelompok Berisiko</em></p> 2026-06-28T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Achmad Hilal, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1329 Model Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, Kesetaraan Gender, Dan Perilaku Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender 2026-07-01T06:38:40+00:00 Cakrawati R Cakrawati R cakrawati.rhn@gmail.com Natalia Debi Subani cakrawati.rhn@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Gender-based violence is a public health issue affecting physical, psychological, social, and reproductive health outcomes. Prevention efforts require not only legal interventions but also improvements in reproductive health knowledge and understanding of gender equality.This study aimed to analyze the relationship between reproductive health knowledge, gender equality, and prevention behavior toward gender-based violence.This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires measuring reproductive health knowledge, gender equality attitudes, and gender-based violence prevention behaviors. Data were analyzed using Chi-Square tests and logistic regression analysis.The results showed that 68% of respondents had good reproductive health knowledge, 65% demonstrated positive gender equality attitudes, and 62% showed good prevention behaviors. There were significant relationships between reproductive health knowledge and prevention behavior (p=0.002), as well as between gender equality attitudes and prevention behavior (p=0.001).Reproductive health knowledge and gender equality awareness are associated with better prevention behaviors toward gender-based violence. Strengthening reproductive health education and gender equality programs is important for preventing gender-based violence.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Reproductive Health, Gender Equality, Gender-Based Violence, Prevention, Behavior</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekerasan berbasis gender merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap fisik, psikologis, sosial, dan kesehatan reproduksi korban. Upaya pencegahan kekerasan berbasis gender tidak hanya bergantung pada penegakan hukum, tetapi juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dan pemahaman mengenai kesetaraan gender dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap kesetaraan gender, dan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68% responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, 65% memiliki pemahaman kesetaraan gender yang positif, dan 62% memiliki perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender yang baik. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender (p=0,002) serta antara kesetaraan gender dengan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender (p=0,001). Pengetahuan kesehatan reproduksi dan pemahaman kesetaraan gender berhubungan dengan peningkatan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Pendidikan kesehatan reproduksi dan penguatan nilai kesetaraan gender perlu ditingkatkan sebagai strategi pencegahan kekerasan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Kesehatan Reproduksi, Kesetaraan Gender, Kekerasan Berbasis Gender, Pencegahan, Perilaku</em></p> 2026-07-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cakrawati R Cakrawati R, Natalia Debi Subani https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1330 Dampak Paparan Asap Rokok Terhadap Kesehatan Perokok Pasif Dalam Keluarga 2026-07-01T08:29:33+00:00 Nurul Aisyiyah Puspitarini nurula.publikasi@gmail.com Lely Meriaya Sari agdosiagdosi@gmail.com Djunaedi Djunaedi djunaedi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Exposure to cigarette smoke is a major environmental health problem that significantly affects public health. Passive smokers, especially family members living with active smokers, are at risk of developing various health problems due to continuous exposure to tobacco smoke. Cigarette smoke contains harmful substances that increase the risk of respiratory diseases, cardiovascular diseases, and other health complications. This study aimed to analyze the impact of cigarette smoke exposure on the health of passive smokers within families and identify factors associated with increased health risks due to secondhand smoke exposure. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 100 family members living with active smokers. Data were collected using questionnaires assessing cigarette smoke exposure intensity, characteristics of active smokers, and respondents’ health conditions. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The findings showed that most respondents experienced high levels of cigarette smoke exposure (58%). The most common health complaints were recurrent cough (42%), shortness of breath (35%), and throat irritation (31%). Statistical analysis showed a significant association between cigarette smoke exposure and respiratory health problems among passive smokers (p=0.002). Household cigarette smoke exposure is associated with increased health risks among passive smokers. Family education and implementation of smoke-free homes are needed to reduce exposure and protect family health.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Cigarette Smoke, Passive Smokers, Family Health, Respiratory Disorders, Environmental Exposure</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Paparan asap rokok merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Perokok pasif, terutama anggota keluarga yang tinggal bersama perokok aktif, berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan akibat menghirup asap rokok secara terus-menerus. Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, serta gangguan kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan perokok pasif dalam keluarga serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap rokok. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian terdiri dari 100 anggota keluarga yang tinggal bersama perokok aktif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner mengenai intensitas paparan asap rokok, karakteristik perokok aktif dalam keluarga, serta kondisi kesehatan responden. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami paparan asap rokok dalam kategori tinggi (58%). Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah batuk berulang (42%), sesak napas (35%), dan keluhan iritasi tenggorokan (31%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara paparan asap rokok dengan gangguan kesehatan pernapasan pada perokok pasif (p=0,002). Paparan asap rokok dalam lingkungan keluarga berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan pada perokok pasif. Upaya pengendalian asap rokok dalam rumah melalui edukasi keluarga dan penerapan rumah bebas asap rokok diperlukan untuk melindungi kesehatan anggota keluarga.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Asap Rokok, Perokok Pasif, Kesehatan Keluarga, Gangguan Pernapasan, Paparan Lingkungan</em></p> 2026-07-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Nurul Aisyiyah Puspitarini , Djunaedi Djunaedi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1332 Epidemiologi Sosial: Pengaruh Determinan Sosial Terhadap Status Kesehatan Masyarakat 2026-07-01T13:26:46+00:00 Achmad Hilal fhasranoldua@gmail.com Nurhaedah Nurhaedah fhasranoldua@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Public health status is influenced not only by biological factors and healthcare services but also by social, economic, cultural, environmental, and policy-related factors. Social epidemiology examines how social conditions influence the distribution of diseases and health inequalities within populations. This article aims to explain the influence of social determinants on public health status and identify social factors contributing to health disparities. This article used a literature review approach by analyzing scientific sources related to social epidemiology, social determinants of health, and health inequalities. Social determinants such as education level, income, employment, living environment, healthcare access, social support, and public policies significantly influence individual and population health outcomes. Communities with lower socioeconomic conditions tend to experience higher risks of infectious diseases, non-communicable diseases, and barriers to accessing adequate healthcare services. Social determinants have a substantial impact on public health status. Improving population health requires not only medical interventions but also multisectoral approaches addressing social, economic, and environmental factors.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Social Epidemiology, Social Determinants of Health, Health Status, Health Inequality, Population Health</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Status kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis dan pelayanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan kebijakan. Epidemiologi sosial mempelajari bagaimana faktor sosial memengaruhi distribusi penyakit dan ketimpangan kesehatan dalam suatu populasi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh determinan sosial terhadap status kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi faktor sosial yang berperan dalam munculnya kesenjangan kesehatan. Artikel ini menggunakan metode kajian literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah mengenai epidemiologi sosial, determinan sosial kesehatan, dan ketimpangan kesehatan masyarakat. Determinan sosial seperti tingkat pendidikan, pendapatan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, akses pelayanan kesehatan, dukungan sosial, dan kebijakan publik terbukti memiliki hubungan dengan tingkat kesehatan individu maupun kelompok. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit infeksi, penyakit tidak menular, serta hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal. Determinan sosial memiliki pengaruh besar terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan tidak cukup hanya melalui intervensi medis, tetapi membutuhkan pendekatan multisektor yang memperhatikan faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Epidemiologi Sosial, Determinan Sosial Kesehatan, Status Kesehatan, Ketimpangan Kesehatan, Masyarakat</em></p> 2026-07-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Achmad Hilal, Nurhaedah Nurhaedah https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1333 Determinan Status Gizi Balita Dalam Situasi Darurat Bencana: Studi Cross-Sectional Pada Wilayah Pengungsian 2026-07-01T14:17:42+00:00 Rumiris Simatupang rumirissimatupang2@gmail.com Warda M Warda M rumirissimatupang2@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat rezqiqahika@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Disaster emergency situations may increase the risk of nutritional problems among children under five due to limited food access, changes in caregiving practices, poor sanitation, and restricted healthcare services. Young children are vulnerable groups requiring special attention because malnutrition during early life can affect long-term growth and development. This study aimed to analyze determinants associated with nutritional status among children under five in disaster emergency shelters. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted among children under five living in evacuation areas. A total of 100 children were selected using purposive sampling. Data were collected through anthropometric measurements and questionnaires assessing food intake, infectious diseases, caregiving practices, and healthcare access. Data were analyzed using the Chi-Square test. The study showed that 65% of children had good nutritional status, while 35% experienced nutritional problems. Factors associated with nutritional status were food intake (p=0.002), history of infectious diseases (p=0.004), maternal caregiving practices (p=0.012), and healthcare access (p=0.018). Nutritional status among children under five in disaster situations is influenced by food availability, infectious diseases, caregiving practices, and healthcare access. Integrated emergency nutrition interventions are needed through adequate food provision, growth monitoring, disease prevention, and strengthened health services.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Nutritional Status, Children Under Five, Disaster, Evacuation Shelter, Health Determinants</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Situasi darurat bencana dapat meningkatkan risiko gangguan status gizi pada balita akibat keterbatasan akses pangan, perubahan pola asuh, gangguan sanitasi, serta terbatasnya pelayanan kesehatan. Balita merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus karena kekurangan gizi pada masa ini dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita dalam situasi darurat bencana di wilayah pengungsian. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada balita yang berada di wilayah pengungsian. Sampel penelitian sebanyak 100 balita yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi/panjang badan), wawancara kuesioner mengenai asupan makanan, penyakit infeksi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (65%), sedangkan 35% mengalami masalah gizi. Faktor yang berhubungan dengan status gizi balita adalah asupan makanan (p=0,002), riwayat penyakit infeksi (p=0,004), pola asuh ibu (p=0,012), dan akses pelayanan kesehatan (p=0,018). Status gizi balita dalam situasi darurat bencana dipengaruhi oleh faktor konsumsi makanan, penyakit infeksi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan. Intervensi gizi darurat perlu dilakukan secara terpadu melalui pemberian makanan bergizi, pemantauan pertumbuhan, pencegahan penyakit, dan penguatan layanan kesehatan di lokasi pengungsian.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Status Gizi, Balita, Bencana, Pengungsian, Determinan Kesehatan</em></p> 2026-07-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rumiris Simatupang, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1334 Evaluasi Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dalam Mendukung Generasi Emas Indonesia 2045 2026-07-02T00:07:28+00:00 Nur Aida Kubangun nuraidakubangun@gmail.com Riswan Riswan rahmatpannyiwi79@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Muhammad Asikin nuraidakubangun@gmail.com Yudi Muammar nuraidakubangun@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong>Background:</strong> Human resource quality is a key factor in achieving Indonesia Golden Generation 2045. The Free Nutritious Meal Program (MBG) was introduced as a strategic intervention to improve nutritional fulfillment, support child growth, and strengthen educational outcomes. Large-scale nutrition programs require continuous evaluation to ensure effectiveness and sustainability.</p> <p><strong>Objective:</strong> This study aimed to evaluate the implementation of the Free Nutritious Meal Program (MBG) in supporting health improvement and human resource development toward Indonesia Golden Generation 2045.</p> <p><strong>Methods:</strong> This study used a descriptive evaluative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 100 respondents including beneficiaries, program implementers, and related stakeholders. Data were collected using questionnaires assessing program implementation, food quality, target accuracy, health benefits, and implementation challenges. Data were analyzed using descriptive statistics.</p> <p><strong>Results:</strong> The results showed that most respondents assessed MBG implementation as good (72%). Positive aspects included improved access to nutritious food (78%), support for learning concentration (70%), and increased awareness of healthy eating habits (75%). However, several challenges remained, including distribution systems, food quality monitoring, implementer readiness, and evaluation mechanisms.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> The Free Nutritious Meal Program has strong potential to support Indonesia Golden Generation 2045 through improved nutrition and human resource quality. Optimization requires stronger governance, food safety monitoring, equitable distribution, and continuous evaluation.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Free Nutritious Meal Program, Program Evaluation, Child Nutrition, Golden Generation 2045, Health Policy</p> 2026-06-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Riswan Riswan https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1335 Determinan Perilaku Seksual Sehat Dan Bertanggung Jawab Pada Remaja Dalam Perspektif Kesehatan Reproduksi 2026-07-02T04:10:19+00:00 Hainas Sani Privetera priveterahainas@gmail.com Rohmi Rohmi priveterahainas@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><strong>Background:</strong> Adolescence is a developmental stage characterized by biological, psychological, and social changes. Lack of reproductive health knowledge may increase the risk of unhealthy sexual behaviors, including risky sexual activity, sexually transmitted infections, and unintended pregnancy. Healthy and responsible sexual behavior is influenced by various factors such as knowledge, attitudes, family support, peer influence, and access to reproductive health information.</p> <p><strong>Objective:</strong> This study aimed to identify determinants associated with healthy and responsible sexual behavior among adolescents from a reproductive health perspective.</p> <p><strong>Methods:</strong> This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 100 adolescents were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires assessing reproductive health knowledge, attitudes, family support, access to information, and healthy sexual behavior. Data analysis was performed using the Chi-Square test.</p> <p><strong>Results:</strong> The results showed that 70% of respondents had good reproductive health knowledge, 65% had positive attitudes toward healthy sexual behavior, 60% received good family support, and 68% demonstrated healthy and responsible sexual behavior. Significant associations were found between reproductive health knowledge (p=0.001), attitudes (p=0.003), and family support (p=0.012) with healthy sexual behavior.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> Reproductive health knowledge, positive attitudes, and social support are associated with healthy and responsible sexual behavior among adolescents. Comprehensive reproductive health education is needed to improve adolescents’ ability to make safe and responsible decisions.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Adolescents, Reproductive Health, Healthy Sexual Behavior, Knowledge, Risk Prevention</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko perilaku seksual tidak sehat seperti hubungan seksual berisiko, infeksi menular seksual, dan kehamilan tidak direncanakan. Perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, teman sebaya, serta akses informasi kesehatan reproduksi.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab pada remaja dalam perspektif kesehatan reproduksi.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian sebanyak 100 remaja yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap, dukungan keluarga, akses informasi, dan perilaku seksual sehat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi baik, 65% memiliki sikap positif terhadap perilaku seksual sehat, 60% memperoleh dukungan keluarga baik, dan 68% menunjukkan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi (p=0,001), sikap (p=0,003), dan dukungan keluarga (p=0,012) dengan perilaku seksual sehat pada remaja.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap positif, dan dukungan lingkungan sosial berhubungan dengan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab pada remaja. Edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif diperlukan untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan yang aman dan bertanggung jawab.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Remaja, Kesehatan Reproduksi, Perilaku Seksual Sehat, Pengetahuan, Pencegahan Risiko</p> 2026-07-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Hainas Sani Privetera , Rohmi Rohmi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1336 Pengaruh Edukasi Discharge Planning terhadap Kemandirian Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pasien Gagal Jantung 2026-07-02T06:48:09+00:00 Devi Kristina Hutagalung devikristina30@gmail.com Rezqiqah Aulia Rahmat devikristina30@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Heart failure is a chronic cardiovascular disease characterized by the inability of the heart to pump blood adequately to meet the body's metabolic demands. Patients with heart failure often experience limitations in performing activities of daily living and require continuous self-care after hospital discharge. Inadequate discharge planning may contribute to poor treatment adherence, recurrent hospitalization, and decreased independence in fulfilling basic needs. Educational discharge planning is considered an effective intervention to improve patients' understanding, self-management skills, and independence after discharge. This study aimed to determine the effect of discharge planning education on the independence of fulfilling basic needs among patients with heart failure. This study employed a quantitative pre-experimental design using a one-group pretest-posttest approach. The study involved 60 hospitalized heart failure patients selected through purposive sampling. The intervention consisted of structured discharge planning education covering medication adherence, dietary management, physical activity, symptom recognition, fluid restriction, and follow-up care. Data were collected using the Barthel Index and Self-Care of Heart Failure Index questionnaires. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of α = 0.05. Before the intervention, 61.7% of respondents demonstrated moderate independence, while only 20.0% had high independence. After receiving discharge planning education, the proportion of respondents with high independence increased to 71.7%. Statistical analysis showed a significant improvement in patients' independence after the intervention (p = 0.001). Discharge planning education significantly improves the independence of patients with heart failure in fulfilling their basic needs. Comprehensive discharge planning should become an integral component of nursing care to reduce readmission rates and improve patients' quality of life.</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Discharge Planning, Heart Failure, Independence, Self-Care, Nursing Education</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gagal jantung merupakan penyakit kardiovaskular kronis yang ditandai dengan ketidakmampuan jantung memompa darah secara optimal sehingga kebutuhan metabolisme tubuh tidak terpenuhi. Kondisi tersebut menyebabkan pasien mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan kemampuan perawatan diri yang baik setelah pulang dari rumah sakit. Pelaksanaan discharge planning yang belum optimal sering menyebabkan rendahnya kepatuhan terapi, tingginya angka rehospitalisasi, dan menurunnya kemandirian pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar. Edukasi discharge planning menjadi salah satu intervensi keperawatan yang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi discharge planning terhadap kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian sebanyak 60 pasien gagal jantung yang dirawat di rumah sakit dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa edukasi discharge planning terstruktur mengenai kepatuhan minum obat, pengaturan diet, aktivitas fisik, pembatasan cairan, pengenalan tanda bahaya, dan jadwal kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Self-Care of Heart Failure Index dan Barthel Index. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Sebelum edukasi discharge planning sebanyak 61,7% responden memiliki tingkat kemandirian sedang dan hanya 20,0% memiliki kemandirian tinggi. Setelah diberikan edukasi discharge planning, proporsi responden dengan tingkat kemandirian tinggi meningkat menjadi 71,7%. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh signifikan edukasi discharge planning terhadap peningkatan kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung (p = 0,001). Edukasi discharge planning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung. Pelaksanaan discharge planning yang komprehensif perlu diterapkan secara konsisten sebagai bagian integral pelayanan keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan angka rawat ulang.</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Discharge Planning, Gagal Jantung, Kemandirian, Self-Care, Edukasi Keperawatan</em></p> 2026-07-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Devi Kristina Hutagalung, Rezqiqah Aulia Rahmat https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1338 Pengaruh Terapi Range Of Motion Terhadap Pemulihan Fungsi Ekstremitas Pada Pasien Stroke 2026-07-02T10:39:50+00:00 M. Khalid Fredy Saputra fredyfkes@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Stroke is one of the leading causes of disability worldwide, resulting in impaired upper and lower extremity motor function. These impairments reduce patients' ability to perform daily activities independently. Range of Motion (ROM) therapy is widely recommended as a rehabilitation intervention to maintain joint flexibility, improve muscle strength, enhance blood circulation, and prevent contractures. To determine the effect of Range of Motion therapy on extremity functional recovery in stroke patients. This study employed a quasi-experimental one-group pretest-posttest design involving 30 stroke patients selected using purposive sampling. ROM exercises were performed twice daily for 30 minutes over four weeks. Extremity function was measured using the Fugl-Meyer Assessment (FMA). Data were analyzed using paired t-test with a significance level of 0.05. The mean extremity function score increased from 41.27 ± 8.52 before intervention to 57.84 ± 7.96 after intervention. Statistical analysis showed a significant improvement (p &lt; 0.001). Range of Motion therapy significantly improves extremity function among stroke patients and should be integrated into nursing rehabilitation programs.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Stroke, Range of Motion, Extremity Function, Rehabilitation.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stroke merupakan penyebab utama kecacatan yang menyebabkan gangguan fungsi motorik pada ekstremitas atas maupun bawah. Gangguan tersebut mengakibatkan penurunan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan adalah terapi <em>Range of Motion</em> (ROM), yaitu latihan gerak sendi yang bertujuan mempertahankan fleksibilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta mencegah kontraktur. Mengetahui pengaruh terapi <em>Range of Motion</em> terhadap pemulihan fungsi ekstremitas pada pasien stroke.Penelitian menggunakan desain <em>quasi experiment</em> dengan pendekatan <em>one group pretest-posttest</em>. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien stroke yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Intervensi terapi ROM diberikan selama 30 menit, dua kali sehari selama empat minggu. Instrumen penelitian menggunakan <em>Fugl-Meyer Assessment</em> (FMA). Analisis data menggunakan uji <em>paired t-test</em> dengan tingkat signifikansi 0,05. Nilai rata-rata fungsi ekstremitas sebelum terapi adalah 41,27 ± 8,52 dan meningkat menjadi 57,84 ± 7,96 setelah terapi ROM. Hasil uji <em>paired t-test</em> menunjukkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan terapi ROM terhadap pemulihan fungsi ekstremitas pasien stroke. Terapi ROM terbukti efektif meningkatkan fungsi ekstremitas pasien stroke sehingga dapat dijadikan intervensi keperawatan dalam program rehabilitasi.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Stroke, Range of Motion, Fungsi Ekstremitas, Rehabilitasi, Keperawatan.</p> 2026-07-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 M. Khalid Fredy Saputra, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1337 Penerapan Air Rebusan Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Terhadap Tingkat Malodor Pada Luka Penderita Ulkus Diabetikum Di Puskesmas Aek Parombunan 2026-07-02T10:25:55+00:00 Piuskosmas Fau piuskfau@yahoo.co.id Dian Kristiani Tafonao piuskfau@yahoo.co.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Diabetic ulcers are one of the chronic complications of diabetes mellitus that frequently lead to prolonged wound healing and unpleasant odor (malodor). Malodor is caused by bacterial colonization and tissue necrosis, which negatively affect patients' physical comfort, psychological well-being, and quality of life. Guava leaves (<em>Psidium guajava</em> L.) contain bioactive compounds such as flavonoids, tannins, saponins, and essential oils with antibacterial, anti-inflammatory, and antioxidant properties that may reduce wound odor. This study aimed to determine the effectiveness of boiled guava leaf water application in reducing the malodor level of diabetic ulcers at Aek Parombunan Public Health Center. This study employed a quantitative pre-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The study involved 20 patients with diabetic ulcers selected through purposive sampling. Malodor was assessed using the Teler Wound Odor Assessment Tool before and after the intervention. The intervention consisted of wound cleansing using boiled guava leaf water once daily for seven consecutive days. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results demonstrated a significant reduction in malodor scores after the intervention (p&lt;0.05). The application of boiled guava leaf water proved effective in reducing wound malodor and may serve as an alternative complementary therapy in diabetic wound management.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Diabetic Ulcer, Guava Leaves, Malodor, Wound Care, Complementary Therapy.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus yang sering menyebabkan proses penyembuhan luka berlangsung lama disertai timbulnya bau tidak sedap (malodor). Malodor pada luka terjadi akibat kolonisasi bakteri anaerob dan jaringan nekrotik yang dapat menurunkan kenyamanan, kualitas hidup, serta kondisi psikologis penderita. Daun jambu biji (<em>Psidium guajava</em> L.) mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, serta antioksidan sehingga berpotensi mengurangi malodor pada luka. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penerapan air rebusan daun jambu biji terhadap penurunan tingkat malodor pada luka penderita ulkus diabetikum di Puskesmas Aek Parombunan. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian sebanyak 20 penderita ulkus diabetikum yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat malodor diukur menggunakan Teler Wound Odor Assessment Tool sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi dilakukan dengan membersihkan luka menggunakan air rebusan daun jambu biji satu kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor malodor yang bermakna setelah pemberian air rebusan daun jambu biji (p&lt;0,05). Penerapan air rebusan daun jambu biji efektif menurunkan tingkat malodor pada luka ulkus diabetikum sehingga dapat digunakan sebagai terapi komplementer dalam perawatan luka diabetik.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Ulkus Diabetikum, Daun Jambu Biji, Malodor, Perawatan Luka, Terapi Komplementer</p> 2026-07-02T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Piuskosmas Fau, Dian Kristiani Tafonao https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1339 Hubungan Gaya Hidup Sehat Dengan Risiko Stroke Pada Orang Dewasa 2026-07-03T06:18:57+00:00 M. Khalid Fredy Saputra fredyfkes@gmail.com Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Stroke remains one of the leading causes of death and disability worldwide. Most stroke risk factors are associated with unhealthy lifestyles, including physical inactivity, unhealthy dietary habits, smoking, alcohol consumption, obesity, and poor control of blood pressure and blood glucose levels. Adopting a healthy lifestyle is considered one of the most effective preventive strategies to reduce the risk of stroke among adults. This study aimed to determine the relationship between healthy lifestyle behaviors and stroke risk among adults.</p> <p>This study employed a quantitative approach with an analytical observational cross-sectional design. The research was conducted in the working area of community health centers from January to April 2025. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using a healthy lifestyle questionnaire, a stroke risk assessment form, and respondent demographic forms. Data were analyzed using univariate analysis and Chi-Square test with a significance level of α=0.05.</p> <p>The results showed that 38 respondents (63.3%) had good healthy lifestyle behaviors. A total of 24 respondents (40.0%) had low stroke risk, while 36 respondents (60.0%) had moderate to high stroke risk. Chi-Square analysis demonstrated a significant relationship between healthy lifestyle and stroke risk (p=0.001). Adults with healthier lifestyles had significantly lower stroke risk than those with unhealthy lifestyles.</p> <p>The study concludes that maintaining a healthy lifestyle is significantly associated with reduced stroke risk among adults. Health promotion programs emphasizing healthy lifestyle behaviors should therefore be strengthened to prevent stroke.</p> <p><strong>Keywords:</strong> Healthy Lifestyle, Stroke, Risk Factors, Adults, Prevention.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Sebagian besar faktor risiko stroke berkaitan dengan gaya hidup yang kurang sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan kurangnya kontrol terhadap tekanan darah maupun kadar gula darah. Penerapan gaya hidup sehat menjadi salah satu strategi preventif yang efektif dalam menurunkan risiko terjadinya stroke pada orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup sehat dengan risiko stroke pada orang dewasa.</p> <p>Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas selama Januari–April 2025. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri atas kuesioner gaya hidup sehat, lembar penilaian faktor risiko stroke, dan lembar identitas responden. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square pada tingkat kemaknaan α=0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki gaya hidup sehat kategori baik sebanyak 38 responden (63,3%). Sebanyak 24 responden (40,0%) memiliki risiko stroke rendah, sedangkan 36 responden (60,0%) berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara gaya hidup sehat dengan risiko stroke (p=0,001). Responden yang menerapkan gaya hidup sehat memiliki risiko stroke yang lebih rendah dibandingkan responden dengan gaya hidup kurang sehat.</p> <p>Penelitian ini menyimpulkan bahwa gaya hidup sehat berhubungan signifikan dengan penurunan risiko stroke pada orang dewasa. Oleh karena itu, promosi kesehatan mengenai pola hidup sehat perlu ditingkatkan sebagai upaya pencegahan penyakit stroke.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Gaya Hidup Sehat, Stroke, Faktor Risiko, Orang Dewasa, Pencegahan.</p> 2026-07-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 M. Khalid Fredy Saputra, Rahmat Pannyiwi https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1340 Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hidrosefalus Dalam Pemenuhan Kebutuhan Neurologis 2026-07-03T11:47:52+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Warda M Warda M rahmatpannyiwi79@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Hydrocephalus is one of the most common neurological disorders in children, characterized by excessive accumulation of cerebrospinal fluid (CSF) within the cerebral ventricles, leading to increased intracranial pressure. This condition may impair neurological, motor, cognitive, and developmental functions if not managed appropriately. Nurses play an essential role in providing comprehensive nursing care through neurological assessment, continuous monitoring, complication prevention, family education, and multidisciplinary collaboration. This study aimed to analyze nursing care provided for children with hydrocephalus in fulfilling neurological needs. A quantitative cross-sectional analytical design was employed involving 35 pediatric nurses selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires, nursing observation sheets, and medical record documentation. Data were analyzed using descriptive statistics and Chi-Square analysis. The results showed that 71.4% of nurses demonstrated good nursing care implementation, while 68.6% of children achieved adequate fulfillment of neurological needs. Chi-Square analysis revealed a significant relationship between nursing care quality and fulfillment of neurological needs among children with hydrocephalus (p = 0.002).</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Nursing Care, Hydrocephalus, Children, Neurological Needs, Pediatric Nursing.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hidrosefalus merupakan salah satu kelainan neurologis pada anak yang ditandai dengan penumpukan cairan serebrospinal (CSS) di dalam sistem ventrikel otak sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama fungsi neurologis, motorik, kognitif, serta kualitas hidup apabila tidak ditangani secara tepat. Perawat memiliki peran penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk memenuhi kebutuhan neurologis anak melalui pengkajian, pemantauan status neurologis, pencegahan komplikasi, edukasi keluarga, dan kolaborasi dengan tim multidisiplin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan asuhan keperawatan pada anak dengan hidrosefalus dalam pemenuhan kebutuhan neurologis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian terdiri atas 35 perawat yang bekerja di ruang perawatan anak menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner, lembar observasi pelaksanaan asuhan keperawatan, serta dokumentasi rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat telah melaksanakan asuhan keperawatan dengan kategori baik (71,4%). Pemenuhan kebutuhan neurologis anak juga berada pada kategori baik (68,6%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas asuhan keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan neurologis anak penderita hidrosefalus (p = 0,002).</p> <p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong><em> Asuhan Keperawatan, Hidrosefalus, Anak, Kebutuhan Neurologis, Keperawatan Anak.</em></p> 2026-07-03T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Warda M Warda M https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1345 Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria pada Anak Sekolah Dasar di Kota Kupang 2026-07-07T15:21:53+00:00 Priska Ketriani Lette priskalette@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Malaria remains a major public health problem in eastern Indonesia, particularly among school-aged children who are vulnerable to infection due to environmental and behavioral risk factors. The incidence of malaria among elementary school children is influenced by various determinants, including the use of mosquito nets, environmental sanitation, the presence of mosquito breeding sites, knowledge of malaria prevention, and the use of mosquito repellents. Identifying these associated factors is essential for developing effective malaria prevention strategies.</p> <p>This study aimed to analyze factors associated with the incidence of malaria among elementary school children in Kupang City. The study employed a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. A total of 60 elementary school children were selected using a proportional sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and observation sheets, and analyzed using descriptive statistics and Chi-Square tests.</p> <p>The results showed that the incidence of malaria among elementary school children was significantly associated with the use of mosquito nets, environmental sanitation, and the presence of mosquito breeding sites around the house (p&lt;0.05). Meanwhile, children's knowledge regarding malaria prevention and the use of mosquito repellents were not significantly associated with malaria incidence (p&gt;0.05).</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Malaria, Elementary School Children, Risk Factors, Environmental Sanitation, Mosquito Nets.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk di Kota Kupang. Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok yang rentan terhadap infeksi malaria karena dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan maupun perilaku. Kejadian malaria pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain penggunaan kelambu, kondisi sanitasi lingkungan, keberadaan tempat perindukan nyamuk, pengetahuan tentang pencegahan malaria, serta penggunaan obat anti nyamuk. Identifikasi faktor-faktor tersebut sangat penting sebagai dasar dalam penyusunan strategi pencegahan malaria yang lebih efektif.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada anak sekolah dasar di Kota Kupang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 60 anak sekolah dasar yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan kelambu, kondisi sanitasi lingkungan, dan keberadaan tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria pada anak sekolah dasar (p&lt;0,05). Sementara itu, pengetahuan tentang pencegahan malaria dan penggunaan obat anti nyamuk tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian malaria (p&gt;0,05).</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em>: Malaria, Anak Sekolah Dasar, Faktor Risiko, Sanitasi Lingkungan, Kelambu</em></p> 2026-07-07T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Priska Ketriani Lette https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1359 Peningkatan Resiliensi Siswa Korban Perceraian Orang Tua melalui Layanan Konseling Kelompok di MTsN Gowa 2026-07-17T02:53:56+00:00 Rosmiati Rosmiati fhasranoldua@gmail.com <p>Perceraian orang tua merupakan salah satu peristiwa kehidupan yang dapat memberikan dampak psikologis bagi anak dan remaja. Siswa yang mengalami perceraian orang tua berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan beradaptasi, gangguan emosi, hingga penurunan prestasi belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu siswa menghadapi kondisi tersebut adalah melalui layanan konseling kelompok yang bertujuan meningkatkan resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling kelompok dalam meningkatkan resiliensi siswa korban perceraian orang tua di MTsN Gowa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest design. Penelitian dilaksanakan di MTsN Gowa pada bulan Juli–September 2025. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa layanan konseling kelompok diberikan sebanyak enam sesi. Pengukuran resiliensi dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Skala Resiliensi Remaja. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji normalitas Shapiro–Wilk, dan Paired Sample t-Test. Rata-rata skor resiliensi meningkat dari 58,30 ± 6,42 sebelum intervensi menjadi 73,67 ± 5,81 setelah mengikuti layanan konseling kelompok. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p = 0,001 (p &lt; 0,05). Layanan konseling kelompok efektif meningkatkan resiliensi siswa korban perceraian orang tua di MTsN Gowa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Resiliensi, Konseling Kelompok, Perceraian Orang Tua, Siswa, Remaja</p> 2026-07-17T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rosmiati Rosmiati https://jurnal.agdosi.com/index.php/Barongko/article/view/1360 Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Varises Pada Wanita Usia Produktif 2026-07-17T06:10:47+00:00 Rahmat Pannyiwi rahmatpannyiwi79@gmail.com Sultan Akbar Ibrahim rahmatpannyiwi79@gmail.com <p>Varises merupakan salah satu penyakit vena kronis yang sering terjadi pada wanita usia produktif. Kondisi ini ditandai dengan pelebaran vena superfisial akibat gangguan fungsi katup vena sehingga menyebabkan aliran darah balik (refluks). Aktivitas fisik diketahui berperan dalam menjaga sirkulasi vena, namun aktivitas yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya varises. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Populasi penelitian adalah wanita usia produktif 20–49 tahun. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 120 orang. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan kejadian varises dinilai melalui observasi fisik berdasarkan klasifikasi Clinical-Etiology-Anatomy-Pathophysiology (CEAP). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α=0,05).Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sedang (48,3%), diikuti aktivitas rendah (31,7%) dan aktivitas tinggi (20,0%). Kejadian varises ditemukan pada 36,7% responden. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian varises (p&lt;0,05). Responden dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami varises dibandingkan responden dengan aktivitas fisik sedang maupun tinggi.Aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian varises pada wanita usia produktif. Aktivitas fisik yang cukup dan teratur berperan dalam meningkatkan fungsi pompa otot betis sehingga membantu mengurangi risiko terjadinya varises.</p> 2026-07-17T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rahmat Pannyiwi, Sultan Akbar Ibrahim